
Di ruangan lain, nara duduk diam di balkon. Memandang langit malam yang gelap. Hari ini langit mendung. Sepertinya akan turun hujan deras malam ini.
“Di sini dingin. Ayo masuk.” Alex menghampiri Nara. Menutupi tubuh Nara dengan kain tebal yang dibawanya. Nara menoleh dan tersenyum pada Alex. Tapi dari sorot matanya dapat dilihat jika Nara baru saja menangis.
“Aku hanya mencari angin di sini.” Nara menundukkan kepalanya. Ia tidak pandai berbohong.
“Tidak perlu menyembunyikannya dariku. Aku sudah tahu dari mama.” Nara menghela napas. Ia tidak menyangka akan ada hati di mana Ia akan memiliki konflik dengan Serena.
“Maaf. Aku sudah membuat mama kecewa.” Nara mulai menangis.
“Apapun yang dikatakan mama jangan dimasukkan ke dalam hati.” Alex berlutut di depan Nara. Menghapus air mata yang mengalir dari mata istrinya.
“Tapi apa yang mama katakan benar. Seharusnya aku bisa memasak.” Kata Nara sendu.
“Aku menikah bukan untuk mencari pembantu. Aku menikah untuk mendapatkan istri secantik kamu.”
“Lalu Bagaimana aku akan memuaskanmu di meja makan kalau aku tidak pandai masak?”
“Ada cara lain untuk itu. Aku akan menunjukaknnya padamu nanti.” Alex tersenyum licik.
“Bagaimana?”
Alex berpikir sebentar. “Lain kali aku tunjukkan. Lihatlah hujan mulai turun. Ayo masuk.” Alex membantu Nara berdiri dan membawanya masuk.
Nara masuk ke dalam kamar. Saat ia memperhatikan Alex, ternyata suaminya itu masih memakai kemeja kerjanya. Hanya jasnya yang sudah ia tanggalkan. Dasinya juga masih terpakai meskipun itu sudah longgar.
__ADS_1
“Kamu baru sampai?”
“Iya.”
“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” Nara masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi buthup dengan air hangat dan memberinya aroma esensial. Merasakan airnya. Dan setelah ia rasa pas, ia akan memanggil Alex.
Nara hampir menjatuhkan botol sabun cair di tangannya saat ia berbalik. Di depannya, Alex berdiri tanpa sehelai benang yang ada di tubuhnya. Senyum di bibir Alex sangat menggoda.
Mata Nara tanpa sadar begerak turun ke bawah.
“Sayang, bukankah sekarang saatnya king oyster ku menunjukkan kemampuannya?” Alex mendekat.
“Aku akan keluar. Kamu mandilah dengan tenang.” Nara mengalihkan pembicaraan dengan senyum canggung. Dengan tergesa Nara berjalan cepat keluar kamar mandi.
“Hahaha. Aku suka gayamu sayang.” Alex menangkap Nara. Mendekap tubuh istrinya dengan tubuh telanjangnya. “Aku suka pipi meronamu. Aku suka suara des3hanmu. Aku suka er2nganmu. Aku suka segalanya yang ada pada dirimu.” Bisik Alex tepat di telinga Nara. Menghembuskan napas hangat yang terasa menjalar di seluruh tubuh Nara.
Di bawah godaan Alex, Nara tidak berdaya. Sentuhan Alex membuatnya melayang. Dengan segera, otaknya yang tadi dipenuhi dengan ucapan-ucapan Serena yang menyakiti hatinya hilang dalam sekejap. Kini di dalam otaknya hanya ada bayangan kemesuman yang sangat ia rindukan.
“Aku sudah tidak tahan Leex..” Nara mengengerang dengan frustasi. Alex sudah mempermainkan sekujur tubuhnya. Menggodanya dengan sentuhan-sentuhan mematikan. Lapis demi lapis pakaiannya sudah dilepaskan oleh Alex.
“Nikmati pelayananku malam ini.” Keduanya masih berdiri. Terjerat satu sama lain. Alex membalikkan tubuh Nara. Mendorongnya pelan di dinding. Tangannya bermain aktif di bagian depan. Membuat Nara membungkuk tak tertahan.
Dalam sekejap, hanya ada suara ambigu yang terdengar. Berlomba dengan suara derasnya hujan yang turun di luar rumah. Dinginnya malam ini tidak mampu membuat dua orang yang sedang berada di dalam kenikmatan dunia merasakan kedingingan. Keduanya justru bermandikan peluh di sekujur tubuhnya. Olah raga yang menyenangkan. Saling mendinginkan tubuh dengan tubuh mereka.
**
__ADS_1
Serena meminta Virly untuk menginap malam itu karena hujan yang turun dengan deras. Serena tidak mungkin membiarkan Virly pulang dalam keadaan seperti itu. Lagipula mansion Juantama memiliki banyak kamar kosong. Jadi Virly dapat tidur di salah satu kamar di sana.
Virly tidur di kamar tamu lantai dua. Tepat di sebelah kamar Alex. Karena kamar tamu yang ada di lantai satu tidak layak untuk Virly menurut Serena. Padahal, wanita paruh baya itu juga tidur di kamar yang sama dengan kamar tamu lantai satu lainnya.
Baru saja Virly masuk ke dalam kamar, ia turun kembali untuk mengambil air minum. Gadis itu memiliki kebiasaan bangun tengah malam untuk minum. Tadi saat ia naik ia lupa membawanya. Jadi daripada nanti saat terbangun tengah malam ia akan repot untuk turun, lebih baik menyiapkankannya sejak awal.
Akhirnya Virly pun keluar dari kamar. Namun saat ia melewati kamar Alex dan Nara, ia mendengar suara yang tidak asing untuknya. Bagaimanapun ia juga wanita dewasa. Ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar.
Saat masuk ke dalam kamar, Alex lupa untuk mengaktifkan peredam suara. Jadi suara yang dihasilkan dari aktivitas nya dengan Nara terekspos sampai keluar kamar. Untuk saja hanya ada kamar mereka yang ada di lantai atas. Jadi masih cukup aman.
Tapi yang mereka tidak tahu adalah adanya satu penghuni baru di sebelah kamar mereka. Yang akhirnya lemas mendengar semuanya.
Sebelumnya Virly tidak merasa masalah jika Alex telah menikah. Tapi saat dia mendengar dengan telinganya sendiri saat Alex menghabiskan waktu dengan Nara, hatinya sakit.
Tidak ingin mendengar lebih lama lagi, Virly pergi dengan tergesa-gesa.
Mengambil air minum dari dalam lemari es dan segera menghabiskannya. Kemudian duduk di dapur untuk waktu yang lama. Ia tidak mungkin kembali hanya untuk mendengar suara yang akan meremukkan hatinya.
Malam ini, mereka mencoba berbagai macam gaya yang memungkinkan. Mereka lakukan dengan berdiri, di dalam bathup, dan berakhir di atas ranjang hingga keduanya kelelahan dan tidur dengan saling berpelukan.
*
*
*
__ADS_1
Huuuh. Semoga lolos review....