Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
66. Membuat Kesepakatan


__ADS_3

Dengan tertangkapnya Yanto, penggilingan beras mengalami masalah. Tanpa pemimpin, penggilingan itu berhenti beroperasi karena terbiasa menerima perintah. Anak buah yang ditinggalkan tidak ada yang bisa mengambil langkah. Pengiriman beras ke kota berhenti total.


Hal ini menimbulkan dampak yang besar. Yulia dan Devi yang tidak pernah datang ke penggilingan tentu saja tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Meskipun mereka berdua datang, ini seperti tidak ada bedanya.


Nadia yang mendapatkan laporan dari anak buahnya mengenai kondisi di penggilingan segera pergi ke sana. Bagaimanapun ia harus membantu. Meskipun ia yakin Yulia dan Devi tidak akan mau menerimanya disana.


“Kamu yakin akan kesana Nad?” tanya Joni saat menerima perintah dari Nadia.


“Ya. Ini bukan hanya menyangkut bu Devi dan Mbak Yulia Jon. Jika penggilingan sampai gulung tikar, akan lebih banyak orang yang akan dirugikan.”


“Kedua wanita itu akan menyusahkanmu disana Nadia.”


“Tidak masalah. Aku bukanlah kesana dengan tangan kosong Jon. Aku memiliki rencana. Lagipula, mereka tidak mempunyai siapapun lagi untuk melakukan semua itu untuk mereka.”


Joni mendesah. Terkadang Joni bingung atas sikap Nadia. Dia terlalu baik. Jika Nadia mau, dengan mudah Penggilingan itu akan jatuh ke tangannya. Dengan beberapa uang, Devi dan Yulia akan dengan senang hati menukarnya.


Tidak bisa lagi melawan perintah, Joni segera membukakan pintu mobil untuk Nadia. Kemudian segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke arah penggilingan beras berada.


Keadaan penggilingan sangat kacau. Berkarung-karung beras dibiarkan tertumpuk di depan gudang karena gudang sudah penuh. Sedangkan di luar, masih banyak gabah(biji padi) yang dijemur. Di lain sisi, suara mesin penggiling juga terdengar. Ini menunjukkan proses penggilingan masih berlanjut.


Devi dan Yulia dibuat bingung dengan catatan yang ditinggalkan Juragan Bondan dan Yanto. Keduanya tidak dapat menemukan nama pasar, alamat dan juga jumlah beras yang perlu dikirim.


Kantor dibuat kacau. Berantakan dengan banyaknya kertas yang bertebaran. Di tengah lautan kertas itu, duo ibu dan anak masih terus membaca dan memilah dengan frustasi. Sedangkan anak buah yang bertugas disana tidak dapat membantu, hanya diam melihat kekacauan yang dibuat kedua orang penguasa baru tersebut.


“Nyonya muda.”


Sebuah sapaan yang membuat atensi kedua wanita yang tengah kebingungan itu teralihkan. Dari sinar matanya jelas itu adalah pandangan ketidak sukaan. Namun jelas ada hembusan nafas kelegaan dari sebagian orang. Masalah sebentar lagi teratasi.


Nadia hanya tersenyum dan mengagguk pada para anak buah yang menyapanya. Meskipun bagimana, status Nadia tetaplah nyonya muda bagi mereka. Nadia juga memiliki kekuasaan yang sama dengan Devi dalam hal apapun. Pembagian kepemilikan bukan untuk konsumsi publik.


“Untuk apa kamu datang Nadia?” sinis Yulia. “Puas kamu melihat kehancuran kami?” lanjutnya.


“Aku tidaklah sejahat itu mbak. Lebih jauh lagi, aku kesini ingin membuat kesepakatan.” Kata Nadia tenang sambil memindai ke penjuru kantor. Nadia hanya menggeleng melihat kekacauan yang dibuat.


“Kesepakatan seperti apa yang kamu maksud?”


“Begini, aku akan membantu mengurus penggilingan ini.”


“Tidak bisa.” Potong Devi cepat.


“Sebentar bu Devi, biarkan aku menyelesaikan kalimat saya. Aku yakin kalian berdua akan tertarik.”

__ADS_1


“Apa kesepakatan yang kamu tawarkan?”


“Biarkan aku membantu disini. Dan aku akan memberikan setengah kepemilikan rumah besar. Dengan syarat seluruh hutang warga desa dianggap lunas. Lagipula, semua hutang itu tidak sampai seratus juta sekarang. Seharusnya, dengan separuh rumah itu bisa menutupinya. Bagaimana? Bukankah ini menguntungkan kalian? Aku bahkan bekerja secara gratis disini.”


Mendengar itu, baik Yulia, Devi bahkan Joni membelalakkan matanya. Bagaimana Nadia bisa mengambil langkah seperti itu? Ini bahkan sangat merugikannya. Joni bahkan memperlihatkan ketidak setujuannya dengan jelas.


“Kenapa kamu melakukan ini? Apa kamu bodoh?” tukasnya. Nadia hanya mengulum senyum menanggapi protes sang bodyguard.


“Bukan, justru karena aku pintar aku melakukan ini. Coba pikir, semua pengeluaran di rumah besar masih menjadi tanggung jawab Penggilingan. Jika penggilingan ini sampai bangkrut, bukankah aku yang akan dirugikan dengan harus mengeluarkan uang pribadiku untuk itu?” Ucap Nadia menunjukkan wajah enggannya melihat duo srigala.


