Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_87. Teman Masa Lalu


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa satu tahun telah lewat begitu saja. Alex dan Nara kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal. Bekerja bersama sebagai Presdir dan asistennya di kantor dengan profesional. Dan akan menjadi pasangan romantis di luar kantor.


Kehidupan rumah tangga mereka bisa dikatakan sempurna. Mereka tidak pernah terlibat cekcok sedikitpun. Bahkan mengenai anak yang tidak kunjung hadir yang biasanya menjadi salah satu sumber masalah pun tidak pernah menjadi hambatan bagi hubungan keduanya.


Setelah kehilangan calon bayi mereka waktu itu, baik Alex maupun Nara tidak begitu mempermasalahkan hal ini. Mereka percaya jika sudah waktunya tiba, anak yang mereka impikan akan hadir di antara mereka.


Program kehamilan yang pernah mereka bahas sebelumnya juga hanya tinggal wacana. Mereka memutuskan untuk belajar menjadi orang tua yang sempurna terlebih dulu dan fokus pada pekerjaan mereka.


“Pukul tiga sore ini akan ada meeting dengan Nyonya Mira dari Angel Butik yang akan bekerja sama dalam produk kita tahun ini.” Nara mengingatkan jadwal Alex saat mereka sedang makan siang. Dia yang saat itu bertugas menemani Alex bertemu dengan klien di tempat itu. Sedangkan Gibran lebih banyak bertugas di kantor.


“Huh! Aku sebenarnya malas berurusan dengan tante-tante itu.” Alex mendengus. Nara terkekeh mendengar gerutuan Alex. Dirinya sendiri sudah dua kali bertemu dengan Mira pada saat pesta. Dan menurut nya Mira itu memang sedikit ganjen di umurnya yang sudah menginjak lima puluh tahun.


“Aku juga tidak nyaman bertemu dengannya. Tapi tidak dapat dipungkiri jika kemampuan mendesainnya sangat baik.” Nara mengetuk dagunya.


“Apa bisa Gibran saja yang menemuinya?”


“Sejak kapan kamu kekanakan begitu?” Nara menaikkan alisnya. Selama Nara bekerja bersama Alex selama ini, Alex tidak akan mempermasalahkan seperti apa klien yang harus ia temui. Apalagi yang seperti Mira ini juga tidak jarang.


“Aku hanya malas. Nyonya Mira ini suka membuat orang pusing.”


“Sudahlah. Dia juga tidak akan macam-macam. Aku yang akan menemanimu. Memangnya dia akan berani merayu suami di depan istri nya?”


“Baiklah. Untung saja sudah ada kamu sekarang.” Alex mencium pipi Nara.


“Hentikan Lex. Kamu tidak malu di depan umum seperti ini mengumbar kemesraan?” Nara mendorong tubuh Alex pelan. Yang didorong terkekeh melihat reaksi panik istrinya.


Selesai makan, mereka kembali ke kantor. Mereka harus mengambil bahan-bahan yang akan mereka bawa meeting yang sedang dikerjakan oleh Gibran. Sebenarnya ini adalah tugas Nara, tapi beberapa hari ini Nara sibuk menemani Alex yang banyak kegiatan di luar kantor. Jadi banyak pekerjaan Nara yang dikerjakan Gibran.


**


Suara gelak tawa terdengar dari ruang tamu mansion Juantama. Alex dan Nara yang baru pulang saling berpandangan. Mobil yang terparkir di depan tidak mereka kenali.


Serena jarang kedatangan tamu. Bahkan hampir tidak pernah. Meskipun selama ini Nadia sering mengajak Serena untuk bergaul dengan teman-teman nya, Serena tidak begitu dekat dengan mereka semua.


Tapi tamu di dalam ini sepertinya sudah sangat akrab dengan Serena. Bahkan Serena yang termasuk orang yang kaku bisa tertawa dengan begitu renyah.


“Siapa tamunya?” Nara bertanya pada Alex. Tapi suaminya itu hanya mengangkat bahunya. Dirinya sendiri juga tidak tahu.


“Assalaamu’alaikum.” Ucap Alex dan Nara bersamaan. Tiga orang yang berada di ruang tamu menoleh dan menjawab salam dengan serempak.


“Alex, Nara, ayo duduk sini.” Serena berdiri dan menggandeng anak dan menantunya duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Alex, ini Tante Runi. Dan ini kamu masih ingat kan? Virly. Teman kecil kamu dulu.” Serena memperkenalkan tamunya dengan semangat.


“Tentu saja masih ingat. Halo Tante Runi. Halo Virly.” Alex menyapa keduanya dengan datar. Runi dan Dira saling memandang. Mereka tidak menyangka reaksi Alex akan seperti itu pada mereka. Karena yang mereka dengar dari Serena, Alex adalah sosok yang hangat.


"Hai Nara. Lama tidak bertemu." Virly menyapa Nara yang ada di samping Alex.


