
Ceklek....
" AYAH !" Vay terpekik pilu bergetar saat membuka pintu di mana Ayah nya sudah terluka entah sebelah mana, inti nya Vay melihat noda darah di kemeja putih bergaris hitam kecil Ayahnya.
" Jangan masuk Vay." Teriak Nata memperingati. Bahaya ! dan kembali Nata terkena sistem tembak lagi karena konsentrasi nya di pecah kan oleh Vay yang ingin masuk menolong nya. Kini kedua lengan Nata terluka, ia masih bersyukur bisa mengelak walaupun terserempet lagi, sehingga peluru kecil itu tidak bersarang ke tubuh nya.
Petir yang ada di belakang Vay, sontak menarik tangan Vay agar tidak masuk. Tubuh kecil Vay kembali tertarik ke belakang dengan para sahabat nya menahan kuat Vay yang keras kepala ingin masuk menolong ayahnya.
" Tenang Vay, Ayah mu akan baik baik saja, tunggu tiga menitan lagi, bom di ruangan kontrol akan meledak hingga sistem nya menjadi rusak otomatis." Dibi menjelaskan kembali kerjaan cerdik Ama.
Vay akhirnya menunggu waktu, tiga menit serasa waktu tiga Minggu kalau di suruh menunggu itu sangat menyakitkan. Apalagi Vay harus dengan tega melihat Ayah nya terkena tembakan, Bunda nya sendiri belum sadar diri akan bius Alvin.
Para bocah ini hanya bisa menonton tegang apa yang sedang Nata derita saat ini di ambang pintu itu. Jeritan Nata membuat Vay terpekik pilu, menangis reflek memeluk Pelangi, bersembunyi di pelukan Pelangi, Vay tidak kuat melihat Ayah nya di permainkan.
" Sabar Vay ! Tinggal menghitung detik dari sekarang." Ama menghitung dengan jam Guruh ia lirik.
Sejurus... Booom ! Suara ledakan yang di prediksi Ama akan meledak dalam frekuensi kecil itu terdengar juga.
" Bagaimana ? Apa sudah aman ?" Pelangi memastikan sebelum melepaskan Vay yang sudah tidak sabar ingin masuk, Pelangi tidak mau melepaskan tubuh mungil itu sebelum betul betul aman.
" Aman kayak nya." Topan mendahului mencoba masuk duluan, ia sendiri tidak tega melihat sepupu Ayah nya terluka seperti itu. Dan semua nya pun berlari masuk tanpa tak terkecuali.
" Kalian keluar lah !" Di tengah tengah sisa kekuatan Nata masih bisa membentak di atas lantai itu, tubuh Nata saat ini terduduk lemas, ia tidak habis pikir, bocah bocah nakal ini main berani masuk. Nata tidak mau membuat anak anak kerabat nya nanti terluka. Entah bagaimana nanti para orang tua mereka, pasti akan bersedih.
" Aman terkendali om, kecuali satu ini !" Ama mendekati Ibell, lebih tepatnya bom yang waktu sisanya tujuh menit lagi akan meledak.
" Ah sial !" Nata baru mengingat bom itu. Dengan itu ia cepat cepat mendorong Ama yang ingin bekerja mempelajari peledak tersebut untuk di jinakkan.
" Aduh !" Ama terjatuh ke lantai, bokongnya berdenyut ngilu.
" Maaf, tapi ini bukan mainan, Kalian keluar lah cepat biar Om yang urus ini." kepanikan Nata Membuat nya lupa kalau Vay sudah tidak di belenggu bahaya dari bom yang tadi. ia tidak curiga siapa yang melepaskan anak nya dari bom.
" Ayah, biarkan Ama yang bekerja di sini, Ayah harus memastikan orang jahat itu tidak lolos, Vay saja di tolong Ama." Vay yakin, Alvin belum mati hanya dengan ledakan kecil, bisa saja om jahat itu kabur sebelum bom berfrekuensi rendah itu meledak.
Nata baru sadar, anaknya sudah tidak terikat bersama bom saat mendengar suara Vay. Betul kata anak nya, Alvin kali ini tidak boleh lolos.
__ADS_1
" Om percayakan Tante Ibell bersama mu, Gendut."
Sudah minta tolong, eh... ngatain pula, kan sakit nya tuh di perut. Ama berkomat Kamit sendiri, menggerutu.
