Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_110. Menuntut Keadilan


__ADS_3

Setelah makan malam, Nara dan Alex sudah masuk ke dalam kamar mereka. Bisma dan Nathan melanjutkan pekerjaan di ruang kerja Nathan. Hanya Nadia dan Dini yang ada di ruang keluarga. Nadia menemani Dini yang sedang belajar mengerjakan Pekerjaan rumahnya. Sedangkan Gerry, pemuda itu belum pulang sejak pagi, entah apa yang dilakukannya di luar sana.


“Nyonya, ada nyonya Serena di depan.” Mbok Ida menghampiri Nadia dengan ekspresi wajah yang tidak biasa.


“Eh. Aku akan segera ke sana.” Nadia segera berdiri. Meskipun ia heran melihat ekspresi wajah mbok Ida, ia tidak mempermasalahkannya. “Panggil Nara dan Alex. Dan juga suami saya. Setelah itu, Bawakan minuman dan camilan.” Lanjutnya.


“Iya.” Mbok Ida segera melaksanakan perintah Nadia.


Saat di tiba di ruang tamu, Nadia sempat terkejut melihat wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Bukan hanya Serena yang ada di sana. Tetapi ada dia wajah wanita berbeda usia yang duduk di sebelah Serena.


Bukan hanya dua orang asing yang membuat Nadia terkejut, namun wajah Serena yang terlihat tidak seperti biasanya membuat Nadia merasa aneh.


“Bu Serena, ada apa ini?” tanya Nadia.


“Bu Nadia, ini sahabat saya Runi, dan ini putrinya Virly.” Serena memperkenalkan orang yang dibawanya. “Kami di sini ada masalah penting yang harus kita bicarakan.”


“Masalah apa ya?”


“Saya akan memberitahu. Tapi bisakah tuan Nathan juga datang?”


“Tentu saja. Saya sudah memerintahkan mbok Ida memanggil Alex, Nara dan juga suami saya.”


Virly menundukkan kepalanya. Di sampingnya, Runi menggenggam tangannya. Keduanya tampah menyedihkan. Mata mereka juga merah dan bengkak. Sepertinya mereka baru saja menangis sampai puas. Nadia mengamati dua tamu asingnya dengan heran. Berusaha menebak apa yang sebenarnya terjadi. Namun tidak juga ada titik terang nya.


Nara dan Alex datang bersama dengan Nathan. Nathan juga merasa bingung dengan adanya dua wajah asing di mansionnya. Sedangkan Nara dan Alex mengeratkan gigi mereka. Mereka tidak menyangka jika Serena dan Virly akan bertindak sejauh itu.


Nara dan Alex masih memiliki rasa hormat, dihampirinya Serena dan mereka raih tangannya. Namun Serena membalasnya dengan dingin. Baru setelah melihat hal itulah Nadia melihat ada yang tidak beres. Ia menebak hal itu ada hubungannya dengan Runi dan Virly.


“Ada masalah penting apa yang ingin Bu Serena bicarakan dengan kami?” tanya Nathan tanpa basa basi. Nadia sudah memberitahu yang terjadi.


“Karena semua sudah berkumpul, saya akan segera bicara.” Serena memandang satu persatu orang dengan serius.


“Mama, mama harus mempertimbangkan apa yang akan mama bicarakan. Jangan sampai hal yang akan mama katakan akan mama sesali nantinya.” Alex menatap tajam Serena. Memberi peringatan pada mamanya agar tidak bertindak sembarangan. Alex ingin menyelesaikan masalah ini baik-baik. Jika sudah melibatkan keluarga Mahardika, dampaknya tidak akan baik.


“Mama sudah berpikir sebelum kemari. Dan mama sebagai ibumu sudah seharusnya melakukan semua ini. Mama datang kesini untuk menuntut keadilan untuk Virly.” Sinis Serena.


“Sebenarnya ada apa ini? Dan siapa mereka?”


“Tuan Nathan, maafkan saya yang tidak bisa mendidik Alex dengan benar. Saya sendiri melihat dengan mata saya sendiri jika Alex melakukan hal tidak senonoh pada Virly. Ini mungkin karena Nara tidak kunjung memberi Alex keturunan, jadi Alex melampiaskan kekecewaannya pada Virly. Jadi saya mohon izinkan Alex menikah lagi dengan Virly.” Serena menunjuk Virly yang kini mulai terisak lagi. Begitu juga dengan Runi.


