Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_94. Memukul Orang Menggunakan Uang


__ADS_3

Setelah beberapa acara yang sedikit membosankan, pelelangan yang merupakan acara inti akhirnya dimulai. Barang-barang yang akan dilelang adalah sumbangan dari tamu undangan. Perhiasan limited edition, guci kuno, lukisan dan barang berharga lainnya.


Sebuah guci tua yang didatangkan dari Jepang Alex serahkan pada acara lelang ini.


Satu persatu barang dikeluarkan mulai dari yang harganya terkecil terus meningkat ke harga yang besar. Dalam pergaulan orang-orang kaya, gengsi adalah yang paling diutamakan. Kebanyakan dari mereka tidak akan peduli akan berguna apa tidaknya barang yang akan mereka beli. Yang terpenting adalah mereka mendapatkan barang yang dilelang akan meningkatkan prestis mereka.


“Barang lelang selanjutnya adalah lukisan karya putri kebanggaan kampus kita. Bagian dari kita yang telah menjadi pelukis terkenal sampai keluar negeri. Karya-karyanya sudah diakui dunia. Dialah Yuri Agnesia dengan karyanya yang “Keagungan”...” pembawa acara mengucapkan dengan lantang. Merebut atensi setiap orang untuk memperhatikan panggung.


Tepuk tangan bergema mengiringi seorang gadis cantik dengan gaun berwarna ungu berjalan dengan anggun. Di belakangnya, dua pria muda tampan berjalan membawa lukisan yang masih tertutup kain putih.


Yuri berjalan sambil tersenyum, sesekali menganggukkan kepalanya hormat pada beberapa tamu VIP. Namun kepada siapapun ia membungkukkan badannya, lirikan matanya tetap tertuju pada Alex yang duduk tenang bersama Nara.


“Kamu tidak bilang jika temanmu adalah pelukis terkenal?” Nara tersenyum aneh memandang Alex.


“Siapapun dia, tidak ada hubungannya dengan kita.” Jawab Alex enggan.


“Apakah perkataanmu bisa dipercaya?”


“Tentu saja. Dia adalah dia. Kita adalah kita. Jelas berbeda. Tidak akan pernah ada dia diantara kita.”


“Perkataanmu sedikit rumit. Aku tidak begitu paham.” Nara mengerutkan bibirnya.


“Aku bisa membantumu memahaminya.” Alex mencondongkan tubuhnya, kemudian mencium bibir Nara sekilas sebelum terkekeh akibat dorongan di dadanya yang diterimanya dari Nara.


“Jangan tidak sopan!” Nara bersungut-sungut. Pipinya memerah. Dia dan Alex duduk di barisan paling depan. Di belakangnya banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Dengan tanpa malu Alex menciumnya di sana. Ini sangat memalukan.


“Ahem... Aku hanya ingin menegaskan pada semua orang bahwa aku sudah ada yang punya.” Alex mengukir senyumnya.


Beberapa saat, waktu seakan berhenti, bahkan pembawa acara yang sedang mempromosikan lukisan karya Yuri di atas panggung berhenti berbicara. Microfon yang dibawanya hampir menyentuh lantai jika saja ia gagal menangkapnya.


Perhatian yang seharusnya tertuju ke atas panggung telah berganti haluan. Pemandangan manis di depan panggung jelas lebih menarik untuk diperhatikan.


Penampilan keduanya jelas menjadi sorotan. Alex yang terkenal dingin, dan Nara yang terkenal tak tersentuh. Dan keduanya benar-benar menampilkan pertunjukan romantis yang membuat semua yang melihatnya iri.


Satu orang gadis di atas panggung, dan seorang gadis lagi di bagian belakang mengepalkan tangan mereka. Kedua gadis itu jelas memperhatikan apa yang Alex dan Nara tunjukkan. Baik Yuri maupun Virly sudah berniat untuk menaklukkan Alex di hadapannya. Melihat kemesraan itu tentu saja merupakan pukulan telak bagi Mereka.


Pembawa acara segera mengendalikan dirinya. Mempersilahkan Yuri untuk membuat penutup lukisan sebelum melanjutkan kalimatnya. Memperkenalkan lukisan Yuri yang ditaksir mencapai puluhan juta.


Di atas kanvas, terlihat lukisan yang begitu indah. Lukisan yang menjadikan gunung Everest menjadi profilnya. Bukan hanya indah, lukisan ini juga terlihat hidup. Seakan-akan kita dapat melihat gunung itu secara langsung.


“Baiklah, Sepertinya kita semua mempunyai kesempatan bahwa lukisan ini memang benar-benar indah.” Pembawa acara menjeda. Mengambil napas dalam sebelum kembali berucap, “Harga lukisan ini dimulai dari lima puluh juta.”


Setelah pembawa acara membuka harga, satu demi satu memberikan harganya. Terus merangkak naik, dari lima puluh delapan juta rupiah naik lagi menjadi delapan puluh, terus bergerak naik secara perlahan. Harganya tembus seratus juta rupiah. Dan masih belum ada tanda berhenti.

__ADS_1


“Apa kamu tidak ikut menawar sayang?” tanya Nara. Lukisan karya Yuri ini memang benar-benar indah. Jika bukan lebah pengganggu Alex, ia juga pasti akan berjuang untuk mendapatkannya.


“Tidak. Aku sudah mempunyai gunung pribadiku.” Ucap Alex sambil melirik aset berharga pribadi Nara dengan tatapan penuh minat.


