Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_63. Bukan Salahmu


__ADS_3

Dua orang yang baru saja membuat kantor gempar sedang makan siang di ruangan Alex. Sesampainya di ruangan suaminya, Nara segera menata makanan yang dibawanya di atas meja. Sedangkan Alex kembali duduk di kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Sayang ayo makan dulu.” Ucap Nara setelah selesai menyiapkan makanan mereka.


“Sayang bisakah aku merepotkan mu untuk menyuapiku? Aku sangat sibuk sekarang.” Alex berkata tanpa menoleh pada Nara.


“Baiklah. Aku hari ini bawa cumi pedas manis, ayam goreng lengkuas dan juga sambal terasi spesial mama.” Nara meletakkan kotak makan di atas meja Alex.


“Pasti enak. Aak.” Alex membuka mulutnya. Padahal Nara masih belum siap.


“Hehehe. Sebentar sayang.” Nara segera menyuapkan makanan ke mulut Alex. Sedangkan Alex segera mengunyahnya tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang bergerak di atas keyboard.


“Kamu sedang mengerjakan apa? Sepertinya sibuk sekali.” tanya Nara yang melihat Alex memang sangat sibuk. Gadis itu melirik layar komputer yang menampilkan tulisan dan tabel yang tidak dapat ia pahami.


“Ini berkas pengalihan Lunar Ind. Aku berniat mengganti namanya.” Jawab Alex sebelum memasukkan sesendok makanan yang disuapkan Nara.


“Lunar Ind? Bukankah itu milik Rafael?” Nara mengernyitkan alisnya.


“Em. Aku Sudah mengambil alih Lunar Ind dari tuan David.” Alex melihat sendok Nara dengan kecewa. Sendok itu diturunkan oleh istrinya karena terkejut padahal ia sudah bersiap melahapnya.


“Sayang kamu yang sungguhan dong nyuapinnya. Aku lapar.” Alex merengut.


“Maaf sayang.” Nara segera kembali menaikkan sendoknya dan menyuapi Alex. “Habisnya aku kaget om David mau menjualnya padamu.” Nara kembali menyuapi Alex.


“Siapapun juga akan menjualnya jika ada yang mau membelinya. Lunar Ind sedang dalam kondisi krisis. Lagipula aku tidak membelinya. Aku menukarnya dengan cabang Amerta.” Nara kembali berhenti menyuapi Alex. Gadis itu masih berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan suaminya.


“Aak sayang aak. Kalau kamu terus saja melamun, kapan aku akan kenyang?” Alex menampilkan wajahnya yang seperti orang kelaparan. Alex merasa informasi ini harus segera ia beritahukan pada Nara. Dan sekarang adalah waktu yang tepat. Mereka adalah suami istri. Sudah seharusnya tidak ada lagi yang dirahasiakan.


“Maaf maaf.” Nara segera menyuapkan sesendok makanan untuk Alex. Setelah itu ia hanya menyuapi Alex tanpa berkata lagi. Sekarang giliran Alex yang berbicara di sela makannya. Ia memberitahu semua hal mengenai Rafael pada Nara. Tanpa ia tutupi lagi. Nara hanya diam menyimak dan sesekali menimpali saat Alex menanyakan pendapatnya. Sejujurnya Ia masih memikirkan apa yang dilakukan Alex. Bukankah Alex sudah terlalu banyak melakukan banyak hal untuknya?

__ADS_1


“Eh sudah habis. Kamu masih mau lagi?” Nara yang hendak menyendok Baru sadar jika makanan di kotak milik Alex sudah kosong.


“Sudah cukup. Terima kasih sayang. Aku kenyang sekali. Masakan di kafe mama memang sangat enak.” Alex tersenyum setelah membersihkan bibirnya dengan tisu.


“Sama-sama. Kalau begitu aku juga akan segera makan.” Nara membereskan sisa makan Alex dan berjalan ke arah sofa. Dia segera mengambil kotak makannya dan mulai makan.


Alex melirik Nara yang sepertinya sedang banyak pikiran. Tidak biasanya istrinya melamun saat makan. Ia berpikir mungkin suasana hati Nara sedang tidak baik. Ia sudah mengira jika apa yang disampaikannya akan mempengaruhi Nara. Mengingat istrinya itu begitu perasa.


“Kenapa melamun? Lihat, makananmu jadi dingin kan.” Alex menghampiri Nara dan duduk di sebelahnya.


