
Sepulang dari mengajar di sekolah, Nadia pergi ke puskesmas. Jika ia biasanya akan pulang setelah jam dua, hari ini ia izin untuk pulang lebih awal. Jadi setelah jam mengajarnya di kelas dua yang selesai jam sebelas, ia segera keluar dari lingkungan sekolah setelah itu.
Ia sudah membuat janji dengan bu Asti, bidan Desa yang bertugas di puskesmas. Tak menunggu waktu lama, mobil yang dikendarai Joni sudah sampai di depan puskesmas.
Sesampainya di puskesmas ia dibuat tercengang dengan apa yang ada di depan puskesmas. Pasalnya di depan puskesmas banyak orang sedang mengantri. Dan kebanyakan dari mereka adalah para wanita.
“Jon, apakah desa ini sedang terkena wabah?” Joni yang mengekori Nadia menyipitkan matanya. Berfikir. Ia memilih berhenti dan mengamati dari jauh kerumunan yang duduk berjajar di kursi di depan puskesmas karena di dalam sudah penuh.
“Aku rasa tidak Nad.” Jawabnya kemudian. Jika ada wabah yang menyerang desa, tentulah istrinya yang pertama akan kalang kabut. Nita pasti akan segera melakukan banyak hal agar putri mereka tidak sampai tertilar. Tapi Nita tenang-tenang saja.
“Tapi kenapa pasiennya banyak sekali?”
Joni pun juga heran. Tapi setelah memperhatikan kebanyakan pasien yang mengantri disana, ia tahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Hem. Ini pasti ada hubungannya dengan dokter Nathan.”
Jawaban Joni tidak membuat Nadia puas. Kenapa bisa berhubungan dengan dokter Nathan. Memangnya apa yang dilakukan dokter tampan itu.
“Jawablah pertanyaanku dengan jelas Jon. Jangan buat aku pusing.” Kata Nadia kesal. Semakin ia berfikir, semakin ia tak menemui jawaban dari misteri dibalik banyaknya warga desa yang kebanyakan perempuan itu datang berbondong-bondong di rumah sakit.
“Mereka datang kesini bukan karena sakit Nad.”
“Lalu? Berhentilah bermain teka-teki denganku Jon. Hidupku sudah penuh drama.” Ketus Nadia. Joni benar-benar sedang menguji kesabarannya.
“Baiklah Nyonya muda. Mereka datang karena ingin bertemu dengan dokter Nathan yang tampan dan rupawan.” Jawab Joni akhirnya. Dan jawaban ini membuat alis Nadia berkedut.
“Sudahlah nyonya muda. Tidak usah berfikir terlalu keras. Di dalam kepalamu itu Cuma ada suami tersayangmu. Jadi kamu tidak akan mengerti bagaimana cara berfikir wanita normal lain.”
“Adow! Sakit Nad.” Keluh Joni ketika mendapatkan pukulan keras di lengannya.
“Kurang ajar! Jadi selama ini kamu menganggapku tidak normal.” Joni menggedikkan bahunya.
“Sudahlah. Lebih baik aku bertanya pada mereka saja.”
Nadia melangkahkan kakinya ke arah kerumunan. Menghampiri seorang perempuan yang ia ketahui bernama Farida. Dia berusia dua tahun di bawahnya.
“Sakit apa Da?”
__ADS_1
“Ee... hehehe.” Jawabnya kikuk sambil menggaruk tengkuknya. Nadia menoleh ke arah Joni. Dan laki-laki itu hanya mengangkat bahunya tanda bahwa ia pun tidak mengerti.
Nadia pun tidak ingin lama-lama disana. Ia mendekati lagi wanita disana. Arum, salah satu janda binaannya di sanggar keterampilan.
“Mbak Arum sakit apa?” tanyanya sopan.
“Ah Bu Nadia, saya sedikit.. flu. Iya flu. Uhuk-uhuk.” Jawabnya canggung dengan diakhiri akting batuk yang terlihat jelas bahwa iatu dibuat-buat. Sekali lagi Joni hanya mengangkat bahunya saat Nadia menoleh ke arahnya.
‘Mereka aneh sekali.’ Gumam Nadia dalam hati.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, ia segera masuk ke dalam puskesmas dan menuju ke tempat pendaftaran. Disana, dia kembali dibuat bingung dengan pertanyaan petugas yang ada.
“Apa Nyonya muda juga akan memeriksakan diri kepada dokter Nathan?” Nadia mengernyit bingung.
“Ah tidak. Saya sudah ada janji temu dengan dokter Nuri.”
“Oh saya kira mau ketemu dokter Nathan juga.” Kata petugas bernama Jenita sambil melihat jadwal Dokter Nuri.
“Ha.” Bibir Nadia berkedut. Ada apa dengan semua orang?
