Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
73. Memanggilmu Mama


__ADS_3

Matahari bersinar terang menyambut pagi. Menciptakan kilau keemasan yang terlihat dari bulir air pada ujung-ujung daun sisa hujan semalam. Udara pun cukup hangat pagi ini. Menghilangkan kedinginan yang melanda sejak semalam.


Ada kata bijak yang harus selalu diingat, hujan dan terang akan selalu berdampingan. Setelah hujan turun, pasti akan terang setelahnya. Dan jika kita beruntung mungkin ada pelangi yang juga menghiasi cakrawala. Itu terbukti hari ini. Semalam hujan turun dengan derasnya dan pagi harinya matahari muncul sebagai pengobat segala rasa yang tercipta akibat hujan. Meskipun tidak ada pelangi yang membentang di langit, namun semangat lagi seindah pelangi menemani hari.


Dalam hidup juga berlaku hal yang sama. Bahwa tidak selamanya seseorang itu hidup dalam kesusahan. Manusia akan selalu diuji dengan segala jenis kejadian yang harus dilalui. Manusia dilahirkan berdampingan dengan segala hal yang menyertainya. Baik dan buruk selalu silih berganti.


Nadia, wanita muda yang sudah mengalami banyak hal ini pun merasakan hal yang sama. Dengan perut buncitnya yang sudah memasuki bulan ke tujuh, Nadia masih terlihat energik menjalani kegiatannya. Mungkin hal ini karena jiwa semangat yang ada di dalam tubuh dengan perut buncit itu.


Meskipun harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Nadia merasakan hidupnya damai. Di lingkungan barunya, tidak ada yang memiliki niat jahat terhadapnya. Tidak ada intrik dan persaingan. Membuat wanita itu melangkah dengan ringan di setiap langkah hidup yang diambilnya.


“Mbak Mita, aku dengar bos bengkel sebelah sedang datang berkunjung hari ini.” Kata Nila.


“Tahu dari mana?”


“Dodi, tadi dia kesini membuat pesanan untuk bosnya dan memberitahuku kabar ini. Kamu tahu kan jika akan ada banyak yang datang kesini dengan beredarnya kabar ini.”


“Kamu betul. Kita seperti ikutan ketiban rezeki kalau begini.”


Mendengar percakapan karyawannya, bibir Nadia berkedut. Apakah mungkin hal itu bisa terjadi? Hanya karena adanya orang yang dibilang tampan, beberapa orang sengaja membuat alasan untuk menghamburkan uang mereka untuk hal yang tidak diperlukan. Ini tidak masuk akal bagi Nadia yang baru sedikit mengenal cinta.


Tidak ingin berfikir yang lebih jauh tentang ini, ia segera pergi ke lantai atas untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Ia tadi turun untuk mengambil air putih sekaligus jalan-jalan sebentar meluruskan punggung yang sejak dua jam ia gunakan untuk duduk.


Baru lima belas menit Nadia duduk nyaman di kursinya, seorang karyawannya mengetuk pintu.


“Ada apa?” tanya Nadia setelah melihat Mita muncul dari balik pintu.


“Itu bu, bos dari bengkel sebelah ingin bertemu.” jawab Mita.


Menaikkan alisnya tidak percaya. Untuk apa bos bengkel itu ingin menemuinya. Baru saja ia mendengar gosip tentangnya sekarang sepertinya ia cukup beruntung dengan bisa bertemu dengan artis dadakan di kafenya.


“Baiklah. Tolong bawa dia kemari ya. Aku lelah jika harus bolak balik naik tangga.” Kata Nadia. Itu benar. Dengan perut buncitnya ia merasa tidak nyaman jika harus naik turun tangga. Apalagi baru lima belas menit dia naik.


Di lantai bawah, dengan sopan Mita meminta bos bengkel yang ia maksud untuk menemui Nadia di ruangannya di lantai atas. Ia tidak menolak sama sekali karena memang ini memang sesuai keinginannya. Datang dengan tujuan bisnis. Jadi, ruangan kerja adalah tempat yang sesuai.


