Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 149


__ADS_3

Nata Sampai di rumah sakit, masuk ke ruangan rawat mama nya, ada Ibell dan Kemal di sisi Yola yang terbaring dengan wajah cemberut akut ke Kemal.


" Bagaimana keadaan Mama ?"


Setelah mencium kening Ibell, Nata langsung bertanya.


" Begini lah, permen kamu sudah mama buang." Yola mencibik.


"Yah, kok di buang sih, kan Nata belum nyobain khasiat nya." Keluh Nata menatap sengit papa nya. Yola hanya diam lemas seraya menikmati pijitan dari Ibell.


" Hehehe, Nat. Khasiat nya topcer lho, lihat lah Mr X Papa masih On saja membuat Mama mu kalah total sampai sakit lemas." Lirih Kemal. Dan terkikik pelan seraya menunjuk pusaka nya yang di namakan Mr X yang masih sesak di balik celana.


"Ah, papa sih, kenapa di biar kan di buang sama Mama, Itu kan punya Nata." Di sayangkan, Nata tidak bisa mencobanya untuk membuat Eni puas.


" Ralat, itu punya papa !"


" Nata yang mesan, Pa !"


" Bayar nya duit papa, jadi punya papa lah." Kemal tak mau kalah berdebat.


" Kalau masih ada yang membicarakan tentang permen sialan itu, Bokong kalian akan biru biru kena tendangan Mama."


Ke-dua laki laki di hadapannya langsung terdiam menzipper mulut masing-masing, Ibell tersenyum geli, Mertua perempuan nya sangat galak ternyata.


" Ibell, kamu pulang lah sayang, Biar papa kalian yang menunggu Mama, Papa mu yang harus ribet mengurus Mama, pan dia yang membuat Mama letih bergoyang." Ujar Yola lembut ke Ibell, Namun mata tajam nya tertuju ke Kemal yang santai santai saja.


" Nat, bawa istri mu balik." Lanjutnya. Nata mengangguk dan ke-dua nya berpamitan secara bergantian.


Di dalam mobil, Ibell tidak sengaja mencium aroma parfum lain dari baju Nata. Ibell bahkan terang terangan mengendus baju Nata yang sedang berkemudi.


"Kalau Eni mau minta, sabar gitu. ini di jalan lho, tahan ya." Nata salah sangka.

__ADS_1


" Masih butuh Eni ? Bukan nya Abang habis berduaan sama wanita lain, cium lah aroma baju mu." Wajah Ibell cemberut cemburu, Belum apa apa Nata sudah kembali ke derajat bejat nya.


Nata yang baru paham, mengumpat dalam untuk Dian, ah... Tapi melihat wajah cemburu Ibell jadi senang diri nya, Cemburu tanda sayang bukan ?


" Cie Cie Cie, Cemburu nih ceritanya ?"Goda Nata menoel dagu Ibell seraya berkendara.


Ibell menepisnya, Nata malah menggodanya bukan menjelaskan nya.


Kenapa bau parfum itu mirip aroma kak Dian ?


Nata yang melihat wajah kecewa Ibell, segera membelokkan mobilnya ke arah cafe, mungkin bersantai ria menyenangkan bersama Ibell seraya menjelaskan tentang Dian.


" Kenapa malah mampir, Ibell mau pulang saja."


" Tapi Abang mau ngafe bersama kamu, Isabelle. sudah jangan cemberut, nanti Abang cerita kan masalah bau perempuan yang nempel di baju Abang."


Akhirnya Ibell menurut, turun dari mobil dengan datar, menepis tangan Nata yang merangkul pinggang nya posesif masuk ke Cafe.


Ibell masih menunggu suara Nata yang saat ini dalam memesan makanan dan minuman untuk nya, duduk menyender kan punggungnya di kursi dan menatap intens wajah Nata.


Ibell memasang telinga nya lebar lebar, mengepalkan tangannya di bawah meja saat Nata menceritakan tentang Dian yang mungkin sengaja tampil merayu kelakian suami nya.


Kak Dian, Kalau kakak punya niat buruk dan ketahuan sama Ibell, Awas saja, Anak penurut ini bisa saja menjadi monster bila mana di ganggu ketenangan nya. Wajah Ibell memang datar di hadapan Nata, tapi jujur...di dalam sana ia berkecamuk kesal akan tipu daya Dian. Ya...ia mengambil kesimpulan kalau Dian hanya bersiasat menabrak kan diri nya ke mobil Nata. Ibell tahu selak beluk sifat semua keluarga tirinya.


