
Usai makan malam, Nata bukan nya mengajak Ibell ke stateroom bin kabin kamar, Malah mengajak Ibell ke deck utama kapal atau lantai paling atas kapal untuk melihat pemandangan malam di deck tersebut, Aslinya...Jam malam sudah di tutup, tapi... apa sih yang nggak untuk Ibell yang katanya ingin melihat bintang langit di tengah laut, Nata sudah mengklok petugas dari bantuan Langit- si mantan Nahkoda.
Gelap malam remang cahaya membuat suasana melihat bintang di langit jadi terasa sempurna. Angin laut malam yang menerpa tubuh mereka, tidak menghalangi nya melihat bintang bintang melalui teleskop, Terlihat jelas bintang yang bertaburan di atas sana dengan kecanggihan kaca teleskop ini.
Suasana nya sangat romantis... Itulah yang Nata dan Ibell rasakan, sepi sunyi dari suara manusia, yang ada hanya suara ombak di bawah sana.
" Kamu lihat bintang yang paling terang di atas sana, Ibell ?" Nata siap menggombali Istri nya.
" Eum, indah bukan ?" Sahut Ibell dengan teleskop masih bertengger ke atas, ia tidak tahu kalau teleskop yang di gunakan Nata terarah kepada nya.
" Kamu tahu nama rasi nya , apa ?" Tanya Nata dengan senyum merekah, istri nya belum sadar di teropongi.
" Setahu ku, Bintang terbesar adalah sirius yang artinya kilau, Si Vy canis majoris, Bintang hypergiant kata lainnya raksasa di konstelasi canis major. Mesir konu mempercayai bintang ini adalah tanda banjir tahunan di sungai Nil, Betul apa salah penjelasan ku, Bang ?!"
Ibell menjabarkan tanpa mengalihkan pandangan nya ke atas bintang bintang.
" Salah besar !" Sahut Nata menyeringai lebar, padahal jawaban Ibell tentu saja betul menurut penjelasan ilmuwan astronomi. " Jawaban nya adalah kamu, Karena Kamu adalah bintang penerang hati ku." Eaaak... Nata tercengir cengir saat Ibell menoleh kepadanya. Baru sadar ia di teropongi oleh si biang gombal ini.
" Huu, Abang pikir, Ibell itu bintang apa yang di lensa-in begitu, Ibell yakin.. penampakan tubuh Ibell di lensa itu seperti raksasa." Dengus Ibell menepis pelan teropong Nata. Suami nya malah tersenyum manis tanpa dosa. bidikan teleskop Nata saat Ibell berbalik ke arah nya tepat jatuh di dada balon ku ada dua. Indah bukan, ia malah berfantasi liar di dingin nya malam ini. Sabar Beno...!
" Dan cinta Abang sebesar raksasa sirius itu, ah....sebesar langit ding." Ralat Nata. Ibell yang ingin kembali menggunakan teropong, terhenti. Melirik Nata dengan seringai misterius nya.
" Kalau begitu, Ambil kan sirius itu untuk Ibell !" Tantang Ibell, mana bisa si paksu mengabulkan nya.
Mendengar permintaan tak masuk akal Ibell, Nata menaruh teropong nya, mengambil jarak tepat di belakang Ibell. memeluknya dari belakang seraya dagu nya menumpu di bahu Ibell dan berkata...." Tangan ini memang tidak sanggup menggapai bintang Sirius, tapi tangan ini akan selalu menjagamu serta sedia kala menepis air mata yang akan jatuh di mata mu."
Rona merah muda serasa bertengger di pipi Ibell, Gombalan suami nya membawa nya terbang.
"Hmm, Abang raja nya gombal." Degus Ibell menarik manja ujung hidung Nata. Tapi jujur... Dalam hati nya, ia suka mendengar kata kata manis suami nya.
" Ayolah Babe, Ini bukan gombalan, tapi valid."
" Iya !" Singkat Ibell. " Objek nya kembali ke atas langit lagi. Nata masih setia memeluk nya dari belakang.
" Dari delapan puluh delapan jenis nama rasi bintang yang di akui astronom, Abang seperti bintang Rigel atau nama lainnya Rijil Al-Jauzah, Bintang ke tujuh keterangan nya di malam hari ?"
__ADS_1
" Kenapa harus bintang no tujuh di langit malam ?" Bingung Nata ingin di samakan dengan bintang yang paling terang saja, Rupa nya... roman roman akan dapat gombalan manis dari istri nya.
" Karena mempunyai arti lain yang bersinggungan dengan pribadi Abang, Yakni...' Triple A atau kaki sang pemburu ! "
Yeakh...Kirain manis, eh... sindiran keras pribadi masa lalu nya.
Ibell tersenyum di kala Nata menarik jarak, tapi sejurus... Teropong nya di tarik, di susul musik romantis terdengar dari saku Hoodie Nata.
" Eh__"
Nata menarik pinggang itu dan bergerak berdansa mesra, Ibell yang tadinya bingung akhirnya mengerti, mengikuti alur dansa Nata yang tubuh mereka hampir saja tidak mempunyai jarak. Mata itu saling beradu pandang. Ibell sudah jedag jedug seperti Abege saja, padahal ini suami nya lho, bukan pacar ala ala remaja labil, tapi rasanya... seperti anak muda yang baru kenal cinta.
