Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_11. Aku Tidak Mengadu. Aku Hanya Melaporkan


__ADS_3

Deg...


Deg...


Deg...


Beberapa detik, Nara hanya bisa mendengar detak jantung nya yang berdetak tak seperti biasanya. Matanya berkedip dua kali sebelum dia menundukkan kepalanya. Mata Alex terlihat tajam namun terasa dalam. Ia tidak boleh sampai terhanyut di dalamnya.


“Kamu tidak bisu mendadak kan?” Alex memicingkan matanya.


“Em maaf. Itu... Iya saya memang adiknya kak Bisma.” Nara menggigit bibir bawahnya. Ia sedikit melirik Alex yang terlihat masih menatapnya tajam.


“Tuan Alex tidak akan marah dan meminta saya dan teman-teman saya keluar dari sini kan?” Tanya Nara cemas.


“Kenapa saya harus marah?” Alex mengernyit kan alisnya. Ia tidak menyangka jika Nara akan menanyakan ini padanya. Awalnya ia menyangka jika gadis di depannya ini akan minta diperlakukan khusus karena merupakan adik dari temannya.


“Ya... Apa tuan Alex tidak takut jika aku adalah mata-mata dari kakakku yang sengaja ia tempatkan disini untuk mengawasi pergerakan anda?” Nara tanpa sadar mengangkat kedua tangannya dan mengetuk kedua jari telunjuk nya. Wajahnya terlihat imut di mata Alex. Antara cemas dan bingung.


“Hahahahaha” Alex tertawa dengan kerasnya. Sampai Gibran yang berada tepat di depan ruangannya menghentikan sekejap gerakan jarinya yang sedang menari indah di atas keyboard komputer di depannya. Mencoba memastikan jika yang ia dengar memang benar suara bosnya yang sedang tertawa.


Namun ketika ia mencoba mendengar dengan seksama. Suara tawa itu sudah lenyap karena memang Alex sudah berhenti tertawa.


“Ah rasanya Minggu ini aku harus pergi ke dokter spesialis telinga untuk memeriksakan telingaku agar tidak salah dengar.” Gibran menggosok daun telinganya sendiri sebelum melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi.


“Kenapa anda tertawa tuan? Apakah ada yang lucu?” tanya Nara penasaran. Baginya semua yang ia ucapkan tidak ada yang lucu sama sekali. Malahan dia sangat serius kali ini.


“Kamu.” Jawab Alex singkat. “Aku tidak menyangka jika adik dari seorang Bisma bisa sepolos ini.” Lanjutnya dalam hati.


“Saya?” Nara menunjuk dirinya sendiri tidak percaya. Dia melihat dirinya. Mulai dari pakaian yang dipakai nya, kemudian melihat sepatu, cara dia duduk, bahkan ia sempat mengambil ponselnya untuk dia jadikan cermin kalau-kalau ada yang tidak beres dengan make up nya.


Alex semakin senang melihat tingkah Nara yang kebingungan. Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung meskipun sangat sedikit.


“Apa yang lucu sih tuan?” tanya Nara penasaran. Ia tidak boleh menjadi bahan tertawaan. Bagaimana jika dia keluar dari ruangan dan masih dalam kondisi yang memalukan? Ia semakin kesal karena Alex hanya diam memperhatikan.


“Kalau anda tidak mau memberitahuku apanya yang lucu, aku akan meminta kak Bisma untuk menghajar anda.” Nara berdiri. Melipat kedua tangannya. Bibirnya mengerucut.


“Hahahaha.” Nara semakin kesal mendengar Alex menertawakan nya. Di luar ruangan, sekali lagi Gibran menghentikan pekerjaannya. Dan dia menjadi semakin yakin jika harus secepatnya pergi memeriksakan telinganya. Mungkin sepulang kantor petang nanti.

__ADS_1


“Oh jadi nona Kinara pandai mengadu ya?” ledek Alex. Nara semakin kesal.


“Aku tidak mengadu. Aku hanya melaporkan.”


“Itu sama.”


“Beda.”


“Huh. Sudahlah. Aku akan memberitahumu.” Nara terlihat semangat. Dengan mata berbinar ia melihat Alex. Membuat laki-laki itu begitu takjub. Secepat itukah gadis di depannya ini mengganti ekspresi nya?


“Apa yang lucu dari saya? Apakah pakaian yang saya gunakan terlihat konyol? Atau riasan saya ada yang berantakan? Atau sepatu saya tinggi sebelah?” tanya Nara antusias. Ia bahkan menopangkan tangannya di meja Alex, kemudian mencondongkan badannya.


Mendengar pertanyaan terakhir yang dilontarkan Nara membuat Alex menaikkan alisnya. Apakah pertanyaan konyol seperti itu juga berhasil dipikirkan? Adik Bisma ini benar-benar menarik.


