Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 178


__ADS_3

Tawa ceria dari para sembilan bocah berseragam dasar basis internasional dan satu remaja high school masih berlangsung di dalam sela sela keasyikan mereka yang kini dalam menikmati eskrim favorit masing-masing di resto dalam Mall tersebut, Mereka tidak ada yang ingat waktu ini sudah senja sore. Vay sangat senang berada di antara teman teman nya yang tidak perhitungan, eh... Maksudnya kak Dibi nya yang tidak pelit mentraktir mereka bersembilan.


Bagaimana mau sadar waktu, lah...di dalam Mall terlihat masih terang benderang sedia kala nya seperti siang bolong, padahal di luar sana matahari hampir tenggelam.


Galaksi atau kerap di sapa oleh para kerabat dekat nya, Dibi. Kini bagai seorang bapak yang mengawasi sembilan bocah nakal iseng iseng lagi. Lihat lah Lautan dan Bhumi, Mengerjai Ama terang terangan dengan menyendok Eskrim coklat berporsi jumbo di table itu. Hape berdering sedari tadi tidak di hiraukan, lebih tepatnya tidak sadar gawai nya sedang berdering di dalam saku nya.


" Ihhh, Ini punya Ama, makanya pilih tuh yang jumbo seperti Ama." Anak Gema ini memukul lengan Lautan dan Bhumi, bergantian. dan cepat cepat menyuap kan Eskrim nya agar habis dengan mulut nya, Bukan mulut orang yang habisin.


" Ha-ha-ha, Ama pintar lho, Pintar pilih menu yang jumbo seperti perut nya." Badai memukul pelan perut berlemak Ama. Ama menepis nya.


" Ish, Ama memang pintar, silahkan tambah lagi pesenan nya, tenang, ada kak Dibi ini yang bayar. Ama aja mau nambah lagi." Ama lagi aji mumpung ada yang traktir. Sementara Dibi hanya geleng geleng kepala, sial benar diri nya, Bukan nya bolos ia dan geng nya lagi Janjian mau nonton bioskop ya ? Hah.. Bioskop ! ia melupakan itu gara gara terlalu menikmati bermain sama bocah bocah penguras dompet nya.


Tapi tak apalah, yang penting Dibi melihat Pe tersenyum manis terus.


" Jagah mata, adek kembaran gue memang cantik." Topan mulai mengeluarkan overprotektif nya menjaga saudara kembar nya dari mata laki laki mana pun, walaupun ia masih kecil, tapi otak nya melebihi remaja.


" Apa sih, habisin es krim mu, Biar adem tuh wajah, tidak datar lagi seperti tembok, senyum lah bocil." Dibi iseng ingin menyuapi Topan dengan Eskrim nya, Namun anak sulung Biru itu menepis nya. dan kembali tenang datar datar minta di tabok. Kembaran nya tidak ada yang komentar, terlalu asyik dengan es krim masing masing.


Kini mata Dibi memperhatikan Vay, anak om Nata nya jelita juga, dan lihat lihat..Si Petir selalu nempel terus ke Vay, di ketusin oleh Vay juga si anak teman Mama nya itu malah bertambah jahil.


Dasar Petir...Eskrim Vay di embat juga, padahal es krim milik sendiri masih banyak. Lebih tepatnya, minta tukaran dengan alasan Es krim Petir kok pahit ya.. Modus Petir. Dan Vay mau saja di tipu yang masih polos punya. Dibi yang memperhatikan itu dengan sengaja melempar gumpalan tissue ke arah Petir. Si Anak Om Langit ini cuek bebek. si anying.


" Vay, Habis ini mau main kabur kaburan nya ke mana lagi ?" Dibi sudah tahu permasalahan Vay yang main kabur kaburan dari cerita Pe seraya bermain tadi.


" Entah ?" Vay mengedipkan bahu.


" Pulang saja ya, pasti Ayah Bunda mu cemas deh." Bujuk Dibi. " Ini sudah jam enam sore lho, dan kalian semua." Dibi memutar telunjuk nya ke delapan kepala lain nya kecuali ke Vay. " Apa sudah ada yang meminta ijin ke orang tua masing-masing akan misi konyol kalian ?"


Lantas ke delapan bocah ini kompak menggeleng seraya melotot kan mata nya yang baru sadar akan ulah nya. Jam enam sore ? Habis lah mereka semua di omelin, niat kabur sampai pelajaran sekolah kelar, biar tidak ketahuan bolos tapi.... Mam to the pus. Mam-pus.


" Bagus ! Nikmati saja dulu eskrim kalian sebelum di hukum." Cekrek.. Dibi tersenyum evil meledek wajah wajah bocah ini yang tetiba tidak bersemangat, ia mengabadikan wajah wajah memelas si bocil bocil ini yang lucu menggemaskan mendengar kata hukum.


" Huawaaa, Ama tidak mau di hukum, Ama mau pulang, ayo pulang."

__ADS_1


Hayo lho, Si Ama cengeng mulai menangis. Teman teman nya Bukan nya menenangkan pada sibuk menutup telinga masing-masing, suara Ama cempreng jelek benar, tidak sehat untuk di telinga.