“Maafkan ketidak nyamanan ini. Atasan saya sedang hamil besar. Jadi dia merasa tidak nyaman jika harus naik turun tangga.” Kata Mita sambil mengantar laki-laki itu ke lantai atas.


“Ah itu tidak jadi masalah. Aku datang untuk membicarakan bisnis. Jadi ruang kerja adalah ruang yang sesuai.”


“Hahaha. Jika memang seperti itu, Itu memang benar.” Mita berhenti di depan pintu ruangan. Kemudian mengetuk pintu untuk meminta persetujuan yang berada d dalam.


“Mari masuk.” Mita masuk. Di dalam Nadia berdiri di belakang mejanya untuk menyambut tamunya. Namun tubuhnya berubah kaku melihat siapa tamu yang sedang mengunjunginya.


“Kamu... ternyata sembunyi disini?” kata laki-laki itu sambil maju dengan perlahan. Senyumnya terpancar meski wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia juga terkejut.


“Mas Satria. Kenapa bisa berada di sini?.” Tanya Nadia gugup.


Satu-satunya orang yang memiliki wajah berbeda adalah Mita. Gadis itu menatap bingung keduanya bergantian. Interaksi antara satu dengan yang lainnya tidak ada yang ia pahami sampai saat ini. Keduanya mash diam setelah beberapa saat. Dengan satu pihak dengan wajah gugupnya. Dan di wajah lain terlihat senyum yang lebih mirip seringaian yang membahayakan.

__ADS_1


“Tak tahukah kamu betapa khawatirnya kami Nadia?” Satria perlahan maju sambil melipat kedua tangannya.


“Maafkan aku mas.”


“Sekarang jelaskan padaku.”


“Baiklah. Silahkan duduk.” Satria duduk di depan Nadia. “Mita, tolong siapkan kopi hitam tanpa gula dan juga jus jeruk.”


“Baik bu.”


Gadis itu akhirnya keluar ruangan dengan banyak tanda tanya dalam benaknya. Sebenarnya apa hubungan antara keduanya yang sepertinya sangat dekat. Bahkan Bosnya mengetahui minuman kesukaan bos dari bengkel sebelah.


Huh! Daripada terus berpikir hal yang begitu berat tanpa bisa memutuskan hasil yang sesuai lebih baik ia bergegas ke bagian dapur untuk menyampaikan pesanan kedua orang penting di lantai atas.


Sedangkan di lantai atas sendiri suasana agak tegang. Nadia duduk menundukkan kepalanya seperti seorang narapidana yang sedang diinterogasi. Satria memindai wanita muda di depannya yang telah hilang dari desa enam bulan yang lalu. Membuat Joni kelimpungan. Nita dan Sinta yang menangis setiap malam kepikiran wanita yang ternyata hidup makmur disini.


“Sudah berapa bulan adikku itu?” tanya Satria setelah menghembuskan napas. “Itu adikku kan yang sedang kamu kandung?” lanjutnya.


“Iya. Ini anak bapak. Sudah masuk bulan ke tujuh.”


“Jadi, kamu pergi dari desa karena hal ini?”


“Kurang lebih. Aku hanya ingin suasana baru mas. Terlalu banyak kenangan yang ada disana. Untuk saat ini, aku belum bisa kembali. Setidaknya sampai aku yakin.” Nadia menggigit bibir bawahnya. Memberinya keyakinan.


“Yakin apa?”


“Yakin jika aku mampu menunjukkan pada nyonya besar kalau aku mampu berdiri tegak tanpa harus mengganggunya.”


“Egois?” Nadia menggelengkan kepalanya. “Tidak mas. Tanpa diketahui siapapun, bapak telah menyediakanku banyak aset yang berharga. Dengan itu aku anggap impas untuk bisa merawat anakku. Kami tidak hanya berdua.”


“Maksudmu anak Dian?”


