
Tak
"Sudah bangun cantik ?"
Lampu menyala beriringan suara Alvin terdengar yang duduk di kursi kayu berdebu.
Tatapan mata Ibell memicing sinis ke Alvin yang saat ini berjalan pelan ke arahnya, Cepat cepat Ibell menggapai tubuh Vay yang masih terpejam, hati nya miris sakit melihat anak nya ikut di situasi buruk saat ini. Ibell takut mental anak nya tidak kuat dan berujung trauma.
" Vay, bangun sayang !" Ibell menepuk pelan pipi jelita itu, Vay terbangun tepat Alvin sudah sampai berjongkok di hadapannya.
" Jangan dekat dekat." Ibell mendorong Alvin hingga Alvin terduduk kebelakang dari jongkok nya, setelah nya memeluk kepala Vay agar anak nya tidak melihat wajah jahat Alvin. Ibell cemas anaknya akan ketakutan. Namun tanpa Ibell ketahui, Vay malah mengintip wajah Alvin, tidak ada ketakutan lagi di wajah polos itu.
" Aku hanya menyapa mu, Ibell. lama tidak jumpa." Alvin tersenyum miring. " Kamu semakin cantik dengan penampilan baru mu !" Puji nya akan hijab itu. Nata tidak pantas mendapatkan yang terbaik. Egois nya iri.
" Bunda ku memang cantik !" Celetuk Vay santai memotong ucapan Bunda nya yang ingin mensarkas Alvin. " Ayah Vay juga sangat tampan sekali, tidak seperti Om yang jelek, ada jerawat nya lagi di ujung hidung seperti badut__ Hmmp !"
Ibell segera menutup mulut lemes Vay, yang entah apa yang di pikirkan anak nya ini, Apa Vay tidak sadar kalau mereka ada dalam keadaan bahaya saat ini. Jangan jangan anak ku berpikir ini adalah syuting film. Oh Tuhan, selamat kan lah kami. Ibell berdoa dalam hati karena Alvin sudah melotot kesal tidak terima di banding bandingkan oleh Vay.
" Ayah ? Oh, Sebentar lagi yang akan menjadi badut di sini adalah Ayah mu itu anak manis, kamu harus menonton Ayah mu menari di depan kita."
Alvin geram tertahan, Ingin sekali ia meremas mulut pedas anak kecil itu, tapi sabar... waktu masih panjang, Ia masih membutuhkan ke dua sandra nya ini untuk bermain game bersama Nata yang sedang berduka di luaran sana menangisi abu anak istri nya. Pikir nya.
" Apa mau mu, Alvin ?" Ibell melengos. tatapan Alvin sangat melecehkan nya.
" Aku ? Hahaha, Kehancuran Nata ! Itu yang aku mau, Ibell. Apakah kamu tahu, suami mu itu sangat kejam, menghancurkan perusahaan ku, mempermalukan diri ku, hingga aku masuk ke penjara." Alvin tertawa jahat. " Dan aku juga masih tertarik dengan mu."
Ibell ingin sekali membeli ucapan sialan Alvin yang menjelekkan suami nya serta menatap nya penuh nafs* tepat di hadapan Vay. Tapi ia tidak mau membuang buang suaranya, ia tidak mau dekat dekat dengan Alvin lebih lama lagi, dengan itu ia bungkam cuek agar Alvin menjauh dari nya.
" Om, Vay lapar !" Vay ngelunjak, sengaja ingin mengetes kesabaran Alvin, pan orang di culik itu seperti ratu kan ? di kasih makan dengan gratis. Bedanya ya itu ? di taruh di tempat kumuh bukan di kurung di dalam sangkar emas.
__ADS_1
" Vay juga pengin pipi*, Mandi, dan ah... Makanan nya ayam goreng ya Om, Kudu ada buah nya biar serat nya terpenuhi, sebelum tidur, Vay juga harus minum susu agar pintar."
Shiit...
Ibell dan Alvin mengumpat dalam hati, namun berbeda mimik. Ibell lebih terdengar lucu mendominasi kesal mendengar keinginan anak nya yang rupa rupa nya di buat sengaja oleh Vay, biarkan ! Ibell ingin tahu apa sih yang ada di otak anak nya ini.
