
Hari masih sangat pagi saat sebuah kamar mandi di sebuah kamar terdengar berisik yang tidak seperti biasanya. Sesekali suara keran di wastafel bergantian dengan suara orang yang sedang muntah.
Huek..
Huek..
Huek..
Seseorang sedang tersiksa di dalam kamar mandi. Namun seseorang yang ada di dalam kamar yang berada satu ruang dengan kamar mandi bahkan tidak terganggu sedikitpun. Selimut di atas tempat tidur sedikit menggunung dengan lekukan melengkung sesosok tubuh yang sedang tertidur dengan lelapnya.
Sosok itu adalah Nara.
Kalau Nara sedang tidur, itu artinya yang ada di kamar mandi adalah Alex.
Pagi ini entah kenapa Alex tiba-tiba bangun bahkan saat jam dinding masih menunjukkan pukul empat tiga puluh. Suasana masih sepi. Hanya deburan ombak yang terdengar dari pantai yang tidak jauh dari vila tempat mereka menginap.
Alex terbangun karena merasakan dorongan di perutnya yang memaksanya untuk membuka mata yang sebenarnya masih enggan terbuka.
Sudah lebih dari lima belas menit Alex berdiri di depan wastafel hanya dengan menggunakan celana boxer yang ia pakai dengan terburu-buru. Bahkan wajahnya belum sempat ia basuh karena ia terus memuntahkan isi perutnya hingga kini yang keluar hanyalah cairan kuning yang terasa pahit.
Seseorang di bawah selimut meraba tempat di sebelahnya saat ia merasa kedinginan dan bermaksud untuk meminta pelukan.
“Kemana Alex?” Nara menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya saat ia duduk. Wanita itu mengucek kedua matanya agar cepat terbuka.
Huek..
Huek..
Huek..
Mendengar suara dari kamar mandi yang terasa janggal untuknya, Nara segera bangun dan memunguti baju tidurnya yang terserak dan memakainya dengan terburu.
“Sayang apa yang terjadi?” tanyanya panik saat melihat sang suami yang terlihat pucat di depan wastafel. Ia segera memijit leher belakang Alex. Berharap dengan apa yang ia lakukan akan mengurangi penderitaan yang diderita Alex. Wajah bantalnya berubah menjadi panik dengan seketika.
Alex menoleh pada Nara dengan mata sayunya. Tangannya meraih tangan Nara yang ada di pundaknya. Menggenggamnya erat.
“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Alex tersenyum dengan lemah. Tenaganya sudah habis. Namun Ia tidak ingin Nara khawatir padanya.
“Tapi wajah kamu pucat banget. Tidak mungkin tidak apa-apa.” Nara menangkup wajah pucat Alex.
“Aku rasa aku hanya masuk angin saja. Kemarin kan kita lama di dalam air.” Alex mendekap tangan Nara yang menangkup wajahnya. Menarik tangan itu dan ia ciumu dengan tenang. Ia hirup dalam-dalam kehangatan tangan Nara yang begitu menenangkan.
“Kalau begitu aku akan meminta mbak Sindy panggilkan dokter?”
“Tidak perlu. Aku sudah baikan.”
__ADS_1
ia tidak berbohong. Di saat Nara menyentuhnya secara ajaib rasa tidak nyaman di perutnya langsung menghilang.
“Tapi kamu pucat. Apa kamu mau sesuatu?”
“Emm... Segelas teh jahe panas sepertinya akan enak.”
“Baiklah. Aku akan meminta pengurus vila untuk membuatkannya untukmu.” Nara segera keluar dari kamar mandi. Memakai jubah untuk menutup baju tidurnya dan segera turun ke dapur.
Di dapur, sudah ada tiga orang wanita yang sedang sibuk memasak makanan untuk penghuni vila. Mereka bertiga adalah pegawai yang bertugas untuk melayani para penyewa vila. Nara segera meminta teh jahe panas kepada mereka.
“Apa ada pesanan yang lain?” tanya seorang wanita sekitar usia tiga puluh tahunan.
“Tidak ada. Saya hanya butuh teh panas. Suami saya sepertinya masuk angin.” Jawab Nara.
“Apakah mau saya buatkan ramuan tradisional dari rempah-rempah? Kebetulan orang tua di desa adalah pembuat jamu.”
kata seorang wanita yang terlihat paling berumur diantara ketinganya.
“Boleh. Terima kasih.” Ucap Nara sambil tersenyum. Ia melihat ketiga orang itu bekerja. Salah satunya sedang menyiapkan jamu yang dia maksud. Satunya menyiapkan teh jahe panas. Dan yang lainnya melanjutkan menggoreng ayam yang tercium sangat harum. Membuat perut Nara keroncongan.
“Mbak apa nasinya sudah ada?”
“Sudah ada. Apa nona mau makan sekarang?”
“Boleh deh. Sepertinya makan dengan ayam goreng dan nasi hangat akan terasa nikmat.” Nara berbinar. Wajah khawatir yang tadi terlihat jelas kini lenyaplah sudah. Berganti dengan binaran bahagia membayangkan sepiring nasi dengan ayam goreng di atasnya.
Saat sampai di kamar, Nara tidak mendapati Alex di sana. Namun suara gemericik air di kamar mandi sudah cukup membuatnya yakin jika suaminya ada di dalamnya.
