
“Jadi bagaimana langkah selanjutnya tuan?” Tanya Gibran saat ketiganya makan siang di restoran tak jauh dari lokasi proyek.
“Kita harus ungkap kecurangan mereka. Enak saja mereka menikmati uang perusahaan tanpa kerja keras yang sepadan.” Decak Alex yang masih merasa kesal akibat penipuan itu.
“Tapi bagaimana caranya?” Gibran melihat Alex dan Nara bergantian. Keduanya hanya diam. Masing-masing sedang memikirkan cara terbaik yang dapat mereka lakukan.
“Bagaimana kalau langsung kita datangi saja mereka. Kita suruh mereka semua berkumpul, kemudian kita hitung jumlah pekerja yang ada. Kita bilang mereka telah melakukan penipuan dengan menyabotase jumlah pekerja.”
“Kemana otakmu? Kalau seperti saja itu mereka akan mengelak.” Alex mengetuk kepala Gibran dengan map yang sudah dia gulung. Nara diam-diam menahan tawanya. Ia tidak menyangka jika ada sisi kekanakan dari dua orang laki-laki dewasa di depannya itu.
“Kenapa tertawa?” tanya Alex dengan nada jengkel.
“Ah tidak.” Nara langsung menutup mulutnya. Berdehem agar Alex tidak membahasnya terlalu dalam. “Saya punya usul.”
“Bagaimana?”
“Kita memang tidak bisa langsung menghitung begitu saja tanpa sebab. Tapi kita bisa menghitungnya secara terang-terangan.”
“Maksudnya?” Alex memperhatikan Nara. Begitu juga dengan Gibran.
“Kita minta pada pihak pengelola agar mengumpulkan semua pekerjanya besok. Kita buat saja alasan untuk mengadakan acara syukuran. Dan semua orang wajib hadir. Dengan cara itu, pihak pengelola tidak akan mempunyai alasan jika ada pekerja yang sedang berhalangan hadir. Tidak mungkin kan para pekerja itu mengadakan tidak hadir secara masal?” jelas Nara. Alex dan Gibran menganggukkan kepala mereka.
“Itu bisa dilakukan. Baiklah. Kita bisa mulai sekarang. Nara kamu hubungi jasa catering yang bisa diminta cepat.”
“Siap pak bos. Restoran mama saya pasti siap.”
Gibran memicingkan matanya. “Kamu promosi?”
“Kalau ada peluang kan ya harus kita gunakan sebaik-baiknya pak. Lagi pula bantuin usaha mama kan merupakan sikap anak yang berbakti. Ehehehe.” Nara tertawa renyah. Ini seperti satu kali mendayung tiga pulau terlampaui. Yang pertama, tugas dari atasan selesai. Yang kedua, menjadi anak yang berbakti. Dan yang ketiga, uang bonus dari mama siap menunggu.
“Bisa gitu juga ya?” Gibran pun terkekeh. Ia tidak menyangka jika Nara cukup cekatan dalam mengambil peluang.
Alex hanya menggelengkan kepalanya. Yang terpenting baginya adalah tugas yang ia berikan selesai. Tidak peduli bagaimana caranya.
“Baiklah, sekarang kita sebaiknya ke lokasi proyek dan memberitahukan rencana untuk esok. Setelah itu kita kembali ke kantor untuk mempersiapkan semuanya.”
“Siap tuan.”
__ADS_1
“Siap pak bos.”
Setibanya di kantor, ia segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia sibuk sepanjang sore. Bahkan ia tidak mempunyai kesempatan untuk menghubungi teman-temannya. Padahal ia tadi berjanji untuk menghubungi mereka jika sudah kembali ke kantor. Namun apa daya jika keadaan yang tidak memungkinkan.
Ponsel yang ia letakkan bergetar. Ia melirik sekejap. Wa dari grub FB(Four Beauty). Nama yang cukup narsis. Namun sesuai.
Vera: Belum kembali kah?
Gita : Kami ada yang ingin dibicarakan
Syila : Hoe Ra Nara. Masih hidup kan?
Gita : Kami penasaran tauk
Vera : Jangan lari woy
Syila : Somse nih anak
Nara mengabaikan ponselnya yang berbunyi beberapa kali. Pekerjaannya tidak akan selesai jika ia terus menanggapi teman-temannya. Pekerjaan kali ini sangatlah penting. Namun karena suaranya yang cukup mengganggu akhirnya Nara mengalah. Ia meraih ponsel dan membuka aplikasi. Ia buka grub wa nya. Dan tanpa membaca pesan yang tertulis di sana, ia mengetik balasannya.
