
Mobil yang dikemudikan Nara baru saja memasuki gerbang kediamannya. Namun keadaan sudah terasa aneh. Wajah pak Udin yang tadi membukakan pintu gerbang untuknya terlihat muram. Tidak biasanya satpam ramah dan murah itu terlihat bermuram durja. Suasana yang terasa seperti mencekik. Firasat Nara mengatakan jika ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
Nara tidak memasukkan mobilnya ke dalam garasi seperti biasanya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Kemudian dengan segera ia berlari masuk ke dalam.
Saat sampai di dalam rumah pun keadaan yang sama dia temui. Rumah dalam keadaan sunyi. Tidak seperti biasanya yang akan riuh dengan suara dari televisi yang sedang ditonton Nadia. Atau suara Dini yang sedang ribut gara-gara kelakuan jail Gerry. Suasana ini membuat tidak nyaman.
“Mbok Ida, kemana semua orang?” tanya Nara yang masuk ke dalam ruangan khusus pembantu. Mbok Ida yang dari tadi diam menghadap televisi yang tidak dinyalakan bersama kedua rekannya menoleh ke arah Nara. Ketiganya sedang menangis sambil membawa tasbih di tangan mereka. Baju yang dikenakan juga baju muslimah. Melihat Nara di ujung ruangan mereka saling memandang dan semakin terisak.
“Mbok ada apa?” Nara semakin panik. Ia tidak berani menduga-duga. Ia tidak mau membayangkan sesuatu yang buruk terjadi dalam keluarganya.
“Hiks hiks. Non yang sabar ya.” Mbok Ida mendekat dan menyentuh lengan Nara.
“Ada apa ini mbok? Dimana mama? Papa? Dimana semua orang?”
“Mereka sedang ke rumah sakit non.”
Nara segera berlari keluar. Masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia merutuki ponselnya yang low bat di saat yang tidak tepat sehingga ia tidak mengetahui kabar mengenai papanya yang masuk rumah sakit.
Setelah ia duduk, dikeluarkannya kabel data dan segera mengisi daya baterai ponselnya. Mulai dari sekarang ia berjanji tidak akan melupakan untuk mengecek ponselnya setiap saat agar kejadian serupa tidak terjadi.
Ketika Nara sampai di rumah sakit. Ia segera berlari menuju ruangan ICU dimana Nathan dirawat. Setelah ponselnya berhasil dinyalakan, ia menemukan pesan dari Bisma yang memberitahunya dimana keberadaan mereka.
Di depan ruangan, Nadia duduk ditemani dini di sampingnya. Keduanya duduk dengan saling memeluk. Bisma berdiri di tembok. Kedua tangannya berada di dalam saku. Wajah yang biasa terlihat garang itu terlihat sendu dengan bola mata yang terlihat merah. Sedangkan Gerry duduk tak jauh dari sang mama dengan kedua tangannya yang bertumpu pada lutut dan menelusup kan kepalanya diantara kedua tangannya.
“Mama, apa yang terjadi pada papa?” tanya Nara khawatir. Ia segera menghambur di sisi Nadia.
Mendengar suara Nara, Nadia segera menoleh. Kemudian memeluk putrinya dan kembali menangis.
“Papa kena serangan jantung. Papa kritis. Papa.. papa.. hiks hiks.” Jawab Nadia, wanita paruh baya itu tidak dapat menyelesaikan ucapannya. Mengeratkan pelukannya pada sang putri yang juga balas memeluknya.
Nara tak bisa lagi membendung air matanya. Meskipun ia tahu Nathan bukanlah papa kandungannya, kasih sayang keduanya tidak bisa diremehkan.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Nara akhirnya. Nathan tidak pernah menderita penyakit jantung sebelumnya. Dan ini terjadi secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Semua salahku.” Ucap Bisma sendu sambil memeluk ketiga wanita yang saling berpelukan di kursi mereka.
Mendengar ucapan Bisma, Nara segera berdiri dan menghampiri kakaknya. “Apa maksud kakak?”
“Beberapa bulan yang lalu, putri tuan Gunawan memintaku untuk menikahinya. Tapi aku menolak. Siapa sangka jika tuan Gunawan tidak terima dan berkhianat. Dengan liciknya ia menjual rancangan desain perabotan kita dan mereka berhasil menjualnya dengan harga yang lebih murah. Sehingga ketika barang kita keluar, semua dikembalikan karena tidak ada yang berminat membeli nya.” Ucap Bisma dengan menahan emosinya.
“Dan saat ini, perusahaan bisa dikatakan diambang kebangkrutan.” Lanjut Bisma.
