Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_51. Ijab Qobul Rafael-Nara


__ADS_3

Nara memejamkan matanya setelah Satria dan Rafael selesai mengucapkan kalimat ijab qobul. Dirinya hanya bisa pasrah saat ini. Mungkin memasrahkan diri pada takdir adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.


Nadia dan para wanita yang lain juga ikut berdebar menunggu kata sah dari para saksi. Bisma dan Nathan yang bertindak sebagai saksi menggertakkan gigi mereka. Mengepalkan kedua tangan mereka berusaha menerima kenyataan jika memang mereka harus melihat Nara menjadi istri dari Rafael.


Baru saja Nathan dan Bisma hendak membuka mulut mereka, suara lantang yang terdengar jelas berasal dari arah luar.


“Tidak sah!”


Seketika suasana berubah menjadi hening. Semua pasang mata menoleh ke arah sumber suara. Nara yang mengenal pemilik suara segera melepas kerudung putih di kepalanya dan segera berdiri. Menatap wajah laki-laki tercintanya dengan penuh haru. Air mata pun tak dapat ia tahan untuk mengalir dari mata indahnya.


“Lex...” bibir Nara bergetar saat memanggil tamu yang tak diundang tersebut. Rasanya ingin sekali ia segera berlari dan menghambur memeluk tubuh pria yang sangat ia rindukan. Namun saat ia baru saja melangkahkan kakinya, tangannya dicekal oleh Rafael.


“Jangan pergi!” hardik Rafael keras. Membuat tubuh Nara diam membeku. Sebagai seorang putri kesayangan, Nara tidak pernah diperlakukan kasar sebelumnya. Ia juga tidak pernah dibentak dengan keras.


“Ingat, nasib perusahaan dan ribuan karyawanmu ada di tanganku.” Lanjut Rafael. Menatap nyalang Nara yang diam membeku di tempatnya.


Melihat gadisnya diperlakukan seperti itu membuat Alex mempercepat langkahnya. Dengan segera ia melepaskan cekalan tangan Rafael dari Nara. Kemudian menggeser tubuh Nara ke belakang tubuhnya. Dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nara.


“Semua yang kamu katakan itu sekarang hanya akan ada di masa lalu. Sebab mulai hari ini, perusahaan yang kamu banggakan bahkan harus berusaha keras untuk menghindari pailit.” Ejek Alex memandang remeh Rafael.


Raut muka Rafael berubah seketika. Apa yang sebenarnya terjadi? Alex tidak mungkin berkata tanpa alasan. Tapi mana mungkin semua itu bisa terjadi tanpa ia sadari?


Namun belum hilang keterkejutan nya, Doni datang dengan tergopoh-gopoh. Dia segera menghadap pada atasannya.


“Tuan. Kondisi darurat.”


“Apa yang terjadi?” Rafael menatap sekretaris nya. Meminta penjelasan pada laki-laki yang baru datang itu.


“Karena kita terlalu banyak menggunakan dana untuk semuanya, kondisi perusahaan....” Doni tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena dengan cepat dipotong oleh Rafael.


“Aku tidak peduli dengan kondisi perusahaan.” Katanya keras. Ia segera menghadap penghulu yang duduk dengan bingung di tempatnya.”Pak penghulu. Segera nikahkan kami.”


perintahnya


“Tidak. Aku tidak mau.” Nara segera mundur saat tangan Rafael berusaha menggapainya yang berusaha bersembunyi di belakang Alex. Alex pun segera mencekal tangan Rafael.


“Kita harus menikah.” Rafael terus berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Alex.

__ADS_1


Dua orang paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Tubuh keduanya terlihat kurus dan tak terurus. Wajah mereka terlihat menyedihkan.


Nadia dan Nathan langsung mengenali sosok keduanya. Mereka saling pandang dan menggumamkan nama tamu asing mereka, “Luna, David.”


“Jangan seperti itu nak.” Rafael segera menoleh saat ia mendengar suara yang sudah beberapa bulan tidak ia dengar. Seketika, matanya tertuju pada wanita yang terlihat lebih tua dari usianya datang menghampirinya. Di sampingnya ada laki-laki yang juga terlihat tua yang membantu sang wanita berjalan.


Meskipun Rafael tidak melihat wajah itu sejak lima bulan lalu, namun ia terkejut saat melihat dua wajah yang sangat jauh berbeda. Wajah keduanya pucat dengan tubuh yang kurus.


Ya. Yang ada di dalam gudang adalah David dan Luna. Mereka disekap oleh Rafael saat mereka hendak membawa Rafael ke rumah sakit jiwa.


Keadaan jiwa Rafael semakin lama semakin tidak stabil semenjak ia kuliah di luar negeri. Puncaknya terjadi satu tahun yang lalu saat ia pulang dari luar negeri dan meminta pada David dan Luna untuk membantunya melamar Nara.


Namun keinginan nya ditentang oleh kedua orangtuanya. Mereka mengetahui jika anak mereka dalam kondisi jiwa yang kurang stabil. Awalnya mereka mengira jika kondisinya diakibatkan oleh tuntutan pendidikan nya. Mereka tidak menyangka jika ternyata yang menjadi sebabnya adalah obsesi anak mereka yang berlebih terhadap putri sahabat mereka.