“Silahkan Nyonya Muda. Dokter Nuri sudah menunggu.” Nadia menerima map dari Jenita dan pergi dari sana.
Beruntung bidan Asti mau diajak bekerja sama untuk menyembunyikan kehamilannya. Dokter Nuri yang merupakan dokter gigi di peskesmas juga turut andil dalam menyimpan rahasia kehamilan Nadia.
Joni menunggu di depan poli gigi. Di dalam, dua orang dokter sudah menunggunya. Dokter Asti segera mempersilahkan Nadia untuk menimbang berat badan. Setelah itu Nadia diminta berbaring untuk mengecek tekanan darahnya.
“Seratus sepuluh per tujuh puluh. Bagus.” Kata dokter Asti setelah melihat hasil tensi dari Nadia.
Setelah itu, dokter Asti memeriksa janin di dalam perut Nadia menggunakan alat khusus setelah diberi gel.
Meskipun bukan pertama kali untuk Nadia, nyatanya mendengar langsung detak jantung janin yang dikandungnya selalu membuat hatinya bahagia.
“Ada keluhan?” tanya bidan Asti setelah selesai memeriksa kondisi Nadia.
“Di bawah sini agar nyeri Bu. Semalam bapak mainnya agak kasar.” Jawab Nadia terus terang.
“Juragan belum tahu?” Nadia menggeleng. Bidan Asti hanya manggut-manggut. Dan dokter Nuri yang memang dokter pendatang dari kota tidak mengerti di dalam ruangannya. Dia hanya tahu jika kehamilan ini dirahasakan. Dia tidak tahu untuk apa dirahasiakan. Padahal jelas ada bapaknya, bukan karena hamil di luar nikah tentunya.
__ADS_1
“Sebaiknya anda beritahukan saja pada Juragan.” Kata Bidan Asti ketika duduk sambil menulis resep yang harus ditebus Nadia.
Nadia melirik Nuri. Tidak dapat dipungkiri jika ia khawatir jika Nuri akan membocorkan kehamilannya.
“Dia dapat dipercaya. Tenang saja nyonya.” Kata bidan Asti meyakinkan.
“Bu Asti tahu sendiri kan jika mengandung anak dari suami saya itu sangat berbahaya. Bu Asti pasti tidak hanya mendengar sekali dua kali jika wanita yang hamil anak bapak pasti berakhir dengan keguguran. Bahkan parahnya mereka bisa kehilangan nyawa. Ini bukan kebetulan Bu.”
“Saya memang mendengarnya. Tapi jika anda sendiri yang hamil masak juga bernasib sama?”
“Bahkan lebih.” Jawab Nadia pilu.
“Apakah juragan tidak suka jika anda hamil?”
“Tentu saja senang. Tapi ini rumit.” Nadia menghela nafas.
“Sudahlah bu. Semakin sedikit yang anda tahu, akan semakin baik untuk anda.” Lanjutnya.
Bidan Asti tak menanyakan apapun lagi. Ia sendiri tidak berani menyinggung urusan rumah tangga orang nomor satu di desanya itu. Jadi dia hanya bisa melakukan tugasnya dan menjaga kerahasiaan tentang ini.
“Oh ya bu, saya tadi melihat banyak warga yang antri di depan. Apa ada wabah yang menyebar di desa?” tanya Nadia memecah kecanggungan yang ada. Lagipula kedua wanita di depannya adalah dokter, pasti mereka mengetahuinya.
“Ah tidak Bu. Ini gara-gara Dokter Nathan.” Jawab Bidan Asti sambil tersenyum .
“Memangnya apa hubungannya dengan dokter Nathan? Apakah dokter Nathan penyebab banyak warga desa yang sakit?”
“Tentu saja tidak Nyonya Muda.” Bidan Asti menggerak-gerakkan kedua tangannya di depan dada. Menyangkal tanggapan Nadia.
“Lalu?”
“Ya ini kerena dokter Nathan itu tampan. Jadi warga desa ingin mendekatinya Nyonya.” Jelas Bidan Asti sambil mengatupkan kedua tangannya di depan. Membayangkan betapa tampannya dokter dari kota yang akan bertugas di puskesmas itu selama satu tahun ke depan.
Nadia dan Dokter Nuri hanya memandangnya dengan tatapan yang aneh.
“Kalau saya masih muda dan belum bersuami, saya juga pasti akan jadi fans lovernya dokter Nathan.” Pernyataan selanjutnya yang diucapkan Bidan Asti dengan mata berbinar membuat dua wanita muda di ruangan itu saling memandang.
‘Oh jadi begitu. Dokter Nathan memang tampan. Tapi aku tidak menyangka jika akan sampai seperti ini pada semua orang.’ bathin Nadia.
__ADS_1
Di like dulu donk kakak sebelum beranjak.... 👍