Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 153


__ADS_3

Shodaqallahu Adzim


Ibell mengakhiri bacaan kitab suci nya saat waktu isya sudah masuk, di cium nya kitab tersebut dan menaruh nya di tempat yang paling bersih di dalam kamar nya itu. Di lirik nya Nata yang tertidur setelah berjamaah magrib.


" Bang Nata, Bangun. Kita lanjut sholat lagi yuk, setelah nya Abang lanjut tidur lagi." Ibell membangun kan suami nya dengan suara paling lembut nya berbisik di sisi kepala Nata.


Hoamm..


Nata menguap lebar-lebar, badannya yang pegal semua menjadi hilang, mendengar lantunan suara Ibell terdengar menina nina nya sampai ia tertidur sehabis berjamaah magrib bersama Ibell.


" Eum ayo, Abang kembali ambil air wudhu dulu ya." suara Nata parau selepas tidur.


Ibell tersenyum manis, sangat manis sekali membuat Nata terpanah asmara, duh..ini kah rasanya jatuh cinta sama istri sendiri, Rasa nya tuh... Sepoi Sepoi angin sejuk menerpa hati nya. Nata tak mengira akan berubah hidupnya menjadi alim begini sejak Ibell mengajari nya menjadi orang yang lebih baik lagi.


" Maaf Bang, percuma Abang punya panti asuhan yang Abang sumbang terus tiap bulan bahkan tiap hari pun, tapi bila mana tiang utama agama Abang lalaikan, bagaimana jadinya ?"


Nata tetiba mengingat ucapan Ibell di kala itu, di mana Istri nya ingin mengajak nya berjamaah tapi kadang-kadang ia malas maka bujukan Ibel keluar dengan Ambigu penuh kelembutan. Ia suka cara halus Ibell.


Sering Nata dalam doa nya selalu meminta agar pernikahan nya di singkirkan dari maha kehancuran yang jenis apa pun itu, jika ada semoga ia dan Ibell bisa menghadapi nya dengan mudah dan semoga Ibell kelak tidak pernah akan mengkhianati nya seperti mantan pacarnya yang di tepat waktu itu ia lagi cinta cinta nya ke Mutia Tapi ujung nya ia patah hati.


" Ayo, Abang sudah selesai."


Dan empat rakaat pun lagi berlangsung dengan Nata sebagai imam Ibell. Kelar...Mereka berdoa dalam hati masing-masing dan berakhir Ibell mencium punggung tangan suami nya.


" Bang, tadi waktu Ibell lagi mengaji seperti ada yang meniup tengkuk Ibell, Namun sesaat sih dan setelahnya sudah tidak ada lagi."


Nata malah merinding kuduk nya dapat aduan dari Ibell, Masa iya ada sesuatu di kamar nya, ih.


" Jangan bercanda Bell, nggak lucu ah." Rajuk Nata memepetkan duduk nya ke Ibell yang lagi menilap sajadah.


" Ih Abang kok duduknya desak begitu sih, Ibell jadi ragu deh sama otot gede itu, masa iya takut, ha-ha-ha." Ibell tergelak lucu.


" Huu, Kalau sepuluh preman sih tak apa, tapi satu hal goib..ih seram Bell, tidak bisa di jab pakai otot__"


" 'kan bisa di usir dengan bacaan ayat Bang." Sambar Ibell cepat. " Tapi ngomong-ngomong, suami Ibell kok tampan pakai banget ya pakai peci begini." Goda Ibell. Nata merona dapat pujian dari kekasih halal nya.


" Dih dih..Merona tuh."


Nata semakin di buat tersipu, Ibell ini membuat hidup nya berwarna lagi.


" Sudah ah, Kok Abang jadi malu seperti ABG saja, Bagaimana kalau kita malam Jum'atan, Jatah Beno lho malam sunah ini." Nata menarik alat sholat Ibell dan menaruhnya di tempat khusus. Ia akan main tawuran sampai bosan, tapi tidak ada bosan nya tuh kalau menyangkut tawuran sama Eni.