Awalnya mereka berhasil membawa Rafael berobat secara teratur ke psikiater, namun hari demi hari kondisinya tetap tidak berubah. Malah bisa dibilang bahkan semakin parah.


Di hari itu, Rafael mendengar rencana kedua orangtuanya yang akan mengirimnya ke RSJ untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik. Dan di saat itulah Rafael yang saat itu sedang tergoncang jiwanya membawa paksa Luna dan David ke sebuah gudang kosong milik keluarganya.


Sejak hari itu, Rafael memerintahkan beberapa preman di sekitar untuk menjaga dan memberi makan keduanya secara rutin. Sedangkan dirinya sendiri pergi ke perusahaan dan mengambil alih perusahaan.


Awalnya para petinggi tidak dengan serta merta mematuhi permintaan Rafael, tapi karena mereka memang sudah mengenal Rafael yang memang telah lama ikut bergabung dengan mereka dan juga Rafael mengantongi surat kuasa yang berhasil ia dapatkan secara paksa dari David, akhirnya ia dapat mengambil alih perusahaan.


“Nak, sadarlah sayang.” Luna meneteskan air matanya. Ia merasa sangat sedih melihat kondisi sang putra. Meskipun fisiknya terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat sempurna, namun ia tahu jika di dalam dirinya tidak baik-baik saja.


“Jika kalian datang hanya untuk mengganggu acara pernikahanku, pergi saja. Aku tidak membutuhkan orang tua yang tidak bisa diandalkan.” Rafael memandang Luna dan David dengan tatapan penuh kekecewaan.


“Nara, ayo kita menikah. Bukankah saat kecil dulu kamu bilang jika aku akan menjadi suamimu?”


“Rafael, aku sudah bilang aku tidak mau menikah denganmu. Ucapanku dulu adalah ucapan anak kecil yang asal. Bagaimana kamu bisa menganggapnya begitu serius? Aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku.”


“Tapi aku tidak mau jika hanya menjadi sahabatmu. Aku mau menjadi suamimu. Suamimu!” teriak Rafael semakin keras. Matanya terlihat merah akibat marah.


“Tidak Rafa. Jangan gil2.” Nara merasa sedih melihat kondisi Rafael. Dimatanya terlihat ambisi dan kekecewaan yang dalam. Ia tahu jika hidup dalam kondisi seperti itu bahkan lebih buruk.


“Aku memang gila. Aku gila karena aku sangat mencintaimu Nara.” Rafael merangsek maju. Alex segera melindungi Nara.


“Kamu jangan ikut campur!” Rafael menatap Alex dengan penuh permusuhan. “Kamu hanya datang secara tiba-tiba di sini. Pergi sana!” lanjutnya.

__ADS_1


“Mengenai kapan Aku datang bukan urusanmu. Tapi jika kamu membuat masalah dengan Nara itu secara otomatis menjadi urusanku.” Jawab Alex tenang.


“Hehehe. Kau berkata seperti kau layak menjadi pendamping Nara. Kau sama sekali tidak layak. Hanya aku. Aku sudah berusaha bertahun-tahun untuk memantaskan diri. Dan sekarang ini hanya aku yang layak.” Rafael terkekeh.


“Kalian cepat tangkap dia!” teriak Rafael. Memerintahkan anak buahnya membantunya.


“Kenapa kalian semua hanya diam! Cepat lakukan untukku!” lanjutnya saat tidak mendapati satu pun anak buahnya yang datang membantunya.


“Maaf tuan. Semua anak buah kita telah dikalahkan.” Doni melapor.


“Tidak berguna. Kalau begitu, aku sendiri yang akan bertindak!” Rafael hendak maju menyerang Alex. Namun belum melangkah sedikitpun, pergerakannya sudah diblokir.


Beberapa orang berpakaian serba hitam datang mencekalnya. Menahannya agar tidak melawan.


“Bawa dia pergi dari sini!”


Meskipun dengan meronta, Rafael akhirnya dibawa pergi dari sana. Luna dan David segera mengikuti setelah meminta maaf pada semua orang atas ketidak nyamanan yang disebabkan oleh putra mereka.


“Kalian tidak bersalah. Hanya takdir yang mempermainkan kita.” Ucap Nathan.


“Kami sudah memaafkan Rafael. Kami juga akan berdoa untuk kesembuhan Rafael secepatnya.” Imbuh Nadia. Wanita itu menggenggam tangan Luna. Memberi tambahan kekuatan pada mantan sekretaris suaminya itu.


“Terima kasih banyak. Kalau begitu kami pamit. Kami harus lebih memperhatikan Rafael mulai sekarang.”


“Kamu benar David. Pergilah, konsentrasi lah pada kesembuhan Rafael. Untuk masalah perusahaan mu, aku akan meminta anak buahku untuk membantumu menanganinya.” Nathan berkata dengan tulus.


“Terima kasih banyak.” Ucap Luna dan David bersama sebelum keduanya akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


*


*


*


Akhirnya Selesai juga satu masalah 😍


Terima kasih telah setia sampai sejauh ini. Kisah AlexNara akan semakin seru 😘

__ADS_1


Ikuti terua kisah mereka EA....🥰


__ADS_2