
Langit masih gelap menanti fajar menyingsing, Suara sunyi di dalam mobil itu, sesunyi hati Nata yang di anggap setan penumpang tak kasat mata oleh Ibell yang serius sekali menyetir, sementara anak nya kini terpejam di dalam pangkuan nya yang menghadap ke dada nya.
" Kenapa masih menggunakan topeng, Ibell ?" Nata bersuara, berniat membunuh sunyi nya perjalanan.
"Lebih baik terlihat jelek di mata orang ketimbang mendapat tatapan pelecehan dari mata keranjang." Sahut Ibell datar tanpa melirik ke arah Nata sedikit pun.
Benar juga, Jadi istri ku tidak ada yang melirik nya. Nata puas dengan jawaban datar tapi masuk akal itu.
" Kamu tidak rindu keluarga kita, Ibell ?"
Lama Ibell tidak menjawab, melirik Nata sekilas lanjut Pedal gas di tingkat kan, Tentu saja ia merindukan Keluarga nya, Apalagi Pandji dan Yola yang utama, Mertuanya itu sangatlah di rindukan nya dalam diam. Yola membuat nya bukan menantu tapi anak sendiri, tapi naas.. jalan pahit menerpanya sampai ia berada di titik kecewa ini.
" Mama sering sakit sakitan, darah nya selalu tidak terkontrol !" Imbuh Nata. Ibell tertegun sedih, tapi tetap...air muka nya masih tenang tanpa ekspresi. " Papa juga sering melamun, Karena penyemangat hidup nya selalu sakit sakitan. Pulang lah Bell, Pasti mereka senang melihat mu, Apalagi melihat cucu nya. Vay juga berhak tahu keluarga besarnya." Bujuk Nata halus, sengaja membawa nama keluarga.
" Pulang ke mana ? Rumah ku di desa bersama Ambu dan Abah yang amat berjasa di hidup Ibell. Ibell bukan kacang yang lupa kulitnya."
" Ibell, kita ajak mereka juga, Aku sanggup menafkahi hidupi orang bay___"
" Sabtu atau Minggu datang lah bersama Papa Mama, Vay libur sekolah di hari itu, Tapi maaf... Kalian tidak ku ijin kan membawa Vay, dia anak ku, kalian tidak boleh ada yang membawa nya pergi jauh dari ku apalagi merebut Vay." Ibell mulai bergetar, Takut Nata membawa Vay pergi jauh darinya. Ia damai di desa saat ini ia belum niat tinggal di kota dulu.
" Tidak ada yang akan mengambil nya, Tenang lah." Nata menyadari air muka Ibell berubah tegang, Ia tidak mau emosi Istri nya tak terkendali, istimewa istri nya dalam kemudi, jangan sampai celaka.
Hari ini, Nata cukup mempelajari pekerjaan Ibell dalam diam, besok besok ia rela menggantikan istrinya, Biarkan ia merangkak menjadi tukang sayur dadakan demi Ibell apa pun akan di lakoni nya.
" Beri Abang kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita ya ?" Tangan Nata sengaja menyentuh tangan Ibell di setir itu. Istri nya tidak menjawab ya atau pun menolak, diam saja..Nata tersenyum kecil, ia akan menganggap kebungkaman Ibell adalah kesempatan ke dua baginya. Cepat atau lambat hidup nya akan mulai normal dengan kehadiran Ibell di sisi nya.
" Vay akan bantu Ayah Bunda !"
Tanpa Ibell dan Nata duga, Vay sebenarnya hanya tertidur bohong, Usianya yang mau tujuh tahun sedikit mengerti kalau orang tuanya berbeda-tidak seperti orang tua teman teman nya yang akur, kata Ambu dan Abah nya semalam saat tidur bersama...Ia harus membuat Ayah Bunda nya tidur bersama. Lah.. Tidur bersama...? tinggal tidur aja kan di kasur bersama, apa susah nya. Polos nya tidak paham.
...*****...
" Neng Bule !"
Aaargh..
Vay terloncat kaget dapat kejahilan dari Petir dengan kecoa mainan di taruh di telapak tangannya secara paksa. Baru menginjak koridor sekolah sudah di jahili saja sama gerombolan kakak kelasnya. ah..hanya Petir seorang Lautan plus Triplets-Twins, Tidak.
__ADS_1
" Dasar jelek." Kesal Vay mencibik ke Petir yang terbahak bahak melihat nya cemberut. ia tidak mood dengan kejahilan Petir saat ini, ia hanya sibuk dengan pikirannya terhadap kedua orang tuanya yang Bunda nya itu terlihat tidak suka kehadiran Ayah nya.
" Ish, Jahat amat sih, kak !" Si bijak Lautan dan Pelangi kompak mengomeli Petir, Sementara Vay langsung masuk ke kelas nya tidak menghiraukan mereka.
" Eh, Vay...Si__"
" Jangan ganggu adik kelas !"
Badai menghadang Petir agar jangan usil lagi ke Vay. Vay melihat itu.. tersenyum manis ke punggung Badai.
" Nanti Vay nangis kejer dan ngaduh ke orang tuanya, Habis Lo" Ujar Badai, merangkul Sepupu nya untuk pergi, Pelangi dan lainnya mengikuti langkah saudara nya menuju kelas.
" Biarin, Nanti gue hadapin, dan berucap Seperti ini..Om Tante..Vay di beri makan apa sih ? Kok lucu jelita begitu wajah nya, Gemas gitu."
