Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 223


__ADS_3

Nata mengendarai mobil nya tanpa arah tujuan sehabis dari kantor polisi di mana Alvin di tahan selama tujuh tahun penjara karena laporan nya dulu, Alvin kini sudah bebas sepenuhnya, Wajib lapor rutin paska hukuman pun sudah selesai, jadi kantor polisi tidak punya lagi laporan titik keberadaan mantan napi itu.


" Aku tahu kamu pun pintar menyembunyikan identitas asli mu Alvin akan keahlian IT mu, Namun.. pasti aku akan menemukan mu."


Seraya bergumam kesal, Tangan itu menarik handphone nya di atas dasboard yang sempat tertinggal di mobil, niat hati menanyakan kemajuan pencarian Biru dan ante ante nya tapi tertahan akan adanya notif baru.


" Panggilan tak terjawab ? Pesan ?" Nata sempat mengabaikan nomer asing itu, tapi tertohok mendadak kaki itu menginjak rem tiba tiba hingga decitan ban terdengar ngilu, pengguna jalan di belakang nya pun mengumpat kasar karena keteledoran Nata.


Help...MENIV ?


Nata mencoba menterjemahkan kata MENIV itu apa dengan berpikir keras.


" Vay !" Bibir Nata mengembang lega, keyakinan nya benar kalau anak istri nya masih bernafas, itu adalah kode keras di mana arti nya MENIV adalah Berbahaya dalam bahasa mudahnya, Hanya orang khusus yang bisa paham dengan terjemahan terjemahan berkomunikasi dengan kode, Ahli hacker yang bila mana sedang meretas atau pun melakukan hal hal aneh di sistem tapi tiba-tiba ada kata MANIV muncul, maka jangan coba-coba untuk melanjutkan aksinya, yang ada Virus kuat akan masuk menyerang sistem nya dari Virus lawan yang akan di kecoh.


" Ayah datang sayang !"


Mobil Nata tancap gas dengan kecepatan tinggi, Mengikuti GPS yang di kirim dari titik handphone yang di gunakan Vay, Selama handphone di sana masih aktif maka ia akan mudah menemukan keberadaan Anak isteri nya.


Biru, Datang ke titik GPS ini, kita bertemu di sana. hati hati !


Send !


Pesan untuk Biru terkirim, Ia tidak mau mengambil resiko dengan datang sendiri, bisa saja Alvin di sana sudah mempersiapkan hal buruk untuk nya, ia tidak mau bodoh dengan datang sendiri. Bukan nya takut tapi di sini nyawa terkasih nya di pertaruhkan, Alvin sekarang bukan lah Alvin sahabat nya dulu, Entah apa pemicu nya, hingga Alvin bisa berujung memusuhi nya sampai mendarah daging.


menusuk nya dari belakang dengan merebut Mutia di waktu itu, Nata tidak masalah lagi dengan itu, tapi kenapa sampai saat ini si Ex friend nya terus mencari masalah dengan nya ?


Di sisi Biru yang mendapat titik terang, juga segera tancap gas, Mobil nya tiba tiba berhenti mendadak saat seketika menyadari ada mobil amat familiar mengikuti nya.


" Mau apa sopir si Kembar mengikuti ku ?" Gumam nya seraya turun dari mobil, tangan itu berdecak garang menatap tajam mobil khusus yang selalu mengantar kemana mana ke lima anak nya. Di dalam sana bukan hanya si Kembar, melainkan kurcil lainnya pun ada termasuk Petir pun ada.


" Hehehe, Ayah !" Si Pelangi tercengir kuda di dalam mobil yang kaca itu sudah di buka oleh nya, Niat nya agar Ayah nya tidak mengeluarkan semprotan galak nya.


kurcil lainnya hanya diam saja di tatap selidik oleh Biru.


" Jangan bilang kalian mengikuti Ayah ?"


Pelangi menggeleng bohong, tapi si Ama bocor menjawab iya. anak Jum ini seketika dapat tatapan galak dari Guruh dan kurcil lainnya.


Ama bodoh ! Umpat mereka dalam hati.


" Ama hanya jujur, apa salah ?" Ama seakan-akan tahu batin para Cs nya.


" Pakai banget !" ketus Petir yang sangat ingin ikut mencari Vay.


" Harus nya Ama di rumah saja, Lo si Guh ! Ajak adek Nyebelin Lo ini." Lanjut Petir kesal.

