Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_120. Ingin Lumpia


__ADS_3

Masih berwujud segumpal daging yang sangat kecil. Namun berita kehadirannya saja bisa membuat semua orang bahagia. Membuat semua orang yang telah menantikan kehadirannya selalu bersyukur setiap waktu.


Hamilnya Nara setelah berbagai kejadian yang menguras tenaga dan pikiran, juga menyesakkan perasaan bagaikan sebuah oase di tengah gurun yang panas membakar.


Semua rasa sakit dan juga derita yang selama ini dirasakan setiap orang seakan menguap begitu saja. Digantikan rasa bahagia yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya hingga mampu menutupi setiap lelahnya menghadapi setiap cobaan. Mengobati setiap luka yang tercipta.


Perasaan yang begitu menakjubkan!


Setidaknya itulah yang dirasakan Nara saat ini. Dulu ia berpikir bahwa menjadi putri dari Nadia dan Nathan adalah hal yang paling membuatnya bahagia, namun seiring berjalannya waktu, ia merasa bahwa menjadi pengantin dari Alex adalah anugerah terbesar untuknya.


Dan pada saat ini perasaan seperti itu sepertinya telah kalah dengan hadirnya si kecil di dalam rahimnya.


Dulu, Nara merasa sangat beruntung menjadi istri Alex. Namun saat ada sesuatu yang baru hadir di dalam rahimnya, Nara merasa saat inilah saat-saat yang paling membahagiakan untuknya.


Yah! Itulah manusia. Selalu berubah setiap saat sesuai dengan prosesnya. Tidak ada satupun manusia yang akan berdiam diri di satu titik.


Namun sebesar apapun perubahan yang terjadi, jika rasa cinta dan kasih sayang tulus selalu mengikuti, perubahan yang terjadi akan membuat manusia menjadi lebih sempurna.


Saat ini, Nara sedang menikmati menjadi ratu dunia. Setidaknya ratu di kedua rumahnya. Jika di masa lalu Nadia selalu menjadi ratu di mansion Mahardika dan tidak tergantikan, semenjak Nara hamil, barakah hukum yang berlaku. Naralah ratunya.


Begitu juga keadaan yang ada di mansion Juantama. Semua orang akan memprioritaskan semua hal untuk Nara. Kenyamanan, kedamaian dan juga kasih sayang tidak pernah Nara merasa kekurangan.


Bahkan, kakak balok besinya juga tunduk di bawah perintahnya.


“Apa lagi yang kamu lakukan pada Bisma sayang?” Alex yang baru saja pulang langsung bertanya pada istrinya yang tengah menikmati drama Korea di laptopnya.


Dengan malas Nara bangun dan membantu Alex melepas jas dan juga dasinya. “Apa? Bukan aku yang mengerjainya.” Ucap Nara dengan mengerucutkan bibirnya.


“Bagaimana dengan Karina?”


.”Dia temanku. Dia suka melakukannya untukku.” Jawab Nara enteng.


Di saat yang bersamaan, di sebuah gerai makanan Pinggir jalan di Semarang, dua orang sedang mengantri untuk sekotak lumpia. Seorang pria duduk di salah satu meja dengan kesal. Sedangkan si wanita berdiri menunggu dengan canggung di barisan antrian.


Kedua orang itu adalah Bisma dan Karina yang dimintai Nara untuk membelikan lumpia. Sebenarnya di ibukota juga ada. Tapi Nara meminta di belikan langsung dari Semarang. Bahkan dimana mereka harus membelinya juga diberitahukan dengan jelas.


Bisma bukan orang yang menganggur. Bahkan perkerjaannya sudah menumpuk menunggu untuk diselesaikan. Sebagai Presdir baru Bisma memikul tanggung jawab yang besar di pundaknya.


Siang hari saat jam makan siang, Nara datang ke kantornya dengan mengajak Karina bersamanya. Dengan wajah penuh harap, Nara memintanya pergi dengan Karina ke Semarang untuk membeli makanan yang sangat ia inginkan.


Nara berkata jika ia sedang ngidam. Keinginan bayi dan harus dituruti. Alasan yang selalu sama yang digunakan untuk membuat Bisma menyetujui semua keinginannya. Pun dengan cara yang dia gunakan. Wajah penuh harap dan mata berkaca-kaca jika Bisma menolak.


“Aku sibuk Nara. Banyak berkas yang harus aku periksa.” Tolak Bisma.


