
Nata dan Pelangi di larikan ke rumah sakit, kedua nya sudah di rawat intensif di ruangan VVIP berbeda, Pelangi hanya butuh donor darah dari Topan serta Badai sebagai kembaran nya, Badai satu kantong begitu pun Topan harus satu kantong darah yang di ambil dari dalam tubuh nya, agar adil katanya. Padahal dokter hanya butuh satu kantong darah sudah cukup karena tidak ada hal serius yang di takut kan dari kondisi Pelangi.
Beda dengan Nata, Nata mengalami luka serius, Ayah Vay ini tidak sadar kan diri, Darah nya sangat terkuras banyak sehingga butuh penanganan serius.
Ibell yang duduk di ruang tunggu dengan Vay di sisi nya, di kejutkan oleh Yola dan Kemal yang baru sampai di rumah sakit.
" Ibell."
" Vay "
Yola memeluk erat mantu nya yang di gadang gadang sudah meninggal, Begitu pun Vay di peluk serta di ciumi oleh Opa nya.
" Ma, Bang Nata terluka ! Ibell belum mau jadi janda lho." Adu Ibell ke Yola, Ia cemas ke suami nya sampai tidak sadar berbicara tentang janda.
" Tidak apa apa, Nyawa nya banyak ! Satu dua hari juga akan sembuh, apalagi di iming imingin kuda lumping, Pasti deh...Jiwa semangat sembuh nya meningkat, tidak akan mati anak Mama itu, Nanti Mama ajarkan cara membuat orang yang lagi koma bisa segera bangun."
Yola melirik Kemal, begitu pun Kemal yang seketika meliriknya. Istri Wild nya itu telah meledek nya. Apa kalian masih ingat sewaktu Kemal koma tiga hari ? Terus di tipu oleh Yola yang akan merayu dokter Nelo yang cipo*able. Nah...Ajian itulah yang akan Yola ajarkan ke Ibell kalau Nata tak kunjung bangun. Pasti deh..Alam bawa sadar Nata akan mencak mencak kepanasan.
Ibell lah yang melongo di sini, Mertua perempuan nya ini sangat santai,Itu anak nya lho di dalam. Dan apa katanya, Belajar cara apa ? dan , Kuda lumping ? Ehem ehem dong ? Durhaka nggak sih kalau mengumpati Mertua somplak nya ?
Astagfirullah... Ibell mengelus dadanya akan sikap santai Yola yang main pergi saja bersama Vay ke kantin rumah sakit tanpa melihat keadaan Nata terlebih dahulu. Vay lapar kata nya jadi langsung di manja oleh Oma nya.
" Ma__"
Ibell tertahan memanggil Yola akan suara Kemal.
" Biar kan, Bukan Mama mu tidak peduli dengan Nata, di dalam hatinya sangat lah cemas, percaya lah. Istri Papa itu pintar menekan perasaan nya, jadi kamu menganggap nya sangat santai, kamu seorang ibu, pasti tahu perasaan Mama mu perihal anaknya." Jelas Kemal memberi pengertian, jangan sampai Mantu nya mencap jelek istri Wild nya dan berujung rasa hormat Ibell ke Yola menghilang.
Ibell pun mengangguk patuh, Sejurus membukakan pintu untuk Kemal yang ingin melihat keadaan Nata.
Lengan di balut perban dua duanya, jenjang paha nya pun sama, kata Ibell yang menjelaskan di mana saja Nata mengalami luka serempetan tembakan.
" Cuma serempetan ?"
Ibell mengangguk yang kata Kemal... Cuma ? Ck, ke-dua mertuaku sangat santai. Batin Ibell sedikit kesal. tidak ada yang mau prihatin dengan kondisi suami nya ini, lagi terpejam luka juga masih di bilang cuma ? Sangat menyepelekan.
" Cemen amat sih anak Papa !"
Kemal berbisik di telinga Nata.
" Papa dulu demi Mama mu rela tertembak di dada, ini cuma tiga serempetan belum sadar." Kemal mencoba meledek Nata, Biasanya anaknya ini selalu tidak mau kalah dari nya. Jadi pasti Nata akan bangun untuk membeli ledekan nya.
