Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 165


__ADS_3

Yola dan Kemal baru pulang dari luar Negeri, Langsung murka tertahan mendengar pengakuan Bi Tina akan kepergian Ibell yang sudah tiga hari lama nya, Namun tidak ada satu kabar pun yang sampai ke telinganya.


" Nata mana ?" Yola siap menuju kamar Nata dengan dada naik turun siap menyemprot kebodohan anaknya. Bagaimana bisa ada masalah besar setelah kepergian nya, Astaga...ia senang akan punya cucu namun senang itu terhempas karena mantu nya kabur, ulah...? Entah, Ia dan Kemal belum mengetahui pasti bagaimana kronologi nya. Nata harus menjelaskan nya dengan tunai, awas saja anak nya itu.


" Tuan Nata tiga hari ini tidak pernah pulang ke rumah, Nyonya. Kata nya tidak akan pulang tanpa membawa Nyonya Ibell pulang."


Lantas Yola dan Kemal terhenti, Kemal segera menarik gawai nya untuk menghubungi Nata.


Tersambung..


" Kamu di mana, Nat__"


" PULANG SEGERA !!!" Yola main serobot saja gawai Kemal. Bentakan terhakiki nya keluar sudah untuk Nata, Andai Nata di hadapannya, ia sudah menoyor gemas jidat anak bodohnya itu.


" Nata tidak bisa pulang, Haram bagi Nata pulang tanpa ada nya Ibell__" Hoek Hoek


Kemal dan Yola saling pandang mendengar Nata di seberang sana muntah muntah.


"'Kamu di mana dan kenapa ? Dengar Mama kan ? kami akan menyusul mu ?"


Tidak ada respon dari Nata, Hanya suara muntah muntah dan gemericik air yang Yola tangkap.


...****...


Es cendol...


Di sisi Ibell, wanita hamil muda ini sedang duduk di teras Abah-Ambu tak sengaja melihat penjual Es cendol keliling berteriak teriak menjajakan dagangannya memakai motor tua.


Ibell menelan saliva nya, mendadak pening karena mupeng makan Es cendol tadi, Namun keinginan hanya keinginan, ia sudah tidak punya uang tunai untuk membelinya, Di elus nya perut rata nya dengan suara batin sabar ya Nak.


Ia sebenarnya punya uang di ATM, tapi haram bagi nya saat ini menggunakan ATM pribadi nya apalagi ATM milik Nata yang di pegang nya. Bukan tidak mau, Tapi ia menghindari meninggalkan jejak, Sekali ia menarik uang mengunakan ATM itu maka lokasi nya otomatis dapat di ketahui oleh keahlian teknologi IT Nata. Tidak mungkin bagi nya tiuh tiuh adem aja mengingat ada keturunan Abraham di perut nya, Kalau pun Nata cuek... mungkin saja mantan Mertuanya nya yang bersikukuh menginginkan anaknya, ia tidak mau di pisahkan kelak dengan anaknya, TIDAK MAU !


" Kenapa melamun Neng ?"


Ibell terkesiap dapat tepukan lembut dari tangan Ambu, Sejurus tersenyum manis seraya memberi ruang untuk duduk bersama di teras tanpa kursi, boleh lesehan lantai teras doang.


" Issa hanya memikirkan nasib Issa, Ambu. Issa ingin bekerja di sekitaran sini tapi bingung mau kerja apa ?"


Tentu saja Ibell tahu diri, walaupun kata Ambu Abah baik hati ini jangan sungkan-sungkan untuk tinggal bersama, Ingin sesuatu bicara saja, apalagi sekedar makan mangga wae, katanya. tapi Ibell punya urat malu yang tidak mau menyusahkan orang terlalu dalam, setidaknya menghasilkan uang untuk sekedar beli lauk ia kan jadi merasa tidak canggung.


" Aih,sih Eneng teh masih canggung wae nyak. Jangan gitu atuh, Anggap aja Ambu Abah orang tua si Eneng, Kalau Neng kerja di luar teh percuma tinggal di sini, Ambu pasti kesepian lagi tanpa anak saudara, tetangga ? lihat sendiri, rumah kami jauh jauhan, jarang ngerumpi bersama, Ambu Abah tuh sudah senang begini kedatangan tak terduga Eneng malah mau kerja, Jangan ya Neng, katanya lagi hamil juga kan ? Tidak baik lho bekerja keras takut rentan."

__ADS_1


Hati Ibell menghangat, Tuhan mengirimkan orang baik di tengah kesusahan nya. Kata Ambu Abah pun kemarin, Mereka juga siap menanggung biaya persalinannya nanti.