“Sebelum saya menjawab pertanyaan mu. Aku memiliki pertanyaan untukmu.” Nara kesal. Dia sudah dibuat penasaran malah dipersulit.


“Baiklah. Apa yang ingin tuan tanya kan?” ucap Nara dengan paksa.


“Apakah kamu dan Bisma benar-benar saudara?” tanya Alex memicingkan matanya. Melihat karakter keduanya jelas sangat bertolak belakang. Mungkinkah mereka bukan saudara kandung?


tabya Nara sinis, jelas dia tidak terima.


“Bukan apa-apa. Aku hanya melihat sifat kalian ini sangat berbeda. Jika rambut kalian tidak sama-sama keriting mungkin tidak akan ada yang percaya jika kalian berdua adalah saudara.”


“Bahkan orang yang dilahirkan kembar saja bisa memiliki perbedaan sifat tuan Alex. Apalagi kami. Sebenarnya, aku dan kak Bisma satu ayah beda ibu.” Nara menundukkan kepalanya. Menautkan kedua tangannya.


Kenyataan ini kadang membuatnya canggung.


“Oh begitu. Baiklah karena kamu telah menjawab pertanyaan ku. Aku juga akan menjawab pertanyaan mu.”


Mendengar itu, raut wajah Nara yang sempat menjadi canggung tadi sudah berubah menjadi antusias kembali. Alex sedikit tersenyum untuk itu.


“Yang lucu adalah pemikiranmu. Mana bisa kamu berpikir jika Bisma akan mengirim seseorang memata-matai ku? Kami berdua berteman sudah sangat lama. Dan saling mengenal satu sama lain melebihi saudara.” jawabnya. “Sebenarnya kamulah yang sedang dimata-matai oleh kakakmu sendiri. Bahkan kakakmu menyerahkanmu padaku.” Lanjut Alex dalam hati.


“Mana bisa anda berpikir jika hubungan kalian lebih dekat daripada saudara. Apa anda mau bilang jika saya dan kakak saya tidak dekat?” Nara menjadi emosi.


“Bukan begitu maksudku Kinara.” Alex menurunkan nada bicaranya. Ia tahu jika gadis di depannya sedang emosi.

__ADS_1


“Lalu?” Nara menaikkan alisnya.


“Maksud saya adalah, antara saya dengan Bisma sudah sangat dekat. Tidak ada keraguan di antara kami. Kami sudah saling percaya satu samaa lainnya..”


“Benarkah!” Nara mengerutkan alisnya. Tidak menyangka jika kakaknya yang dingin dan tak tersentuh itu memiliki seseorang yang begitu dekat. Tapi setelah memperhatikan lebih jauh, itu tidaklah aneh.


Sesama balok besi pasti hidup berdampingan dengan selaras.


Itulah hasil akhir dari pemikiran Nara mengenai Bisma dan Alex. Ya. Mereka akan sangat cocok menjadi rekan. Memikirkan itu, satu pertanyaan muncul di kepalanya.


“Apakah kak Bisma yang meminta anda untuk memindahkan saya dari divisi keuangan ke staf sekretaris?” tanya Nara curiga. Bahkan jari telunjuknya menunjuk Alex dengan tajam. Membuat laki-laki yang baru kali ini mendapat kan perlakuan yang begitu kurang ajar padanya.


“Tidak. Tentu saja tidak. Meskipun kami berteman, di dalam perusahaan kami adalah rekan kerja. Tidak ada yang boleh ikut campur satu sama lain.”


“Lalu kenapa saya dipindahkan ke sini?”


“Entahlah. Itu pengaturan Gibran. Katanya ada staf yang cuti selama satu bulan untuk pulang kampung merawat ibunya yang sakit.” Jawab alex agar Nara tidak mencurigai nya.


Nara menghela napas. Sepertinya itu memang bukan kerjaan kakaknya. Ia sudah curiga tadi.


“Em... Tuan ada apa tuan memanggil saya tadi?” Nara mengganti topik pembicaraan.


“Oh aku sampai lupa. Ini mengenai agenda esok aku ingin kamu menyiapkan berkas yang berkaitan dengan proyek pembangunan hotel XX yang dikerjakan oleh PT. Angkasa Build.” Ucap Alex yang sudah kembali serius. Nara pun mendengarkan penjelasan Alex dengan serius.


Keduanya membicarakan apa saja yang akan mereka periksa di tempat proyek. Keduanya sudah larut dalam pembicaraan mereka dengan serius. Tidak ada lagi wajah santai Nara yang biasanya selalu terlihat. Wajah serius gadis itu bahkan terlihat lebih mempesona.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🥰


Alhamdulillah hari ini bisa up lagi 😎


Klik like, vote dan komen-komen ya gaes... Biar Akohnya semangat update 😘

__ADS_1


__ADS_2