Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
29. Kamu Akan Dapat Adik Baru


__ADS_3

Nadia memantapkan niatnya. Saat ini mungkin saat yang tepat untuk memberitahukan perihal kehamilannya pada Juragan Bondan. Lagi pula bagaimanapun juga laki-laki itu adalah ayah dari anak yang sedang dikandungnya. Da berhak tahu. Selebihnya, Nadia berharap bahwa kali ini ia dapat bersandar pada laki-laki itu untuk melindungi anaknya.


Sejak masuk ke dalam kamar, Nadia belum keluar sama sekali. Ia menyiapakan diri untuk mengatakan kabar baik ini. Ia harus menyiapkan alasannya menutupi kehamilannya sampai tiga bulan lamanya. Selain itu Nadia juga harus memikirkan cara agar juragan Bonda mengikuti kemauannya untuk mnyembunyikan sementara kehamilannya.


“Nyonya muda, waktunya makan malam.” Suara mbok Darmi terdengar dari luar kamar sebelum tiga kali ketukan pintu terdengar.


“Iya mbok. Terima kasih.” Nadia menghembuskan nafas sebelum beranjak dari duduknya.


Mbok Darmi yang berjalan di belakang Nadia menemukan kegelisahan dalam langkah yang diambil Nyonya Mudanya. Namun ia tidak dapat menebak maupun menerka apa yang sebenarnya terjadi.


Wanita tua itu telah menghabiskan separuh umurnya untuk bekerja di rumah terbesar di desanya. Banyak hal yang dapat terjadi di dalam rumah yang terlihat megah dan indah. Di dalamnya penuh dengan intrik dan persaingan.


Di dalam rumah, berlaku hukum “Siapa yang kuat, dialah yang akan bertahan.”


Dan hukum ini bukan hanya berlaku untuk para majikan. Bahkan untuk para pelayan pun hukum hidup keras itu berlaku.


Beberapa tahun yang lalu, di rumah besar itu bukan hanya juragan Bondan dan keluarganya yang tinggal. Adik laki-laki dari juragan Bondan beserta istri dan anaknya tinggal disana mengingat rumah itu adalah rumah peninggalan kedua orang tuanya.


Dari sanalah perebutan kekuasaan berlaku. Terjadi perang dingin antara dua keluarga yang notabene adalah keluarga inti.


Pada akhirnya, Dasuki, adik laki-laki juragan Bondan terpaksa meninggalkan rumah utama dan membangun sendiri bisnis keluarganya di luar kota dengan uang yang diberikan Juragan Bondan sebagai harta warisan dari kedua orang tua mereka.


Semenjak terpecahnya kedua keluarga, keadaan rumah semakin lama semakin kondusif.


Namun sepertinya keadaan itu kini terulang kembali setelah kedatangan Nadia. Posisi Nadia sebagai istri muda jelas menjadi saingan besar yang nyata bagi Devi meskipun Nadia tidak memiliki hasrat kepada harta juragan Bondan yang menganak cucu.


Kembali kepada Nadia yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi sebelah kiri samping Juragan Bondan. Devi dan Yuli segera menatap tidak suka. Namun keduanya hanya bisa diam. Nadia masihlah menjadi istri kesayangan. Tidak dapat disinggung untuk saat ini.


“Sepertinya Nyonya muda bersikap sedikit manja malam ini sehingga mengharapkan sebuah jemputan daripada dengan suka rela menghampiri makanan.” Sindir Devi. Nadia hanya mengulum senyum sebelum meminta maaf atas keterlambatanya. Masalah yang dia fikirkan malam ini lebih penting daripada memikirkan alasan untuk membungkam mulut beracun madunya.

__ADS_1


“Ck. Bahkan nyonya muda masih bisa setenang air setelah membuat bapak menunggu dengn perut yang kosong.” Cibir Yulia.


“Sudahlah. Masalah ini tidak perlu diperpanjang. Karena Nadia sudah datang, lebih baik kita segera mulai makan malam ini.” Jutagan Bondan memotong perdebatan. Perutnya sudah lapar sekarang. Tidak ada waktu untuk menunggu kedua orang yang menembakkan kata-katanya.


Makan malam berlangsung khidmad. Semua orang segera mengambil makanan sesuai urutan kedudukannya di dalam rumah. Dimulai dari Devi yang mengambilkan makanan untuk Juragan Bondan lalu dirinya sendiri. Dilanjutkan dengan Nadia. Setelah itu Yulia mengambilkan makanan untuk suaminya. Baru setelah itu Yulia dan Sinta bergiliran sebelum anggota keluarga termuda disana, Lisa dan Bima.


“Nadia, kamu sudah cukup lama tinggal disini. Seharusnya kamu sudah hafal waktu-waktu yang penting seperti ini.” Setelah makanan di piringnya habis, Juragan Bondan menegur Nadia. Sebagai kepala keluarga, salah satu tugasnya adalah meluruskan sesuatu yang berbelok dari kebiasaan. Meskipun Nadia adalah istri kesayangannya, peraturan itu juga berlaku untuknya.