“Apa kak Bisma lebih mementingkan pekerjaan daripada keponakanmu?” wajah Nara semakin terlihat sedih.


“Aish mulai lagi. Baru dua hari yang lalu kamu memintaku untuk pergi ke Lampung hanya untuk sebuah durian. Bahkan kamu juga meminta aku sendiri yang memetiknya secara langsung. Dengan foto sebagai buktinya. Itu belum cukup?” kata Bisma emosi.


Bisma yang sudah lama tidak memanjat pohon tentu saja kesulitan. Kakinya terasa sakit dan kram. Belum lagi digigit semut saat sudah berada di atas pohon. Dan yang lebih sial untuknya adalah semua durian yang matang hari itu ada di bagian atas pohon. Butuh perjuangan ekstra.

__ADS_1


Baru beberapa hari Bisma merasa lega karena Nara tidak lagi memintanya melakukan ini dan itu dengan dalih keinginan keponakan yang masih ada di dalam perut.


Hari ini Nara datang dengan misi baru lagi untuk mengganggunya. Pergi ke Semarang saja bukan masalah. Yang menjadi masalah terbesar adalah bahwa ia harus pergi dengan Karina. Gadis yang asing baginya.


“Karina saja mau melakukannya untukku. Kenapa kakak tidak?” mata Nara mulai berkaca-kaca menatap Bisma.


“Baiklah-baiklah. Aku menyerah.” Bisma menghela napasnya kasar. Nara segera menghapus air mata yang hampir jatuh. Menggantinya dengan kilatan kebahagiaan.


“Ah kak Bisma memang yang terbaik. Cepat berangkat!” Ucap Nara bersemangat. Ia berdiri dan menarik tangan Bisma untuk segera berdiri dari duduknya.


“Sebentar, aku harus menyerahkan berkas-berkas ini pada Andi sebelum keluar.” Nara kembali duduk dengan patuh. Membiarkan Bisma menyelesaikan urusannya.


**


“Tuan Bisma, lumpianya sudah dapat.” Karina menunjukkan sebelas kotak berisi lumpia.


Melihat banyaknya kotak membuat Bisma mengernyitkan alisnya. Perlukah membeli sebanyak itu hanya untuk Nara?


“Kenapa beli sebanyak itu?”


“Oh. Karena sekalian ada di sini. Belum tahu kapan bisa datang ke tempat ini lagi. Jadi sekalian beli yang banyak.”


“Kamu bodoh ya? Membeli sebanyak itu juga tidak bisa disimpan lama.”


“Eh tuan semena-mena! Semua ini juga bukan hanya untuk Nara. Lagi pula, jika membeli sepuluh kotak akan dapat gratis satu kotak. Kita sudah untung.”


Mulut Bisma berkedut. Pemikiran gadis ini terlalu sederhana. Hal seperti memberi bonus ini tidak membuat pedagang rugi sedikitpun. Ini merupakan salah satu strategi pemasaran. Laba yang dihasilkan dari sepuluh kotak yang telah dibeli labanya sudah melebihi harga dari satu kotak. Jadi sebagai pembeli juga tidak sepenuhnya bisa dibilang untung.


“Aku bukan babi rakus. Keluargamu kan banyak. Apa kamu tidak mau membawakan mereka oleh-oleh saat bepergian?”


“Itu tidak perlu. Jika mereka ingin mereka bisa pergi.”


“Ish! Dasar tidak berperasaan.” Karina segera keluar gerai sambil menenteng dua tas plastik berisi kotak-kotak lumpia.


Bisma tidak memiliki alasan lain untuk tidak mengikutinya.


Karina meletakkan sepuluh kotak di kursi belakang. Sedangkan satu kotak lagi dia bawa dan dia letakkan di atas pangkuannya.


“Kenapa kamu keluarkan?” tanya Bisma yang melihat kotak itu.


“Aku lapar. Kamu membawaku pergi sejauh ini tanpa memberiku makan. Cacing di dalam perutku juga bisa demo.” Jawab Karina santai sambil membuka kotak dan mengambil satu lumpia untuk dia makan.


“Hem..harumnya. Nara hebat menemukan tempat yang menjual lumpia enak.” Ucap Karina saat sudah merasakan camilan khas Semarang itu.


“Ah. Lumayan untuk mengganjal perut.” Gumam Karina setelah menghabiskan tiga buah lumpia.


