
Suasana menjadi tegang. Raut emosi menghiasi wajah-wajah kedua keluarga. Kedua orang tersangka yang menjadi penyebab suasana tegang itu pun tak kalah tegangnya.
Nathan dan Jennika duduk berdampingan mengutarakan niat mereka untuk memutuskan pertunangan mereka. Pernikahan yang seharusnya dilaksanakan beberapa bulan lalu sengaja mereka tunda-tunda dengan berbagai alasan.
Keduanya sepakat untuk memutuskan pertunangan karena memang tidak ada harapan untuk bersama. Meskipun Jennika masih mencintai Nathan, namun dia lebih memilih mundur karena ia sadar diri bahwa cinta itu tidak dapat dipaksakan. Lagi pula ia tahu betul bahwa orang yang dicintai Nathan adalah orang yang baik.
Mereka menunda-nunda pembatalan dikarenakan demi stabilnya kondisi perusahaan keluarga Nathan. Dengan adanya pertunangan itu, secara bertahap kondisi perusahaan yang sempat memburuk berangsur membaik. Saat ini setelah kondisi sudah stabil, mereka memutuskan untuk segera mengakhiri sandiwara mereka.
Jennika tahu betul bahwa Nathan telah menunggu saat-saat ini. Selama hampir satu tahun ini, ia sendiri yang menjadi saksi perjuangan Nathan untuk memulihkan perusahaan. Dan ia tahu semua yang dilakukan Nathan adalah untuk Nadia. Nathan sendiri telah menceritakan bahwa dirinya dan Nadia telah berjanji untuk saling menunggu.
“Apakah kalian yakin dengan keputusan kalian?” tanya Robi, papa Jennika.
“Iya.” Jawab Jennika dan Nathan serempak.
“Kenapa kalian tiba-tiba memutuskan pertunangan ini?” tanya Rita, mama Nathan.
“Kami memang tidak cocok.” Jawab Nathan.
“Jennika sayang, bilang sama tante, apa Nathan menyakitimu?”
“Tidak tante. Kami memang tidak cocok. Kami sudah berusaha menyesuaikan diri kami selama ini. Tapi kami memang benar-benar tidak cocok. Saya juga berencana akan melanjutkan study saya di bidang Fasion di Paris.” Jawab Jennika. Menggigit bibir bawahnya. Mencoba mencari sedikit keberuntungan dari keadaan yang menyesakkan untuknya.
Jawaban ini tidak ada di antara alasan yang dibuat oleh Nathan dan Jennika. Dan itu membuat Nathan melirik Jennika sekilas. Alasan ini muncul sendirinya di hati Jennika setelah mengetahui rencana Nathan untuk memutuskan pertunangan mereka.
Pada saat pertama Nathan memberitahunya bahwa ia akan memutuskan pertunangan mereka Jennika merasa hancur. Namun Jennika memiliki rencana lain dengan mengajak Nathan membuat sandiwara pertunangan hingga perusahaan Nathan kembali pulih.
Dia masih berharap selama itu ia bisa mendapatkan hati Nathan. Namun nyatanya cinta Nathan untuk Nadia memang begitu kuat meskipun ia sendiri tahu bahwa Nathan dan Nadia tidak pernah terhubung selama ini. Handphone Nathan dicopet ketika baru sampai di kota.
Satu minggu yang lalu, Nathan meminta bertemu Jennika. Dan dokter tampan yang sekarang berubah menjadi seorang pengusaha muda itu mengungkapkan niatnya untuk sesegera mungkin memutuskan pertunangan di antara mereka.
Nathan juga sudah tidak sabar untuk segera menemui Nadia, pemilik hatinya. Di tengah kegundahan hatinya itulah Jennika memutuskan untuk pergi sejauh-jauhnya dari sisi Nathan. Dan ia memutuskan untuk pergi ke Paris untuk kuliah kembali mengambil jurusan Fasion yang ia impikan sejak dulu. Ia harus mengobati patah hatinya dengan jauh dari Nathan.
“Kamu mau ke luar negeri lagi?”
“Iya pa. Papa sendiri tahu kan kalau Jenni tidak menyukai bismen selama ini. Jenni tersiksa pa. Izinkan Jenni mengambil jalan yang Jenni impikan ya?”
Robi mendesah. Ia sadar bahwa ia selama ini telah memaksa Jennika untuk mengambil jurusan yang tidak diminati gadis itu. Robi tahu betul cita-cita anaknya adalah untuk menjadi seorang desainer.
“Baiklah kalau begitu. Papa mengizinkan. Kita juga akan mengumumkan pembatalan pertunangan ini pada publik satu bulan dari sekarang. Kita tunggu peluncuran produk handphone yang menjadi proyek bersama kita.”
__ADS_1
“Tuan Robi, meskipun kita tidak jadi jadi besan, kita tetap bisa bekerja sama bukan?” tanya Panji, papa Nathan khawatir. Tentu saja ia memiliki rasa takut jika perusahaan yang baru pulih akan kembali bermasalah.
“Tentu saja Tuan Panji. Kerjasama kita saling menguntungkan. Anda beruntung memiliki putra seperti Nathan yang sangat hebat dan handal dalam berbisnis.” Puji Robi. Membuat Nathan sedikit tak enak hati karena selama ini ia telah memanfaatkan keluarga Jennika.
“Terima kasih atas pujiannya tuan Robi. Saya juga banyak berlatih dari tuan.”
“Hahaha. Anak muda yang hebat.”