Tapi tetap saja ini masih tidak masuk akal. Jika itu alasannya, bisa saja Nadia bahkan mengusir Devi dan Yulia. Tidak perlu repot-repot membantu kedua orang yang bisa disebut musuhnya itu.


Mengesampingkan itu, Devi dengan segera menyetujui bahkan tanpa meminta pendapat Yulia. Rumah besar bukan hanya sebatas rumah untuknya, lebih jauh lagi, rumah besar adalah simbol dari martabatnya sebagai nyonya besar dari rumah besar. Jika ia sampai diusir dari sana, ini akan melukai martabatnya.


Persetan dengan harga diri karena menerima bantuan dari Nadia. Yang terpenting adalah menyelamatkan penggilingan yang merupakan ujung tombak kehidupannya. Semua kemewahan yang dia nikmati berasal dari penggilingan, tidak mungkin jika dibiarkan bangkrut begitu saja bukan?


“Bagaimana jika kamu berbohong?” Yulia yang masih menyimpan sakit hati yang sangat dalam bagi Nadia terus merasa curiga.


“Tidak apa jika kalian menolak. Aku bukanlah pihak yang akan dirugikan dalam hal ini. Jika kalian menolak, kalian bisa angkat kaki dari rumah besar jika kalian hanya akan menumpang hidup disana.” Kata Nadia menghiaraukan kilatan kebencian di mata Yulia.


Sebelum Yulia mengeluarkan umpatannya, Devi segera menarik anaknya untuk tidak memprovokasi Nadia lebih banyak. Kenyataanya, pihaknyalah yang akan dirugikan jika kesepakatan ini gagal. Terlebih mereka tidak dapat menyelesaikan pekerjaan mereka.


“Baiklah, kami setuju.” biarpun hatinya merasa tertampar dengan menerima bantuan musuhnya, Devi masih cukup pintar untuk menekan rasa egoisnya untuk memilih jalan yang tepat.


“Karman, tolong berikan pembukuan kantor ini.” Kata Nadia.


Seorang laki-laki bernama Karman segera bergerak dan menunjuk buku yang sedang dipegang Yulia.


“Ini? Disini tidak ada apa-apa. Hanya tabel yang berantakan.” kata Yulia mengulurkan bukunya pada Nadia yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


Nadia membuka buku itu dan tersenyum. “Tolong suruh seseorang membersihkan ruangan ini. Aku tidak bisa berpikir jika kawasanku berantakan.” Kata Nadia sambil mendudukkan diri di sofa. Sedangkan Karman segera melaksanakan tugasnya.


Yulia dan Devi dengan patuh tanpa alasan duduk di sofa yang lain. Mengamati Nadia yang mengernyit beberapa kali saat membaca isi dari pembukuan.


“Jon, bawa sopir yang biasa mengangkut beras ke kota.” Perintah Nadia yang langsung dilaksanakan Joni.


“Apa kamu sudah menemukannya? Kami sudah mencarinya beberapa hari. Dan semuanya tidak mendapatkan hasil.”


“Tenang saja. Jika aku sudah bertindak, tidak ada yang akan menghalangi.” Kata Nadia percaya diri. Ia mengambil buku lain dan menulis sesuatu disana.


Tak lama berselang Joni membawa lima orang yang dimaksud Nadia. Kelima orang itu menundukkan kepalanya saat melihat tatapan Nadia yang terlihat memindai mereka.

__ADS_1


“Apa kalian yang biasanya bertugas mengirim beras?”


“Benar nyonya muda.”


“Kamu biasanya kirim kemana?”


“Saya biasa kirim ke pasar-pasar di kota C.” Jawab seorang diantara kelimanya.


“Baiklah, aku yakin kamu masih ingat tempatnya.”


“Tentu nyonya muda.”


“Bagus! Siapkan Satu ton untuk dibawa. Jangan lupa untuk membawa dua rekan untuk menemanimu. Setelah siap, kembali kesini untuk menerima rincian dariku.”


Satu sopir mengangguk dan pergi. Melaksanakan perintah yang ia dapat. Begitu juga dengan sopir yang lain.


“Bagaimana kamu melakukannya.”


“Tentu saja dengan sedikit sentuhan cantik dariku.” Nadia menyerahkan pembukuan baru yang ia buat yang sudah ia renovasi dari buku lama sehingga menjadi lebih mudah dipahami kepada Yulia. “Pelajari ini mbak. Aku yakin dengan cara seperti ini akan mudah.” Lanjutnya.


“Lalu, bagaimana selanjutnya?”


“Tentu saja aku akan terus memantaunya. Aku tidak mau harus menanggung beban rumah besar sendirian.”


Nadia berdiri. Memerintahkan Karman untuk ikut memperlajari pembukuan. Sebagai anak buah, sudah seharusnya ia mengetahui seluk beluk pengiriman beras. Jadi, mereka dapat diandalkan nantinya.


“Baiklah, aku rasa urusanku disini selesai. Aku harus pergi agar kalian dapat belajar dengan tenang.” Nadia meninggalkan penggilingan setelah kelima sopir telah menyelesaikan tugas mereka.


“Kamu terlalu baik Nadia.” Cibir Joni.


“Terlalu baik itu bukan sesuatu yang buruk Jon. Tenang saja.”


*


*


*


Matur tingkiyu semuanya.....


Mohon maaf, akoh sibuk di dunia nyata hingga tak sempat balas satu persatu komen kalian. Tapi akoh sempetin baca dan kasih like kok.

__ADS_1


Maapin akoh ea....


__ADS_2