
Di ballroom sebuah hotel, Sebuah meja panjang telah dipersiapkan. Dengan banyak kursi yang berjejer rapi di depannya. Kursi-kursi itu telah penuh dengan orang-orang yang membawa alat untuk mengambil gambar baik berupa foto maupun vidio. Mereka adalah wartawan yang diundang secara kusus untuk jumpa pers yang akan Nathan lakukan.
Di dalam ruangan tunggu tak jauh dari tempat berlangsungnya acara, Nadia sedang ditenangkan oleh Nathan. Tak dapat dipungkiri jika Nadia merasa gugup. Ini pertama kalinya wajahnya muncul di publik.
“Semua akan baik-baik saja sayang.” Nathan yang duduk di sampingnya menggenggam tangannya yang dingin. Sedangkan tangan yang lain mengelus pundak untuk ikut menenangkan.
“Bagaimana kalau ada dari warga desa yang mengenaliku?” inilah yang ditakutkan. Ada warga desa yang mengetahuinya. Terlebih lagi anggota rumah besar. Ia masih takut jika bisa saja bahaya mengancam anak-anaknya.
“Lalu kenapa? Biarkan mereka tahu bahwa kamu disini hidup makmur dan bahagia. Sehingga mereka berpikir kamu tidak akan kembali ke desa hanya untuk harta yang tak seberapa dibandingkan harta yang dimiliki calon suamimu ini.” Ucap Nathan bangga.
Nadia diam. Dia tahu betul seberapa besar perusahaan yang dipimpin calon suaminya. Ia bahkan tidak bisa membayangkan berapa harta yang dimiliki.
“Tapi tetap saja. Aku khawatir mas.”
“Tenang saja. Setelah pernikahan kita, kita akan ke desa meluruskan segalanya. Biarkan kecemasanmu menguap dan hilang. Dengan begitu kita akan hidup bebas.” Nadia mengangguk. Itu ide yang bagus. Daripada terus menerus pergi, lebih baik mendekat dan menjelaskan. Ini pasti akan jadi rencana yang sempurna.
Tak lama setelah itu, Luna masuk ke dalam ruangan untuk memberitahukan bahwa semua sudah siap.
Nathan menggenggam tangan Nadia sepanjang perjalanan. Meyakinkan wanitanya untuk percaya diri.
“Semua akan berjalan lancar sayang. Semua demi anak-anak.”
Ya benar. Semua ini demi anak-anak. Menghindarkan suara-suara miring tentang mama dan juga calon papa mereka adalah yang terpenting. Nadia tahu betul itu.
Jika hanya ia yang akan menerima dampak dari gosip itu, mungkin ia masih bisa bertahan. Tapi setelah melihat Bisma yang menjadi semakin dingin membuat Nadia dan Nathan memutuskan untuk mengadakan jumpa pers.
__ADS_1
Blitz blitz kamera menyapa dua orang yang baru saja keluar dari persembunyiannya. Nadia berjalan dengan anggun di samping Nathan yang berjalan dengan gagah. Keduanya menampilkan sosok keagungan di depan publik. Sehingga dalam sekali pandang, orang akan menyadari bahwa keduanya layak bersanding.
Dengan wajah dan tubuh yang sempurna terlihat sangat serasi. Inu seperti pasangan yang memang tercipta satu sama lainnya. Senyum Nadia yang sedikit dipaksakan malah terkesan seperti senyum yang elegan. Manis dan membuat siapa saja yang memandangnya terkesima.
Mereka sudah terbiasa melihat Nathan yang tidak diragukan lagi pesonanya. Kini merek sibuk memindai calon istri pilihan laki-laki seperti Nathan. Nadia terlihat menawan meskipun dibalut dengan dres putih sederhana. Make up yang dia aplikasikan membuatnya terlihat muda dan dewasa dalam kesempatan yang sama. Aura Nadia yang agung tidak dapat diacuhkan. Tidak dapat dipungkiri jika selam menjadi istri Juragan Bondan, kemampuan untuk berperilaku agung terlatih sempurna.
“Selamat siang semuanya, terima kasih telah berkenan memenuhi undangan kami disini.” Ucap David. Suami Luna yang bekerja sebagai kepala bagian Humas di kantor Nathan. Hari ini, ia bertugas menjadi moderator.
David menjelaskan panjang lebar mengenai pertunangan Nadia dan Nathan yang terkesan terburu-buru. Menyangkal bahwa Nadia telah hamil. Juga menjelaskan tentang hubungan Nathan dan Miranda yang memang tidak ada apa-apanya.