^^^Sorry. Hari ini sibuk: Anda^^^
Nara meletakkan kembali ponselnya. Kali ini ia sudah mengatur mode silent.
Untuk menjebak para pengelola kali ini, Nara berperan paling penting. Ia harus menginput data yang dikirim ke kantor dan juga yang ia dapatkan tadi siang. Nara juga harus mengumpulkan data beberapa bulan sebelumnya untuk mengetahui jumlah kerugian yang disebabkan penipuan.
Alex dan Gibran juga langsung pergi ke kantor polisi untuk meminta bantuan. Kasus ini masuk dalam ranah hukum. Dan pelakunya harus ditindak secara tegas.
Jam kantor sudah lewat. Dan benar saja, Nara harus lembur karena belum menyelesaikan tugasnya. Ia juga sudah mengabari kakaknya bahwa ia lembur dan akan pulang telat.
“Tidak perlu kak. Ini aku juga udah mau pulang.” Kata Nara saat Bisma menelponnya. Masih jam sembilan malam. Tapi Bisma sudah sangat mengkhawatirkan adiknya.
Nara masih mendengarkan ucapan kakaknya yang masih bersikeras untuk pergi menjemputnya sambil memasukkan barang-barang yang perlu ia bawa pulang.
“Kalau kakak pergi menjemputku sekarang, bukankah malah akan semakin lama nanti?”
Tidak ada jawaban. Bisma berpikir jika apa yang dikatakan Nara ada benarnya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi kakak.” Ucap Bisma akhirnya.
“Siap bos. Ya sudah aku turun dulu.” Nara kemudian mematikan telponnya sebelum masuk ke dalam lift. Hanya ada Nara yang ada di dalam lift.
Kantor sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa ob dan OG yang masih bekerja dengan sapu dan kemoceng di tangan mereka. Ada yang sedang mendorong troly berisi alat pel.
Mobil yang dikendarai Nara membelah jalanan. Jam setengah sepuluh masih saja ramai. Sepertinya tidak ada kata terlalu larut untuk kota sekelas Jakarta.
Dengan agak cepat ia mengendarai mobilnya. Tubuhnya sudah lelah. Ingin rasanya ia cepat pulang dan pergi tidur.
Nara berdecak saat lampu merah menyala. Ia merentangkan tangannya. Menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Pegal rasanya. Tak sengaja ia melihat pantulan dirinya di cermin.
“Omegot. Kemana kilauannya? Seorang Nara tidak boleh kusam seperti ini.” Nara menepuk pipinya. Seharian bekerja ternyata membuat wajahnya tampak kusam.
Dibukanya Dashboard. Disana tersedia berbagai alat make up yang bisa ia gunakan sewaktu-waktu jika diperlukan. Seperti saat ini misalnya.
Diambilnya cairan miccelar dan juga kapas. Dituangkan sedikit sebelum mengoleskannya ke wajahnya yang kusam. Make up yang menempel terlalu lama juga tidak baik untuk kesehatan kulit. Semahal apapun itu.
“Penuh dengan polusi.” Nara memasukkan kapas bekas yang sudah berubah warna ke dalam kotak di bawah dashboard yang merupakan tempat sampah.
Setelah itu ia mengambil cairan vitamin c dan segera menyemprotkan nya ke wajah. Ia menutup mata agar tidak masuk ke dalam mata.
“Selesai.” Nara memasukkan kembali semuanya ke dalam dashboard. Tepat saat itu lampu rambu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Ia segera melajukan mobilnya. Ia sudah tidak sabar ingin segera pulang.
Keinginan hanya tinggal kenangan saat tiba-tiba saja ban mobilnya bocor. Dengan lemas ia menepikan mobilnya ke sisi jalan raya. Ia kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Bisma.
“Sial! Kenapa mesti Low bat di saat yang tidak tepat sih.” Decak Nara. Ia melemparkan ponselnya ke kursi di sampingnya.
Nara hendak keluar saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Ia pun mengurungkan niatnya. Bisa saja itu adalah orang jahat. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Please like and comment 🥰