Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 108


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu...


Seorang pria berumur Kepala empat akhir namun masih terlihat segar, sedang meneliti butik Fifi dari parkiran dengan telepon di telinganya.


"Hallo Eldath, Om boleh minjam semua bodyguard kamu yang ada di rumah tidak ?"


"Tapi Om Lexi, Bang Gultom dan Mamang Asep tidak mungkin bisa, Mereka di kantor bersama Saya. memang nya buat apa om pinjam bodyguard saya ? "


" Yang di rumah saja juga cukup kok ! Om mau mengirim barang Keluar Kota tapi harus di kawal, Om tidak mau di jalan nanti dapat serangan dari musuh Om, boleh ya ?"


"Jangan semua nya, sisah kan satu Bodyguard buat penjagaan Yola."


" Oke ! Kamu segera titah kan anak buah kamu ke pabrik Om ya, Kontainer barang sudah siap meluncur sekarang."


" Baik Om, El akan menelpon mereka setelah ini."


Sambungan terputus, Om Lexi adik angkat dari Daddy Eldath saat ini tersenyum jahat, semuanya sudah ia atur dengan apik, Ia akan menyelesaikan niat buruk nya hari ini juga. Setelah puas memperhatikan butik di hadapannya, ia pun turun untuk menjebak sang target.


Fifi yang lagi asyik di butik melayani toko, tetiba dapat tamu laki laki yang memakai masker , Banyak toxedo tamunya ini yang di borong, sebagai pemilik toko, tentu sangat senang rancangan nya di sukai oleh orang ini.


" Tolong mbak, bantu saya untuk membawa paper bag ini ke mobil saya. Saya sudah memborong banyak di butik anda, jadi sedikit meminta pelayanan pemilik butik tak masalah dong." Pinta sang tamu pria, dengan memamerkan tangan nya yang memang sedikit kesusahan.


Sebagai kesopanan, Fifi pun menurut tanpa curiga, membawa kan dua paper bag dan berjalan menuju mobil hitam milik tamu tokonya.


" Maaf Nona, Tapi anda pun harus masuk, Kalau menolak maka senjata ini akan meledak tepat di kepala anda."

__ADS_1


Fifi yang dapat todongan pas di dahinya, langsung saja panik dan ingin menjerit, tapi belum juga suaranya keluar, Pukulan kuat menimpa nya dan seketika pingsan.


" Maaf, Kamu memang tidak ada sangkut pautnya, Tapi kamu adalah umpan saya untuk memancing Yola keluar dari zona nyaman nya."


...****...


Chiit...


Yola sudah sampai di area TPU, turun dari mobil nya dengan tergesa-gesa, ia takut Fifi kesal Kepadanya karena kelamaan menunggu di tempat sepi ini.


Mata Amber nya menggerlya ke kuburan yang tidak ada orang di sekelilingnya. Di hadapan kuburan Mommy nya pun tidak ada Fifi. Hanya ada mobil hitam di sudut tanah sana tepat di dekat pohon rindang.


" Apa Fifi sudah pergi ?"


Walaupun sendiri, Yola tetap berjongkok di depan kuburan Mommy nya, ia memejamkan mata dan menangadakan ke-dua tangan nya ke atas melafal kan doa untuk sang Mommy, ia pun melirik ke kuburan sebelah nya. ada nama Daddy nya di sana.


Serasa sudah selesai berdoa untuk ke dua orang tuanya, Yola berdiri dan berjalan ke arah mobil hitam itu. ia penasaran, sedari tadi kaki nya sangat gatal ingin mendekat. Entah kenapa ada keganjalan di hati nya. Tapi apa itu !


" Milik siapa sih ini ?" Yola celingak-celinguk, Tapi tidak ada orang satu pun untuk di tanyai nya, kembali penasaran...ia mulai lancang mengintip masuk ke kaca mobil yang berwarna hitam. Bego, rutuknya yang walaupun bola matanya sampai keluar pun, ia tidak akan bisa melihat masuk.


Suasana semakin mencekam, awan yang tadinya cerah ceria kini Tetiba berubah awan gelap mendung dengan angin ribut menerpa tubuh dan rambutnya yang tergerai indah.


