
Di dalam ruang kontrol, Alvin mengerutkan kening melihat cctv nya mendapati dua bocah perempuan yang ingin mendekati Vay, yang masih terikat tak berkutik oleh bom.
" Botak, ada penyusup dua bocah, kenapa bisa kecolongan ?"
" Segera merapat bos!"
" Ah... Bukan dua tapi banyak bocah, segera singkirkan !"
Alvin mentitah kesal melihat bocah bocah di luar ruangan yang tadinya cuma terlihat dua tapi seketika muncul semua, Tetapi ia membiarkan anak buahnya yang membereskan semut kecil itu, toh anak anak ini bisa sampai di mana kekuatan nya melawan para anak buahnya yang terlihat gagah nan sangar itu.
Mata itu pun tertuju serius ke arah monitor di mana Nata sedang masuk ke ruangan Ibell yang di sekap nya pun bersama jebakan untuk Nata. Kali ini Nata tidak akan selamat. Yakin Alvin begitu pasti.
" Ibell !" Panggil Nata di ambang pintu itu, ia belum masuk ke inti ruangan, Takut takut ada jebakan yang lebih bahaya dari sebelumnya saat menyelamatkan Vay, tadi.
Ibell tak merespon, istri nya hanya tertunduk dalam ikatan itu.
" Sialan Lo Alvin, Lo apain istri gue ?" Nata berteriak, marah besar melihat wajah istrinya tidak sadarkan diri. Alvin tentu dengar dari ruang kontrol.
Bukan nya takut, Alvin malah tertawa puas melihat kemarahan Nata, ia begitu menikmati permainan ini. Gue yang memonopoliin permainan ini, Nata ! Batin Alvin, tangan itu pun siap mensetting sistem nya agar kali ini Nata benar benar terluka parah di buat nya, bahkan Alvin sangat ingin melihat Nata mati di hadapannya dengan kepala itu tertunduk di bawah kaki nya.
Nata masih ragu untuk melangkah, salah sedikit dalam melangkah nyawanya bisa saja melayang, ia tahu di sini banyak jebakan nya.
Ibell, do'akan Abang !
Tap...Satu langkah kaki itu berjalan, tidak ada kejadian apa pun.
Alvin membiarkan itu.
Tap Tap..Dua langkah siaga Nata telah menginjak ruangan, masih dalam mode off.
Alvin seketika menyeringai.
Apakah tidak ada jebakan di sini ? Batin Nata aneh.
Tap... cepat langkah itu dan Door !!!
Gantung dulu ah !
Di luar ruangan.
Vay yang menyadari keberadaan para sahabat nya terpekik senang, mata itu berbinar lega melihat ada Ama pun yang turut serta. Vay membutuhkan keahlian Ama saat ini.
__ADS_1
" Jangan bergerak bocah bocah bodoh ! atau kepala kalian akan bolong."
Hais ! Mereka terciduk dua anak buah Alvin. Para Kurcil ini mengangkat ke dua tangannya tanda menyerah. Tapi bohong ! Topan dengan kegesitan nya menendang kardus ke arah tangan sang penjahat yang menodongkan pistol nya ke arah Pelangi dan Ama yang hampir sampai di posisi Vay terikat. Senjata itu terjatuh.
Saat penjahat yang lain ingin menembak, Badai dan Dibi kompak memutar tendangan nya untuk menendang senjata itu cepat. Dibi menendang senjata, sementara Badai mendapat sasaran empuk nya, tepat di wajah si penjahat hingga wajah itu memaling keras ke arah kiri.
" Bocah-bocah sialan !"
Perkelahian pun terjadi tanpa adanya senjata di antara mereka, Badai dan Dibi berduel, Begitu pun Topan dan Guruh berduel kompak untuk melawan dua penjahat di hadapan nya.
Si Twins, Lautan begitu pun Petir tidak ikut membantu, ke empat bocah ini kompak menyusul Vay yang di sana sudah ada Ama dan Pelangi yang berusaha melepas kan Vay dari aktif nya satu bom ganas.
" Neng bule, Nyawa mu ada berapa ? kok senang amat ya main bom beginian."
Ama malah bercanda, padahal ini adalah situasi menegangkan untuk semua nya. Tangan dan mata itu sedang mempelajari kabel kabel menakutkan di hadapannya.
" Jangan bercanda Ama, Aku mau pipis nih ah, saking takut nya." Lautan mendengus kesal.
" Buruan Ama, jinakin bom nya !" Petir tak sabaran.
" Jangan bilang kagak bisa, otak coklat Lo tidak akan ada gunanya kalau tebakan gue benar ?" Bhumi menggigit jari nya, panik. ia tidak mau mati muda.
" Ah__"
Hanya Pelangi lah yang diam santai, Pelangi mempercayai Ama pasti bisa menjinakkan bom tersebut.
Bugh..
" Sialan !" Pelangi yang berjongkok ingin melepaskan tali Vay, mengeram kesal, bokongnya di tubruk satu penjahat yang terkena tendangan memutar udara oleh Topan, di susul jab keras dari Guruh hingga tersungkur ke arahnya. Jidat Pelangi seketika berdenyut terbentur ujung kursi kayu yang di duduki Vay.