“Ya mas. Bisma juga anak bapak bagaimanapun kejadiannya. Dia juga berhak atas harta itu. Jadi untuk melindungi mereka, aku harus pergi jauh. Jika bu Devi mengetahui jika kami memiliki aset bapak, aku tidak yakin ia akan melepaskan kami begitu saja.”


Tok tok tok


Suara pintu diketuk menghentikan sementara percakapan keduanya. Mita masuk membawa pesanan mereka. Meletakkan secangkir kopi di depan Satria dan gelas berisi jus jeruk di depan Nadia.


“Terima kasih Mita, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu. Silahkan diminum mas Satria.”


Mita mengangguk dan segera keluar. Menutup pintu dengan perlahan.


“Ibu tidak sejahat itu Nadia.”


“Aku tahu kamu pasti berfikir seperti itu mas. Aku pun tidak peduli. Sebagai anak, kamu memang harus selalu percaya pada ibumu.”


“Ibuku....”

__ADS_1


“Mas, aku hanya ingin memintamu ikut merahasiakan keberadaanku. Tolong mengertilah.”


“Tidakkah kamu memikirkan bagaimana Joni selama ini? Dia kebingungan dan khawatir setiap saat.” Nadia menggigit bibir bawahnya. Ia tak menyangka jika apa yang ia ambil berdampak begitu besar.


“Sinta dan Nita juga menangisi keadaanmu setiap hari. Tidakkah kamu memikirkan mereka Nadia?”


“Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud. Aku hanya ingin melindungi anak-anakku.”


Satria menghela nafas. Ia tak bisa begitu saja menyalahkan Nadia atas sikap yang diambilnya. Sudah banyak hal yang Nadia alami selama ini.


“Aku minta sedikit waktu lagi Mas. Setidaknya sampai anak ini lahir. Aku janji aku sendiri yang akan memberitahukan keberadaanku pada mereka.”


“Baiklah. Aku akan merahasiakannya. Tapi bolehkan aku memberi kabar jika aku sudah bertemu denganmu dengan keadaan yang baik-baik saja. Mereka sangat khawatir Nadia.”


“Baiklah. Aku rasa itu tidak masalah. Terima kasih atas pengertiannya mas.”


“Apa aku bisa menemui anak Dian?”


“Tentu saja. Dia akan senang bertemu dengan kakaknya.”


Satria tersenyum mendengar itu.


“Bukankah aku sudah tidak pantas untuk mendapatkan adik lagi?” cibir Satria.


“Tentu masih. Dan anakku juga sudah mengantri untuk memanggilmu kakak mas.”


“Hah.... hubungan ini terlalu rumit untuk dijelaskan Nadia.”


“Maka, tak perlu dijelaskan. Hanya perlu jalani apa yang ada.”


“Apakah aku juga harus mulai memanggilmu mama?”


“Hei.... sejak aku resmi menikah dengan bapak, panggilan itu seharusnya sudah aku dapatkan darimu dan saudaramu yang lain mas. Tapi kalian masih menganggapku lain. Sinta bahkan masih sering memukul dan mencubitku jika ia sedang kesal dengan acara televisinya.”


“Baiklah mama. Mulai hari ini, kamu mendapatkan satu lagi anak laki-laki yang akan mengikutimu.”


“Hei itu tidak perlu. Aku tidak menerima anak setuamu mas. Anakku harus yang masih kecil dan imut. Bukan malah lima tahun lebih tua dariku.”


“Itu kenyataannya. Jika kamu begitu menginginkan panggilan mama, tentu saja sebagai salah satu anakmu aku harus menurutinya kan?”


Nadia menggembungkan pipinya. Mengerucutkan bibirnya. Niatnya kan hanya bercanda. Kenapa Satria menanggapinya dengan serius sekarang. Lagipula ia tak mempermasalahkan bagaimana Satria maupun yang lainnya memperlakukannya. Yang terpenting baginya mendapatkan kasih sayang dan kepercayaan itu lebih dari cukup.


*


*


*

__ADS_1


~*Aku Istri Muda*~


Jangan lupa Like Ya👍


__ADS_2