Nata akhirnya pasrah, walaupun setengah hati meninggalkan bocah bocah itu. ia terpincang pincang menuju keluar.
" Om, Tangkap !" Guruh melempar Senjata milik anak buah Alvin yang sempet tadi ia hajar, mana tahu om Nata nya membutuhkan pembelaan diri.
Nata reflek menangkap nya. " Thanks boy" ujarnya sambil berjalan cepat, sakit di bagian luka serempetan tembakan tidak mempengaruhi semangat Nata untuk menghajar Alvin, kali ini tidak ada ampun buat Alvin, tekad Nata bulat ingin bermain-main nyawa saat ini. Di antara mereka harus ada yang mati, entah ia atau Alvin. Biarkan waktu yang menjawab nya sebentar lagi. Alvin selalu menabuh genderang perang terlebih dahulu, maka tidak ada lagi kata maaf dari nya saat ini dan di kehidupan berikutnya pun kalau ia lah gugur hari ini.
" ALVIN ! KELUAR PENGECUT !" Nata mencari cari dengan gelegar bariton nya. Tidak ada yang menyahut. Di ruang kontrol itu hanya bekas ledakan merusak semua sistem monitor. Tidak ada Alvin !
Nata mengakui dalam hati kalau di balik kenakalan para bocah bocah itu mempunyai skill hebat tersendiri dalam versi nya masing-masing. Lihat lah... Semuanya hancur ulah kecerdikan mereka, orang dewasa di luaran sana yang sedang di tawan saja kalah telak pergerakan dari si Kurcil, ia juga kalah dalam hal ini. Nata mengakui kepayahan nya pun. Apalagi Nata sempat melihat dua anak buah Alvin yang terkapar bersimbah darah dari salah satu dua orang tersebut, darah itu keluar dari perut nya, siapa lagi pelaku nya kalau bukan anak anak nakal itu. Tebak nya yakin.
Nata masih mencari-cari di setiap sudut gudang, ia yakin Alvin pasti bersembunyi.
Di sisi para bocah, Vay mondar mandir tidak karuan menunggu Ama berpikir ingin menjinakkan Bom. Kurcil lain nya pun di buat deg deg-an. Ibell sendiri sudah sadar dari pingsannya.
" Warna favorit Tante apa ?" Wajah serta suara Ama memang dalam keadaan santai, tapi di dalam sana beeeh deg deg-an coek, Bom satu ini terlihat sulit jenis nya untuk di jinakkan, kabel nya susah di pelajari oleh nya, buatan klan satuan hebat.
" Mana tahu salah satu warna kabel ini adalah warna favorit Tante." Ama menggigit jempol nya, memotong ucapan Ibell, Guruh yang melihat itu tahu kalau Adik nya dalam kebingungan. ciri khas adik nya memang seperti itu kalau lagi bingung atau pun dalam berpikir keras.
" Jangan bilang kali ini kamu ke susahan Ama ? Abang tahu tuh jempol kamu yang sedang kamu hisap." Guruh bersuara menyelidik, bukan apa apa, parah sahabat yang lain terlihat santai sangat mempercayai Ama saat ini. Bahkan si Twins berikut Badai Lautan sangat santai ongkang ongkang kaki di lantai itu, kurang cemilan saja maka sudah seperti nonton bioskop yang adegannya menegangkan.
Dibi dan Topan yang bersedekap dada di sisi Guruh kompak berubah posisi tangan nya menjadi decakan pinggang, prustasi. Alamak jadi terpanggang bersama nanti, mana waktu tinggal lima menit lagi.
" Heheheh, Ho'oh...Ama bingung !" Ujar Ama tercengir tidak enak hati, Lantas bocah yang ongkang ongkang kaki santai kompak berdiri bersama dengan kepanikan nya.
" Lihatlah...Bom nya berlebel bule cuy, buatan luar negeri, kan Ama belum sempat bersekolah di sana. Kan di basis sekolah kita tidak membeli Bill Of Material yang ilegal." Ama beralasan membawa nama basis sekolah internasional nya.
" Ama__ Ah !" Vay ingin sekali meraung raung, ia tidak mau kehilangan Bunda nya yang sudah memucat karena panik akan bom ganas itu.
" Kalian keluar lah, biarkan Bunda di sini, Kalian masih kecil, masa depan kalian masih panjang, tidak apa apa bunda sendiri yang berkorban." Suara Ibell gemetaran. Membuat Vay meloloskan air matanya, Petir yang setia di sisi Vay menghapus air mata cemas itu.
