
Hari ini di kantor, semua karyawan heboh karena pengunduran diri Daffa secara tiba-tiba. Daffa merupakan karyawan teladan selama beberapa kali sejak ia ikut bergabung. Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang baik terhadap semua orang membuat banyak orang menyukainya di kantor.
“Aneh bukan jika pak Daffa mengundurkan diri secara tiba-tiba dengan tanpa alasan.” Kata seorang karyawati yang sedang berbincang sambil membenarkan make up-nya di kamar mandi.
“Kamu dengar tidak jika satu Minggu terakhir ini pak Daffa sedang dekat dengan Kinara, itu lho mahasiswa yang sedang observasi.” Sanggah temannya.
“Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Kinara itu. Kan ada kabar juga jika gadis itu dekat dengan tuan Alex.” Kata temannya yang lain.
“Hah. Pasti ada yang tidak beres dengan Kinara. Lebih baik kita menghindar. Jangan sampai kita kena masalah gara-gara dia.”
Dan satu keputusan akhirnya dibuat. Entah ini sebuah pujian atau ejekan. Yang pasti beberapa wanita lebih memilih menghindar dari masalah.
**
Kabar pengunduran diri Daffa juga didengar oleh teman-teman Nara. Mereka merasa kasihan pada Nara. Yang mereka semua tahu jika Daffa adalah target yang baik untuk Nara saat ini. Nara dan ketiganya memang sangat jarang bertemu akhir-akhir ini.
“Nanti kita ajak ketemuan saja Nara. Kasihan dia.” Kata Gita.
“He em. Dia pasti sedih banget.”
**
Sedangkan teman yang mereka khawatir kan sedang bergelut dengan bertumpuk-tumpuk berkas yang baru saja dikirim dari bagian divisi mereka. Dia bahkan sudah hampir melupakan kejadian kemarin di kafe.
Hilang tak berbekas.
**
Jam makan siang tiba. Dengan semangat Nara menghampiri ketiga sahabatnya di ruangan mereka. Sebelumnya mereka sudah sepakat bahwa hari ini mereka akan makan siang bersama. Sepertinya sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka makan siang bersama.
Sejak ketiga teman Nara mendapatkan pacar, mereka selalu menghabiskan waktu makan siang mereka bersama pacar-pacar mereka. Meninggalkan Nara yang masih mencari target hingga bertemu dengan Daffa.
Gita, Syila dan Vera sempat tertegun saat melihat Nara yang muncul di ruangan mereka dengan senyum mereka di bibirnya. Ketiganya berpandangan untuk memastikan jika mereka melihat hal yang sama.
“Kenapa dengan kalian?” Nara mengerutkan alisnya. Ketiga sahabatnya melihatnya dengan begitu aneh.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Ra. Kami hanya rindu denganmu.” Dengan cepat Syila membalik keadaan. Ia tidak mau jika mood Nara menjadi buruk akibat pertanyaan yang sangat membuat mereka penasaran, tapi harus dengan sekuat tenaga mereka pendam.
“Aku juga kangen tau.” Nara menghambur memeluk ketiganya. “Kalian kan sibuk terus dengan pacar-pacar kalian. Enak saja meninggalkan ku terus.” Gerutu Nara saat ia melepaskan pelukannya pada mereka.
“Ehehe. Oke. Karena sekarang kita sudah kumpul lagi. Ayo kita keluar bersama.” Kata Gita semangat yang diangguki semuanya.
Mereka tidak pergi ke tempat yang istimewa. Hanya di kantin kantor. Lagipula masakan di sana juga lumayan. Dan yang paling penting, mereka dapat menghabiskan banyak waktu bersama tanpa menghabiskan waktu selama perjalanan.
Nara melahap makanannya dengan senang. Akhirnya ia berkumpul bersama teman-temannya lagi setelah sekian lama.
“Kenapa dengan kalian? Kalian tidak suka ya menemaniku makan siang?” tanya Nara kesal. Pasalnya dari awal ketiga sahabatnya ini berwajah yang aneh.
Kepala mereka seperti tertindih sesuatu yang besar. Penuh beban dan pikiran. Nara jadi berpikir apakah ajakannya makan siang bersama begitu memberatkan sahabat-sahabatnya untuk saat ini? Mungkinkah dia egois karena meminta waktu yang seharusnya mereka lewatkan bersama kekasih mereka?
“Maafkan aku jika aku menyita waktu kalian pacaran. Abisnya kita kan udah lama nggak ketemuan kayak gini.” Nara meletakkan sendoknya.