" Pasien dalam keadaan di bius pak, sampai pagi pun beliau tidak akan bangun."
__ADS_1
" Oh !"
Ibell yang tadinya kesal dengan sikap santai ke dua mertuanya, jadi setengah lucu melihat Kemal di omongin oleh Dokter yang menjelaskan tentang kondisi Nata, Ibell sendiri tidak sadar kalau sudah ada dokter perempuan setengah bayah ada di hadapannya. Sejurus memeriksa kembali kondisi Nata.
Ceklek
Pintu kembali terbuka, Vay dan Yola telah kembali dengan makanan di tangan Yola.
" Bagaimana kondisi nya, Dok ?" Yola langsung bertanya setelah Dokter selesai memeriksa nya.
" Tidak ada yang perlu di cemaskan lagi Nyonya Abraham, Masa kritis anak anda sudah lewat."
Ibell baru bernafas lega, tidak jadi menjadi janda. Alhamdulillah !
Sang Dokter pun keluar setelah mendapat ucapan terimakasih dari Yola dan Kemal serta Ibell. Vay ? Bocah itu sudah melahap nikmat makanan nya di sudut ruangan.
Ketiga orang dewasa ini pun menghampiri Vay yang terburu buru melahap makanan nya seakan-akan mau di rebut tuh paha Ayam krispi.
" Hehe, Vay lapar, Maaf !" Sadar Vay tercengir saat tiga pasang mata menatap nya tak berkedip.
" Om jerawat tidak memberi Vay makan, padahal Vay sudah meminta nya, Kan jadinya wafat membawa dosa karena membiarkan anak kecil kelaparan." Suara sumpah serapah itu terdengar tidak jelas karena makanan di mulutnya.
" Tidak apa apa Vay, makan lah ! dan kamu Ibell, makan juga gih, Setelah nya Mama dan Papa ingin mendengar cerita tentang kejadian tidak enak ini !"
" Tidak Ma, Ibell tidak lapar, Ibell hanya capek, mau istrihat." Tolak Ibell sopan ke Yola. Sejurus bibir sensual Ibell pun bercerita tentang kejahatan Alvin tanpa terkecuali.
Tidak mungkin cucu mereka serta cucu cucu para kerabatnya kan yang dalang semuanya itu.
Iiih.. Kemal dan Yola kompak jijik mendengar ketragisan kematian Alvin seraya menatap Vay yang masih makan dalam diam nya. Vay sadar akan mata Oma Opa nya yang seakan-akan ingin bertanya kepada nya.
" Bukan Vay pelaku nya, tapi kak To__" Vay menutup kembali mulut nya, ia kan sudah berjanji ke Petir untuk bungkam soal projects mereka, Nanti tidak di perbolehkan kata nya.
" Ya sudah, Kalian pulang lah, Biar papa yang ronda di sini," Kemal mentitah.
" Tapi Ibell ingin menemani Bang Nata."
" Tidak ada penolakan, Vay dan kamu harus istrihat dulu." Final Yola.
Setelah Vay selesai makan, ke-tiga wanita tersayang Nata pun pulang meninggalkan Kemal duduk jenuh seraya menatap sendu wajah pucat Nata. Bibir Kemal tersenyum tipis.
" Kamu memang anak Papa, Bila sudah mencintai, maka nyawa pun siap untuk di korban kan. Papa bangga padamu ! Walau pun separuh orang telah mencap jelek masa lalu kita yang sama. Cassanova ?" Kemal menggeleng geli mengingat masa lalu kebejatan nya. Toh masa lalu hanya masa lalu, Intinya Tobat dan berjanji untuk tidak masuk ke lubang yang sama.
...*****...
__ADS_1
Dua hari berlalu, Nata sudah sedikit membaik, lebih tepatnya pemulihan. Ibell selalu ada di sisi Nata dua puluh empat jam kecuali malam pertama Nata di rawat.