Jempol kanan Ama masih saja di hisap nya dengan mata serta tangan kiri nya menerawang kabel yang mana kira kira akan menjadi target nya.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita pilih insting saja." Ama membuat ide konyol, tapi di dalam hatinya masih mencoba mempelajari kabel enam rupa di hadapan nya, biasanya tuh cuma ada tiga. Ah..Ama jadi Gegana bin gelisah galau merana.
" Jangan sembarangan Ama, Nanti satuan GEGANA tidak akan melirik kemampuan mu, masa begini saja tidak bisa sih. Nanti satu tokoh coklat akan ku kasih deh kalau kamu berhasil."
Semangat Ama tumbuh menjiwa, Pelangi ini mencuil hal sensitif nya yang suatu saat nanti bila dewasa ia ingin bersatu di team GEGANA eh..Gegana yang di maksud Pelangi ini bukan singkatan gaul... GElisah GAlau meraNA ya ! Melainkan Gegana satuan team khusus dari satuan Brimob yang mempunyai keahlian khusus seperti salah satunya Intel ataupun penjinak Bom. Ama mau tuh jadi ciwi ciwi yang strong keren pakai banget. Kalau di luar negeri sih boleh lah dinamai wonder woman !
" Ok ya, Coklat satu toko, awas saja Kalau melanggar janji."
Pelangi tersenyum meyakinkan, sedikit lucu di dalam ketegangan mereka, harga diri Ama bisa di imingin coklat doang. Geli Pelangi dalam hati.
" Dua toko coklat." Vay menimpali.
" Tiga toko !" Dibi pun memberi semangat.
Empat... lima, enam dan hitungan terakhir sampai sepuluh toko coklat dari suara semuanya termasuk Ibell pun menjanjikan, membuat Ama seakan-akan melayang bersama coklat di sekeliling nya. Indahnya dunia cokelat. Ama sampai meneteskan liur nya membayangkan itu, sejurus tangan nya main cabut dua kabel bom. membuat Ibell dan parah Kurcil ini terpekik kesiap.
" BERISIK deh ah !" Ama terkejut dengan tangan itu menutup telinga nya.
" Itu sudah Off tu !" Ama Tersenyum jumawa.
" Yakin ?" Ibell menunduk dalam dalam untuk melihat bom di pangkuan nya. Betul kata Ama.
" Sama seperti tadi, ini akan aktif kembali, jadi Tante cantik, bangun lah sebelum itu meledak."
Ama kali ini tidak bercanda. Ibell pun segera bangun.
" Nah kelinci, kamu kan jago lari maraton tuh... Kerjaan kamu untuk melempar nya keluar, lima menit waktu mu karena bom itu akan langsung meledak tidak menunggu lagi seperti bom yang kita masukkan ke ruangan kontrol tadi." Ama menatap Bhumi yang di gadang gadang pelari cepat di sekolah nya.
" Ok, siap laksanakan Ama chubby !" Bhumi melaksanakan tugasnya, ia punya ide bagus untuk membubarkan penjahat yang masih menahan para orang tuanya di luaran sana. Kaki itu sangat gesit untuk berlari, sebenarnya sih tangan nya gemetaran. Ini bom lho, bukan piala Oscar.
" Ahai... Sepuluh toko coklat, hahaha !" Ama tertawa girang. sebenarnya awal mempelajari kabel bahaya itu memang benar adanya ia kebingungan, tapi selama terus meneliti nya ia bisa memecahkan masalah nya, Dengan sengaja ia menggoda para sahabat nya, Ama kesal kepada beberapa sahabat nya yang ongkang ongkang kaki menonton nya. jadi menggoda sedikit tak apa lah... Plus nya dapat coklat banyak, asyiknya !
" Ama, tadi sengaja membuat kami tegang ya ?"
Hayoloh... Pelangi membaca seringai tipis Ama dengan selidik tajam galak nya.
__ADS_1
" Ah, eum.. nggak Kok, Ayo kita cari Om Nata, kasihan lho !" Ama berkelit, Jangan Sampai coklat yang mereka janjikan raup di depan mata. Ibell yang mendengar nama suami nya lebih dulu berjalan, para Kurcil ini pun mengekori Ibell.