Tok tok tok


Baru juga membaca niat, eh ada pengganggu, tidak tahu apa kalau ini malam Jum'at khusus milik Beno.

__ADS_1


" Nataaa, Ibeeell ! Mama mau ijin nih, udah tidur belum ?"


Izin ? Ibell dan Nata berlomba ke pintu mendengar suara mama nya.


Ceklek


" Mau kemana, Ma ?" Tanya mereka kompak seraya melirik penampilan Yola yang sudah wow siap meluncur.


Ada Kemal pun yang sudah rapi duduk santai di sofa.


" Mau keluar Negeri, perjalanan bisnis mengawal papa kalian juga sekalian bulan madu menyusul Om Eldath dan Tante Fifi, mau ikut ? Ah... Tidak boleh, kalian karantina jaga rumah saja, gantian ok."


Nata memutar matanya malas, Mama Wild nya ngeselin, Sudah tua aja masih ganjen pakai honeymoon segala. Sementara Ibell hanya tersenyum manis. Salut dengan jiwa muda mertua nya.


" Hati hati ya, Ma !" Ujar Ibell cipika-cipiki pipi sama Yola. Juga beranjak ke Kemal, mencium takzim punggung tangan mertua nya.


" Yang rukun ya !" Ujar Kemal tersenyum simpul.


Ibell mengangguk, duh..ia jadi rindu kasih sayang Ayah nya saat tangan Kemal mengacak halus kepala nya. Ibell tersenyum kecut bila mana mengingat Ayah nya yang tidak pernah memperdulikan nya saat menikah lagi dengan mama tiri nya. ah.. kenapa ia harus sedih, ada dua sosok orang tua baru di hadapannya yang amat menyayangi nya kan ?


" Nat, ingat...jaga Ibell dan jangan macam-macam." Warning keras Yola.


" Iya, tidak usah di peringatkan juga kali, Ma. Kan Ibell istri Nata, jadi aman sentosa." Jari Nata berbentuk bulat percaya diri akan ucapannya.


" Ok, Mama harap tiga bulan kepergian Mama Papa balik balik dapat kabar bagus tentang garis merah dua ya."


" HAH... Tidak salah tuh pergi begitu lama, kantor pusat bagaimana kabar nya tuh Pa?" Nata mau protes keras. Tapi Mama nya hanya mengangguk dan main beranjak pergi begitu saja.


" Sesekali kamu harus ke kantor pusat untuk lihat lihat, Papa bekerja seraya jalan jalan." Teriak Kemal yang sudah berlenggok keluar merangkul pinggang Yola.


" Ahh..Nambah pekerjaan Nata saja, Dasar pengantin tua, pengantin baru aja belum pernah bulan madu." Dumel Nata menggerutu cemberut. "pokok nya kita bulan madu enam bulan lamanya setelah Mama Papa pulang." Ujar nya ke Ibell yang nampak tersenyum gaje.


" Abang seperti anak kecil deh, sudah ah..yuk kita__"


Drrrtt..


Gawai Nata berbunyi tetiba menampilkan nomor gawai kode luar negeri.


" Halo, who is this ?"


"Elaaah, Ini gue Biru."


Nata terdiam seraya menatap lekat layar nya. Kapan Biru ke luar negeri ? Batin nya bertanya tanya.


" Halo, Nata? masih bernyawa kan di sebrang sana ?"

__ADS_1


" Cicit Lo, ada apa ?"


Ibell mengusap dada Nata yang nampak kesal sendiri, menuntun suaminya duduk di sofa agar berbicara tak berasap tuh kaki nya..eh pegel maksud nya.


"Besok ke hotel yang ada di kota gue, ada pertemuan penting, salah satu owner kita kudu ada yang hadir, gue nggak bisa soalnya tahu sendiri gue lagi di luar negeri ada pekerjaan. Langit dan Dirgan katanya juga tidak bisa, para istri nya Bintang dan Senja pun sama, apalagi Mentari yang tidak bisa hadir karena sudah berjanji waktu nya buat gue aja Yang bukan wanita karir lagi, Jadi Lo tidak boleh nolak, bahaya bagi hotel kita."


