
Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai menggema di sepanjang koridor. Hanya dua orang yang berjalan dengan setengah berlari di sana. Namun karena keadaan yang sudah sangat sepi membuat langkah keduanya seperti memenuhi setiap ruangan kantor.
Ini kali kedua Nara tergesa-gesa datang ke kantor di malam hari seperti saat ini. Dalam hati ia meratapi hal ini, kenapa hal darurat seperti ini selalu datang di malam hari?
Ah setidaknya kali ini ia datang bersama dengan Alex. Laki-laki yang hampir saja menjadi kekasihnya itu.
Bisma, Dandi dan Adi dengan serempak menoleh ke arah pintu saat pintu utama di ruangan itu terbuka dan menampilkan Nara dan Alex yang datang dengan raut cemas di wajah Nara yang terlihat dengan jelas.
“Ada apa lagi ini? Bukankah sebelumnya semua sudah berjalan normal?” Nara segera merapat ke arah ketiga orang yang terlebih dulu ada di sana. Alex yang merasa tidak berhak ikut campur urusan internal kantor itu lebih memilih duduk di sofa. Mengeluarkan ponselnya dan tak lama setelah itu ia pun larut dalam pekerjaannya sendiri.
“Kakak juga tidak tahu Nara. Ini terlalu mendadak.” Jawab Bisma. Ia sendiri baru mendapat kabar dari Dandi sore tadi dan sampai sekarang belum ada kejelasan bagaimana bisa saham perusahaan bisa turun drastis dalam waktu sesingkat ini.
Nara semakin bingung. Jawaban Bisma tidak membuat Nara paham sama sekali. Bisma bahkan tidak menjelaskan apapun padanya.
“Nilai saham kita anjlok sore tadi. Dan kita semua masih mencari sebab dari masalah ini.” Jelas pak Dandi yang mengerti ketidakpahaman Nara.
“Bagaimana nilai saham bisa anjlok begitu saja?”
“....” tidak ada yang bisa memberikan penjelasan pada Nara. Mereka semua juga masih berusaha terus menyelidiki hal tersebut.
Ketiga pria dan sekarang bertambah seorang gadis sibuk dengan urusan mereka. Namun semuanya mempunyai tujuan yang sama. Yakni mencari asal mula masalah yang terjadi hingga membuat Mahardika yang baru berhasil mereka pulihkan kini kembali terhempas.
Ketegangan di kantor berbanding terbalik dengan keadaan harmonis di ruang keluarga mansion Mahardika. Empat anggota keluarga yang sedang asik bercengkrama tidak mengetahui apa yang terjadi di kantor perusahaan keluarga mereka.
Bisma dan semuanya sepakat untuk tidak memberitahu Nathan keadaan terbaru dari perusahaan nya. Mereka khawatir jika kondisi laki-laki paruh baya itu kembali drop mendengar apa yang terjadi.
Nathan duduk bersama Nadia, dimana istrinya sedang bersandar di bahunya sambil menonton acara televisi yang menampilkan senetron kegemarannya. Sedangkan Gerry dan Dini duduk di bawah. Dia atas matras di depan meja. Pandangan mata mereka juga fokus pada televisi di depan mereka.
Namun Dini sebenarnya tidak benar-benar menikmati acara televisi yang sedang tayang. Dia memikirkan rencana yang ia buat dengan teman-temannya untuk mengadakan camping di vila temannya liburan semester Minggu depan.
Ini pertama kalinya Dini pergi berlibur sendiri. Itulah mengapa ia gugup saat meminta izin. Biasanya Nathan akan mengajak keluarganya berlibur saat libur sekolah seperti saat ini. Tapi karena kondisinya yang belum stabil dan kondisi kantor yang masih membutuhkan perhatian lebih, acara yang biasanya rutin diadakan sepertinya akan ditiadakan untuk libur sekolah kali ini.
__ADS_1
Dini berpikir jika dengan alasan itu ia akan mendapatkan izin. Apalagi ia juga sangat ingin merasakan liburan bersama teman-temannya. Pasti sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu beberapa hari bersama teman sebaya yang akrab dengannya.
Dini memutar tubuhnya. menghembuskan napas untuk memantapkan hati mengutarakan niatnya.
“Ma, pa. Minggu depan teman-teman ku mengadakan camping di villa keluarga salah satu temanku. Izinkan aku ikut ya.” Dini memulai pembicaraan yang sudah ia rancang sejak tadi. Bahkan dia sudah menyiapkan beberapa kalimat untuk meyakinkan kedua orangtuanya.
“Apa ada teman laki-laki juga di sana?” tanya Nathan penuh selidik. Di zaman seperti saat ini, memiliki anak perempuan seperti berdiri di atas tanduk. Tidak hati-hati maka akan jatuh.
Meskipun ia tahu putrinya tidak akan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan aturannya, namun ia harus tetap berhati-hati. Keluarga bisa memberi aturan demi kebaikan. Ini akan bekerja dengan efektif di lingkungan keluarga. Tapi seorang anak akan lebih banyak berada di luar lingkup keluarga. Jadi aturan keluarga tidak bisa mengekangnya setiap saat.
Tidak sedikit kejadian dimana seorang anak yang selalu patuh di dalam keluarga akan bertindak liar di luar sana. Dan tentunya Nathan dan Nadia tidak mau hal seperti itu terjadi pada anak-anak mereka. Itulah mengapa, sebagai orang tua Nathan dan Nadia selalu memberi contoh dan membiasakan sikap terbuka di antara keluarga. Dengan begitu, moral yang baik akan tertancap dalam di hati anak tersebut.
