
" V__"
" Vay, ini Ayah sayang. Buka pintu nya ya, Ayah ingin tahu keluhan Vay sampai nangis begini " Nata memotong ucapan Ibell yang terlihat tidak sadar ingin membentak lagi. Anak kecil bila di kerasin maka semakin panas saja, bukan ?
Belum ada respon dari Vay, Abah berikut Kemal serta para istri mereka, baru sampai.
" Ini salah Ambu, Maaf !" Ambu menunduk minta maaf, dan Abah pun menceritakan permasalahannya. Nata dan Ibell mendengar kan seksama. sejurus kemudian, Ibell kembali membujuk Vay untuk keluar, ingin menjelaskan semuanya, tapi dengan lembut.
" Vay, dengar sayang, Kamu keluar ya, Apa kamu tidak kasihan sama Ambu, Ambu nangis lho karena kamu bersikap begini."
Di dalam kamar, Vay yang mendengar pernyataan Bunda nya akan Ambu nya menangis, jadi menyesal. Membuka pintunya dengan wajah sembab, hidung itu memerah karena tangisan nya tadi.
" Maaf Ambu, Vay sudah bikin Ambu sedih." Ujar nya lirih seraya bergegas berhamburan memeluk Ambu nya. " Tapi Ambu Abah tetap nenek Kakek Vay 'kan, Bukan mereka." Liriknya ke Yola dan Kemal yang nampak sedih tidak mau di akui oleh cucu sendiri.
" Vay, dengar Ayah. Ke-dua orang yang menurut Vay orang asing itu adalah orang tua, Ayah sayang. Jadi mereka bukan orang asing, mereka sama saja nenek kakek kalian seperti Abah dan Ambu, Abah Ambu tetap akan menjadi orang tersayang di hidup Vay, Begitu pun Oma Opa, kita keluarga besar, Paham Nak."
Kepala kecil itu menoleh pelan ke arah Yola dan Kemal dengan banyak pertanyaan di otaknya, sejurus kembali menatap Ayah nya ingin bertanya serius.
" Kalau kita keluarga, Kenapa saat ini baru datang ? Dulu mereka kemana saja ?" Tanya nya polos penuh keingin tahuan, Kalau Ayah nya kan dulu kerja jauh, itu kata Bunda nya., maka nya nggak pulang pulang, Tapi kalau orang yang mengaku Oma Opa nya itu, kemana saja ? Apa juga kerja ?
" Vay, sudah ya.. tidak ada yang perlu di jelaskan, teman teman kalian pasti lapar, cuci tangan dan ajak mereka masuk untuk makan bersama." Ibell mengalihkan topik saat semuanya diam tidak ada yang menjawab pertanyaan sepele anak nya tapi luar biasa dampak nya kalau anak kecil ini tahu awal permasalahan terjadi.
" Vay hanya bertanya, apa salah ?" Tuntut Vay.
" Tidak ada yang salah, Bunda yang salah, Bunda yang pergi meninggalkan mereka karena Ayah mu ingin menceraikan Bunda." Hanya dalam hati jeritan itu yang bisa Ibell katakan. Tidak mungkin ia meloloskan dari bibirnya, ia masih waras, Mati matian Ibell menjaga nama baik Nata selama tujuh tahun ke Vay agar suatu saat nanti Vay tidak membenci Ayah kandungnya sendiri bila mana bertemu layak nya sekarang ini. Walaupun dulu, ia kecewa ke Nata, tapi anak tetap lah anak yang harus rukun dengan orang tua.
" Tidak ada yang salah Vay, Maafkan Oma dan Opa kalau kedatangan Oma membuat Vay tidak nyaman, Oma akan pergi dan menjauhi Vay walaupun terpaksa kalau Vay tidak suka dengan kami,."
Acting On.. Jangan sebut si ratu Wild bila tak bisa meluluh kan hati cucu nya, Suara Yola sengaja di buat memelas mungkin, dan sebenarnya memang lagi butuh di melasin sih, Masa cucu yang di dambakan nya malah mau menjauhinya, Oh tidak bisa ! Exhale inhale.
__ADS_1
" Ma__"
Yola mengangkat tangannya, saat Nata dan Ibell kompak ingin bersuara entah mau berucap apa. Mengedipkan matanya sebagai kode kalau ia hanya dalam pura pura.
Nata, Ibell dan Kemal tahu kode itu, seketika menutup mulut rapat-rapat, membiarkan.
Dasar wild, Cucu sendiri mau di kelabui dengan acting nya. Batin Kemal geleng geleng, menyerah. Yang penting nanti Vay mau mengakui nya, maka ok sajalah, siap mendukung tapi jadi penonton saja.
" Oma sudah tua lho..." Kemal mengulum senyumnya mendengar pengakuan Yola, biasanya kan istri nya ini paling anti soal umur tua, ini...demi merebut hati Vay, rela saja mengakui diri sudah tua. padahal memang kenyataannya sih..
" Oma dan Opa tidak punya siapa siapa lagi kecuali Ayah kamu, tapi kan anak Oma sudah punya Vay dan Bunda Vay, jadi hiks.. Ayah mu pasti tinggal sama kalian, Biarlah...Orang tua ini hidup dua batang kara sama Opa seorang."