Bisma yang berada di sampingnya melirik Karina. Diam-diam memperhatikan Karina yang makan dengan lahap. Apakah gadis ini benar-benar lapar?


Bisma membawa mobilnya memasuki area parkir sebuah restoran.

__ADS_1


“Mau apa lagi? Bukankah pesanan Nara sudah siap?” tanya Karina heran.


“Tadi bilang lapar. Apa kamu tidak mau makan?” kata Bisma sambil keluar dari dalam mobil.


Karina segera keluar dan mengejar Bisma dengan berlari karena Bisma sudah berada jauh di depannya.


Keduanya duduk di meja yang berada di pinggir jendela. Karina yang menarik Bisma ke tempat itu. Melihat dari balik jendela merupakan sesuatu yang menarik untuk Karina. Memperhatikan setiap orang yang lewat. Bermacam-macam orang yang berbeda dapat di lihat di sana.


Jika Karina sangat menikmati tempat itu, Bisma justru sangat membencinya. Tempat di dekat jendela adalah tempat terbuka. Banyak orang yang bisa melihatnya. Bisma dengan wajah tampan dan karismanya akan menjadi pusat perhatian. Dan hal ini sering membuat Bisma merasa tidak nyaman.


“Hum...dari aromanya saja sudah jelas jika ini enak.” Karina mencium dalam-dalam aroma yang menguat dari makanan di atas piringnya.


“Cepat makan. Tadi bilang lapar.” Kata Bisma saat melihat Karina yang malah sibuk mengambil foto dari pada makan.


Karina mendengus. Laki-laki di depannya ini selalu saja merusak suasana. Tidak bisakah membiarkannya tenang sebentar saja? Dia tidak setiap hari bisa menikmati makanan di restoran seperti ini. Jadi apa salahnya mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan?


“Kamera ponselku jelek. Gambar yang dihasilkan tidak memuaskan. Kan sayang banget.” Jawab Karina santai sambil terus berusaha mengambil gambar yang menurutnya bagus. Namun beberapa kali mencoba ia tidak juga berhasil. Gambar yang diambil dari ponselnya selalu kurang sesuai.


“Tuan Bisma, ponselmu kan bagus. Boleh kan aku pinjam sebentar?” Karina mengedipkan matanya.


“Huh. Nih.” Bisma mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Karina menerimanya dengan senang.


“Dikunci.” Gerutu Karina kesal sambil menunjukkan layar ponsel yang terkunci.


Bisma lupa jika ponsel pribadinya ia kunci dengan sidik jari. Nara selalu membuka ponselnya jika tidak dikunci.


Klik.. senyum Karina segera muncul saat mendengar suara kunci layar yang terbuka. Segera ia mengambil beberapa gambar makanannya dan juga Selfi dirinya. Melihat hasil jepretannya membuatnya puas.


“Tuan Bisma boleh kah aku minta tolong sekali lagi?” tanya Karina penuh harap.


“Apa lagi?” tanya Bisma jengah. Gadis di depannya ini sangat menguji kesabarannya.


“Tolong ambil fotoku juga.” Tanpa bicara Bisma mengambil ponsel dari tangan Karina. Melihat Bisma yang sudah setuju Karina segera mengambil gayanya. Ia berganti gaya beberapa kali.


Deg... ‘Kenapa gadis licik ini terlihat cantik saat dia tersenyum seperti itu? Dia terlihat seperti gadis yang polos.’ gumam Bisma dalam hati saat melihat senyum Karina yang terlihat manis dan cantik.


“Cukup.” Jika dia terus memperlihatkan senyum manisnya itu aku tidak bisa menahan diri lagi. Lanjutnya dalam hati.


“Baiklah. Sini biarkan aku lihat!” Karina menengadahkan tangannya. Tapi Bisma memasukkan ponsel itu ke dalam saku kemejanya.


“Kenapa kamu masukkan saku? Aku ingin melihat hasilnya.”


“Diam dan makan. Makananmu sudah hampir dingin. Aku akan mengirimnya nanti.”


“Huh!” Karina mendengus. Tetapi ia menurut dan segera memakan makanannya dengan lahap. Bisma menggelengkan kepalanya melihat wajah Karina yang berubah dengan cepat. Dari kesal berubah bahagia saat makanan mulai masuk ke dalam mulutnya.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😘


__ADS_2