“Lalu apakah benar jika Nona Nadia ini adalah Janda.”
“Itu benar. Calon nyonya kami adalah janda dengan dua anak.” Sebelum David menjelaskan lebih jauh, Nathan dengan segera memotongnya.
“Status bukan masalah bagi saya. Lalu ada apa jika Nadia seorang janda? Ini tidak ada yang salah.”
“Sepertinya ada yang harus diluruskan disini.” Nathan menekan setiap kata yang diucapkannya.
“Sayalah yang jatuh cinta terlebih dulu. Saya jugalah yang mengejarnya hingga kesini bertahun-tahun yang lalu. Sayalah yang selalu berusaha memantaskan diri untuk bersanding dengan wanita hebat di samping saya ini. Saya sangat mencintai Nadia sepenuh hati saya jauh sebelum kami saling mengenal. Saya mencintainya sejak pandangan pertama saya. Jadi mengenai kabar yang mengatakan bahwa ia mengejar saya dengan tubuhnya jelas sesuatu yang salah.”
Nadia yang mendengar pengakuan Nathan menjadi sangat terharu. Ini artinya, semenjak Nadia masih menjadi istri juragan Bondan, Nathan sudah mencintainya.
Semua yang ada disana masih terpana mendengar pengakuan pengusaha muda itu. Ia bahkan tidak malu mengakui bahwa ia mengejar seorang janda dengan dua anak dengan usaha yang keras. Mereka juga melihat sendiri bagaimana besarnya cinta keduanya.
Belum sepenuhnya sadar dari keterkejutan mereka, suara-suara yang heboh menarik perhatian mereka.
__ADS_1
Sekelompok ibu-ibu masuk dengan hebohnya ke dalam ruangan. Nadia yang mengenal siapa mereka menjatuhkan rahangnya.
“Siapa yang berani berkata bahwa Nadia ini seorang pelakor?” bu Endang berkata dengan keras. Ia memimpin rombongannya kesana setelah mengetahui dari Minah bahwa Nadia mungkin membutuhkan bantuan mereka.
Suara yang keras dan berisik secara otomatis membuat wartawan fokus pada mereka. Terlebih Nathan memberikan kode ada anak buahnya agar membiarkan saja kelompok ibu-ibu itu beraksi. Nathan sedikit banyak mengenali wajah mereka meski tidak tahu namanya. Bahkan Nathan memerintahkan untuk mengatur tempat pendatang baru yang ramai itu di samping Nadia.
“Nadia bukan seorang yang seperti itu. Nadia datang ke lingkungan kami empat tahun yang lalu. Ia adalah contoh single parent yang baik. Meskipun ia sibuk bekerja, ia selalu menyempatkan diri mengurus kedua anak mereka. Menghabiskan waktu yang ia miliki sebanyak mungkin dengan anak-anaknya. Nadia mendedikasikan hidupnya untuk kedua anaknya.”
“Saya dan kalian semua disini belum tentu dapat menjadi seperti Nadia. Wanita yang sangat baik seperti Nadia tidak pantas menerima kabar yang tidak bertanggung jawab seperti ini.”
“Kalau dia sibuk, lalu bagaimana bisa ia menjalani hubungan dengan tuan Nathan?”
“Saya menyempatkan diri untuk menemani Nadia merawat anak-anaknya. Saya sudah bertekad menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kami.” Jawaban itu tentu saja berasal dari Nathan.
“Saya rasa semuanya cukup sampai disini. Saya mau tidak lagi ada berita miring mengenai kami. Yang perlu ditegaskan disini bahwa sayalah yang mengejar Nadia dan mencintainya dengan tak terhingga. Sehingga siapapun yang berani membuat masalah untuknya dan anak-anaknya, saya tidak akan berpikir dua kali untuk memberi balasan dengan berkali-kali lipat.”
“Saya mengucapkan terima kasih pada geng penyu yang telah membantu kami hari ini. Bantuan dari kalian sangat berarti.” Ucap Nathan dengan sepenuh hati.
Nathan membawa Nadia pergi setelah menghapus air mata ya g mengalir di pipi Nadia dengan kedua tangannya. Pemandangan ini jelas tidak dilewatkan oleh pemburu berita dan segera menjadi trending topik dengan hastag : Bucinnya Nathanail Geovan Mahardika.
Beberapa judul juga menjadi viral seperti, Sosok cantik yang mendapatkan hati seorang Nathaneil. Dengan beberapa foto yang mereka ambil selama jumpa pers. Menampilkan potret Nadia dari berbagai sudut dan ekspresi.
*
*
__ADS_1
*
Menuju Ending man teman....