Mendengar semua penuturan Serena, Nara merasa sangat sedih. Bisa-bisanya mama mertuanya pada akhirnya akan melimpahkan kesalahan padanya. Apa yang salah dengan ya? Selama ini Nara sudah berusaha agar segera mendapatkan keturunan, tapi jika Tuhan belum berkehendak, dia juga tidak bisa apa-apa.


Nadia dan Nathan sangat terkejut mendengar penuturan Serena. Ia tidak percaya Alex melakukan hal itu. Pria itu sudah berjanji tidak akan mengkhianati putri mereka. Nadia mendekati Nara. Memeluk putrinya dengan sedih. Ia tentu saja mengerti bagaimana perasaan Nara saat ini.


“Alex, ada yang ingin kamu katakan?” Nathan menatap Alex tajam. Ia ingin mendengar penjelasan dari Alex juga. Ia yakin menantunya tidak melakukan hal memalukan itu.


"Mama! Mama tidak seharusnya mengatakan semua ini. Aku tidak pernah kecewa terhadap Nara. Aku mencintai Nara bagaimana pun dirinya. Aku juga tidak keberatan jika kami tidak memiliki anak. Toh kami bisa mengadopsinya. Banyak bayi di luar sana yang membutuhkan orang tua asuh. Aku tidak keberatan dengan itu. Mama membuatku kecewa. Aku tidak menyangka mama menikaiku serendah itu." Alex menatap Serena kecewa.


“Huft. Mama, Alex kecewa pada mama. Sampai sejauh ini kamu masih mau mengelak.” Alex menatap sendu Serena yang balas menatapnya dengan sengit.

__ADS_1


"Sebentar, tolong hal ini dijelaskan dengan sungguh-sungguh. Saya tidak mau masalah ini sampai berlarut-larut." Nathan berusaha tenang.


“Begini papa,..” Alex pun menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada Nathan. Nathan mendengarkan nya dengan seksama.


“Kamu juga ada di sana Nara?” Nathan menoleh pada Nara.


“Iya pa. Aku pergi ke kantor Alex setelah menemui Karina.” ucap Nara di sela Isak tangisnya.


“Apa kamu juga melihatnya?”


“Aku tidak melihatnya. Hanya saja saat aku datang, pakaian Virly memang sudah lepas. Tapi aku tidak melihat apa-apa lagi selain itu.” Jelas Nara jujur.


“Apa di ruanganmu tidak ada CCTV nya?”


“Ada pa. Hanya saja, saat aku memeriksanya CCTV di ruanganmu mati pada saat itu.”


“Jadi begitu, Bu Serena, dari penjelasan Alex sudah dapat dipastikan jika hal ini ada yang tidak beres.”


“Tapi saya melihatnya sendiri.”


“Mama! Apa yang mama lihat saat itu? Apa mama melihatku melepas pakaiannya? Apa mama melihatku menindihnya?” teriak Alex. Serena bergidik melihat wajah Alex yang marah.


“Mama bahkan tidak mendengarkan penjelasanku dan langsung memutuskan jika aku bersalah. Dan yang harus mama ingat lagi, mama tidak pernah mengajariku hal apapun selama ini.”


“Alex, mama tidak percaya kamu masih mengungkit hal itu.” Serena menangis terisak.


“Aku bukanlah laki-laki yang seperti itu. Jika mama perlu bukti, kita bisa bawa Virly ke rumah sakit. Biarkan dokter memeriksanya. Dengan begitu, jika memang aku melakukan hal yang tidak pantas, memaksanya, pasti akan ada jejaknya bukan?”


“Kenapa menolak? Apa kalian takut wajah asli kalian terbongkar?” Alex menatap Runi dengan sinis.


“Alex kamu tidak boleh bersikap tidak sopan seperti itu.” Serena menegur Alex.


“Jika mengharapkan rasa hormat dariku, seharusnya juga tidak bertindak kurang ajar.”


“Mama kecewa padamu.”


“Aku sudah tidak peduli.” Alex memalingkan wajahnya dari Serena. Ia sungguh kecewa pada ibunya.


“Jika Alex terbukti melakukan pemaksaan itu, bukankah kalian mempunyai bukti untuk membuat Alex menikahi Virly? Lalu apa yang kalian takutkan? Nama baik Virly juga tidak diperlukan lagi. Jadi apakah kalian bersedia?” pancing Nara


“Tidak perlu. Nama baik Virly yang utama.” Runi segera menjawab.