__ADS_1


" Ama__"


" Sudah ! Kalian pulang." Biru berucap tegas. Topan sampai menunduk takut yang memang sangat mensegani Ayah nya.


" Pak, pastikan anak anak tidak berkeluyuran lagi, jangan mau di titah menyopir saat ini. atau masalah bagi mu."


" Baik pak."


Genk bernama Kurcil smart ini kompak menyerbu huuu Ama di saat mobil sudah berputar arah lain, mau beralibi menipu sang sopir pribadi, kasihan juga nasib si bapak tua itu kalau melanggar perintah Biru. Nanti bisa di pecat.


Biru pun beranjak pergi setelah mobil anak nya sudah benar benar hilang di pelupuk mata.


Di sisi Alvin, beberapa menit lalu setelah mengambil gawai nya yang tergeletak di lantai, Curiga ! ia tidak merasakan layar nya terjatuh di dekat pintu, kalau pun terjatuh pasti ada bunyi, fix.. pasti ini ulah anak nakal Nata, Ibell ? tidak mungkin, di sentuh sedikit kulit nya saja tidak mau, apalagi berani menelisik masuk ke jaket nya untuk mengambil layar pipih nya.


" Jangan pura pura tidur anak nakal !" Hardik Alvin menghampiri Vay yang tidur di pangkuan Ibell.


" Vay memang belum tidur karena perut Vay berbunyi krucuk krucuk minta makan." Manik Amber itu seketika terbuka dengan pura pura memasang wajah memelas nya, memang iya sih Vay laper !


" Biarkan ! Kamu itu ngelunjak."


" ALVIN !"


Ibell mempertahankan anaknya yang ingin di tarik pergi oleh Alvin, Entah mau di bawah kemana ? Di peluk nya tubuh kecil Vay erat erat agar ia dan Vay selalu bersama.


Bugh..


Ibell di dorong oleh Alvin sampai terjengkang ke belakang, hingga ia dan Vay terlepas, Vay yang di geret keluar ruangan di mana Bunda nya meronta akan di ikat, ikut meronta mau membantu Bunda nya.


" ALVIN JANGAN LUKAI ANAK KU__ !"


Sejurus, teriakan Ibell meredam, gelap yang terasa, anak buah Alvin telah memberi nya suntikan bius.


" Vay mau di bawa kemana ? mau di ajak makan yang empuk empuk enak ya ?" Vay tetap berusaha tidak menampilkan wajah takut nya, ingin membuat Om jerawat ini mengerti kalau ia bukan anak kecil biasa yang takut akan apa pun.


" Kamu yang akan jadi santapan empuk di sini."


Alvin kesal, anak Nata tidak ada rengek takut nya atau setidaknya menangis, sampai saat di ikat pun, anak sialan Nata ini malah nurut manis, malah si empu jelita ini tersenyum lebar terang terangan.


" ada yang lucu hah ?"


" Om jerawat yang lucu !" Vay semakin ngelunjak, menertawakan Alvin " Masa anak kecil pun di ikat, takut ya kalau Vay akan kabur."


" Diam ! Aku tahu kamu tidak ada takut nya karena kamu sudah menghubungi ayah mu itu 'kan"


Ketahuan !

__ADS_1


Vay mengeram kesal dalam hati, ternyata si Om badut ini juga pintar, bagaimana ini. Mana tubuh kecil itu di ikat bersama bom waktu di pangkuan nya. Walaupun belum di aktifkan tapi ngeri sekali, Vay melanglang buana, nasib nya bagaimana nanti kalau bom ini meletus, pasti ia akan menjadi daging panggang.


" Dan lihat ini."


Alvin mengaktifkan sensor tembak otomatis yang ada di setiap ruangan.


" Ayah mu akan menangis darah bin mati karena kamu teledor memanggil nya kesini." Alvin tersenyum miring, Anak Nata akhirnya menunduk takut.


" Ayo menangis sebelum kamu di tangisi !" Alvin meledek.


" Om aja yang menangis sebelum di tangisi, eh... tapi siapa yang mau nangisi orang jahat macam Om." Vay tak mau kalah dalam ejekan, sehingga Alvin yang cepat emosian menarik rambut Vay hingga mendongak ke atas.


" Sakit ?"


Vay menggeleng padahal kulit kepala nya ikut terangkat ulah jambakan itu.


