Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 229


__ADS_3

Bukan hanya Nata yang mundur mundur menjauhi Alvin. Semuanya menjauh dengan mimik jijik nya. Para Kurcil yang penasaran dengan suara Alvin yang merongrong keras, Berlari naik berebutan di tangga besi itu, Pelangi yang sudah memucat juga penasaran, tubuh lemah kekurangan darah akibat tangan nya terus menerus berdarah itu di papah Badai berjalan beriringan paling belakang.


" Kenapa begini ? Arrrg, Sakit ! Nataaaaa !" Alvin berteriak teriak minta tolong ke Nata. Paha yang di tembak oleh Topan serta punggung tangan yang di bidik anak sulung Biru itu melepuh melunak kulit dan daging nya, hingga tulang itu sudah terlihat. Darah dan daging Alvin berbaur jadi encer mengalir bak mandi darah.


Ibell sampai muntah muntah, Nata dan para kepala dewasa lainnya pun kompak mual jijik sendiri. Perut mereka seakan akan di obok di dalam sana.


Berbeda dengan para Kurcil kecuali Vay yang belum tahu tentang projects para sahabatnya. Mereka nampak biasa saja, Guruh dan Topan saling lirik dengan senyum evil masing masing. Project mereka berhasil sempurna yang sebenarnya belum di uji coba sekalipun, Sekali uji coba mereka langsung mendapat sasaran empuk kelinci percobaan. Bravo !


" Topan !" Biru menatap selidik anak nya, meminta penjelasan.


" Aku hanya menembak nya dengan senjata Om Nata, Tapi pakai peluru sama yang melukai saudari kembar ku. Selebihnya, Aku tidak ngapa-ngapain !"


Topan berkelit, tapi memang tidak sepenuhnya berbohong, toh peluru tersebut adalah Peluru sama yang melukai Pelangi. Cuma ya itu.... Topan cs tidak mau menjelaskan tentang cairan hasil kenakalan mereka. Wajib rahasia bersama antar Kurcil ini sampai ada kala nya mereka akan meluncurkan senjata terhebat yang mereka buat nanti bila sudah dewasa nanti.


" Sudah ah, jangan lama lama di sini !" Perut Ibell tidak bisa tertahan lagi menahan gejolak mual nya.


Di depan mereka, Alvin sudah tak bernyawa ! Bukan hanya paha dan tangan yang melepuh mengalir ke lantai dengan bau amis menyeruak, tapi perlahan semua inci tubuh Alvin melepuh seperti besi yang di lelehkan.


Ibell memapah Nata yang terluka parah untuk turun lebih dulu, di susul Pelangi yang masih setia di papah oleh Badai, tapi Biru dan Topan tidak sengaja ingin menggendong Pelangi secara bersamaan.


" Kamu tidak akan kuat !" Ledek Biru ke Topan. Sejurus Biru sudah menggendong anak perempuan nya. Pelangi hanya pasrah, mau di gendong Ayah nya atau Topan, sama saja.


" Bocah, kamu nggak marah ? kan kulit adik mu di sentuh oleh pria lain." Dibi tersenyum lucu meledek Topan yang kalah telak oleh Ayahnya sendiri.


Semakin terbahak saja Dibi saat tangan nya yang tadi merangkul ledek pundak Topan seraya menuruni tangga itu, di tepis kesal oleh Topan.

__ADS_1


Dibi terus saja menggoda Topan yang sudah mood puasa bicara.


Di lantai atas, Vay yang masih penasaran dengan tubuh Alvin yang sudah tidak terbentuk, tertahan ingin turun yang memang beranjak paling belakang, Petir yang menyadari itu ikut berhenti melangkah, mengikuti Vay yang ingin mendekati cairan amis itu.


" Jangan di sentuh, itu kotor, Darah nya sudah bercampur dengan Zat berbahaya milik kami, kamu nanti akan terluka." Petir menarik lengan Vay agar berhenti mendekati tubuh tak berbentuk Alvin. Saat berucap Zat milik kami, Petir bersuara lirih seperti berbisik agar para orang tua tidak mendengar nya.


" Aneh nggak sih ?" Vay jadi bodoh di sini, padahal ia tadi sempat melihat Topan meneteskan cairan khusus entah apa namanya, Vay tidak paham.