Sementara Vay selalu bersama Yola dan Abah-Ambu di rumah di pingit tidak boleh kemana mana sepulang sekolah.
Si Kurcil lainnya pun sudah di pingit masing-masing orang tua nya. duduk bosan di rumah adalah hal menyebalkan bagi anak-anak aktif seperti mereka.
Eh... kecuali Ama, Hari nya selalu indah kok, no problem bagi Ama yang penting coklat menyertai nya, Satu toko telah terkabul kan dari Tante Ibell nya.
" Kenapa di tekuk begitu wajah nya ?" Ibell menopang dagu nya di hadapan Nata yang suami nya ini cemberut melulu sehabis di suapin oleh nya.
" Abang tidak semangat, Bayangkan saja...Saat berlayar, ehem ehem nya gagal. Kemarin kemarin Abang sudah membuat dinner romantis serta sudah menyewa kamar hotel termahal, eh... Gagal lagi. Kasihan sekali si Beno !"
Uhuk !
Ternyata soal Beno, Ibell sampai tersedak ludah sendiri dengan wajah tiba tiba merona merah.
Nata tersenyum nakal dalam hati nya, pokoknya hari ini juga Beno harus munta cairan basi nya. Tujuh tahun lebih menanti, bagaimana tidak busuk bin basi tuh ?
" Sembuh saja dulu baru memikirkan soal itu !" Ibell mengerti kok penderitaan puasa suami nya. Tapi bisa nggak sih jangan memikirkan itu di tempat berbau obat kuat ini.
" Abang tidak akan sembuh kalau hari ini Beno tidak munta !" Nata mencibik kan bibir nya lima senti kira kira. Sejurus Ibell melirik ke arah pintu memastikan tidak ada orang lain dan cup.
" Itu saja DP nya, Nanti kalau sudah sembuh boleh lebih." Ibell bernegosiasi.
" Kamu pikir Abang cicilan motor yang di DP-in." Nata semakin ngelunjak, ciuman bibir Ibell bukan nya membuat Beno tidur malah mbul bangun di dalam sana.
" Terus ? Tidak boleh nakal ya, ini rumah sakit bukan hotel yang bebas ngapain aja." Ibell mendapat gelagat aneh dari seringai nakal Nata. Suami mesum nya telah kembali.
" Di dalam kamar mandi." Binar mata terlihat memohon, sengaja mendramatisir penderitaan Beno agar di melasin oleh Bunda nya Eni.
" Jarum infus nya bagaimana." Tunjuk Ibell ke tiang infus dengan tangan kiri Nata masih tertancap di sana.
" Soal mudah ini mah."
Nata tersenyum jumawa dalam hati, akhirnya Ibell terlihat kasihan kepada Ayah Beno, Dengan cepat Nata bangkit dari tempat tidur khusus rumah sakit itu, jangan sampai Ibell berubah pikiran. Alamak nanti puasa lagi.
Tangan Nata mengangkat tiang infus dan berjalan pincang ke kamar mandi. Ibell masih cengong bak orang bodoh yang melongo melihat Nata terpincang susah payah membawa tiang infus nya.
" Tunggu apa lagi ? Ayo ikut !" Nata berbalik, berdecak lidah. Masa istri nya hanya diam saja, kan mau ehem ehem. Tidak mungkin ehem ehem nya bersama tiang infus kan ? Tidak punya lubang tiang ini, Yang ada punya jarum yang akan menusuk.
" Bang, apa tidak bisa sabar lagi gitu ?" Ibell kembali ingin bernegosiasi. Mana tahu suami nya ingat diri kalau ini rumah sakit, tempat nya orang sakit untuk di sembuhkan, bukan untuk ehem ehem.
" Abang pingsan aja lagi ah." Dengus Nata. Bau bau Ibell akan berkelit halus.
__ADS_1
" Yeakh jangan, nanti Beno nya bisa mati suri selamanya." Ibell terbahak bahak meledek Beno yang terlihat menjimbul di dalam celana khusus rumah sakit berwarna biru muda itu.
Lanjut nggak ?ðŸ¤