“Jika memang Alex tidak mau bertanggung jawab, Aku juga tidak akan memaksa.” Virly berkata dengan lirih.


“Bagus jika kamu sadar. Sayang apa kamu sudah merekamnya?” Alex menoleh Nara.


“Sudah.” Nara menggoyangkan ponsel yang sejak awal ia pegang. Sebenarnya Nara menggunakannya untuk merekam pembicaraan mereka.


“Kerja bagus. Jadi kalian tidak ada hak lagi untuk menuntut ku. Aku sudah mengajak kalian untuk periksa ke dokter. Karena kalian sudah menolak, tidak akan ada lain kali.” Alex mengejek Virly dan Runi.

__ADS_1


“Mama kecewa padamu Lex.” Serena berdiri. Mengajak Runi dan Virly untuk kembali.


Kepergian ketiga orang itu diiringi tatapan wajah sedih dari semua orang. Mereka menyayangkan sikap Serena yang terlalu buta akan situasi.


“Mama, papa, Alex mohon maaf atas kejadian hari ini. Kami sudah membawa masalah rumah tangga kami ke sini dan mengganggu ketentraman rumah ini.” Alex berkata dengan serius.


“Tidak apa-apa Lex. Kami percaya padamu. Aku hanya heran mamamu malah percaya pada wanita itu. Dari wajahnya sudah dapat dilihat dengan jelas kebohongannya.” Nathan menggelengkan kepalanya.


“Terima kasih papa sudah percaya.”


“Nara sebagai istrimu saja percaya, kami tidak berhak untuk tidak percaya. Cinta kalian patut diacungi jempol.” Nadia tersenyum bahagia.


Sebagai seorang ibu, ia merasa bangga pada Nara dan Alex. Meskipun ada cobaan yang begitu berat datang mengganggu hubungan keduanya, baik Alex dan Nara tetap saling percaya dan bekerja sama menyelesaikan masalah yang ada.


“Terima kasih mama. Papa. Do’akan masalah ini segera berakhir. Aku yakin Virly tidak akan berhenti sampai di sini. Apalagi mama ada di pihaknya.”


“Kami akan mendoakan kalian. Baiklah. Kalian pasti lelah. Cepatlah pergi istirahat.” Nathan menepuk bahu Alex.


“Oh ya. Tadi ada yang datang dan memasang peredam suara di kamar kalian. Saat mama tanya mereka bilang jika peredam yang mereka pasang kualitas tertinggi. Model terbaru. Dijamin tidak akan bocor. Jadi kalian tenang saja, malam ini milik kalian.” Nadia mengerlingkan matanya.


Nara yang mendengar penuturan mamanya jelas merasa malu.


“Hahahaha.” Nathan tertawa terbahak-bahak. “Papa tidak menyangka anak gadis papa sudah jadi wanita dewasa.”


“Ish papa. Apaan sih.” Nara memukul lengan Nathan yang masih saja tertawa puas.


“Sudah Alex bawa istrimu masuk ke dalam kamar. Jangan sungkan-sungkan. Kami juga pernah muda.” Nadia semakin semangat menggoda Nara yang semakin salah tingkah.


“Jika kalian sudah mengizinkan, aku tidak akan sungkan lagi.” Alex segera mengangkat Nara. Meletakkannya di bahunya. Menggendong Nara sepeti karung beras dan membawanya pergi dari ruang tamu.


Nathan menarik Nadia bersandar di bahunya. Keduanya tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya.


“Kita akan segera mempunyai cucu dari mereka.” Nadia berkata dengan senang. Nathan mengangguk mengiyakan.


Sedangkan Nara terus meronta minta diturunkan. Memukul punggung Alex dan terus berteriak-teriak. Keduanya mengabaikan Dini yang ikut berteriak memberi semangat pada Alex.


“Jangan berisik. Kamu mau membangunkan tetangga?” ucapan Alex membuat Nara menyerah. Diam dan pasrah. Sementara suara Nara sudah tidak terdengar lagi, suara Dini terus terdengar.


“Ayo kak Alex. Semangat!” teriak Dini dengan semangat seperti pemandu sorak.


“Diam kami Dini! Akan aku beri kami pelajaran.” Teriak Nara yang kesal melihat Dini.


“Diam sayang.”


Dini yang melihat keduanya terkikik. Ia melihat pertunjukan yang menarik. Membangkitkan semangatnya. Ia merekam polah keduanya.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah mampir 😘


__ADS_2