Anak sulung Langit Senja itu tergelak geli sendiri mendengar ucapan garing nya, Ia selalu mendengar gombalan demi gombalan Papanya ke Mama nya, ya...niru sedikit deh.
" Eh, Kata Bunda Ayah, Anak Om Nata sama Tante Ibell sekolah di sini juga lho, Tapi Pe nanya namanya siapa, eh mereka tidak tahu." cerita Pelangi mengubah topik.
Lantas gerombolan anak ini berhenti dan mengelilingi Pelangi yang bercerita, Bukan rahasia umum kalau Om Nata mereka lagi kehilangan istri dan anak. Wajah wajah penasaran mereka pada siap menyerbu pertanyaan ke gadis kecil yang duduk di bangku kelas enam dasar ini.
"'Masa ?" Topan yang jarang berbicara pun jadi mengeluarkan suara emasnya.
" Cewek cowok ?" Angkasa-Kembaran Bhumi tak kalah penasaran nya.
" Ayo kak, Kita cari orang nya ?" Antusias Lautan.
Petir dan Badai tersenyum kikuk melihat wajah imut Pelangi siap menyemprot saudara saudara nya. Ke-dua Sepupu ini mundur mundur menciut siap kabur. Bagaimana Pe nggak kesal.. Tadi kan ia sudah mengeluarkan ucapan nya yang namanya saja tidak tahu ? Lah..Nama saja tidak tahu, bagaimana Pe mau tahu kelas berapa ? Dasar ya..ogeb semua.
" Auh ah, gelap wajah Lo pada suram bagai comberan." Sekali semprot pedas Pe, saudara laki lakinya pada diam seribu bahasa. Badai dan Petir terbahak dari kejauhan, mereka berdua ber high five kompak. Menertawakan Lautan yang dapat toyoran kesal dari Pelangi.
" Kalian menertawakan apa saudara saudara ku yang tampan tapi tidak pakai banget."
Petir dan Badai Kompak menoleh ke asal suara cempreng seperti suara Arafah Pelawak jenaka di tv itu, Purnama- Anak bungsu Jum-Gema yang mulut nya cerewet gila seperti Mamanya Jum.
" Tadi Ama lihat dari kejauhan, Kak Petir nakalin Vay ya, Sahabat Ama kan jadi murung terus di kelas, kan Ama jadi nggak punya teman untuk ngobrol, Ama juga di cuekin jadi nya, Ama kan malas sekolah kalau teman pada jauhin Ama, biar Ama nggak kesepian lagi, Kak Petir traktir Ama deh di kantin, dua coklat...satu buat Vay satu nya lagi buat Ama. eh tiga deh..Satu lagi buat Ama juga." Panjang lebar kecerewetan Ama hanya di dengusin oleh Petir dan Badai, mereka kalau berurusan Sama Purnama tuh jadi peng kuping nya berdengung sakit.
" Ini uang nya, beli sama kak Badai saja." Petir berlalu menuju ke kelas Vay_adik kelas nya yang istimewa, istimewa di jahili nya, maksudnya.
__ADS_1
" Eh_Petir, Sialan Lo." Badai menghardik Petir yang saat ini di geret geret oleh Purnama menuju kantin. Ah... mending di omelin oleh Pelangi yang bersuara merdu ketimbang mendengar kecerewetan Ama yang cempreng suaranya.
Petir sudah sampai di kursi Vay yang anak bule ini lagi melamun.
" Woy, kesambet setan jelek lho Nanti, Nanti
kak Petir jadi malas menjahili mu."
Vay memutar matanya malas mendengar dan melihat pemilik suara itu.
" Vay nggak melamun, lagi berpikir saja. Bantu Vay berpikir." Karena kepepet saja, Vay meminta pertolongan ide dari Petir.
" Apa tuh ?" Petir tersenyum dalam hati, Vay mimpi kah, tidak biasa nya si jelita meminta pertolongan kepada orang jahil ini.
" Om Bule kemarin tuh ayah Vay tahu, ingat kan ?"
Menggeleng, Petir tidak konek siapa Om bule yang di maksud Vay.
" Ish, Itu lho, Om yang jadi Wali kak Petir, Om Bule itu ?"
" Om Nata ?"
Vay mengangguk.
" Hah ? Jadi kamu itu anak Om Nata yang hilang itu ?." Nada Petir terkejut, jadi topik si five kembar plus Lautan-adik nya itu tak lain adalah Vay. Pantas saja wajah nya bule begini sama kayak Om nya.
Hilang ? Siapa yang hilang, Vay ada terus kok di rumah Abah. Batin nya tidak menghiraukan ucapan ngelantur Petir.
" Iya, Ayah Vay. Maka nya jangan jahil lagi ke Vay, Nanti tak aduk kan ke Ayah Vay."
" Nggak takut, bleeek !" Goda Petir dengan lidah nya di julur kan.
" Tapi mau minta tolong apa tadi ?"
Vay pun menceritakan tentang sikap cuek Bunda nya ke Ayahnya. Petir Seperti orang bijak manggut-manggut mendengar kan celoteh Vay
" Kata Ambu Vay, mereka sering berantem seperti kita ini, seperti anak kecil ya.. hahaha."
__ADS_1
Petir ikut tertawa melihat tawa riang Vay yang tadinya muram, Sejurus ia membisikkan ide nya ke Vay.
" Ok deh, Nanti Vay tunggu kak Petir di taman ya." Setuju Vay akan rencana Petir. Entah tidak atau berhasil membuat orang tuanya kompak, ia akan melihat hasilnya nanti akan ide konyol Petir.