Selain Nathan dan Jennika, ada satu lagi orang yang mengetahui kebenaran alasan pembatalan pertunangan itu, dia adalah Tasya. Ia tahu betul jika kakaknya telah jatuh cinta pada Nadia. Ia yakin jika kakaknya akan memperjuangkan cinta Nadia. Tasya juga akan mendukungnya. Duduk tenang di kursinya, Tasya mengulum senyum penuh kelegaan. Ia tahu sang kakak tidak menginginkan pertunngan itu.
Pembicaraan berlanjut. Tetapi kini semuanya memutuskan berganti topik. Mereka tidak lagi membahas pertunangan yang memang tidak bisa dipaksakan kepada kedua orang yang tidak saling mencintai.
“Terima kasih banyak Jen.” Kata Nathan ketika keduanya duduk di taman belakang rumah Jennika. Anggota keluarga yang lain berada di dalam rumah.
“Sama-sama Nathan. Aku juga diuntungkan disini. Jika tidak karena ini, aku tidak akan diizinkan untuk pergi ke Paris untuk mengejar cita-citaku.”
“Hem.”
“Nathan, jemputlah Nadia segera sebelum dia diambil orang. Apalagi dia sudah tidak bisa dihubungi selama ini. Aku akan selalu berdo’a kalian akan bahagia.”
“Tentu Jen. Aku juga berdo’a agar kamu juga segera menemukan orang yang tepat untuk kamu cintai. Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu selama ini. Aku berterima kasih karena telah membantuku.”
“Baiklah. Apapun itu, aku akan selalu berterima kasih padamu. Ayo kita bergabung dengan yang lain.”
“Ayo.” Sebelum hatiku kembali tidak rela dan memaksamu untuk menjadi milikku. Aku harus segera menjauh darimu dokter cintaku. Sambung Jennika dalam hati.
Sesuai rencana, pengumuman pembatalan pertunangan dilaksanakan satu bulan kemudian. Jennika sendiri sudah tidak berada di tanah air dua hari setelah hari itu. Ia merasa harus segera pergi.
Nathan segera pergi ke desa satu minggu setelah pengumuman. Ia harus memastikan terlebih dahulu jika kondisi perusahaannya stabil.
Namun alangkah terkejutnya ia saat tidak mendapati Nadia di desa. Dengan tergesa ia mencari Joni yang sekarang menjadi tangan kanan Yulia di penggilingan. Hanya Joni yang bisa membantu Devi dan Yulia mengelola penggilingan. Namun, jika bukan karena permintaan Nadia untuk membantu Yulia, Joni tidak akan mau.
“Joni aku ingin berbicara.” Kata Nathan to the point ketika ia sedang mengawasi proses penjemuran gabah.
Joni yang mengetahui tamu tak terduganya sudah mengetahui apa maksud dari tamunya itu.
“Kita bicara di tempat lain dokter.” Joni mengajak Nathan keluar dari desa.
“Katakan padaku dimana Nadia Joni?” tanya Nathan. Keduanya sudah berdiri di tepi telaga. Tempat terakhir kali mereka bertemu.
__ADS_1
“Saya juga tidak tahu dokter.”
“Kamu pasti bohong kan?”
“Tidak dokter. Saya benar-benar tidak tahu.”
“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?”
“Saya juga ditipu dokter. Dia berkata bahwa ia pergi ke kota X. Tapi saya sudah mencari tahu disana tapi dia tidak ada disana. Apalagi nomornya juga tidak aktif. Bahkan semua media sosialnya sudah lama tidak digunakan. Mobil yang ia gunakan pun ia jual di kota X. Saya tidak bisa melacaknya sama sekali sekarang.”
“Kenapa dia pergi Joni? Kenapa tidak kamu halangi?”
“Nadia pergi dengan alasan yang penting. Bisma bisa saja dalam bahaya.”
“Aku yakin tidak hanya itu alasannya. Selama ini Nadia telah menghadapi banyak masalah. Tidak mungkin akan takut jika ia tidak bisa melindungi Bisma kan?”
“Kalian memang saling mengerti.”
“Ck. Aku sudah menduga. Apa dia menghindariku?”
“Iya dokter. Sebenarnya, Nadia hamil. Dia merasa tidak pantas untuk dokter.”
“Apakah ia meragukan cintaku? Aku akan menerima bagaimanapun keadaannya Jon. Apakah ia tidak tahu itu?” ucap Nathan emosi. Bukan karena mengetahui bahwa Nadia hamil. Melainkan karena Nadia pergi meninggalkannya tanpa memikirkan perasaannya.
“Justru karena Nadia tahu itu dokter, ia pergi. Nadia berpikir dokter berhak mendapatkan orang lain yang lebih baik darinya. Nadia merasa tidak pantas menerima cinta dokter.” Joni mengeluarkan surat Nadia dari dalam saku celananya yang ia ambil dari dalam mobil sebel turun. Surat itu selalu ada di dalam mobil yang dulu digunakan Nadia.
Nathan menyugar rambutnya setelah membaca surat Nadia. Ia tak menyangka ini akan terjadi. Bagaimanapun keadaan Nadia, ia akan menerimanya. Ia tak peduli Nadia tidak lagi perawan bahkan dalam keadaan hamil. Yang ia tahu bahwa ia mencintai wanita itu. Mantan istri muda juragan Bondan.
Joni yang mengetahui betapa hancurnya dokter Nathan juga ikut merasa sedih. Ia menyesal telah membantu Nadia pergi dari desa.
*
*
*
Ucapin See you later buat Jennika, kisah cinta Jennika juga sedang akoh siapin. Begitu cerita yang ini tamat, Akoh ajak kalian bergabung sama Jennika si gadis manja dan Zidan si tuan pemaksa. Judulnya masih akoh rahasiain. Fokus dulu sama yang ini. Oke!?
Sini sini Dokter Nathan yang tampan, sama akoh aja....
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen, dan favorit in cerita ini ya man teman...