" Fifi pasti sudah pulang, sebaiknya Gue pun begitu, mau hujan."


Awan yang barusan mendung, kini sudah mulai rintik rintik gerimis, Yola segera melangkah.

__ADS_1


" Kamu mencari sahabat plus kakak ipar mu, sayang ? Kenapa buru buru sekali, Bahkan kalian belum berziarah bersama di depan kuburan Mommy mu." Lexi turun dari kemudi dengan gerakkan malas namun terlihat menyeringai jahat.


Kembali Yola berbalik mendengar suara Om Lexi nya


" Om, kok di sini ? Trus sedari tadi Om ada di dalam tapi kenapa___" Yola berhenti bertanya, otak somplaknya kini berubah berpikir serius. ada kesalahan di sini.


" Ya, Om memang sedari tadi di sini, menunggu mu di temani Fifi." Lexi Tersenyum jahat, Membuka pintu mobil belakang dan memperlihatkan Fifi yang sedang di ikat tangan serta kakinya, mulut Fifi pun sekarang di sumpel kain, air mata kakak iparnya sudah membasahi Ke-dua pipinya.


" FIFI !!!"


" Berhenti di situ atau ku tembak kepala Fifi sekarang juga."


Yola tertahan, ia tidak mau kakak ipar nya kenapa kenapa. mengangkat kedua tangannya yang arti nya ia menyerah yang entah kenapa Om baiknya ini tetiba menjadi musuhnya, bukan nya om nya ini sudah menjaganya pun sedari kecil, sedari orang tuanya berpulang. Tapi ada apa ini ?


" Om, Om.. kenapa, ada apa sebenarnya ? salah Yola apa ?" Tangan Yola yang tadinya terangkat ke udara perlahan turun dan masuk ke dalam saku samping bajunya yang memang saat ini sedang memakai dress hamil longgar, ia menekan red panic button di hapenya, Kemal memang pernah mensetting handphone nya yang kalau tiba-tiba ada bahaya, ia bisa menekan peringatan darurat itu dan seketika pesan darurat akan tersambung ke layar suaminya plus area posisi nya pun akan terbaca di sana. Selesai menekan tombol, sikap kepanikan nya harus ia tekan dahulu dan menampakkan sikap santainya agar Om Lexi nya tidak merasa terancam, ia ingin mengulur waktu agar bantuan segera datang sebelum ada kejadian yang tidak di inginkan terjadi.


" Kenapa kamu bilang ? Oh..iya ya..Kamu kan tidak tahu duduk permasalahannya sampai saat ini. Baiklah Om akan ceritakan terlebih dahulu sebelum kamu pergi menyusul orang tua mu di alam lain sana." Lexi menarik paksa tubuh Fifi yang terikat ke luar dari mobil, Tubuh ipar nya itu seketika terjerembab ke tanah yang sudah basah karena hujan rintik-rintik kini berubah hujan deras.


" Fifi." Yola maju satu langkah yang ingin menyelamatkan iparnya, Namun lagi lagi ia di ancam, dan justru kali ini ia pun di ikat oleh Om nya yang tidak mungkin ngeberontak karena memikirkan keselamatan Fifi, Om nya ini punya sikap nekad juga, Dia tidak pernah bermain main dengan ancamannya.


Aww..Yola terpekik dapat dorongan setelah tangannya terikat hingga jatuh ke tanah, Tapi tunggu ? Kenapa ia merasakan jatuh ke tubuh orang. Astaga...Ia di selamatkan oleh Fifi yang berbaring langsung ke tanah agar Janin nya selamat tidak terbentur ke tanah melainkan ke perut Fifi. Sahabat nya ini sangat mementingkan keselamatan nya rupanya, sampai dalam posisi susah seperti itu tapi masih berupaya memikirkan keselamatan janinnya.


"Kita akan selamat Fi...! Semoga Tuhan masih berkenan untuk kita."


Fifi hanya mengangguk lemah menanggapi Yola dengan air mata tercampur bersama derasnya air hujan membasahi tubuh mereka.

__ADS_1


" Pergilah Yola, Kamu adalah sasarannya. Pergi..hiks hiks." Ingin sekali Fifi bersuara, tapi mulutnya di sumpal pakai kain.


__ADS_2