“Tidak ada pa. Hanya sekumpulan gadis imut. Kami ada berlima. Aku, Safira, Lita, Dewi dan Ruri. Tapi selain kami ada orang tua Lita yang juga ikut. Kami akan liburan di villa keluarga Lita selama tiga hari.” Jelas Dini dengan antusias. Ia berusaha menjelaskan dengan baik agar Nathan dan Nadia mengizinkan nya pergi.
Baik Nathan dan Nadia memikirkan apa yang dikatakan Dini. Mereka berdua menyadari jika mungkin saat ini memang waktunya mereka memberikan sedikit kebebasan pada putri kecil mereka untuk melihat dunia. Keduanya saling memandang sebelum saling memberi kode dengan senyuman dan anggukan yang sudah saling mereka pahami.
“Baiklah, kami izinkan. Tapi, kamu harus berjanji untuk menjaga diri dengan baik selama di sana nanti.” Kata Nathan memandang serius putrinya yang sekarang sudah menginjak remaja.
“Terima kasih papa, mama.” Dini berdiri dan menghambur memeluk kedua orangtuanya dengan erat.
Tidak ada salahnya ia juga mencari peruntungan saat adiknya baru saja mendapatkan nya. Ia sendiri belum pernah liburan bersama teman-temannya selain liburan bersama pihak sekolah.
“Kau ini sudah besar. Bantulah kakak-kakak mu di kantor. Sekalian berlajar mengelola kantor sejak awal. Contohlah kakakmu Bisma.” Kata Nathan tegas. Sikap Gerry di luar sana kadang membuatnya pusing.
Mendengar jawaban Nathan yang jauh dari perkiraan nya membuat Gerry merasa kecewa. bukannya liburan yang ia dapat justru ia harus mendapatkan sesuatu yang lebih pantas ia sebut sebagai hukuman.
...🌼🌼🌼
...
Di tempat lain, di sebuah ruangan yang berada di lantai teratas sebuah gedung yang menjulang tinggi, seorang pria muda dengan wajah yang tampan sedang berdiri menghadap ke jendela. Di tangannya memegang gelas berisi Wine merah yang berharga. Ia memutar-mutar gelas tersebut sehingga membuat cairan berwarna merah di dalamnya ikut berputar dengan indah.
__ADS_1
Namanya adalah Rafael Saputra. Presdir Lunar Ind. Perusahaan yang baru sepuluh tahun berdiri dan saat ini berada di puncaknya dibawah pimpinan Pria bernama Rafael Saputra tersebut. Pria dengan obsesi yang tinggi. Penuh dengan ambisi dan juga licik. Ia akan melakukan segala cara agar mendapatkan apa yang ia inginkan. Apapun itu!
Ya. Bisa disimpulkan ia sedikit tidak waras.
Rafae melirik malas saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka dan tertutup dengan segera.
“Bagaimana pekerjaan yang kuberikan padamu?” tanyanya pada seorang laki-laki yang usianya tak jauh berbeda dari dirinya yang berdiri di belakangnya.
Laki-laki itu mengangguk sebelum menjawab pertanyaan sang atasan. Ia baru saja tiba setelah melakukan pekerjaan yang diminta atasanya.
“Semua berjalan sesuai rencana tuan Rafael. Mahardika Grup saat ini pasti sudah menyadari nya.” Jawab pria itu.
“Aku harap mereka menyukai penampilan perdanaku di depan mereka. Bukankah aku sudah sangat mengesankan, Doni?” pria muda itu menyeringai.
“Anda memang sangat hebat tuan. Di usia anda yang masih sangat muda anda berhasil mengubah Lunar Ind. Yang dulu dipandang sebelah mata saat ini menjadi perusahaan yang patut di perhitungkan.” Jawab Doni yang membuat Rafael semakin melambung tinggi karena pujian yang ia terima.
“Kemampuan Bisma dan Nara tidak diragukan lagi. Sebentar lagi mereka akan tahu jika aku di belakang semua ini. Namun di saat itu tiba, semua sudah terlambat dan nasib mereka ada di tanganku.” Ucap Rafael sebelum menenggak habis minuman di gelasnya yang sedari tadi hanya ia putar untuk dipermainkan. Ini seperti memperlakukan masalah di Mahardika Grup sebagai mainannya.
*
*
*
Maaf lama nggak muncul. Beberapa hari ini Akoh repot banget dari pagi Sampek malam. Awalnya akoh nggak ada niat nggak up beberapa hari. Dan untuk target yang kemarin akoh Cuma bercanda. Eh nggak taunya malah terjadi lah akoh nggak sempat bikin lanjutan cerita ini.
Di otaknya sudah penuh dengan isi ceritanya yang akan ditulis. Tangannya juga udah gatal pengen ketik² manja. Tapi mau gimana lagi jika mata sudah pengen merem dan punggungnya minta dilurusin 🤭
Ah itu aja. Akoh nggak mau kebanyakan alasan. Itulah intinya. 😘
Terima kasih masih setia menunggu🥰 dan juga buat segala apresiasi kalian semua.
__ADS_1
Reader Budiman yang akoh sayangi dan akoh banggakan👍
Lop yu pull forever...💝