"Hai Virly. Apa kabar?"


"Aku baik. Dan aku lihat kamu juga baik-baik saja." Virly melirik Alex. Nara hanya tersenyum.


"Kalian saling kenal?" Serena bertanya dengan semangat.


"Iya. Kami satu jurusan di kampus dulu." Virly menjawab pertanyaan Serena Dengan bangga.


"Oh bagus itu. Kalian bisa semakin akrab mulai sekarang."


“Kalau tidak ada apa-apa lagi. Saya dan istri saya akan naik.” Alex memotong pembicaraan dan menggandeng tangan Nara untuk diajaknya meninggalkan ruang tamu.


“Eh? Baiklah. Kalian pasti lelah. Istirahat saja dulu di kamar.” Ucap Serena canggung. Ia juga tidak menyangka sikap Alex akan dingin seperti itu pada tamunya.


Runi adalah salah satu teman dekatnya di masa lalu. Dan hari ini, ia tidak sengaja bertemu dengan Runi dan Virly, saat sedang berbelanja di mall dengan Mak Marni. Karena mereka sudah lama tidak bertemu, Serena mengundang Runi dan Virly untuk mampir ke rumah nya.


“Maaf ya. Alex dan Nara pasti lelah hari ini. Beberapa hari belakangan ini mereka sibuk di kantor.” Ucap Serena berusaha menghilangkan canggung yang tercipta.


“Iya. Maklum lah anak muda jaman sekarang itu semuanya gila kerja. Mereka itu mementingkan karier.”


“Kamu memang benar. Tapi aku tidak setuju dengan pemikiran seperti itu. Kita sebagai perempuan itu seharusnya ada di rumah. Melayani suami dan keluarga. Kalau sibuk bekerja kapan waktunya untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri?” Runi mengutarakan pendapatnya. Serena diam mendengarkan.


“Virly anakku ini, meskipun dia lulusan luar negeri, aku juga melarangnya bekerja jika dia sudah berkeluarga. Kalau sekarang kan masih single, jadi aku izinkan sebagai pengalaman. Tapi kalau nanti sudah menikah, aku akan minta dia keluar. Kamu bersedia kan sayang?” Runi menoleh pada Virly saat bertanya.


“Iya mama. Virly janji kalau sudah menikah nanti akan langsung keluar. Lagi pula untuk apa lagi bekerja jika sudah ada suami yang mencukupi kebutuhan Virly.” Virly setuju dengan pemikiran Runi.


“Lagian ya jeng Serena, kalau seorang wanita yang sudah bersuami bekerja, dia akan sulit mendapatkan anak. Bagaimana mau hamil kalau tubuh dan pikiran lelah?” ucap Runi sebelum meminum sirup di gelasnya. Berbicara panjang lebar membuat tenggorokan nya kering.


**


Saat sudah berada di dalam kamar, Nara yang sejak tadi juga merasa aneh pada sikap Alex tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


“Kenapa kamu tadi buru-buru ngajak ke kamar?”


“Huh... Aku tidak menyukai Tante Runi itu.” Jawab Alex. Dia tidak akan pernah melupakan apa yang telah dilakukan Runi di masa lalu.

__ADS_1


“Kenapa? Kelihatannya dia baik.”


“Jangan menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja.” Alex mendengus. Dulu ia juga mengira jika Runi adalah seorang yang baik.


“Apa maksud mu?”


“Begini. Aku saat ini terlihat bagaimana?” Tanya Alex serius. Nara mengetuk dagunya. Dia tidak mengerti maksud pertanyaan Alex.


“Maksudmu bagaimana?”


“Tampilan ku di matamu saat ini.”


Nara memperhatikan penampilan Alex. Jas yang sudah dilepas, kemeja yang lengannya sudah digulung hingga ke siku. Dasi pria itu juga sudah longgar.


“Kamu terlihat lelah.” Jawab Nara jujur. Alex memang terlihat lebih sayu dari biasanya. Nara menebak mungkin karena akhir-akhir ini mereka mempunyai banyak pekerjaan yang membutuhkan Alex untuk mengerjakannya sendiri.


“Salah.” Alex menggoyangkan jarinya di depan wajah Nara.


“Lalu?” tanya Nara penasaran.


“Sekarang ini aku sangat menginginkan mu.” Alex tiba-tiba saja menggendong Nara dan dibawanya ke dalam kamar mandi.


“Kamu hanya mau menipuku kan?” sungut Nara yang sudah berada di dalam kekuasaan Alex.


“Hahahaha.” Alex tergelak saat dia berhasil memperdaya Nara.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir. 😘


Tahan🤗


Tahan🤗


Sabar😚


Jangan emosi 🥰

__ADS_1


Akoh tahu kalian pasti geregetan sama tukang provokasi. Tapi harap bersabar. Jangan sampai banting hp ajah. Ntar nyesal🤭


__ADS_2