Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_73. Serena Sakit


__ADS_3

Malam semakin larut. Makan malam penyambutan kepulangan Nara dan Alex juga sudah lama berakhir. Semua penghuni rumah bahkan sudah tidur. Bahkan Alex dan Nara yang biasanya masih begadang keduanya sudah terlelap di bawah selimut mereka. Namun Serena masih belum bisa tidur. Wanita itu sudah berusaha memejamkan matanya sejak ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya jelas sudah lelah setelah aktivitas sepanjang hari. Namun entah kenapa matanya masih enggan untuk terpejam.


Di rumah ini, meskipun Mak Jum dan yang lainnya baik padanya, Nara juga perhatian padanya. Namun dia masih merasa kesepian. Dia masih belum ada seseorang yang bisa ia buat sebagai sandaran. Tidak ada yang bisa disebut 'teman' untuknya berkeluh kesah. Alex sendiri tidak menganggapnya ada di rumah ini. Ini semakin membuatnya merasa buruk.


Mengingat jalan hidupnya, tanpa terasa Serena meneteskan air matanya. Dulu Serena hanya ingin bahagia. Mungkin ia memang egosi. Menginginkan kebahagiaannya tanpa memperdulikan orang lain yang ada di sekitarnya. Bahkan ia mengabaikan Alex yang masih kecil.


Mungkin kemalangan yang terjadi padanya beberapa tahun terakhir merupakan karma hidupnya. Dan sekarang Tuhan sedang menghukumnya dengan sikap Alex yang dingin dan acuh padanya.


“Aku tahu aku memang bersalah. Aku memang tidak berperasaan. Tapi aku mohon Tuhan, izinkanlah aku merasakan kasih sayang dari anakku, Alex. Jika itu pun sulit terwujud, biarkan aku melihat Alex bahagia.” Gumam Serena sebelum tertidur setelah lelah untuk menangis.


Keesokan harinya, Nara dan Alex keluar dari kamar seperti biasanya. Mereka sudah harus mulai pergi bekerja hari ini. Sudah terlalu lama mereka tidak datang ke kantor.


Keduanya bergandengan tangan saat turun dan berjalan ke ruang makan. Namun Seseorang yang biasanya sudah menunggu mereka tidak terlihat ada di sana. Tanpa merasa ada yang aneh, Alex langsung duduk di kursinya. Namun Nara menoleh ke arah dapur. Mencari keberadaan mama mertuanya yang tidak ia temui pagi ini.


“Mak Marni, mama mana?” tanya Nara setelah ia tidak melihat Serena di manapun.


“Nyonya Serena sakit nyonya. Badannya demam.” Jawab Mak Marni ragu. Ia takut merusak suasana pagi yang damai.


“Astaga. Biar aku lihat.” Nara hendak bangkit saat tangannya di cekal oleh Alex.


“Makan sarapanmu dulu. Siti tolong panggil dokter. Biarkan dokter saja yang memeriksanya.” Siti mengiyakan dan segera pergi.


Nara memandang Alex dengan tajam. “Tapi sayang...” ucap Nara sedikit merengek.


“Tidak ada tapi-tapian. Dokter akan segera datang. Kamu sarapan dulu. Baru boleh ke kamarnya.” Kata Alex tegas. Ia segera meminta Nara mengambilkannya makan seperti biasanya.


Pagi ini, Nara makan dengan sangat tidak menikmati. Pikirannya tidak tenang dan tertuju pada mama mertuanya.


“Sayang hari ini aku tidak ke kantor ya? Aku mau menemani mama di rumah.”


“Terserah. Yang penting kamu makan dulu yang benar.” Alex melirik Nara. Suasana hatinya sudah terlanjur memburuk.


“Baik. Terima kasih sayang.” Nara tersenyum senang. Baru setelah itu ia makan dengan tenang.


Dokter datang setengah jam kemudian. Tepat ketika Alex hendak berangkat ke kantor. Nara menyambut dokter Rubi dan mengantarnya ke kamar Serena setelah mengantar Alex berangkat.


“Kenapa kamu memanggil dokter sayang? Mama tidak apa-apa.” ucap Serena saat melihat Nara masuk ke dalam kamarnya bersama dokter wanita yang sepertinya berumur pertengahan tiga puluh tahunan.

__ADS_1


“Kata Mak Marni mama demam. Jadi Alex memanggil dokter untuk mama.” Serena sangat senang mendengarnya. Itu artinya Alex masih memperdulikannya. Ini sudah cukup baik meskipun Alex sendiri tidak datang melihat kondisinya.


Dokter Rubi mulai memeriksa keadaan Serena. Kemudian setelah selesai memeriksa keadaanya, ia menuliskan resep yang harus ditebus.


“Bagaimana keadaan mama saya dokter?” tanya Nara di sela-sela dokter Rubi menulis resepnya.


“Secara umum Tidak ada yang serius. Hanya saja kondisi ketahanan tubuh nyonya Serena sedikit memburuk akibat kurang istirahat dan juga faktor usia. Jadi tolong istirahat nya lebih diperhatikan lagi.” Jawab dokter Rubi. Nara memandang Serena Dengan sendu. Pasti Serena kelelahan akibat acara semalam. Ia jadi merasa bersalah. Lain kali ia tidak akan membiarkan mamanya bekerja terlalu keras.


