
Hukuman yang diberikan oleh juragan Bondan pada Nadia adalah dikurung di dalam rumah. Nadia tidak diperkenankan keluar dari rumah tanpa izin dari juragan Bondan.
Sekarang hukuman sudah berjalan selama dua minggu. Nadia sudah resmi berhenti mengajar di sekolah. Sedangkan untuk sanggar, ia hanya mengontrol dari rumah. Untung saja Juragan Bondan membiarkan Joni tetap bekerja untuknya dengan menggantikan Nadia mengelola sanggar. Itulah satu-satunya syarat yang diajukan Nadia untuk menerima hukumannya.
“Memangnya apa kesalahanmu sampai dihukum sama bapak?” tanya Yulia saat menghampiri Nadia yang sedang duduk santai di teras sambil bermain handphone.
“Tidak ada. Seperti yang bapak bilang, Bapak hanya kasian jika aku terlalu lelah. Mungkin karena itulah aku sulit hamil.” Jawab Nadia dengan malas. Dia yang sudah dalam mode bosan malah diganggu.
“Aku tidak percaya. Sejak kapan kamu jadi penurut? Pasti ada alasan lain kan?”
“Alasan lain apa maksudmu? Kalau tidak percaya tanyakan saja pada bapak.”
“Huh!” Yulia pergi sambil mendengus. Jika sudah begitu ia tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun dari Nadia. Wanita itu pandai menyimpan rahasia.
Setelah kepergian Yulia, Nadia melanjutkan kegiatannya bermain handphone. Memasarkan hasil karya sanggar keterampilan.
Di tempat Dian, Joni baru saja sampai. Sore itu Nadia meminta Joni untuk menjenguk Dian karena dia tidak bisa berkunjung sendiri.
“Tumben sendiri Jon? Nyonya muda kemana?” tanya Minah saat mendapati Joni masuk ke dalam halaman rumahnya dengan memakai motor. Saat melihat Joni, ia segera keluar dari toko kecil yang dibangun di depan rumah.
“huft. Ini yang ingin saya sampaikan bu.”
“Ada apa? Sepertinya ada yang serius. Kalau begitu kita bicarakan di dalam saja.” Bu Minah segera mempersilakan Joni untuk masuk. Setelah tamunya itu duduk, ia masuk ke dalam rumah untuk meminta Dian membuatkan minuman.
“Ada apa sebenarnya Joni? Nyonya muda baik-baik saja kan?” tanya bu Minah penasaran.
“Dia baik-baik saja. Saya kesini atas perintah Nadia. Dia meminta maaf karena tidak bisa berkunjung.”
“Tapi ada apa?”
“Nadia sedang dihukum tidak diizinkan keluar.”
“Apa itu semua karena nyonya muda membantuku?” Dian yang baru saja masuk ke dalam ruang tamu mendengar perkataan Joni.
__ADS_1
“Hem. Bisa dibilang seperti itu. Nadia berpesan agar kalian tidak kembali ke desa dan hidup disini dengan baik. Juragan sudah mengetahui jika Nadia lah yang membantu kalian selama ini. Dan karena Nadia berusaha menyelamatkan anak yang ada di kandungan Dian, ia menghukum Nadia hingga ia juga mengandung anak juragan.”
“Semua ini salahku.” Ucap Bu Minah menyesal.
“Tidak Bu Minah. Nadia menerima semua ini dengan lapang dada. Lagi pula ini juga baik untuk Nadia. Jika ia istirahat dengan benar mungkin dia akan segera hamil. Kegiatan Nadia akhir-akhir ini juga sangat padat dan menguras energi. Ini waktunya Nadia istirahat.” Ucap Joni yang sebagian besar dikatakan oleh Nadia. Nadia tahu jika kedua wanita yang dilindunginya akan merasa bersalah. Dia tidak ingin ada orang lain yang merasa bersalah atas apa yang ada di hidupnya.
“Nyonya muda pasti berkata seperti itu hanya untuk menenangkan kami kan kak Joni?” Dian merasa sangat bersalah pada Nadia. Wanita yang menolongnya justru menderita akibat menolongnya.
“Bukan begitu Dian. Memang Nadia sekarang bisa istirahat dengan tenang. Percayalah ia sedang baik-baik saja dan menikmati hari-hari yang santai. Kamu jangan banyak pikiran. Itu tak akan baik untuk kandunganmu.”
“Nyonya muda memang orang yang sangat baik hati.”
“Oh ya. Ini titipan dari Nadia.” Joni menyodorkan Map coklat yang ia keluarkan dari tasnya.
“Ini apa?” tanya Minah heran saat Joni menyodorkan map itu padanya.
