Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
78. Rasa Yang Familiar


__ADS_3

Luna yang melihat Nathan begitu lahap memakan makan siangnya tidak bisa tidak merasa heran. Pasalnya baru kali ini bosnya itu tidak mengkritik rasa makanan yang ia pesankan.


Tidak bisa membantu, Luna hanya memperhatikan Nathan sampai ia lupa belum keluar dari ruangan sang atasan dan terpaku menatap Nathan.


“Kenapa kamu masih berdiri di sana Lun? Apa kamu juga belum makan siang?” suara Nathan menyadarkan Luna dari keterkejutannya.


“Ah! Sudah, saya sudah makan siang. Maaf saya permisi.” Dengan tergesa Luna membalik badannya yang melangkah keluar ruangan.


“Sebentar Lun.” Langkah Luna terhenti di depan pintu.


“Ada apa tuan?” Luna berbalik dan mengambil tiga langkah ke depan.


“Ck. Kau ini! Sudah berapa kali aku bilang kalau hanya berdua seperti ini berhenti memanggilku Tuan. Apalagi berbicara formal.”


“Maaf maaf. aku hanya heran dengan selera makanmu hari ini.” Luna segera mengganti mode bicaranya.


“Oh...”


“Ada apa? Apa ada yang perlu aku lakukan lagi?”


“Tidak. Aku hanya ingin bertanya, darimana kamu memesan makanan ini?”


Luna mengernyit. Hanya menanyakan hal seperti ini? “Ada apa? Apa itu tidak enak?”


“Tidak. Ini enak. Ayam panggangnya sesuai dengan seleraku. Apalagi sambalnya. Ini enak. Makanya aku mau tanya.”


“Oh... itu di Purnama Kafe di jalan M.”


“Baiklah. Besok pesankan disana lagi. Tapi ganti menu yang lain.”


“Maaf aku lupa bilang, tapi besok siang ada meeting di daerah H dengan tuan Robert dari PT. Cahaya. Membahas proyek terbaru kita. Jadi kemungkinanan besar tidak akan makan siang di kantor. ” Kata Luna sambil membuka Tablet nya.


“Baiklah. Nanti semua yang dibutuhkan kirimkan semuanya ke e-mail ku. Kita bertemu langsung di sana.”


“Kamu mau kesana hari ini?”

__ADS_1


“Ya. Setelah pulang nanti aku akan kesana. Aku baru saja mendapatkan kabar mengenai wanitaku yang ada disana.”


“Kamu masih mencarinya?”


“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan wanitaku menanggung hutang padaku.”


“Kau sudah kaya. Masih tega-teganya menagih hutang pada seorang wanita!” cibir Luna.


“Hei, hutang yang dimilikinya adalah hutang janji. Siapa yang bisa membayarnya selain dirinya sendiri. Ya sudah sana cepat keluar.” Nathan mengibaskan tangannya dengan gerakan mengusir. Luna hanya menggelengkan kepalanya. Ia menjadi sangat penasaran seperti apa wanita yang membuat Nathan rela melakukan segalanya. Dia haruslah wanita yang sangat, sangat istimewa.


“Oke.” Luna berbalik dan keluar ruangan. Membiarkan Nathan melanjutkan makannya yang tertunda.


Setelah Luna keluar, Nathan menghentikan makannya. Ia menatap ke satu titik seperti ada Nadia di titik itu.


“Nadia, jika sampai aku menemukanmu, aku akan menagih janjimu. Saat itu tiba, aku tidak akan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi.” Ucapnya mantap.


Hari ini Nathan pulang lebih awal karena pekerjaanya memang sudah selesai. Jadi begitu jarum jam menunjukkan tepat pukul lima, ia segera bergegas keluar kantor.


Mobil yang dikemudikan Nathan melaju dengan kencang. Ia berencana akan pergi ke daerah H. Siapa tahu ia beruntung dan bertemu dengan Nadia.


Karena perutnya belum diisi lagi sejak makan siang, Nathan memutuskan untuk istirahat sambil makan malam. Kebetulan tanpa sangaja Nathan membaca papan nama Purnama Kafe. Tanpa banyak berfikir segera ia belokkan mobilnya kesana.


Di sebelah kasir, ada pula etalase yang memajang barang-barang kerajinan tangan. Dan dari nama produsennya, Nathan dapat mengenali bahwa itu adalah produk dari sanggar keterampilan yang dibina Nadia. Nadia memang sengaja memesan semua barang itu dari desa melalui Farida. Dan Farida lah yang menjadi matanya di desa.


Nathan memilih tempat duduk di pojokan. Kemudian memesan makanan yang menarik perhatiannya. Semua menu adalah makanan khas desa yang sederhana, namun Nathan puas dengan rasanya yang nikmat.


