
Happy Reading....
Nadia sudah mempunyai alasan untuk meminta uang pada juragan Bondan. Joni yang mendengarkan alasannya sepanjang perjalanan pulang hanya menggelengkan kepalanya. Di dalam hati kecilnya tentu saja ia mendo’akan keberhasilan rencana Nadia.
Mereka memang butuh dana yang banyak sekarang. Dan ia tak bisa membantu dengan keadaan ekonominya. Lagipula semua kekacauan ini juga merupakan ulah rentenir itu.
Sesampainya di rumah, Nadia melenggangkan kakinya dengan ringan. Bahkan salah satu penjaga yang membukakan pintu mendapatkan senyum manis dari Nadia. Penjaga itu linglung beberapa saat. Bukan hanya karena kadar betapa manis senyum itu, melainkan keadaan seperti itu belum pernah terjadi. Biasanya, Nadia akan berwajah dingin dan datar ketika sampai di rumah.
Ketika berpapasan dengan Yulia pun ia sempat memberikan sapaan kepada anak tiri tertuanya itu. Yang juga berhasil membuatnya linglung.
“Ada apa dengan Nadia?” gumamnya yang hanya bisa di dengarnya sendiri setelah Nadia masuk ke dalam kamar sembari bersenandung.
Keanehan masih berlanjut. Di ruang makan, Nadia yang biasanya akan menjadi individu paling tenang di sana mendadak menjadi pengubah suasana menjadi ceria. Lisa dan Bima terpingkal-pingkal mendengar guyonan yang dibuat Nadia.
Devi dan Juragan Bondan pun tercengang saat Nadia meminta izin untuk melayani mengambilkan makan juragan Bondan untuk pertama kalinya. Devi tidak bisa membantu, ia seperti tersihir dan reflek memberikan piring suaminya pada Nadia.
“Bapak, mau pakai lauk apa malam ini?” tanya Nadia dengan senyum seribu wattnya.
“Emmmm... pakai tumis kangkung dan ayam panggang saja Nadia.”
“Oke. Silahkan bapak.” Kata Nadia menyerahkan piring yabg sudah penuh dengan makanan pesanan suaminya. Senyum seribu wattnya juga masih setia menghias bibirnya.
Juragan Bondan dan yang lainnya tentu saja merasakan perubahan yang begitu kentara itu. Semua orang merasa bingung. Mereka tidak bisa membantu, hanya diam-diam larut dalam fikirannya masing-masing. Menebak apa yang sebenarnya terjadi pada istri muda itu.
Di dalam otak Devi dan Yulia, mereka menebak bahwa Nadia hamil lagi. Namun setelah mempertimbangkan bahwa Nadia kembali mengkonsumsi pil penunda kehamilan, mereka kembal mendesah dan kembali tidak mendapatkan jawaban yang mereka cari. Buntu.
Dan yang paling berseri-seri di meja makan ini tentu saja sang suami yang baru kali ini mendapatkan servis di meja makan dari istri mudanya. Jika biasanya tugas itu dilakukan oleh Devi sebagai istri pertama, ini untuk pertama kalinya Nadia melakukannya bahkan dengan inisiatifnya sendiri.
“Bapak, nanti jangan lama-lama ya di ruang kerjanya.” Kata Nadia kembali menjatuhkan bom atomnya. Semua orang memusatkan atensinya pada seorang wanita cantik yang begitu aneh malam ini.
__ADS_1
“Hohoho. Baiklah Nadia. Kamu pasti sudah sangat merindukanku ya.” Suara tawa juragan Bondan menggelegar. Nadia hanya tersenyum menanggapi.
“Kakek, kan aunty ketemu kakek setiap hari. Boboknya juga bareng. Masak masih kangen sih?” ucapan polos Bima membuat semua orang dewasa saling berpandangan.
Di dalam kamar, Nadia duduk bersila di atas ranjang. Di atas pangkuannya, sebuah laptop menyela menampilkan beranda salah satu marketplace terkenal. Malam ini Nadia akan mengupload produk baru yang dihasilkan sanggar keterampilan yang berbahan dasar tempurung kelapa.
Saat tangannya sedang menari dnegan indah di atas keyboard, juragan Bondan masuk dengan senyum yang merekah di bibir tebalnya. Nadia hanya melirik sekilas sebelum mendesah pelan dan menutup laptopnya.
Ia sadar betul dengan apa yang dilakukannya hari ini. Semua ini merupakan bagian dari rencananya untuk bermain dengan isi rekening suaminya. Demi kesuksesan rencananya, ia harus mau melakukan hal-hal yang sebenarnya membuatnya muak.
“Hari ini kamu terlihat sangat cantik Nadia.” Kata juragan Bondan ketika naik ke atas ranjang. Mendekati Nadia yang sedang bersandar di kepala ranjang. Dia tidak bohong. Nadia memang selalu cantik di matanya, namun hari ini begitu berbeda dengan senyuman manis yang tercipta begitu indah.