“Baik dokter. Saya akan memperhatikan itu.” Dokter Rubi mengangguk.


“Baiklah. Saya sudah meresepkan obat penurun panas dan beberapa vitamin. Pastikan nyonya Serena minum obatnya dengan teratur.” Dokter Rubi memberikan kertas resep pada Nara. Sebelum pamit dan keluar dari kamar diantar oleh Mak Marni.


“Mama pasti kelelahan karena kemarin kan?” Nara duduk di tepi ranjang. Mengelus lembut lengan Serena.


“Tidak sayang. Mama tidak apa-apa. Dokter tadi hanya bicara omong kosong.”


“Bicara omong kosong apa ma? Dokter sudah memeriksa mama. Dan dia bilang mama kurang istirahat. Jadi mulai sekarang mama tidak perlu lagi ikut memasak di dapur oke?” ucap Nara serius. Jika ia tidak menghalangi Serena, ia akan merasa bersalah.


“Jangan seperti itu sayang. Mama tidak apa-apa. Sungguh.” Serena panik. Bagaimana mau mengambil hati Alex jika ia tidak bisa memasak untuk nya?


“Nara tahu mama ingin memasak makanan kesukaan Alex. Tapi mama juga haru memperhatikan kesehatan mama. Aku yakin Alex juga tidak akan mau jika mama sakit. Mama menurut kata dokter ya?” bujuk Nara lembut. Ia tahu kelemahan Serena adalah Alex. Asal membuat Alex menjadi alasannya, ia yakin mertua nya itu akan menyetujuinya tanpa tapi.


“Itu bagus. Kalau mama ingin makan sesuatu, jangan ragu untuk mengatakannya pada Nara. Yah meskipun Nara tidak bisa masak sendiri. Nara masih bisa mengusahakan nya.”


“Em. Kamu memang menantu yang baik. Alex beruntung memiliki istri yang cantik dan baik sepertimu.”


“Nah baiklah mama sekarang makan bubur dulu. Aku sudah meminta pelayan untuk menebus obat untuk mama.” Nara meraih mangkuk bubur yang ada di atas nakas. Nara menyuapi Serena dengan lembut dan membantunya minum obat.


“Sekarang mama istirahat dulu. Nara akan keluar agar mama bisa istirahat dengan nyaman.” Nara membantu Serena berbaring dan menyelimutinya.. baru setelah itu ia keluar dari kamar.


Ketika Nara baru keluar dari kamar Serena, ponselnya berbunyi. Ia segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Ia sangat senang saat melihat nama yang tertulis di layar.


“Halo Syila. Apa kabar?” ucap Nara begitu ia mengangkat telfonnya.


“...”


“Hei hei. Aku tanya baik-baik kenapa kamu marah-marah tidak jelas sih?” Nara heran. Tiba-tiba saja Syila marah padanya. Berkata bahwa ia tidak perhatian pada teman. Ia memang jarang menghubungi teman-temannya. Tapi itu karena ia takut mengganggu. Mereka kini punya kehidupan yang berbeda.

__ADS_1


“...”


“Apa?! Kenapa aku tidak mendengar beritanya sama sekali?” pekik Nara kaget.


“...”


“Yah. Sebenarnya dua Minggu ini aku sedang liburan sama Alex di luar negeri. Jadi aku benar-benar tidak tahu. Aku baru pulang kemarin sore.” Ucap Nara bersalah.


“...”


“Iya. Maaf-maaf. Tapi kan aku juga tidak menyangka semua ini terjadi.” Sesuatu yang buruk terjadi saat ia pergi berlibur. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan dirinya. Bukan juga salahnya. Tapi tetap saja Nara merasa bersalah.


“...”


“Aku akan segera mencari nya.”


“...”


“Iya. Aku akan pergi ke tempatnya. Semoga saja dia baik-baik saja. Aku akan membantunya sebisaku.”


“...”


“Oke. Aku akan menghubungimu nanti. Bye.” Sambungan terputus.


Nara memijat pelipisnya. Ia masih khawatir tentang keadaan Serena. Dan saat ini mendapat kabar buruk dari Syila. Membuat kepalanya sedikit berdenyut.


Vera sahabatnya sedang ada masalah. Syila yang ada di luar negeri malah lebih dahulu mengetahuinya. Sedangkan ia yang berada satu negara bahkan satu kota tidak mengetahuinya. Ia merasa menjadi teman yang buruk sekarang.


Nara duduk dan kembali fokus pada ponselnya. Dia membuka laman berita dan juga akun gosip. Ia sangat terkejut saat mendapati berita yang tersebar di sana. Siddarta Griss, Papa Vera yang merupakan walikota di kota C diduga melakukan korupsi. Bahkan beliau sudah diamankan di kantor KPK. Tak sampai di situ, hampir semua asetnya juga disita. Meninggalkan rumah yang ditinggali keluarganya.


Lalu dimana Vera?


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih. Maaf kemarin tidak up 🙏


__ADS_2