" Nih tambahan dari ku." Kaki Pelangi menendang bokong penjahat itu hingga tersungkur ke hadapan Topan yang sudah semakin marah karena kulit adik tersayang nya di sentuh oleh penjahat botak ini.
" Rasakan ini !" Topan melempar pisau lipat nya yang ia bawa ke mana pun sebagai persiapan menghadapi masalah yang tak terduga. Pisau itu tertancap sempurna di perut sang musuh hingga orang itu terjatuh ke lantai dengan mata terpejam.
" Maka nya jangan coba coba menyentuh kulit adik ku barang sedikit pun, baik di sengaja atau tidak tetap aku tidak suka." Topan mendumel dalam hati, dengan sadis Topan menarik pisau kesayangan nya yang tertancap di perut orang itu, Wajah nya kembali datar macam tidak ada apa apa.
Para rekan yang melihat kesadisan Topan jadi ngeri tersendiri.
" Topan, kamu membunuh orang !" Dibi yang sudah melumpuhkan lawan bersama Badai juga melihat itu. Dibi bergidik ngeri.
" Dia menyentuh kulit adik ku, apa salah ? Kak Dibi pun akan saya tusuk kalau macam macam ke Pelangi."
__ADS_1
Glekk.. anak Bintang yang sudah remaja ini menelan ludahnya ngeri akan ucapan dingin Topan yang terlihat sungguh sungguh mengancam.
" Dasar, pyshico !" Batin Dibi seraya mengikuti langkah Topan ke arah gerombolan di mana Ama ingin menjinakkan Bom.
" Ama, Jangan becanda Mulu ah, cepat bertindak." Vay jadi kesal, si Ama kelamaan berpikir, ia yakin Ama itu sudah tahu kunci kabel nya.
" Baiklah, Tapi Vay janji ya akan ngasih Ama coklat yang banyak dan tidak boleh pelit ke Ama !"
Semua nya kompak mengomeli Ama termasuk Guruh pun, bisa bisanya Ama masih mempedulikan nama coklat.
" ihh, apa sih kalian, Ama kan cuma mengingatkan ke Vay kesalahan kemarin Vay yang pelit ke Ama perihal kue buatan Bi Tina." ingatan Ama soal makanan adalah juara nya.
" iya Ama cantik, Vay janji akan beri Ama coklat yang banyak." Vay menekan kata kata nya agar jelas di mengerti Ama yang tersenyum gaje sendiri, Wajah Ama tidak ada seriusnya sama sekali seperti Kelakuan Maminya-Jum, Ama sangat berbeda dengan sifat dingin Gema.
" Siap meledak bersama ya !"
Mata orang orang kompak melotot dengan ucapan ambigu Ama. Dan...
" Booom !" Ama terpekik canda seraya memutuskan satu kabel menggunakan pisau Topan yang main di sambar nya.
Jantung para Kurcil ini berdegup ketakutan selain Ama yang penuh keyakinan dengan keahliannya.
"Ada yang gosong tidak." Ama meledek. Ia sudah berhasil. Semuanya bernafas lega.
" Amaaaa, Terbaik deh !" Riang Vay langsung berdiri dari kursi yang tadi membelenggu nya.
" Ayo, kita cari Tante Ibell, di sini masih belum aman." Dibi mengintruksikan kembali.
" Bom masih aktif loh, lima menit lagi lampu bom akan menyala, karena Ama sengaja tidak menjinakan nya."
" AMA !" Kompak Ama di bentak jama'ah. Ama memutar matanya malas, maksud nya kan baik, bom itu ingin di buat umpan balik ke empu bom.
" Tenang aja, frekuensi ledakan nya tidak sampai menghancurkan kita maupun gedung kok. tapi bisa menghancurkan ruangan kontrol itu." Ama membela diri, ia sudah mengatur frekuensi nya. Andai ada pak militer, Ama di ajak gabung nggak ya oleh satuan mereka ? Ama malah melanglang buana akan mimpi indah nya yang sebenarnya anak Jum ini menyukai tantangan di balik sikap manjanya.
Vay dan semua nya mengerti maksud Ama yang terlihat santai tapi sebenarnya anak bungsu Om Gema ini pintar pintar ngeri, Vay memberi jempol nya ke Ama yang tahu kalau di sini ada sistem kontrol yang bekerja siap menjebak mereka, pan kalau pusat kontrol nya hancur, maka setiap jebakan di sini tidak lagi berfungsi. pikir mereka.
Dengan itu... Petir mengambil bom tersebut dan mengendap ke arah ruangan khusus yang ada tulisan nya R. kontrol di pintu itu, Mereka Yakin si otak kekacauan ini ada di dalam sana.
Alvin tidak memperhatikan cctv yang ada di sisi Kurcil smart itu hingga tidak menyadari kekalahan anak buah nya.
Bom sudah menyelinap masuk di dekat pintu doang karena Petir tidak mau mengundang suara hingga memecahkan keseriusan Alvin yang setia mempermainkan Nata dengan sistem nya sehingga Nata sudah terluka dengan jebakan nya, Sistem Alvin kali ini memperdaya Nata yang aktif secara acak karena pengaturan manual Alvin di balik layar.
__ADS_1
Kaki dan lengan Nata terserempet peluru kendali lumayan menguras darah nya hingga tubuh itu terasa lelah, mengelak dan mengelak tanpa ada perlawanan membuat Nata capek kehilangan tenaga.