" Sudah, jangan di pikirkan. Nanti kamu akan tahu, Topan dan Guruh kan pernah bilang ke kamu tentang bantuan projects, nah...Kamu adalah kunci nya di sini sebagai pemecah obat penawarnya di sini."


Vay dan Petir mengobrol paling belakang, Ibell dan Nata sempat mencari anaknya, tapi setelah melihat Vay aman bersama Petir, langkah mereka pun terus berjalan keluar.


" Vay kan tidak paham tentang hal lab ! Jadi apa hubungannya dengan Vay ?"


" Ada lah ! kamu memang tidak paham tentang perlab-an, tapi kamu paham dengan hal kode, Kami tidak bisa memecahkan satu kode tentang pembuatan penawar zat tadi, Ada satu Zat yang kami tidak bisa kami baca, karena buku panduan milik Topan semua nya ambigu perkodean. Apa kamu mau tahu Vay, Guruh dan Topan di saat itu pernah gosong wajah nya karena salah baca kode zat, Zat Zat salah arti mereka campurkan jadi... bom !"


" Apa ada yang lucu ?"


Biru berbalik ke belakang dengan Pelangi terpejam lemas di gendongan nya. Bocah bocah di hadapannya ini kompak melirik Vay dan Petir yang entah membicarakan apa sehingga tawa Vay pecah.


" Tidak ada Om." Elak Vay.


" Dengar ya kalian kecuali Vay dan Pelangi, Sisanya akan dapat hukuman, satu bulan tidak ada aktivitas di luar rumah selain ke sekolah, ke club Muay Thai libur dulu, pokoknya semuanya kecuali ada tugas sekolah, itupun harus ada surat dari guru tentang tugas apa pun baru Ayah izinkan keluar. Kalian itu baru tahu nggak kalau di omongin selalu membangkang."


Biru mengoceh, kembali berbalik dan berjalan ke depan, Vay dan Pelangi tersenyum dalam hati, mereka tidak dapat hukuman, itu tandanya mereka masih bebas keluar rumah untuk bermain.

__ADS_1


" Om, Tapi kan kami hanya menerima ajakan kak Dibi, kak Dibi lho yang ngajak kami ke sini !"


" Ndut, coklat sepuluh toko di batal kan, Tidak benar itu Om, Dibi yang jadi korban pemaksaan di sini oleh bocah bocah ingusan ini."


Dibi langsung menepis tuduhan Ama yang tersenyum menyebalkan di atas gendongan punggung Gema. Seketika senyum Ama Luntur, alamak gagal punya coklat sepuluh toko, mulut kok nggak bisa di rem. Rutuk nya dalam hati, tangan gemoy nya itu memukul bibir lemes nya pelan.


" Diam lah semua nya, pokok nya semuanya kena hukuman, Pelangi juga akan kena setelah tangan nya sembuh, Vay juga akan diam anteng di rumah biar jauh dari mata jahat."


Vay dan Pelangi yang masih terpejam bohong, jadi lemas mendengar Langit bersuara tegas, para orang tua mereka kompak amat mengurung mereka di rumah dalam waktu satu bulan, Bosan ? Tentu pasti, bocah bocah ini kan terlalu aktif, di suruh duduk diam mana bisa, rasa rasanya akan ada bisul yang tumbuh di bokong mereka.


Semuanya pun sudah di depan pelataran gudang, berkumpul sejenak mendengar titah Biru ke para anak buah nya.


"Dito, bakar gudang ini, jangan ada bukti apa pun yang akan mengundang polisi."


" Siap Bos !"


Dito-tangan kanan Biru melaksanakan tugas nya dengan apik dengan anak buah nya.


Nata juga Ibell di susul Vay pun masuk ke mobil dengan salah satu anak buah Biru yang menyopiri. Karena Nata sudah terpejam, tubuh nya baru merasakan sakit akan luka serempetan tembakan sistem Alvin. Membuat Ibell cemas sendiri dengan kondisi suami nya yang tidak bersahabat.


Para bocah bocah lainnya pun pada pergi dengan orang tua mereka masing-masing, Dibi meminjam kan mobil nya ke Gema yang tadinya ngikut di mobil Dirgan-papanya.


" Kita ke rumah sakit ya Mas !"


" Siap, Nyonya !"

__ADS_1


Tubuh Nata sudah mulai dingin yang di rasakan oleh Ibell. Bibir itu sangat pucat karena darah tembakan sudah menguras, terlalu banyak yang terbuang.


__ADS_2