Devi dan Yulia yang mengetahui Nadia akhirnya ditegur merasa puas. Mereka tersenyun sinis kearahnya. Senyum kemenangan.


“Maafkan saya bapak.”


“Kamu baik-baik saja kan? Sepertinya kamu sedikit pucat hari ini.” Juragan Bondan mengangkat tangan kanannya untuk mengelus lembut kepala Nadia.


“Saya tidak apa-apa bapak. Hanya sedikit kegiatan di sekolah.” Seminggu ini sekolah memang sedang mengadakan ujian semester sehingga membuat para guru berkerja dua kali lebih keras.


“Baiklah kalau begitu.” Juragan Bondan segera berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya. Beberapa dokumen yang tidak sempat dia pelajari di penggilingan dia bawa pulang.


Sinta mengajak Nadia untuk mengobrol di kamarnya. Sudah lama keduanya tidak berbicara satu sama lain. Rentenir tua itu juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ini waktu yang tepat untuk kedua wanita itu menghabiskan waktu bersama.


“Bagimana pernikahanmu Sin?” Sinta menikah dengan kakak kelasnya di kampus. Mereka berpacaran selama satu setengah tahun sebelum memutuskan untuk menikah.


“Begitulah Nad. Candra tidak pernah berubah. Dia selalu membuatku bahagia.” Sinta berbinar bahagia. Rumah tangga yang ia impikan terwujud. Dia terbebas dari perjodohan yang direncanakan oleh bapaknya. Candra anak dari pengusaha di kota. Tak ada alasan untuk tidak menyetujui pernikahan keduanya.


“Aku bahagia melihatmu bahagia Sin.”


“Aku harap kamu juga segera merasakan kebahagiaan Nad. Aku adalah orang pertama yang akan ikut bahagia untukmu.”


“Aku bahagia Sin. Percayalah. Sebenarnya tidak terlalu buruk juga menjadi istri bapakmu. Hehehe.” Nadia terkekeh. Tapi itu memang benar. Setidaknya juragan Bondan memperlakukan Nadia dengan baik.

__ADS_1


“Hahaha baguslah kalau begitu Nad.” Sinta tersenyum kecut. Dia segera menggenggam tangan Nadia erat. “Aku masih berharap kamu hidup dengan orang yang kamu cintai. Merasakan cinta akan membuatmu semakin bahagia.”


Kata-kata Sinta mengalun tulus. Matanya menyiratkan harapan yang besar. Sedangkan wanita di depannya. Dia bahkan tidak pernah bermimpi untuk itu. Yang ada di dalam otaknya hanyalah cara agar orang lain tidak sampai merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Untuk merasakan cinta, tak pernah terfikirkan.


“Aku punya kabar baik untukmu. Aku harap kamu akan bahagia.” Nadia meminta Sinta mendekat. Dibisikinya sahabatnya itu. Sinta melotot tidak percaya.


“Kamu berhenti makan pil itu?” pekik Sinta tertahan. Dia tak ingin orang lain mendengar apa yang mereka ucapkan. Di rumah ini, dinding saja bisa mendengar.


Nadia hanya mengangguk. Namun senyumnya yang tak luntur menunjukkan bahwa ia bahagia atas kehamilannya.


“Sejak kapan kamu berhenti minum? Bukankah dokter Wati telah mempercayakan ini pada dokter Nathan?”


“Bapakku menginginkan cucu Sin. Tapi apa boleh buat, sebelum aku sempat memberinya kabar baik, bapak malah pergi lebih dulu.” Kata Nadia dengan sendu. Dia menyesal kenapa tidak sejak lama dia berhenti mengkonsumsi pil yang dapat mencegahnya hamil sehingga mungkin bapaknya akan mempunyai kesempatan menimang cucu.


“Sudah berapa bulan?”


“Ini masuk bulan ketiga.”


“Tapi kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?” Sinta bersidekap. Dia marah. Sebagai sahabat seharusnya Nadia tidaj menyembunyikan masalah ini begitu lama darinya.


“Maafkan Aku Sin. Kamu tahu sendiri kan apa yang terjadi selama ini. Bahkan bapak saja belum tahu.”


Sinta terdiam. Dia pun mengerti betul maksud Nadia sehingga dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan istri muda bapaknya.


“Tapi setidaknya kamu harus memberitahuku Nad. Aku kan bisa membantumu.” Sinta masih bermuka masam.


“Ayolah Sin. Kamu akan dapat adik baru. Tidakkah kamu senang?” goda Nadia. Dia mungkin memang keterlaluan dengan tidak memberikan kabar sepenting ini pada Sinta. Padahal Sinta lah yang selalu mendukungnya.


“Ck. Adik. Dia bahkan lebih cocok disebut ponakan.” Cibir Sinta.

__ADS_1


Nadia hanya tersenyum mendengarnya. Meskipun itu memang benar. Tapi kenyataan yang benar-benar terjadi tidak dapat disangkal bahwa darah yang mengalir pada janin yang dikandungnya sama dengan darah yang mengalir di tubuh sahabatnya itu.


^^^~*{ Aku Istri Muda }*~^^^


__ADS_2