Nadia merinding ketika pipinya dielus dengan perlahan. Rambut halus di seluruh tubuhnya meremang. Namun langkah ini sudah ia ambil, tidak mungkin mundur sebelum berperang.
“Apakah bapak tahu apa yang membuat wajahku berbeda malam ini?” mengabaikan perasaannya, mulutnya harus bekerja lebih cepat sebelum tangan nakal itu menjelajah di tubuhnya.
“Hemm. Ini harum. Kamu pakai apa?”
Pancingan berhasil. Nadia segera menggeser tubuhnya untuk menjangkau sebuah brosur dari salon terkenal di kota. Dengan mata berbinar ia menjelaskan isi dari brosur itu.
“Jadi kamu mau mengambil paket ini?” tanya Juragan Bondan setelah Nadia selesai dengan maksudnya.
“Iya bapak. Kemarin aku sudah mencoba Facial nya. Dan itu bagus. Kata temanku yang sudah pakai hasilnya memuaskan. Boleh ya bapak. Murah kok. Cuma lima puluh juta.” Nadia memegang lengan suaminya. Matanya juga bermain cantik menampilkan pupy eyes miliknya.
“Hahaha. Baiklah-baiklah karena kamu sudah begitu manis aku akan segera mentransfernya untukmu. Dan aku akan melengkapinya menjadi seratus juta. Belilah beberapa perlengkapan ketika pergi ke kota untuk perawatan.”
“Terima kasih.” Nadia merasa lega. Meskipun ini terlihat mudah, namun sebenarnya agak beresiko. Jadi ia harus berhati-hati. Rencananya, Nadia akan tetap mengambil paket kecantikan itu namun dengan harga yang jauh di bawahnya. Jadi dia harus pandai menutupinya di masa depan.
Dibandingkan mulutnya yang mempromosikan paket kecantikan yang menjadi bagian dari rencananya, sebenarnya tubuhnyalah yang bekerja lebih keras untuk itu.
__ADS_1
“Tubuhmu...sudah sangat halus Nadia. Kalau rajin perawatan pasti akan lebih menyenangkan.” Kata juragan Bondan di sela pergerakannya di bawah sana. Nadia hanya mengangguk. Tubuhnya sudah lelah. Dibandingkan dengan rasa dari sebuah percintaan, yang harus Nadia pikirkan lebih penting.
Nadia yang tidak terbiasa dengan segala macam tentang perawatan kini harus memikirkan perawatan ektra yang harus ia lakukan secara pribadi sebagai tambahan dari perawatan yang akan ia dapatkan di salon. Karena paket yang ia ambil adalah yang termurah, ia takut hasilnya tidak akan sebaik yang diharapkan suaminya.
Jadi di saat sang suami asik mempermainkan tubuhnya, pikiran Nadia justru berkelana jauh. Mencari solusi untuk memecahkan masalahnya. Setelah aktivitas rutin itu, ia akan segera mencari referensi yang bisa ia lakukan.
Tanpa terasa, Nadia telah mendengar suaminya memekik keras. Menandakan bahwa pelepasannya kali ini merupakan yang terakhir. Kalau tidak salah ini adalah kali ketiga.
“ Aku ingin lagi Nadia. Tapi aku sudah lelah.” Keluh juragan Bondan sambil membaringkan tubuh berpeluhnya di samping Nadia.
“Istirahatlah dulu bapak. Bukankah kita bisa melakukannya lagi besok?”
“Kamu benar.” Juragan bondan segera menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Tak berapa lama, dengkuran keras terdengar. Nadia segera melepaskan tubuhnya dari rengkuhan tubuh besar suaminya. Perlahan-lahan bergerak turun dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya sebelum.pergi membersihkan diri di kamar mandi.
“Ah! Tidak aku sangka jika ini lebih ribet dari yang aku banyangkan. Mana ingat kalau harus mengoleskan krim malam setiap akan tidur. Biasanya aku sudah ketiduran setelah lelah berolahraga.” Nadia berdecak saat membaca panduan penggunaan salah satu krim malam.
“Apa tidak apa-apa kalau setelah memakainya terus berkeringat lagi. Nanti yang ada pori-porinya tambah lebar. Argh! Sepertinya aku harus bekerja lebih keras.” Kata Nadia setelah membaca lebih banyak tata cara penggunaan berbagai perlengkapan kecantikan yang bisa ia lakukan secara pribadi.
*
*
*
Usaha tangga kejayaan.
Jika kita ingin berhasil dalam hal apapun yang menjadi tujuan kita, kita harus berusaha keras dan sebaik mungkin untuk meraihnya.
__ADS_1