Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_82. Begitu Menyakitkan


__ADS_3

Alex duduk dengan tegang di depan meja dokter. Nathan yang duduk di sebelahnya juga tak kalah tegangnya. Di depan keduanya, dua orang berpakaian serba putih khas dokter memegang map di tangan mereka.


Kedua dokter saling memandang sekilas sebelum dokter laki-laki blesteran bernama Smith berbicara dengan serius. “Setelah pemeriksaan lanjutan yang telah kami lakukan, kami menemukan sel kanker yang tumbuh di rahim istri anda.”


Deg...


Waktu seakan berhenti berputar. Ribuan paku seakan menancap di kepala Alex. Hatinya pun bagai teriris pilu. Alex memang tidak mengerti banyak hal mengenai penyakit. Tapi ia tahu ini akan menimbulkan masalah untuk calon anak mereka.


Sudah lama Alex dan Nara menginginkan seorang anak. Dan setelah sekian lama menunggu, mengapa cobaan yang begitu berat menghadang kebahagiaan mereka.


Kehilangan calon anak mereka adalah sesuatu yang buruk. Tapi yang lebih membuatnya sedih adalah mengenai kondisi Nara saat ini.


“Dalam keadaan nona Nara, kehamilannya ini sangat berbahaya. Kehamilan ini bisa saja diteruskan, namun akan sangat membahayakan nyawa ibu. Jadi saya menyarankan untuk mengaborsi janin ini.” Kata-kata dokter muda ber-nametag Triana Ariestina SpOG seperti Sambaran petir bagi Alex dan Nathan.


“Selamatkan istri saya.”


“Apa anda yakin?”


Alex mengangguk. Nathan memandang Alex dengan iba. Jika ia berada di posisi yang sama dengan menantunya ini, ia juga akan melakukan hal yang sama.


“Papa setuju denganmu Lex.” Nathan menepuk pundak Alex.


“Baiklah. Tolong tanda tangani persetujuan ini dan kami akan langsung melakukan prosedurnya.” Dokter Triana menyodorkan map berisi lembar persetujuan untuk aborsi.


Alex segera menerimanya. Membacanya sekilas lalu membubuhkan tanda tangannya di atas materai yang tertempel di sana. Nathan memandang selembar kertas itu dengan nanar. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia merasa tidak rela kehilangan calon cucu pertamanya, tapi ia jauh tidak rela jika harus membahayakan keselamatan Nara.


Alex dan Nara masih muda. Mereka masih mempunyai banyak waktu dan bisa mempunyai anak lagi di masa depan. Yang paling penting saat ini adalah kesembuhan Nara. Setelah janin di angkat, prosedur pengobatan kanker akan segera dilaksanakan.


Nathan berjalan di samping Alex. Kedua laki-laki beda generasi itu berjalan dengan beban di pundak mereka. Setelah mereka membuat keputusan sepihak itu, kini mereka harus menghadapi para wanita yang ada di ruangan Nara.


Sesuatu yang sangat berat untuk menyampaikan hal ini pada para wanita itu. Terutama Nara. Calon ibu itu sudah harus kehilangan calon anak yang bahkan baru tadi pagi ia ketahui kehadirannya.


“Bicaralah pada Nara. Berilah pengertian padanya dengan pelan-pelan.” Ucap Nathan sebelum mengajak Nadia dan Serena. Ia tahu Alex dan Nara butuh waktu untuk berbicara. Kedua calon orang tua itu sama-sama dalam kondisi terpuruk saat ini.


“Sebenarnya ada apa ini pa? Apa yang terjadi? Nara baik-baik saja kan pa?” Nadia memberondong suaminya dengan pertanyaan begitu mereka keluar dari ruangan. Air matanya saja sudah luluh bahkan sebelum ia mengetahui apa yang terjadi.

__ADS_1


“Kita cari tempat untuk bicara.” Nathan memimpin jalan. Dua wanita paruh baya mengikutinya di belakang.


Nathan membawa Nadia dan Serena ke taman rumah sakit yang sepi. Menghela napas berkali-kali sebelum ia memberitahukan kondisi Nara dan keputusan yang mereka ambil untuk Nara.


Nadia Tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar apa yang terjadi pada putrinya. Ia hanya bisa menangis. Nathan segera memeluknya dan menepuk punggungnya.