“Ish!” Nara memalingkan wajahnya. Kembali memperhatikan perkembangan di atas panggung. Dia pun mendapati bahwa harga saat ini mencapai Seratus dua puluh lima juta.


Nara melihat siapa yang menawar dengan begitu tinggi, namun belum sempat ia menemukannya, justru pandangan Nara menangkap sesuatu yang menarik. Di barisan belakangnya, ia melihat Aldi mengangkat papan nomornya dan berseru dengan lantang, “Dua ratus juta.”


“Yah penawaran yang sangat tinggi. Dua ratus juta.” Ucap pembawa acara dengan semangat.


“Apa masih ada yang berani menaikkan harganya?” lanjutnya sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


Karena tidak ada yang menunjukkan akan menambah harga, pembawa acara segera menghitung sampai tiga.


“Dua ratus juta sekali.”


“Dua ratus juta dua kali.”


“Dua ratus juta tiga kali.”


Dok dok dok.. pembawa acara memukulkan palunya.


“Selamat kepada tuan Aldi karena telah mendapatkan lukisan nona Yuri yang berharga.” Tepuk tangan segera bergema.


“Lukisan anda akan kami persiapkan. Untuk saat ini, mohon biarkan nona Yuri menamani anda.” Ucap pembawa acara. Tangannya memberi isyarat pada Yuri untuk turun panggung dan menghampiri Aldi yang duduk seorang diri.


“Aldi menyukai Yuri sejak awal.” Alex berkata saat melihat Nara yang terlihat bingung melihat reaksi Aldi yang tersenyum cerah di tempatnya.


“Pantas saja ia rela memberi harga dengan begitu tinggi hanya untuk sebuah lukisan.” Nara mengangguk paham.


Acara masih berlanjut. Satu persatu barang dikeluarkan. Barang yang dikeluarkan semakin berkualitas. Harganya pun secara otomatis juga semakin lama juga semakin tinggi.


Sebelumnya, Nara tidak begitu tertarik pada barang-barang yang ditawarkan. Namun saat sebuah kalung berlian dibawa naik ke atas panggung. Matanya berkilat.


Sebuah kalung dengan liontin berlian berbentuk bintang berwarna biru. Diujung-ujung bintang, menggantung berlian berwarna merah berbentuk bulat. Dan di bagian paling ujung, berlian berbentuk bulan sabit tergantung di masing-masing ujungnya. Ini terlihat sangat indah.


“Kalau kamu ingin, kamu bisa mengambilnya.” Alex menyerahkan papan nomor pada Nara.


Mata Nara berkedip lucu saat melihat Alex dan papan nomor secara bergantian.


“Tidak usah memperdulikan harganya. Berapapun aku mampu memberikan nya untukmu.” Alex berkata dengan sombong.


“Aku ingin. Tapi aku malas.”

__ADS_1


“Kamu belum tahu sensasinya. Setelah kamu perang harga, kamu akan tahu betapa menyenangkannya itu.” Alex mengelus bahu Nara. Memberi keyakinan pada istrinya.


Nara masih belum juga mengangkat papannya. Ia masih meneliti bagaimana semua ini berjalan. Sementara harga semakin naik. Harga yang dibuka pada lima ratus juta kini sudah berada di angka tujuh ratus dua puluh juta.


“Kenapa belum ikut partisipasi?” tanya Alex.


“Aku akan menyerang yang terakhir.” Nara berkata dengan percaya diri.


Lalu harga kalung telah mencapai delapan ratus tujuh puluh juta dan mulai sedikit yang menawar.


“Oke, delapan ratus juta sekali.” Teriak pembawa acara semangat.


“Delapan ratus tiga puluh juta.”


“Wow mengejutkan. Nyonya Alex langsung menawar dengan harga tinggi. Siapa yang ingin menara lagi?”


“Delapan ratus lima puluh juta.” Yuri mengangkat papan nomornya dan melirik Nara dengan puas.


Nara mencebikkan bibirnya. Ia kembali mengangkat papan nomor di tangannya dan membuat penawaran. Kali ini ia langsung melompat menjadi sembilan ratus juta.


Yuri tidak ingin kalah. Ia kembali menaikkan harganya menjadi sembilan ratus dua puluh juta.


“Satu milyar rupiah.” Nara menaikkan harganya dengan bangga. Ada ledakan di hatinya. Benar kata Alex. Permainan harga ini sangat menyenangkan.


Di sisi lain, Yuri melemparkan papan nomornya ke meja dengan keras sebelum berdiri dan berjalan dengan kesal keluar dari lokasi.


“Puas?” Alex bertanya sambil mengelus kepala Nara dengan lembut.


“Hem. Aku tidak menyangka jika ini akan menyenangkan. Ternyata memukul seseorang menggunakan uang semenyenangkan ini.” Nara mengangguk. Alex mengangguk setuju.


Note : Mohon abaikan tentang nominal harga nya. Akoh bukan horang kaya yang mainannya barang-barang mewah yang harganya puluhan atau ratusan juta. Semuanya murni unsur kehaluan semata. Terima kasih....


*


*


*


Halo reader....


Terima kasih buat para reader yang masih setia mengikuti kisah AlexNara.


Mulai hari ini, akoh akan update malam hari jam 20.00 ya...

__ADS_1


Do’akan semoga lancar update nya.


Terima kasih 🙏


__ADS_2