Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
88. Dia Calon Papa Saya


__ADS_3

Bisma awalnya enggan untuk berangkat sekolah. Hari ini seharusnya ia dan Nadia tampil untuk menunjukkan kepada semua orang hasil latihan mereka dua minggu terakhir. Namun akibat musibah yang dialami Nara, membuat Nadia harus menemani adiknya di rumah sakit.


Kondisi Nara sudah membaik. Dua hari lagi juga sudah diperbolehkan keluar. Dan ini membuat Bisma bernapas lega. Ia takut terjadi hal buruk pada adiknya, namun syukurlah apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Luka Nara tidak begitu parah.


Malam hari ketika Bisma hendak pulang, ia meminta izin agar tidak masuk saja besok. Ia ingin menemani Nadia menjaga Nara. Dan tentu saja tidak diizinkan oleh Nadia. Bagaimanapun, lingkungan rumah sakit tidak baik untuk anak kecil.


Saat ini Bisma sedang menatap pria di sampingnya yang sedang konsentrasi mengemudikan mobil untuknnya. Ia menghela napas. Ia mengingat perkataan mamanya semalam bahwa pria itu yang akan menggantikan mamanya untuk tampil. Lagipula tidak ada peraturan yang bahwa yang tampil adalah orang tuanya.


“Kenapa Bis?” tanya Nathan yang menyadari tatapan yang terfokus padanya sejak tadi.


“Apa om Neil tidak masalah tampil di sekolahku?”


“Tentu saja tidak. Memangnya kenapa?”


“Huh! Aku selalu menjadi bahan gunjingan karena tidak punya papa. Akan sangat aneh jika tiba-tiba om Neil datang.”


“Bisma, beberapa orang punya mulut yang tidak memiliki saringan. Berkata hanya dengan melihat dengan matanya tanpa tahu kebenarannya. Biarkan saja mereka berkata apa-apa yang mereka inginkan. Jangan putus asa maupun kecil hati. Justru ucapan mereka harus kita jadikan pemicu semangat juang kita untuk hidup lebih baik.”


Bisma melihat Nathan dengan serius. Ia kini tahu mengapa laki-laki itu terlihat sangat cocok dengan mamanya, ternyata mereka berdua memiliki pemikiran yang sama. Bisma ingat bahwa Nadia pernah mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Kamu tahu Bisma, Nadia, Mamamu itu adalah wanita yang paling tangguh yang pernah om temui. Dia wanita terkuat yang akan menghadapi apapun yang menghalangi jalannya untuk memperjuangkan kehidupan banyak orang. Jangan kalah sama mamamu. Ayo!” ucap Nathan sambil menepuk pundak Bisma sedikit keras. Menyadarkan pria kecil itu dari lamunannya.


Bisma segera mengikuti Nathan keluar dari dalam mobil. Mereka sudah sampai di area parkir yang hari ini terlihat penuh sesak akibat banyaknya mobil wali murid yang juga hadir.


Nathan segera menggandeng Bisma ke arah aula tempat berlangsungnya acara. Kemudian mendaftarkan dirinya dan jenis pertunjukan apa yang akan mereka tampilkan.


“Mohon maaf tuan Nathan, kalau boleh saya bertanya, apakah anda yang menemani Bisma?” tanya Bu Firda yang menjadi petugas resepsionis.


Nathan baru saja akan menjawab ketika ia mendengar suara yang membuatnya terperangah.


“Namanya om Nathaneil. Dan Dia calon papa saya bu Firda. ”


Ucapan Bisma seperti oase di tengah gurun bagi Nathan. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan Bisma yang selama ini ia perjuangkan mati-matian.

__ADS_1


Firda yang mendengarnya sontak terkejut. Ia mengetahui siapa Nathan. Beberapa tahun yang lalu namanya sempat viral karena menghebohkan dunia bisnis dengan memboyong kantor pusat yang ada di ibu kota ke kota kecil seperti kota X tempatnya tinggal. Hingga sekarang perusahaan yang dipimpin laki-laki di depannya masih bertengger sebagai perusahaan terbesar di kota X.


Awal kedatangan Nathan di kota X menjadikan laki-laki itu sebagai laki-laki paling diincar untuk dijadikan menantu para pebisnis. Namun sayangnya pintu untuk itu sudah tertutup rapat. Nyatanya Nathan tidak pernah menganggapi pembicaraan selain dalam ranah bisnis dengan mereka. Apalagi mengenai calon pendamping masa depan. Namun seiring berjalannya waktu, mereka pun menyerah. Nathan memang dingin terhadap wanita.


Namun, Nathan yang kini tersenyum lebar mendengar ucapan Bisma sukses membuat para wanita terpana. Mereka sebelumnya hanya mendengar jika Nathan adalah seorang yang dingin dan kaku secara serentak mematahkan gosip itu melihat sikap yang ditunjukkan Nathan pada Bisma.


Kenyataannya, Nathan memang berubah menjadi seorang yang dingin dan kaku semenjak empat tahun lalu. Ia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari para wanita yang bisa saja mendekatinya.


“Sebenarnya yang akan mendampingi Bisma itu mamanya, tapi karena Adik Bisma sedang dirawat di rumah sakit sekarang dan Nadia harus menjaganya , jadi saya yang menggantikan Nadia menemani Bisma. Apakah itu diperbolehkan?” tanya Nathan. Ia tak mau membuat Bisma merasa kecewa.