Prok...Nata ingin sekali tepuk tangan dengan akting mama nya, Lihat lah isakan bohong nya, juara ! Vay sampai tersentuh, menatap Bunda sekilas. Saat Bunda nya mengangguk entah apa arti nya hanya Vay dan Ibell yang tahu, Vay segera menahan baju belakang Yola dan Kemal yang ingin pergi secara bersama dengan kekuatan kecil nya.
" Maafkan Vay, Oma Opa ! jangan pergi."
Yes...
" iya, Lo memang best, Wild. Piala Oscar menanti mu." Bisik Kemal memutar matanya malas, sempat sempat nya istri nya tersenyum jumawa meledeknya.
Lantas Yola berbalik, berlutut agar tinggi nya setara dengan Vay.
" Hiks hiks, cucu Oma, cium Oma dong biar air mata Oma berhenti."
Air mata sungguhan benar benar mengalir, tapi bukan air mata sedih melainkan haru, akhirnya sebentar lagi keluarga nya akan utuh kembali.
" Jangan menagis." cup cup.. kecup Vay di ke-dua pipi Yola. Kemal tak mau kalah, ikut berlutut, ia juga butuh pengakuan Vay dong.
" Opa juga minta di sayang sebagai ke welcome-an Vay."
__ADS_1
Vay tidak langsung menurut, mendongak ke arah orang tuanya terlebih dahulu, sejurus memeluk leher Kemal saat Ayah Bunda nya mengangguk mengijinkan.
" Opa di peluk aja ya, Vay risih rahang nya Opa banyak bulu nya." Ungkap Vay, polos.
Tak apalah hanya dapat pelukan, yang penting di akuin...bulu..besok kamu akan raup.
" Oke, Beres ya. Vay, cuci tangan dan panggil teman teman nya untuk makan bersama, Bunda sudah masak untuk kalian semua." Nata mengarah kan. Vay kembali ceria, Namun tahan..masih ada satu uneg-uneg nya di benak nya yang ingin di keluar kan.
" Oma Opa, nanti bobo di sini kan ? seperti Ayah tinggal sama kami, Ah.. Tapi tidur di mana dong, rumah Vay kan kecil." Vay bingung, mau di taruh di mana lah Oma Opa nya di rumah kecil ini. andai punya rumah besar, mungkin akan muat. Batin nya.
Ibell yang ingin berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan, kembali tertahan akan ucapan Vay yang tidak mungkin Mertua nya tinggal bersama mereka, Mana bisa ke-dua orang istimewa itu tinggal di rumah sempit plus tidak ada AC nya, Nata saja kadang terlihat prok prak gulet sama nyamuk, Ibell tahu.. pasti Nata selama tinggal di sini mengeluh dalam hati, tapi biarkan saja, Ibell bomat. Lagian tidak ada yang maksa untuk tinggal kan ?
" Oma mau banget lah tinggal sama Vay, tapi tidak di sini, di rumah Vay yang besar dari ini, mau kan ?" Bujuk Yola lembut, Mata nya tertuju ke Ibell yang nampak tidak setuju. Pokoknya hari ini ia harus berhasil mengosongkan rumah. Mantu nya belum tahu aja rumah akan di gusur hari ini juga, agar Ibell tidak punya pilihan lagi, cukup sudah Ibell berada jauh dari kehidupan sesungguhnya.
" Ma, Jangan sekarang !" Nata mencoba untuk membuat suasana kondusif, jangan sampai Ibell marah lagi.
" Vay, kenapa masih berdiri di tempat, segera laksanakan titah Bunda."
Tuh kan...Suara Ibell sudah mulai berbeda, Nata memberi peringatan mata ke Mama nya yang terburu buru bertindak. Tapi Yola tidak menggubris nya, keinginan nya harus terwujud hari ini pokoknya, tidak pakai lama.
" Hari ini rumah akan di gusur, Abah-Ambu mu sudah setuju, kita semua akan ke kota hari ini juga."
Tentu saja Ibell terkesiap akan pengakuan Yola, Nata saja mengumpat akan Kelakuan ke dua orang tuanya.
" Kita makan dulu, baru bicara lagi." Datar Ibell, sebelum benar-benar berbelok ke arah dapur, Mata itu menatap Abah-Ambu nya untuk mencari kebenaran di sana, apakah kedua Mertua nya itu menekan keras ketidak berdayaan orang tua yang tujuh tahun ini adalah super Hero nya ?
Awas saja kalau itu kenyataan nya... Ibell akan murka. Walaupun lawan nya adalah tiga Abraham sekaligus, Mereka bertiga tidak tahu saja pengorbanan ke-dua orang tua angkatnya, ibarat kata.. Makanan apa pun yang akan di suap oleh Abah-Ambu nya, bila mana Ibell meminta makanan itu, maka mereka rela memberikan nya dengan tulus walaupun hampir tertelan ke tenggorokan sendiri. itu perumpamaan nya !
" Mama sih. Ibell nampak marah__."
__ADS_1
" Diam anak gendeng." Yola malah menoyor kening Nata yang ingin menyalahkan nya, " Terima beres saja, cukup diam, biar Mama yang akan bekerja."
Nata kicep, selalu akan kalah bila ratu nya sudah menginginkan sesuatu.