Ketiga sahabatnya saling menoleh. Sungguh mereka bukan keberatan. Sama sekali mereka tidak keberatan untuk menghabiskan waktu dengan Nara. Selama ini mereka lebih memilih menghabiskan waktu makan siang mereka dengan pacar mereka pun ada sebab nya. Mereka ingin Nara mempunyai waktu untuk mencari pacar. Bukan hanya fokus pada mereka.
“Ra kamu kok bilang gitu sih. Kami sama sekali tidak keberatan kok makan siang bersama kayak gini. Bahkan kalau setiap hari pun kami juga pasti mau.”
Nara segera menegakkan badannya saat mengingat Alex. Laki-laki yang terlihat tampan saat kemarin menyelamatkannya tiba-tiba membuat nya merona. Ia tersenyum tanpa sadar.
“Ra, kami turut prihatin ya atas apa yang menimpa kak Daffa.” Ucap Syila. Gita dan Vera mengangguk. Mereka jelas tidak tahu apa-apa perihal kejadian kemarin. Mendengar ucapan Syila membuat Nara sadar dari lamunannya tentang penampilan Alex kemarin.
Nara tersenyum sebelum menyesap es dogger yang dipesannya. Setelah ini akan ada sesi cerita yang akan membuat kerongkongan kering.
“Buat apa kalian prihatin pada cowok kayak dia.” Kata Nara dengan nada penuh ejekan. Dia bahkan mengaduk es digelasnya dan menyesapnya lagi. Membuat ketiga temannya saling berpandangan tak mengerti.
“Cowok kayak dia gimana maksud kamu Ra?” Gita dan yang lainnya memandang tak percaya.
Nara melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu makan siang masih setengah jam lagi. Cukuplah untuk bercerita.
“Kemarin itu....” Nara menceritakan kejadian kemarin. Dengan ekstra mendramatisir di bagian yang menggambarkan betapa sakit hatinya kemarin. Memerlukan waktu Setidaknya dua puluh menit untuk bercerita. Itu karena ia mengulangnya hingga tiga kali dengan beberapa revisi di beberapa bagian cerita.
“Wah pasti keren banget tuh tuan Alex.” Vera membayangkan bagaimana kerennya Alex saat menyelamatkan Nara.
__ADS_1
“Pastinya. Kenapa sih Ra kamu nggak sama tuan Alex aja. Kayaknya dia suka deh sama kamu.” Syila ikut berpendapat.
“Aku nggak mau sama cowok dingin.”
“Tapi aku dengar kalau semakin dingin seorang cowok, maka semakin panas saat dia jatuh cinta.” Vera mengetuk dagunya.
“Kalau cowok sedingin kulkas, tinggal masukin aja ke microwave.” gurau Gita. Dan perbincangan tentang tipe-tipe cowok pun mengalir.
Sedangkan Nara jadi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Alex menggodanya. Entah mengapa tiba-tiba Nara merasa jika Alex bukan seorang yang dingin seperti yang dia kira. Laki-laki itu tahu betul bagaimana caranya merayu. Dan cara yang dia gunakan cukup membuat pipi merona kepanasan.
“Jadi bener kak Daffa pergi dari sini ada hubungannya dengan kami?” Syila tiba-tiba membuat kesimpulannya setelah beberapa saat.
“Iya. Siapa suruh dia main-main sama aku.” Ucap Nara santai.
“Tuan Alex hebat banget ya bisa membuat kak Daffa sampai pergi dari sini.”
“ Semua tergantung kekuasaan. Kak Bisma juga bisa kayak gitu.” Kata Nara santai. Ketiga temannya mendengus. Di saat seperti ini Nara baru mau membanggakan kakaknya. Tapi dia sendiri tidak mengakui jika kakaknya hebat.
“Ra. Jangan sampai ini diketahui sama yang lain.” Gita memperingatkan.
“Kenapa?”
“Kamu tahu kan kalau kak Daffa termasuk karyawan yang populer. Dia penggemarnya cukup banyak disini. Kalau sampai ada yang dengar masalah ini, mereka bisa saja celakain kamu.” Gita tahu betul karakter para wanita jika sudah berurusan dengan idolanya.
“Aku nggak takut. Lagian kenapa juga aku harus beritahu mereka?”
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
Beri apresiasi kalian dengan sentuh tanda like 👍 untuk karya Akoh 🙏
__ADS_1
Jempolmu 👍 semangat💪 untukku