" Shiiit, Nata sangat beruntung mempunyai anak batu kayak kamu, tidak ada takut takutnya, tapi biarkan.... Setelah kamu melihat Ayah mu di tembak oleh senjata yang di kendalikan sistem ku, maka wajah jelita ini akan menangis."


Alvin mencengkram wajah jelita itu, lalu menghempaskan ke kanan. Sejurus meninggalkan Vay sendiri di ruangan itu menuju ke ruangan kecil khusus kontrol di mana sistem sensor yang akan di kendalikan nya, Plan A nya sudah gagal gara gara bocah kecil itu, Maka plan B langsung bertindak, toh di sini ia yang menjadi dalang pergerakan Nata, Rival nya itu tidak akan berkutik karena ada Vay dan Ibell di tangan nya. pikir nya jumawa.


" Mudah kan Dinata masuk ke inti ruangan, kalau dia bawa anak buahnya maka tekan mereka atas nama sandera yang akan mendapat dampak nya."


Vay mendengar perintah penuh amarah Alvin ke anak buah nya, dalam hati nya menyesal karena sudah mengundang Ayah nya ke dalam bahaya. ia tidak menyangka dampak ketahuan nya adalah nyawa ayah bahkan bunda dan nyawa nya pun di pertaruhkan.


" Ayah pasti bisa !" Yakin Vay tak mau mendramatisir keadaan menegangkan bagi nya, Seraya iris Amber itu mendongak ke empat titik sudut ruangan yang terpasang alat senjata sensor yang siap menembak kapan pun yang di arahkan dari sistem utama.


Vay mempelajari waktu permenit nya kapan alat itu mengedipkan lampu merah kecil nya karena Menurut otak nya, setelah lampu ruangan di nyalakan terang benderang maka kedipan lampu itu tidak bisa terbaca lagi. Kedipan tersebut adalah kelemahan sistem, itulah yang ia ketahui. Dalam dunia perteknologian ada plus minusnya juga, mereka yang tidak paham akan menganggap sistem teknologi itu sangat hebat, tapi sebenarnya manusia lah yang hebat di sini, tapi dengan catatan ingin dan harus belajar !


" Dua menit silih berganti dari kiri ke kanan, dan dua menit berikutnya dari senjata bagian barat dari kanan ke kiri yang akan menembak duluan, Ok, beres."


Vay bersiul siul santai mencoba meredamkan hati cemas nya, mudah mudahan Om jerawat itu tidak menyumpal mulut nya agar ia bisa mengintruksikan pergerakan Ayah nya nanti, alamat Vay tidak mau melihat Ayah nya mati sia sia, Vay akan menyesal seumur hidup bila mana Ayah nya mati karena sudah mengundang Ayah nya kemari.


Bom ? Vay baru ingat ada satu lagi masalah nya yang sedang di pangku nya ini. Kabel kabel begini sih kerjaan si Purnama, si otak coklat itu sangat menguasai ini. Cita cita Ama katanya mau membuat bom legal di naungi perintah militer khusus satuan Negara nya, agar penjajah kecil mau pun penjajah besar nanti akan takut ke Negara nya karena adanya si Ama si pembuat Bill Of Material, Entah di waktu itu Ama bercanda kepada nya mengatakan itu atau memang benar adanya cita cita sahabat nya seperti itu.


Tidak selamanya kabel merah adalah penjinak arus berhenti, berubah ubah tergantung si pembuat nya, pelajari sekeliling kabel ada tanda khusus tersendiri yang berbeda dari komponen nya.


Vay pernah mendengar teori Ama saat di tanya oleh guru mereka dalam pelajaran.


Ok ! Vay ingin mengingat tangan gendut Ama saat praktek tentang arus di lab tempo hari lalu.


" Susah amat sih !"


Alvin tersenyum jahat di balik layar yang melihat Vay berusaha menggerakkan tangan nya yang terikat itu ke arah bom.


" Anak kecil bodoh seperti kamu mana bisa menghentikan waktu nya. Coba saja !" Alvin dengan tega main mengaktifkan waktu bom tersebut yang tadinya belum di mulai, ia ingin menakuti anak Nata.

__ADS_1


Eh sialan...Malah aktif lagi. Vay mendengus kesal, belum sempat menyentuh sedikit pun kabel itu tapi sudah nyala aja waktu hitungan mundur nya dari angka tiga puluh menit.


Alamak jadi kambing guling. Vay pasrah ! Hanya Ayah nya lah yang bisa menyelamatkan nya saat ini.


__ADS_2