" Jangan pernah bermain api di belakang Ibell ya Bang, Ibell bukan seperti wanita lain yang bisa memberikan kesempatan ke dua kalinya ke pasangan Ibell, bagi Ibell... sekali berkhianat maka tetap akan berkhianat, tidak ada kata maaf, paham ?"


Glek.. Nata mengangguk paham dengan kepala rasanya berat untuk di gerakkan, Ibell kalau bermood dingin terlihat seram juga.


" Tidak akan sayang, kamu kan tahu..Beno sangat bucin sama Eni." Rayu Nata memencet hidung bangir Ibell yang masih terlihat dingin.


...***...

__ADS_1


Sementara di tempat Dian, Wanita itu merasa terganggu dari tidur nya karena merasakan perut nya yang bernyanyi minta di isi makanan, Ia belum sadar akan posisi nya yang begitu intim dengan seorang pria buncit.


Tunggu, Kenapa tubuh nya serasa ada yang memeluk nya, dan siapa orang yang di peluk perut buncit ini ? Nata kah ? ah...sejak kapan Nata mempunyai perut busung lapar, Alvin atau bos hidung belang nya ? Bukan juga rasa nya, mereka semua bak atlet yang mempunyai tubuh atletis. ah... siapa dong ? Se ? beberapa jam yang lalu ia terakhir bertemu dengan seorang kurir berbuncit. Mata Dian langsung terbelalak.


" TIDAKKK !" Jerit Dian maksimal hingga membuat laki laki butek buncit reflek duduk dari tidur nya.


Mata sang kurir berkulit kusam ini semakin melotot saat selimut Dian melorot di depan ke-dua mata nya, jakung nya kembali naik turun menahan nafas dengan pemandangan tubuh wanita yang membuat nya merasakan kenikmatan untuk Beno nya dalam pergulatan liar nya.


" Siapa kamu ? Kenapa kamu berada di ranjang saya ? Dasar laki laki sialan, kurang ajar, kamu memperkosa saya, Bajingan kamu hah."


Plak Plak..


Bugh..Bugh..Bugh..


Dian memukuli dada pria buncit ini dengan membabi buta setelah menampar dua kali laki laki yang masih menatapnya mupeng.


" Mbak, ah. sudah dong." Sang kurir menahan kepalan tangan Dian. Sakit juga di pukuli terus. " Saya itu kurir makanan, mbak sendiri yang menarik saya masuk, bahkan mbak sendiri yang membuka baju saya sampai resleting bahan saya jadi rusak, mbak juga yang menoel noel pusaka keramat saya jadi nya bangun dan beginilah kita, bercinta. hehehe Terimah kasih mbak, kurangan pizza nya tidak usah di bayar ya__"


" Aaargh, pergi kamu dari sini, saya tidak mau mendengar apapun lagi." Bugh...Dian menendang pria buncit ini sampai jatuh ke lantai. Sang kurir yang takut di amuk oleh wanita saiko yang membuat pusaka nya kenikmatan, segera menurut memungut pakaian nya satu persatu yang berserak kan di lantai dan memakai nya satu persatu, tapi ia kehilangan kain segi tiga nya.


" Mbak, lihat sempa* saya nggak ? saya kehilangan nih mbak, mana resleting celana bahan saya rusak lagi karena ketidak sabaran mbak yang membuka nya."


Braakk.


" Saya tidak perduli, pergiii !" Dian mengamuk melempar jam weker dari nakas. Untung si Abang kurir cepat mengelak, kalau tidak si Beno milik nya akan cedera yang lagi berpakaian.


" Saya permisi mbak." Pamit sang kurir dengan senyum jumawa dapat rejeki tak terduga.


Dian mengusap wajah nya kasar begitu lama termenung di kasur, ini lah namanya senjata makan tuan, dasar wanita gila. Dian menghardik dirinya sendiri. beranjak turun dari sisi kasur namun langkah nya tersandung celana dala* pria yang berwarna hitam pudar mana bolong lagi di jahitan.


" Iiih, nyebelin, menjijikkan." Dengan langkah panjang Dian mengambil sempa* butek itu dan melemparkan nya ke luar dari jendela.

__ADS_1


Pluk..


" Alhamdulillah, masih rejeki ya sempa*, kita berjumpa lagi."Abang kurir sempat kaget yang mendapat daratan kain tepat di atas kepalanya, Namun mengetahui itu sempa* nya ia pun tersenyum jumawa dan pergi dengan bersiul siul senang.


__ADS_2