“Buka saja.”
“Ini?”
“Baiklah jika itu memang yang terbaik. kami tidak akan kembali ke desa. Saya tahu jika itu akan membahayakan Nyonya muda kembali.”
“Baiklah jika kamu mengerti. Ini semua demi keselamatan kalian. Nadia sudah berbuat banyak untuk melindungi kalian. Jangan sampai kalian bertindak bodoh yang akan membuat nyawa kalian dalam bahaya. Apa kalian mengerti?”
“Kami mengerti. Kami sangat berterima kasih pada Nyonya muda. Dia telah banyak berkorban untuk kami. Entah apa yang bisa kami lakukan membalasnya.”
“Membalasnya dengan cara yang mudah. Hiduplah dengan baik disini. Lupakan kejadian menyakitkan yang ada di desa. Kejadian itu hanya boleh diingat sebagai pelajaran dalam hidup.” Kata Joni.
“Baiklah Jon. Kamu akan selalu mengingat nasihatmu. Kamu beruntung dapat mengabdi pada nyonya muda. Andai aku dapat kesempatan yang sama.”
“Nadia adalah orang yang baik. Tidak heran jika banyak orang yang akan dengan senang hati membantunya. Jadi, kalian tenang saja disini. Tidak usah mengkhawatirkan Nadia.”
“Kami percaya Joni. Nyonya muda adalah orang yang sangat baik. Dia akan dilindungi langsung oleh Tuhan.”
__ADS_1
Kemudian, Bu Minah dan Joni berbicara banyak hal sebelum akhirnya Joni pamit untuk kembali ke desa.
Di sisi lain, Dian memiliki pemikirannya sendiri. Perasaan bersalahnya masih menghantui. Ia meyakini jika apa yang dialami Nadia karena ulahnya.
Dian mengelus perutnya. Di dalam sana ada seorang anak yang telah dilindungi oleh Nadia dengan mempertaruhkan banyak hal. Ia berjanji jika anak kelak anaknya akan melindungi Nadia. Anaknya kelak akan membalas semua perbuatan baik yang telah Nadia lakukan.
“Kamu kenapa sayang? Apa perutmu sakit?” tanya bu Minah saat melihat Dian tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Tidak apa-apa bu. Aku hanya membuat janji jika anakku kelak akan melindungi nyonya muda. Anak ini akan menjadi anaknya. Nyonya muda lah yang lebih berhak memiliki anak ini.”
“Kenapa kamu berkata seperti ini Dian? Nyonya muda tidak akan senang jika mendengarmu mengatakan ini.”
“Tidak bu. Ini memang sudah sepantasnya. Apa yang nyonya muda lakukan pada kami tidak mungkin bisa kami balas. Aku berharap anak ini kelak akan membantu Nyonya muda. Dia akan melindungi anak nyonya muda dengan sepenuh hati.”
“Kalau seperti itu, aku juga mendukungmu. Nyonya muda sudah melakukan banyak hal untuk kita.”
“Benar bu. Jika aku bisa, aku akan membebaskan Nyonya muda dari juragan Terkut*k itu bu. Laki-laki bajing*ng itu tidak pantas mendapatkan nyonya muda yang sangat baik. Nyonya muda berhak mendapatkan hidup yang bahagia. Tidak hidup dalam tekanan laki-laki itu bu.”
“Sudahlah Dian. Kamu jangan berfikir macam-macam. Kamu harus ingat kandunganmu. Dia harus lahir dengan selamat dan tumbuh dengan sehat agar menjadi tangguh untuk membantu nyonya muda.”
Dian mengelus perutnya. Anak dari suami wanita yang telah membantunya selama ini sedang tumbuh disana. Walaupun ia sangat membenci ayah dari anak itu, namun ia tetap menyayangi anaknya.
“Kamu harus menjadi pelindung Nyonya muda suatu hari nanti anakku. Besar harapanku padamu agar kita bisa membalas jasa nyonya muda yang telah melakukan banyak hal untuk kita.” Bathin Dian sambil terus mengelus perutnya. Dan sepertinya bayi dalam kandungannya merespon ucapannya. Bayi itu menendang perut Dian seperti dia juga berjanji untuk itu.
*
*
*
Hah....
Akhirnya sampai sini juga ceritanya, kemaren akoh bingung mau dibawa kemana nih cerita. Tiba-tiba saja kayak buntu nggak bisa mikir. 😬
__ADS_1
Untung saja ada ide yang muncul di kepala akoh yang sedang akoh peras. 😱 Hehehe ✌️
Kasih akoh semangat dong kakak-kakak yang manis 😍