" Terima kasih !" Seru Nata lirih seperti berbisik.
" Untuk ?"
" Terima kasih sudah hadir dalam hidup Abang. Aku mencintaimu !"
Kening Ibell sedikit basah dapat kecupan tulus layak nya ciuman itu bernyawa mengalir masuk ke pori menelisik ke darah nya. Tak sadar, tangan yang ada di pundak Nata, berpindah berkalung di leher suami nya.
Durasi waktu lima menit berlangsung, Bibir itu terlepas, Nata tersenyum seraya mengusap pelan bibir Ibell yang sedikit bengkak karena ulah nya.
" Kamar yuk !" Kode keras. Nata menarik tangan Ibell, Ah...Jatah Beno akan terwujud malam ini, Tidak akan ada pengganggu lagi. Vay kan di rumah, Para kunyuk kunyuk kerabat nya pasti bergulat juga di kamar masing-masing.
" Nata !"
Ah.. Pengganggu masih ada, Mau apa lagi si Biru, Langit pun ikut ikutan menghadang nya, mana wajah keduanya terlihat tegang lagi, tapi di tekan Sebisa mungkin, Nata masih melihat raut tegang itu.
" Ibell, boleh pinjam suami Lo bentar ? ada urusan laki laki. Mentari dan para women lain ada di kamar Jum, Lo ke sana aja dulu biar nggak bosan."
Ibell hanya mengangguk dan berlalu tanpa curiga akan permintaan Biru.
" Apa sih ? Gue pan mau hon hon seperti istilah mertua Lo Lo." Ketus Nata, di ganggu terus.
" Ini lebih para dari masalah junior pendek Lo, Ini__"
__ADS_1
Tuk....
" Pe'a Lo, junior gue lebih panjang dari Lo Lo pada." Nata protes, menjitak kesal Langit yang ingin mengatakan hal penting. Biru sudah terlihat gelisah.
" Oh, Ayolah ! Ini tentang anak anak kita, ikut gue, cepat !"
Perangai dingin dingin bengis Biru keluar bila ada apa apanya.
Dengan itu Nata pun mengekor Biru dan Langit menuju kamar Biru yang ternyata sudah ada Dirgan dan Gema di depan laptop.
" Ada apa sih ini ?" Bingung Nata. Sekonyong-konyong nya, Dirgan memaksa nya duduk di hadapan layar silau itu.
" Pelangi, Petir dan Vay anak Lo, di kabar kan hilang katanya, orang rumah pada kelimpungan."
Ucapan Dirgan membuat Nata terkesiap hebat, Di tarik nya gawai nya di saku berniat memastikan betul kejadian itu ke Papa nya. Tapi Biru segera menarik gawai Nata.
" Ini benar Nata, Dito asisten gue yang ngabarin, Mereka sengaja nggak ngasih kabar biar kita enjoy di sini...Oh Tuhan, Jangan sampai Mentari, Senja atau pun Ibell tahu dulu, Mereka akan histeris dan berujung fatal. Lo coba lacak keberadaan Pelangi dari kalung khusus pemberian gue."
Ah...Shiit, Biru meralat kalimat nya tentang kalung, Pelangi pernah mengadu kalau kalung itu hilang entah di mana, dan Biru belum sempat memberi gantinya. Ia memang siaga menjaga anak anak nya, mengingat ia adalah pebisnis pasti ada saja orang yang tidak suka kepada nya, teristimewa saingan bisnis nya.
" Petir bawa hape nggak, Ngit ?"
Langit menggeleng gelisah dengan mondar-mandir seraya memijit pangkal hidung nya karena bingung mau membantu orang rumah mencari anak sulung nya, Tidak bisa ! Mereka terjebak di kapal pesiar, tidak mungkin tring slalala terus hilang seperti Jin.
Nata yang melihat gelengan itu, ikutan gusar. Pasalnya Vay belum sempat di teritori nya dengan alat canggih nya.
Mudah mudahan mereka hanya bermain seperti dulu yang lupa waktu ! Batin Nata. Ia bingung harus ngapain. kaki nya rasa rasanya di rantai tak kasat mata. ingin bergerak tidak bisa. ini adalah kapal, bukan mobil yang main tancap gas. Bagaimana ini ?
" Hanya mereka kah, anak Lo aman nggak Gema ?"
Gema mengangguk akan pertanyaan Nata, Begitulah laporan Radja-papa nya, anak anaknya aman di rumah. Walaupun sedari tadi kaku bak kanebo, Gema tentu saja prihatin.
" Dibi, anak gue pun lagi ngebantu ngecari anak kalian, apalagi soal Pelangi paling tidak suka lah Dibi mendengar Pelangi kesusahan, Tenang lah... Mereka akan baik baik saja. kita hanya bisa menunggu kabar." Dirgan sebisa mungkin menenangkan, bahaya kalau para istri mereka tahu. Yang ada suasana akan riweh.
" Ibell pasti akan menangis kalau sampai tahu, Jangan sampai tahu, dan semoga Vay dan lainnya baik baik saja. Maafkan Papa sayang, Papa terjebak tempat !" Nata menjambak rambut nya, prustasi.
__ADS_1