Beda dengan Alvin yang benar benar kesal, dengan itu Alvin kembali berjongkok dengan tangan mencekram lengan kecil Vay sedikit kasar. Ibell mau menepis nya namun tertahan tangan Alvin yang satu nya.
" Jangan sakiti anak ku, Alvin. atau seorang Ibu akan murka." Hardik Ibell. Alvin tak bergeming membalas tatapan Vay yang terlihat tidak ada kicep kepadanya, Vay menahan sakit di lengan yang di cengkram Alvin, tatapan itu seakan-akan menantang Om jerawat ini.
" Kamu pikir di sandra itu mengasyikkan anak manis ?"
" Iya !" Tangan Vay yang bebas dari cengkraman Alvin, menelisik gesit diam diam masuk ke saku longgar jaket Alvin, mencari sesuatu. Hap.. Dapat ! Handphone Alvin sudah di bawah paha nya yang duduk asal asalan di lantai berdebu, di sembunyikannya.
" Aku akan membuat mu merasakan neraka di sini, tidak ada makanan maupun minuman."
Alvin geram, di buat kesal oleh tingkah santai anak Nata, Lihatlah....Bocah nakal ini malah tersenyum gaje dengan suara seakan-akan meledeknya. Adakah yang lucu. Ck.. Menyebalkan. Dengan itu Alvin beranjak pergi, mengunci pintu itu dan mentitah anak buah nya untuk menjaga di depan pintu dan jangan di buka apa pun yang di minta oleh Ibell dan anak nya, Alvin tidak mau mereka kabur.
" Vay, Kamu itu bikin Bunda jantungan tahu nggak ? Kalau orang jahat itu mukul kamu bagaimana coba__ Vay itu ?"
" Hape milik si Om jelek." Vay tersenyum jumawa, sedari tadi ia memang menargetkan Gawai canggih itu.
" Buat apa sayang !"
Vay tepuk jidat, Kok Bunda nya jadi telmi.
" Buat di makan, buat nelpon ayah lah, Bunda bagaimana sih."
Cup...
__ADS_1
Ibell gemas, mengecup pipi anak nya yang sengaja di gembungkan pipinya, ia sebenarnya cuma menggoda canda anak nya, ternyata anak nya pintar pakai banget.
" Ayo buruan, nanti Om jahat menyadari hape nya sudah raup." Ibell segera menarik hape itu di tangan Vay, ingin menelpon Nata. Tapi apalah daya, Gawai tersebut pakai ID segala.
Vay tersenyum lucu melihat wajah tak semangat Bunda nya.
" Sini, biar Vay pecahin kode nya."
Handphone itu kembali di tangan Vay, Lima menit mengotak atik nya. Kini sudah berhasil. Ibell sampai melongo, baru menyadari kalau skill Nata tentang teknologi di wariskan ke Vay.
" Ayo buruan, Ambil."
Ibell tersadar dari wajah cengong nya, memasukkan nomer telpon suami nya.
" Ayo di angkat Bang !" Gumam Ibell, mata cemas itu terus melirik pintu takut takut Alvin muncul tiba-tiba. Nata nyebelin banget, suaminya tidak merespon panggilan nya.
Apa mereka percaya tentang kematian kami ? Sedih nya dalam hati. Sejurus Ibell terkejut akan ulah Vay yang main tarik handphone tersebut.
" Kita kirim pesan saja."
Help...MENIV.
Pesan itulah yang di tulis Vay dengan kode yang hanya di mengerti Ayah nya, GPS pun sudah ia kirim kan. send ! Vay segera men-delete pesan tersebut dan menghempas pelan handphone itu ke arah pintu yang seakan akan ia dan Bunda nya tidak mengetahui keberadaan gawai Alvin.
Ceklek..
Benar adanya, Alvin masuk lagi dengan langkah tergesa-gesa mencari gawai nya, Di mata Alvin...Vay kini terpejam tidur di dalam pangkuan Ibell.
Telat om jerawat ! Vay tersenyum setan di mata pejam bohong nya. Sementara Ibell membutakan matanya, ia tidak mau melirik ke arah Alvin barang sedikit pun, tangan itu sok sibuk membelai rambut ikal panjang anak nya.
__ADS_1