"Tenang bisa di atur, Tabungan Abah dari dulu tidak ada yang menguras, bosan di kuras Ambu melulu, Di kuras persalinan Neng nanti teh jadi meronta-ronta senang nih."


Begitulah Abah berucap dengan sedikit canda jenaka menggoda istri nya yang sama sama humoris. Ibell kadang bangga dengan kokohnya rumah tangga orang tua di hadapannya, walaupun tidak punya keturunan, jauh dari kata mewah tapi mereka hidup rukun dan menganggap enteng segala masalah. Alhasil... lihat lah mereka, Senyum di bibir tua mereka selalu tersenyum manis, Tidak seperti pernikahannya.


Ah... Kenapa masih selalu mengingat Doi, Mungkin dia sudah senang.


" Tapi Issa boleh bantu Abah di kebun sayur kan, Mbuh. Biar Issa juga tidak bosan."


Kepala tua berhijab itu mengangguk setuju. Ibell kembali tersenyum teduh.


Assalamualaikum..


" Abah tampan sedesa ini pulang."


Ibell dan Ambu terkekeh geli dengan gaya homuris Abah yang baru turun dari mobil bak yang habis mengirim sayur mayur nya ke kota dengan satu tangan membawa koran dan satu tangan menenteng kresek entah apa isinya.


Waalaikum salam, Bah.


Jawab mereka kompak, Sang Ambu menyambut baik suami nya dengan segera mengambil air minum setelah menyalimi tangan hebat si Abah. Ibell lagi lagi tersenyum melihat hal biasa itu tapi mengandung makna luar biasa.


" Ini Neng, Abah tadi papasan penjual Es cendol, semoga suka ya ?"


" Terima kasih ya, Bah. Issa suka." Antusias Ibell segara menyambut baik dan menyantap nya langsung.


" Hehehe, si Eneng di beri es cendol sudah seperti di beri bongkahan berlian." Abah terkekeh geli. di susul tawa kecil Ambu yang baru bergabung dengan air manis hangat untuk Abah.


" Si Neng teh ngidam es cendol,nyak ? Ampe blepotan begitu makan nya. pelan pelan Neng, takut keselek__"


Uhuk uhuk uhuk..


Belum kelar peringatan Ambu. Ibell sudah keselek batuk batuk, Sebenarnya Ibell bukan batuk batuk karena keselek es cendol melainkan melihat foto nya di surat kabar yang baru di geletakkan oleh Abah.


Benar dugaan ku ! Batin nya segera menarik koran tersebut dan membacanya. Gila si Nata atau siapa pun pelakunya pemuat berita ini. Yang berhasil menemukan nya maka gift nya mobil mewah yang ia baca di sana


Ibell gamang, mendadak berkeringat dingin, ia sering baca novel yang istri nya di aniaya karena kabur, di kurung bagai burung bersangkar emas, ia tidak mau hidup tertimpa sial seperti tokoh di novel atau pun di sinetron alay begitu. Benar kata ambu baik nya... lebih baik jangan bekerja dengan begitu ia bisa menghindari berpapasan dengan orang yang bisa mengenali wajah nya dengan adanya berita itu maka langkah nya semakin pendek saja.


" Abah sudah membacanya !" Ujar Pria berpeci ini tiba tiba membuat Ibell meringis dalam hati. mungkin si Abah juga sudah menghubungi nomor tertera.


Ambu main tarik koran yang di tangan Ibell dan membaca nya pun.

__ADS_1


Air muka Ibell kian ubah ubah, Pucat kian memerah penuh ke was wasan dengan sedikit meringsut mau kabur berlari pergi dari tempat sebelum Nata atau ante antenya tiba.


" Tapi sekedar membaca nya saja, Tidak niat melapor, tenang saja."


Terdengar nafas legah dari Ibell, niat kabur terurungkan.


" Imbalan nya mobil mewah lho, Bah. Tidak berminat ?" Ibell mengetes.


" Ok, Abah telpon saja nih." Goda Abah seraya tersenyum geli melihat air muka was was Ibell lagi. Hape jadul sudah di tangan Abah.


" Yah jangan." Cemberut Ibell merengek dengan tangan ia satukan di depan Abah, memohon.


" Hehehe, Tenang saja Isabelle Lovelia. Itu kan nama mu ?" Ibell mengangguk. " Kamu aman di perlindungan Abah Ambu dengan syarat jangan berkeluyuran jauh dari rumah ya, Walaupun di sini desa tapi jaringan dunia maya dan pemberitaan media sudah luas, mungkin bisa saja ada yang mengenali mu. Nah... Biar bisa mengecoh, di mobil ada pakaian ala anak desa, tutup aurat mu, Nak. Alangkah baiknya wanita tahu batasan batasan larangan agama kita. Ambillah pakaian muslim mu di kabin. Abah mau mandi dulu."