“Bukankah tadi katanya masuk angin. Kenapa malah mandi begitu lama.” Gerutu Nara. “Awas saja nanti kalau keluar akan aku marahi sampai habis.” Lanjutnya dengan geram.
Nara meletakkan nampan dengan dua gelas di atasnya ke atas nakas. Sedangkan piring berisi nasi dan ayam goreng ia ambil dan ia bawa naik ke atas kasur.
Dengan kaki menyilang, diletakkannya piring di atas bantal. Tanpa menunggu ia segera menyantap makanan yang dari tadi sudah membuat air liurnya hampir menetes.
Hingga menghilangkan amarah yang tadinya menggebu.
Nara begitu menikmati makanannya hingga ia tidak sadar saat Alex keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk membelit tubuh bagian bawahnya. Bahkan saat Alex mengganti pakaian di sana pun Nara tidak menoleh sedikitpun. Pandangannya tetap tertuju pada piring di depannya. Seakan-akan piring itu akan hilang jika ia menoleh sedikit saja.
“Pagi-pagi tumben sudah makan sayang.”
“He'em. Tadi waktu aku turun aroma harum ayam gorengnya membuat perutku lapar.” Jawab Nara tanpa menoleh.
“Ini apa sayang?” tanya Alex saat melihat satu gelas yang terlihat mencurigakan.
Nara menoleh sekilas. Lalu menjawab dengan acuh. “Itu jamu buat obat masuk angin. Ibu-ibu di bawah tadi yang membuatnya.”
__ADS_1
“Aku tidak perlu itu. Aku hanya mau teh jahe saja.” Alex mengambil gelas berisi teh jahe. Mengangkatnya dengan hati-hati dibawanya ke sofa dan diminum dengan pelan.
Nara hanya mengedikkan bahunya. Pada tahap ini, tidak ada yang lebih penting baginya selain isi piring di depannya yang sudah hampir habis.
**
Bisma baru kembali dari jogging di sekeliling vila. Saat ia masuk ke halaman vila, ia melihat seorang gadis memakai seragam resort sedang berdiri di depan pintu.
“Kamu siapa?” tanya Bisma. Gadis itu terlonjak dan berbalik.
“Eh.. em... Sa-saya Karina. Saya mencari teman saya yang sedang bertugas di vila ini.” Jawab gadis itu sambil menundukkan kepalanya.
“Ooh~.” Bisma meninggalkan gadis itu dan pergi masuk ke dalam vila. Ia segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan pergi bersiap untuk kegiatan yang telah dirancang Tora dan Sindy hari itu.
Sedang kan Karina yang ditinggalkan oleh Bisma masih berdiam di tempatnya. Menunggu kedatangan temannya sambil terus memandangi punggung Bisma yang terus menjauh darinya.
“Maaf lama. Ada apa pagi-pagi mencariku?” seorang gadis seusianya menghampiri Karina keluar dari pintu samping. Karina yang sedang melamun tersentak kaget.
“Ada apa? Kenapa melamun?” tanyanya heran. Tidak biasanya temannya itu melamun di saat jam kerja.
“Eh tidak apa-apa Fania. Oh ya aku sepertinya harus merepotkan mu lagi kali ini.” Jawab Karina ragu. Sudah terlalu sering ia meminta bantuan pada gadis bernama Fania yang berdiri di depannya itu.
“Apa yang bisa aku bantu? Kita ini berteman sudah sejak kecil. Hubungan kita bahkan lebih seperti saudara. Kamu tidak perlu terlalu sungkan seperti ini. Katakan apa yang bisa aku bantu?”
“Kondisi nenekku semakin memburuk Fan. Aku rasa harus membawanya berobat ke rumah sakit. Tapi kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak punya cukup uang untuk itu. Itulah mengapa aku ingin...”
“Tidak perlu cemas. Aku ini tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak punya tanggungan seperti mu. Jadi aku tidak membutuhkan banyak uang. Ini. Di dalamnya ada beberapa uang. Aku harap cukup untuk membawa nenekmu ke rumah sakit.” Fania menyerahkan kartu ATM nya begitu saja pada Karina.
Karina menerimanya dengan perasaan lega. Meskipun ia merasa tidak nyaman, ia harus melakukannya demi kesembuhan neneknya. Keluarga satu-satunya yang ia miliki. Ia pun memeluk Fania dengan air mata penuh keharuan.
“Terima kasih Fania. Aku tidak tahu akan seperti apa nasibku jika kamu tidak ada untuk membantu ku selama ini.” Ucap Kirana.
“Sudah-sudah. Jangan terlalu banyak bicara. Cepatlah pergi ke kantor dan minta izin. Lalu segeralah bawa nenekmu ke rumah sakit.”
“Hem.” Karina mengangguk sebelum pamit dan pergi dari sana dengan setengah berlari. Sedangkan Fania kembali masuk ke dalam vila. Melanjutkan kegiatan memasak nya yang sempat tertunda.
Sedangkan di balkon yang tepat di atas pintu masuk vila. Bisma yang awalnya berniat untuk menghilangkan keringatnya sebelum mandi tidak sengaja mendengarkan apa yang dua orang gadis itu bicarakan dari tempatnya berdiri.
“Ternyata pagi-pagi sudah mencari hutang.”
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😘