" Maafkan Vay ya, ini karena Vay !" Vay bersuara tidak enak hati. " Ayo pulang !" Lirih nya menunduk.


" Bentar, sayang sekali Es krim nya masih banyak." Ama segera menghapus air mata buaya nya, Es krim coklat nya selalu melambai lambai nya agar jangan di sisakan, Mu-ba-zir.


Kepala kepala di hadapan Ama menggeleng geleng bodoh akan tingkah Ama yang mudah sekali berubah-ubah mood nya.


Di lain tempat beberapa waktu yang lalu...


Ibell-Nata, Biru-Mentari, Gema-Jum, dan Langit-Senja, kompak merasakan cemas, panik dan sebagainya di tempat berbeda dengan pencarian nya masing-masing akan buah cinta nya yang hilang tanpa jejak, takut takut mereka korban penculikan terus di jual ke luar negeri, atau di mutilasi, aih ding..Amit amit.


Drrrt


Gawai Nata berdering mengganggu nya, Biru menelpon nya. padahal ia sedang bertanya tanya ke setiap orang di jalan seraya memperlihatkan foto Vay dengan Ibell berjalan lemas di genggaman tangannya, istri nya terus menangis ketakutan.


Ibell juga sedari tadi marah marah menyalahkan nya.


Sementara Ibell duduk asal asalan di pinggir jalan yang terlihat pucat tidak baik baik saja. Nata kesusahan mencari anaknya karena Vay tidak membawa alat apa pun yang bisa di retas titik lokasi nya.


" Anak kembar gue dua pasang hilang semua nya, tolongin gue.. retas keberadaan nya, Angkasa seperti nya bawa hape deh, gue gagal terus mendeteksi nya."


Di balik gawai itu terdengar di telinga Nata, ada suara tangis Mentari yang tergugu pilu menangisi anaknya yang hilang.


Hilang ? kok sama ?


" Anak gue juga hilang, Biruuu ! Gue aja lagi kelabakan sedari tadi." Seru Nata prustasi. Wajah nya sangat kusut, berkeringat dingin menyelimuti hati cemas nya.


Hiks hiks hiks, Vay..Kamu di mana Nak ?


Kini Biru lah yang mendengar suara tangis istri Nata.


" Kenapa secara bersamaan begini ? Senja Langit juga lagi kelabakan nyari Petir dan Lautan. Gema dan Jum pun tadi nanyain Purnama ke gue, mereka pikir...Ama lagi sama Pe, Sampai Gema menyalahkan Jum yang katanya tidak becus mengurus anak."

__ADS_1


" Shiit, Apa jangan jangan__"


" Nat, Anak kita semua ada di Mall pada makan eskrim, Dibi yang chat ke Mentari."


" Alhamdulillah, Gue ke sana sama Ibell, kabarin Senja dan Gema."


Nata menghembuskan nafas lega nya, anaknya baik baik saja.


" Ayo Ibell."


Ibell menepis tangan Nata yang ingin menarik nya. Ia akan mencari anak nya sendiri saja.


" Ibell__"


" Kita berpencar saja, Ibell__ Aaarg, Apa apaan sih ? Turunin nggak ?"


Nata gemas sendiri jadinya, mau mengatakan hal baik tentang Vay, eh...di potong terus, apa boleh buat, Dengan enteng ia menggendong Ibell di pundak nya bagai sekarung beras. Biarkan punggung nya di pukul pukul oleh Ibell, yang penting langkah nya menuju mobil tidak kelamaan, takut takut anak nya kabur lagi.


" Abaaaang, Turunin nggak ?" Ancam Ibell, isi perutnya tetiba ingin keluar karena posisi nya tidak nyaman.


" Diam lah Ibell, Vay sudah ketemu, anak kita lagi ngemall bersama si kembar dan ante ante nya."


Alhamdulillah.. Syukur Ibell dalam hati, air mata ia hapus seketika.


Kembali ke gerombolan bocil bocil nakal ini, Sembilan kepala di tambah Kepala remaja Dibi... sudah berada di pelataran Mall, menunggu taksi untuk mengantar mereka pulang. Dibi santai saja, membiarkan Topan untuk bertanggung jawab ke ante ante nakal ini.


Taksi ! Panggil Topan. Taksi terbuka jendela nya. menampilkan wajah sang sopir yang lagi lagi taksi awal yang mengantar mereka.


" Taksi nya sudah ada yang pesan, Maaf ya Dek." Tolak si Akang taksi berbohong, Apes benar bertemu bocah bocah rusuh itu, kapok pokoknya, mereka mungkin bisa bayar, tapi maaf... terlalu rusuh di dalam perjalanan nanti nya karena di desak desakin muatannya. Apalagi mendengar suara cempreng si Gemoy itu. Kabuuur.


" Ha-ha-ha, kasihan, tidak ada taksi yang mau menerima penumpang kere." Dibi terbahak bahak, dapat pukulan keras dari Pe. " Jangan marah Warna ku, Tunggu sebentar lagi ya... Orang tua kalian lagi otewe kesini."


Hening... Mereka sibuk memikirkan, hukuman apa yang mereka akan dapatkan dari orang tua masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2