Ibell tak henti hentinya berterima kasih di hadapan ke-dua orang tua berhati malaikat ini, Insyaallah ia tidak akan ragu hidup di desa yang penting hidup damai menjanjikan. Dalam hatinya sudah bertekad untuk membantu segala apapun yang menyangkut rumah ini.


...****...


" Ishh, Yang benar saja sih Nat, Masa iya gue di suruh nyari penjual es cendol keliling yang kudu penjual nya memakai motor keliling gerobaknya. Di food court bawa juga ada, di pinggir jalan juga ada stay dengan gerobaknya tapi tidak ada gandengan motor nya. Aneh kamu tuh, Ibell yang bunting. lo yang minta nya aneh aneh, nyusahin tau nggak !"


Bintang-sepupu galak nya mengoceh panjang lebar tentang keinginan Nata yang menurut nya berlebihan. Ia sebenarnya kasihan melihat wajah tak semangat hidup kakak sepupu nya ini, Tapi...ah. Siapa suruh punya otak bodoh main kertas gugatan cerai segala, Ibell melihat nya ya kabur dengan membawa jabang bayi nya.


Semangat sepupunya dalam tiga hari ini drop drastis, tiap hari mencari Ibell di pelosok kota, tapi khusus dua jam saat ini, Nata tetiba ngedrop mabuk munta munta, Hanya ante ante jaringan nya yang bekerja di lapangan saat ini tapi masih saja nihil.


Sungguh Bintang tahu kalau Nata dalam titik terendah kehilangan istri nya entah kemana. Tapi sepupu nya pintar menyembunyikan perasaan nya dengan topeng wajah datar tembok nya.


" Turutin lah, Bin. Gue tahu rasa nya orang ngidam itu seperti apa, nggak enak tahu nggak rasanya." Biru pun ada dengan monitor di hadapannya, mengintai pergerakan titik ATM Ibell yang tak kunjung di aktifkan, sekali Ibell menggunakan ATM nya...maka di mana pun wilayah mesin yang di pakai Ibell akan terdeteksi dengan mudahnya di bawah IT Nata. Cara ini lah salah satu harapan besar Nata selain pemberitaan media dan kepolisian pun di turunkan saat ini.


Nata membenarkan ucapan Biru. " Jangan lama lama, Bin. Takut mama papa keburu datang dan keburu nggak nafs* makan es cendol karena mendengar semprotan maksimal mereka. pasti lagi otw ke mari."


" Iya bawel." Bintang berlalu. Dan Biru tersenyum tipis melihat kekesalan Bintang yang di titah bagai babu kudu mesti nurut kacung kampret.


" Ada baiknya Lo yang ngidam bro, itu tandanya Ibell baik baik saja di luaran sana, maksud gue tubuh nya nggak manjah seperti lemas lah, itu pun kalau hamil nya seperti Mentari, kata Amma Rose-Mertua gue.. Hamil kebo. Anti mabok munta munta, lo siapin kekebalan tubuh ya, pagi siang malam entah kapan pun pasti lo akan muntah muntah terus." Biru menceritakan pengalaman hidupnya saat hamil pertama istri nya. Dalam hati Nata, ia menerima segala ketersiksaan perihal ngidam ini, ini saja siap meluncur ke kamar mandi. Perutnya kian bergejolak minta isi nya di keluarkan.


" Bi, Monitor gue tolong di awasi dulu, gue butuh__" Nata ngebirit ke arah kamar mandi dengan mulut ia bekap, isi nya hampir keluar, sudah di tenggorakan.


" Ok monitor, bekerja dengan baik__ Kenapa Nata mencuri data rumah sakit tempat Om Nelo ? Apa dia tidak terima dengan hasil lab salah itu ? dan berniat menghancurkan om sendiri ?" Biru berbicara sendiri dengan monitor sistem bekerja baik mencuri dengan mudah nya.


" Gue nggak setega itu ke Om Nelo, gue cuma nyari bukti kuat untuk menjatuhkan musuh otak dari masalah besar ini. Lihat ini..." Nata sudah Kembali dengan cepat, menekan tombol power di mana Alvin bercerita jahat dengan petugas lab tentang penyabotasean lab nya. ia memang siput menyadari permainan jahat Alvin, tapi untuk menghancurkan Alvin tanpa ampun sudah 95% tersusun rapi di otak nya. Kali ini Alvin akan hancur dengan penjara pun siap menanti.


Biru membuat pandangan nya ke arah melihat seringai jahat pembalasan Nata.

__ADS_1


Serem juga sepupu gue. Batin Biru.


__ADS_2