“Ini tidak bisa dibiarkan kak. Kita harus mengembalikan kejayaan kita.”
“Ini sulit Nara. Sebagian besar pemegang saham bahkan sudah mulai berniat meninggalkan kita.”
“Kalau kita bisa meyakinkan mereka bahwa kita akan mampu mengatasi ini apakah mereka akan mau ikut membantu kita?”
“Apa yang akan kamu lakukan? Semua sudah kacau Nara. Kita hancur.”
“Tidak ada yang tidak bisa diperbaiki kak. Besok aku akan ikut kakak ke kantor. Aku akan berusaha meyakinkan mereka.”
“Baiklah. Kakak percaya padamu. Apa yang bisa kakak bantu untukmu. Katakanlah.”
“Untuk apa?”
“Kakak akan tahu nanti. Dan persiapkan rapat pemegang saham besok siang.”
Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk semua orang. Hari ini Nara benar-benar melihat keluarganya dalam keadaan yang begitu rapuh.
Di dalam rungan ICU, terlihat Nathan terbaring tak sadarkan diri dengan banyak alat medis yang terpasang di tubuhnya. Pacar pertama Nara itu terlihat sangat rapuh saat ini. Nara menetes kan air matanya untuk itu. Sungguh dia seperti bisa merasakan sakit yang diderita sang papa.
Nara segera menghapus air matanya sebelum mengalihkan atensi nya pada Nadia yang biasanya selalu ia lihat tegar dan berwibawa, malam ini wanita itu terlihat sangat kacau. Air mata tak habis meleleh dari ujung matanya. Wajahnya juga terlihat kuyu dan tak ada cahaya yang muncul dari wajahnya.
Dini keadaanya juga tak jauh buruknya. Gadis itu bahkan memakai piama saat ini. Bukan seperti Dini yang biasa terlihat modis di segala tempat dan keadaan.
Begitupun dengan Gerry. Cowok raja playboy itu terlihat kehilangan sinarnya. Duduk meringkuk tak punya daya. Bahkan, dia seperti tidak terganggu oleh tatapan heran beberapa orang yang melihatnya.
__ADS_1
Bisma pun seperti kehilangan kekuatannya saat ini. Jika Nara juga sepeti keluarganya yang lain, masalah ini tentu saja tidak akan selesai dengan sendirinya.
Nara melihat Nadia dengan iba. Ia tahu betul betapa cintanya Nadia pada Nathan. Melihat sang suami dalam kondisi yang sangat memprihatinkan tentu saja melukai hatinya.
“Mama. Sebaiknya mama pulang dulu. Papa tidak akan suka jika mama seperti ini.” Bujuk Nara. Mamanya harus istirahat. Jika tidak kesehatan nya juga akan terganggu.
“Tidak sayang. Mama mau menunggu papa di sini.” Tolak Nadia. Lagi pula ia tidak akan bisa istirahat dengan baik mengingat keadaan suaminya.
“Tapi mama harus. Bagaimana jika nanti papa bangun dan melihat mama seperti ini. Papa pasti akan sedih. Mama pulang ya.”
“Iya ma. Malam ini biarkan Gerry dan kak Bisma yang menjaga papa.” Gerry yang sedari tadi hanya diam bangun dan memegang pundak Nadia. Pemuda itu terlihat sangat mirip dengan Nathan waktu muda.
Nadia melihat Gerry. Kemudian beralih menatap Dini, Nara dan Bisma secara bergantian. Nadia menghela napasnya. Keempat anaknya terlihat sangat mengkhawatirkannya. Ia menjadi merasa bersalah.
Setelah Nadia setuju, Nara mengajak Dini untuk pulang menemani mama mereka.
Sebelum beranjak dari tempatnya, Nara sekali lagi melihat ke arah Nathan yang masih belum sadar.
"Papa harus bertahan. Kami semua akan menjaga mama untuk papa." ucap Nara dalam hati.
*
*
*
...**Mulai dari sini akan banyak konflik yang muncul. Siapkan emosi 😤 kalean. Siap-siap juga dengan episode yang mungkin akan membuat kalian sedih sampai berderai air mata😭, geram😡 bahkan mengumpat🤬 sama tokohnya dan bisa jadi sama Akoh juga....
...Tapi jangan ya 🤐... Akoh yang berhati lembut🥺 ini akan menangis 😥kalo itu terjadi** 🤫...
Terima kasih sudah mampir😘
Maafkan Akoh si pengacara ( Pengangguran Banyak Acara) ini telat mulu🙏
__ADS_1
Beberapa urusan dunia real tidak bisa diabaikan begitu saja 😎
Iya kan???🤩