“Ah. Iya. Maaf.” Nara gugup. Ia buru-buru meletakkan sendoknya dan menutup kotak makan. “Aku sudah kenyang.” Lanjutnya.


Alex meraih tangan Nara. Kemudian dengan lembut mengelusnya sambil menatap wajah Nara yang kini terlihat muram. Nara bahkan menyembunyikan wajahnya dengan terus menundukkan kepalanya.


“Ada apa? Apa yang mengganggu perasaan mu?” tanya Alex.


“Aku sudah membuat banyak orang menderita Lex. Rafael menjadi seperti itu juga karena ku. Perusahaan om David yang dibangunnya dengan susah payah juga dalam kesusahan karenaku. Dan kamu bahkan mengalami banyak kerugian hanya untukku. Aku merasa menjadi seorang pembawa sial.” Seketika, Alex meletakkan jarinya di bibir Nara. Menghentikan bibir itu terus-menerus menyalahkan dirinya.


“Tapi...”


“Tidak ada tapi-tapian. Itu adalah kenyataannya. Apa kamu tahu apa yang dikatakan Bisma saat dia berniat menjodohkan kita?”


“Memang kak Bisma pernah punya niat seperti itu?” Alex merutuki mulutnya yang tiba-tiba jadi ember. Jika Nara tahu tentang masa lalu itu, ia tidak yakin jika Nara akan mengampuninya.


“Ya.” Jawabnya sedikit ragu sambil memikirkan kata-kata yang tepat. “Dia bilang padaku ingin memperkenalkan adiknya padaku. Dia bilang kamu itu seperti matahari pagi yang memberi semangat dan keceriaan dimanapun kamu berada. Dan Bisma benar. Kamu menjadi matahari di dalam hidup ku yang sunyi.” Nah. Lebih baik mengutip beberapa kata dari kejadian itu. Untuk masalah pertukaran dan juga awalnya ia menolak Nara lebih baik dihilangkan saja dari poin.


“Benarkah Kak Bisma berkata seperti itu?” Nara tidak percaya. Kakaknya itu jika di depannya saja selalu saja menghina dan merendahkannya. Mana mungkin ia akan memujinya di depan orang lain.


“Benar. Awalnya aku juga tidak percaya. Bisma yang kaku dan dingin seperti itu memiliki adik yang sehangat matahari.” Alex tersenyum mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat hidupnya masih sangatlah sepi, hambar dan tidak berwarna.

__ADS_1


“Bukankah kamu juga sama dengan kak Bisma? Kaku dan dingin. Kalian itu satu server.” Nara berbicara dengan sedikit mengejek. Ia juga secara otomatis mengingat masa lalu dimana ia bertemu dengan Alex untuk pertama kalinya. Alex itu adalah photocopy Bisma. Sama-sama dingin dan kaku. Besi berkarat. Dan merupakan tipe laki-laki yang paling dihindarinya. Namun ia tidak menyangka saat ini ia merasa jatuh cinta dengan dalam pada laki-laki yang satu server dengan kakaknya itu.


Memyebalkan.


“Kenapa kamu tersenyum seperti itu?” Alex bertanya saat melihat Nara tersenyum sendiri.


“Kenapa? Apa aku tidak boleh tersenyum?” Nara segera mengalihkan pembicaraan. Ia pun khawatir jika Alex mengetahui tentang pikiran Nara tentang nya di masa lalu.


“Tentu saja tidak. Aku sangat menyukai senyummu. Saat kamu tersenyum, level kecantikan mu naik dua ratus persen.”


“Benarkah?”


“Hem.” Alex menganggukkan kepalanya. “Bagaimana perkembangan skripsi mu?”


“Bagus. Tidak ada lagi yang perlu direvisi. Dan dua Minggu lagi akan sidang. Ah bicara soal sidang aku Sangat gugup.”


“Tidak perlu gugup. Kamu minta hadiah apa dariku nanti?”


“Emm belum kepikiran.”


“Tidak apa-apa. Nanti jika sudah terpikirkan kamu bisa beritahu aku. Oke?”


“Tentu saja. Sayang sekarang aku lapar. Aku pulang dulu ya.” Alex tersenyum. Setelah beberapa waktu mengenal Nara, ia tahu Nara sudah kembali dalam mood yang baik jika mood makannya sudah membaik.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 🤩


__ADS_2