“Pantas saja kafe ini ramai. Dengan harga murah mereka dapat menikmati makanan yang lezat seperti ini.” Kata Nathan sambil melirik sekeliling yang semakin malam semakin ramai.


Selesai makan, Nathan tidak langsung keluar kafe, ia lebih memilih melihat-lihat barang-barang di etalase. Seorang pelayan menghampirinya.


“Permisi tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.


“Ah iya mbak. Saya mau tanya, siapa nama pemilik kafe ini?”


“Oh... pemilik Kafe ini adalah bu Ayu.” Nadia memang meminta karyawannya untuk memanggilnya Ayu jika ada yang bertanya.

__ADS_1


Nathan manggut-manggut. Ia merasa sedikit kecewa. Awalnya Nathan berharap bahwa pemilik Purnama kafe adalah Nadia karena semua hal yang ada di kafe ini mengingatkannya pada Nadia. Mulai dari lagu yang diputar, rasa makanan, barang di etalase, semua terasa familiar untuknya.


Mendapatkan hasil yang mengecewakan, Nathan memutuskan untuk keluar dari Kafe. Namun ketika berjalan keluar, ia merasakan hatinya berdesir. Perasaan ini tidak asing. Tapi mengapa?


Nathan melanjutkan perjalanannya ketika dia sudah berhasil menetralkan hatinya yang sempat berdesir entah kenapa. Kemudia ia melanjutkan untuk mengelilingi kota dengan tujuan yang jelas tapi, tanpa arah yang pasti.


Karena besok akan ada meeting di daerah itu, Nathan memutuskan untuk menginap di hotel. Lagi pula malam sudah semakin larut.


Di tempat lain, Nadia berdiri di balkon kamarnya. Angin malam yang berhembus membelai wajahnya tak mengurungkan niatnya untuk melihat bulan purnama yang malam ini terlihat indah. Nadia mengeratkan piamanya ketika udara terasa semakin dingin.


Hari ini terlewati begitu saja, sibuk bekerja dan tentu saja sibuk menjadi ibu dari dua orang anak. Dan jangan lupakan menjadi ibu muda bagi pria setengah tua yang suka menggodanya dengan memanggil Mommy.


Empat tahun sudah Nadia menempati kamar ini. Kamar ini pula lah yang menjadi saksi seperti apa dia yang sebenarnya. Jika di luar kamar ia akan tampil sempurna. Penuh energi dan ceria, di dalam kamar ia akan menjadi manusia pada umumnya.


Nadia memang bahagia dengan hidupnya, memiliki anak-anak yang manis dan tumbuh sehat. Apalagi mereka pintar dan tidak rewel. Tapi siapa yang menyangka ia akan menyimpan sendiri kesedihan hatinya.


Nadia kesepian di dalam hidupnya. Meskipun banyak orang yang menyayanginya di sekelilingnya, ia merasa sendiri. Apalagi saat ia berada di dalam kamar. Semua sepi.


Dalam kesendirian, Nadia sering mengingat Nathan. Dulu, Nadia berfikir bahwa ia akan dapat dengan mudah melupakan Nathan dan menjalani hidup dengan baik-baik saja tanpanya. Namun seiring berjalannya waktu, Nadia menyadari bahwa ia kesepian tanpa kehadiran dokter tampan itu.


Apalagi ketika ia berada di purnama kafe tadi. Ia tak tahu mengapa perasaan aneh hadir disana. Seperti ada sesuatu yang penting telah terlewat. Tapi apa?


Memikirkan penyebabnya, tiba-tib sosok Nathan muncul di dalam hatinya. Perasaan bersalahnya kembali menghampiri. Dan ketika itu terjadi, air matanya akan meluncur tanpa perintah.


“Aku harap dokter bahagia di manapun dokter berada.” Ucapnya sebelum masuk ke dalam kamar dan beranjak tidur.


Permainan takdir kadang memang terasa kejam. Meminta kita menunggu dan menunggu. Namun di saat hari yang diharapkan akan menjadi kenyataan, sekali lagi takdir mempermainkan.


Tak jarang kita juga dipermainkan oleh hati. Perasaan cinta dan benci. Perasaan ingin memiliki dan ingin mencintai, namun di satu sisi, perasaan tidak pantas menghantui. Memaksa kita mengambil jalan untuk berhenti meskipun itu terasa sakit.


Siapa yang bisa di salahkan dalam hal ini?


*


*

__ADS_1


*


Kalian boleh salahin siapa saja dalam hal ini. Tapi please, jangan salahkan Akoh. hehehe😄


__ADS_2