“Kenapa semua ini terjadi? Hiks hiks.” Nadia terus terisak. Tak jauh dari mereka, Serena juga dalam kondisi yang sama. Mengapa kebahagiaan harus pergi dengan begitu cepat?


Di dalam kamar Nara, Alex yang sudah duduk di pinggir ranjang Nara bahkan belum bisa berkata sepatah katapun pada Nara. Membuat istrinya semakin bingung.


“Sebenarnya ada apa sayang? Tolong beritahu aku. Jangan hanya diam saja.”


Bukannya menjawab, Alex memeluk tubuh Nara dengan erat. Menghirup dalam-dalam aroma sang istri yang biasanya akan langsung berhasil menghilangkan beban pikirannya. Namun semakin ia mendekap tubuh Nara, ia semakin berat mengucapkan apa yang seharusnya ia katakan.


“Katakan padaku Lex. Katakan!” Nara mulai menangis. Melihat kondisi Alex, ia yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi.


“Nara, kita harus merelakan anak kita.” Ucap Alex pelan. Nara terperangah.


“Apa maksudmu Lex?” Nara mendorong tubuh Alex menjauh. Ia mendekat perutnya dengan kdua tangannya dengan posesif.


“Tidak boleh. Tidak ada yang boleh menyentuh anakku.” Nara berteriak histeris.


“Dengarkan aku sayang. Kita masih muda. Kita bisa memiliki anak lagi nanti. Tapi untuk saat ini, keselamatanmu adalah hal yang paling penting.” Alex berusaha meraih tubuh Nara. Tapi istrinya itu terus menghindar.


“Aku tidak percaya kamu mengatakan semua ini Lex. Dia anak kita. Kenapa kamu begitu tega padanya hah?” Nara semakin berteriak histeris.


“Semua demi kebaikanmu. Aku juga menyayanginya. Aku juga terpaksa.”


“Tidak. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil anakku. Aku membencimu Lex. Hiks hiks. Ahh.” Nara memekik sambil meremas perutnya yang terasa nyeri.


“Mana yang sakit?” tanya Alex cemas.


“Aku tidak butuh perhatianmu. Kamu itu jahat Lex.” Ucap Nara dengan kesusahan. Perutnya semakin terasa sakit.


“Aku akan memanggil dokter.” Alex segera menekan tombol di samping nakas sebelum keluar dan berteriak-teriak memanggil dokter. Dirinya bahkan tidak menghiraukan jika dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlaku lalang di koridor.

__ADS_1


Tak butuh waktu yang lama, dokter Triana datang dengan terburu-buru. DI belakangnya dokter Smith mengikutinya dengan tergopoh-gopoh bersama beberapa suster.


“Ada apa?” tanya dokter Triana begitu masuk ke dalam ruang inap Nara.


“Istri saya kesakitan dokter. Cepat tolong dia segera.” Alex memandang istrinya yang menahan sakit dengan perasaan kacau.


“Jangan mendekat. Jangan ambil anakku.” Nara panik saat melihat dokter Triana mendekat.


“Mohon tenang dulu nona Nara. Kami hanya akan memeriksa keadaan anda. Biarkan kami memeriksanya agar kami tahu kondisi anda dan bayi anda.” Dokter Triana berusaha menenangkan Nara. Mendengar bujukan dokter Triana, Nara bersedia untuk diperiksa.


Setelah dokter Triana selesai memeriksa, kini giliran dokter Smith yang memeriksa Nara. Dokter blesteran itu menggelengkan kepalanya saat dia selesai.


“Tuan Alex bisa kami bicara dengan anda?” dokter Smith berkata dengan serius.


“Tentu saja. Nanti jika orang tua kami sudah datang, saya akan segera ke ruangan anda.” Jawab Alex sendu.


Nadia, Serena dan Nathan masuk ke dalam ruangan Nara dengan perasaan yang sama-sama tidak baik. Mereka sama-sama bersedih atas apa yang menimpa Nara.


Alex segera menemui dokter setelah Nara ada yang menemani.


“Semua prosedur sudah bisa dilakukan. Apa anda sudah yakin?” tanya dokter Smith tanpa basa-basi.


*


*


*


Akoh yakin banyak yang tidak setuju dengan jalan cerita ini. Tapi ya... Inilah kisahnya.


Mau ikutan nangis?


Boleh


Tapi jangan lupa jempolnya di senggol dulu EA...🥰

__ADS_1


__ADS_2