Panjang lebar penuh kecepatan Biru bernyap nyap di seberang sana. dan Tut..mati begitu saja padahal Nata pun mau mengeluarkan daftar kesibukan nya untuk sepupu nya dengar.


Haah.. Nata hanya bernafas gusar pasrah. Hari ini banyak sekali orang yang membuat nya kesal.


" Sabar, Bang. Jalanin aja dengan senyuman." Lagi lagi Ibell setia mengusap sabar dada suami nya kemudian menaruh manjah kepalanya di dada itu.


Sabar sih sabar, masalahnya ia pun harus bergulat otak besok akan perebutan tender untuk perusahaan software nya. Bagaimana dong ?


" Tapi Bell, kamu kan tahu jadwal Abang besok, kita harus memperebutkan tender, dan saingan nya itu dengar dengar ada Alvin juga, Mana yang harus Abang utamakan ?"


" Bagaimana kalau kita bagi dua tugasnya, Abang keluar kota dan Ibell di sini mencoba memperuntungkan hari esok akan tender itu ?"


Nata mengangkat dagu Ibell untuk menatap wajah nya yang tadi nya bersender enak di dadanya. Bi Tina dari kejauhan tersenyum manis melihat pemandangan romantis itu dan mengendap endap berbalik lagi yang tidak mau mengganggu majikan nya.


" Abang di sini saja untuk menghadapi Alvin cs dan kamu keluar kota sebagai perwakilan Abang, Kamu belum tahu taktik licik Alvin, Abang takut nanti dia bermain curang, bagaimana kamu setuju kan ?"


Ibell selalu tersenyum tulus dan mengangguk pelan sebagai tanda setuju nya, memeluk manja pinggang Nata dalam duduk nya dan menghirup dalam-dalam aroma Nata yang tambah hari menjadi candu nya juga.


Nata pun tak kalah erat nya membalas rangkulan Ibell dan sesekali mencium pucuk kepala Ibell. Jauh dari dasar lubuk hatinya, ia tidak tega membiarkan Ibell bekerja membantu nya apalagi melepas Ibell seorang diri ke luar kota. Tapi apa boleh buat, Ibell tidak mau berhenti menjadi wanita karir entah alasannya apa, tidak mungkin soal biaya.. secara separuh uang nya sudah di pegang oleh Ibell.


Ting tong


" G***food"


" Biar Ibell yang buka, kasihan Bi Tina pasti capek. Tapi itu pesanan siapa ?"


" Abang, Itu martabak telur dan ini uangnya, Abang belum bayar soalnya." Nata memberikan satu lembar berwarna merah muda.


" Boleh tambah satu lembar lagi ?" Pinta Ibell. Nata menurut tanpa bertanya buat apa. " Baik deh.." Cubit gemas Ibell ke pipi Nata. lalu berjalan ke arah pintu.


Ceklek..


" Ini Bang kur, Sisa nya ambil saja." Takzim Ibell berniat sedekah.


" Alhamdulillah, rejeki di malam gerimis. Terima kasih ya, Bu__" Eh.. Tapi wanita ini mirip foto yang di bawa ke rumah Abah. Sang Kurir buncit hitam manis membatin.


"Ah, Ibu punya saudara perempuan ya ?"


Ibell mengangguk polos. " Kak Dian nama nya, Abang kur kenal ?" Tanya Ibell tanpa curiga.

__ADS_1


" Hehehe, cuma sekedar kenal antar makanan seperti saat ini, Oya Bu..Kalau bisa ibadah dan ngaji nya di perkuat lagi ya, biar masuk surga nanti." Ambigu sang kurir.


" Tentu dan mari... Suami saya mungkin sudah menunggu pesanannya." Ibell tidak paham akan keambiguan sang Abang kur. mengedipkan bahu nya tanda cuek.


__ADS_2