“Ah. Tentu saja tuan. Silahkan menuliskan jenis kesenian yang akan anda tampilkan.” Nathan dengan segera menuliskan apa yang diminta. Kemudian mengambil nomor antrian untuk tampil.


Masuk ke dalam aula, bisik-bisik mulai terdengar lagi. Kebanyakan mereka menduga-duga apa yang dilakukan pebisnis itu di tempat ini mengingat tempat ini adalah area sekolah yang tidak bisa sembarang orang bisa masuk.


Namun melihat siapa yang datang dengan laki-laki itu, membuat suara semakin berdengung. Semakin banyak praduga-praduga yang muncul.


Meskipun masih kecil, Bisma mengetahui betul apa yang dibicarakan semua orang di belakang mereka. Nathan yang mengetahui bahwa mood Bisma sedang buruk mengelus kepala pria kecil yang sedang bersidekap itu.


Memangnya siapa yang akan menerima jika ada orang lain yang membicarakan kejelekan ibunya? Apalagi semua itu hanya lah karena ketidak tahuan mereka. Ini menyakitkan untuk Bisma yang sangat menyayangi mamanya.


“Itulah yang aku benci om. Mereka tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, tapi dengan seenaknya membicarakan hal buruk hanya menurut dugaan mereka. Ini sangat tidak adil.”


“Sudahlah. Mulut mereka tidak akan berhenti bicara sebelum mereka mengetahui kebenarannya. Jika saatnya tiba nanti, om akan membuat mulut mereka terkunci. Mulut mereka hanya akan terbuka untuk memuji mamamu yang hebat.”


“Bisakah aku percaya pada Om?”


“Tentu. Om akan menepati janji.”


Bisma mengangguk. Ia sudah melihat sendiri kasih sayang yang diberikan laki-laki di sampingnya kepadanya dan juga kepada Nadia dan Nara. Ia mencoba membuka hatinya dan memberi Nathan kepercayaannya untuk ikut menjaga kedua wanita kesayangannya.


Tak lama kemudian acara dimulai. Dimulai dari sambutan-sambutan. Dan beberapa pasangan murid dan walimurid mementaskan kesenian mereka. Ada yang menyanyi, menari, melukis, membuat kerajinan tangan, bermain alat musik, ada juga yang memainkan silat seperti yang dilakukan Nathan dan Bisma saat ini.


Kedua laki-laki berbeda generasi ini terlihat kompak memperagakan beberapa jurus yang memang mereka pelajari. Riuh tepuk tangan menggema di dalam aula setelah pertunjukan keduanya selesai.

__ADS_1


Sebagian dari mereka terheran sebab mereka melihat jika keduanya sangat dekat dan terlihat kompak.


Setelah menyelesaikan tampilan mereka, keduanya kembali duduk di kursinya dan menikmati acara yang masih akan berlangsung hingga siang. Nathan beberapa laki mencuri waktu untuk membalas e-mail atau mengerjakan pekerjaan kantornya melalui tablet yang dibawanya.


“Om Neil repot ya?” tanya Bisma yang beberapa kali mendapati Nathan sibuk dengan pekerjaannya.


“Tidak juga Bis. Hanya sedikit pekerjaan yang mendesak.” Jawab Nathan sekenanya. Ia tak mau Bisma merasa tak nyaman karena merepotkannya.


Namun melihat raut wajah Bisma yang mendadak serius. Nathan menghela napas. Ia baru ingat jika Bisma termasuk bocah cilik yang perasa. Ia pun menghadap Bisma dan memegang bahu kanan bocah laki-laki itu.


“Manusia hidup di dunia ini dengan segala kesibukannya Bisma. Seperti om yang kadang memang sibuk mengurusi perusahaan. Om tidak hanya bertanggung jawab terhadap diri om sendiri. Banyak orang yang bekerja di bawah om yang tidak bisa diabaikan.” Nathan menjeda.


“Namun terlepas dari itu, om punya standar mana yang harus diprioritaskan dan mana yang bisa diwakilkan. Dan om mempunyai bawahan untuk diberi tanggung jawab. Dan untuk keluarga tentu saja menjadi prioritas om.” Jelas Nathan.


“Om bisa pergi jika om sedang sibuk. Aku tidak keberatan.”


“Dengarkan Om, Bisma. Om berniat serius dengan mamamu. Kamu pasti tahu om sudah lama menunggu mamamu. Dan om akan melakukan apapun demi dapat hidup bersama dengan Nadia, mamamu. Kamu adalah bagian hidup Nadia, dan secara otomatis juga menjadi bagian hidup Om. Kalian semua adalah prioritas om. Untuk masalah pekerjaan, itu bisa menunggu. Om tidak akan jatuh miskin hanya karena libur satu dua hari. Bahkan sebulan. Itu tidak jadi masalah.”


Dalam hati, Bisma merasa senang. Meskipun ia masih kecil, ia mengetahui apa yang dimaksud Nathan. Hidupnya keras sejak kecil. Menjadi anak dari seorang single parrents membuatnya menerima banyak perlakuan berbeda dari semua orang. Dan itu membuatnya belajar banyak hal sebelum waktunya.


*


*


*


Go Nathan go!


Dapatkan segera restu Bisma!


Akoh mendukungmu....😁


Bagi siapa aja yang nungguin moment pernikahan mereka, Harap bersabar ea.

__ADS_1


Cerita ini nggak sampai 100, jadi eps ini sudah masuk dalam sepuluh eps terakhir. Sabar sebentar lagi ea....


Tingkiyu😍


__ADS_2