Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 177


__ADS_3

Satu jam perjalanan, Para bocil yang katanya mau main kabur kaburan demi menemani Vay, sampai di depan Mall ternama yang mempunyai banyak jenis permainan di dalam sana yang menunggu mereka.


Mereka pada berebutan untuk turun dari taksi, Ama yang gendut paling lamban dalam bergerak. Vay dan Pelangi yang dapat posisi nyaman di kabin depan, santai wae macam ogah ogahan memperdulikan kesengsaraan para kerabatnya.


" Ama, Buruan turun nya, Kak Petir sudah sesemutan dari tadi ah." Dengus Petir.


" Oh, uda Sampai ?" Santai Ama, terlalu menikmati kesengsaraan Petir, sengaja memang. kapan lagi kan ngejahilin si Tengil anak Tante itik nya ini.


Topan yang paling belakangan untuk turun, sang sopir sebenarnya sudah getar getir dari tadi, takut bocil bocil nakal ini tidak sanggup membayar biaya taksi.


" Berapa ?" Tanya Topan singkat padat menyebalkan.


Eh buset, datar amat ya ?


" Seratus dua puluh lima ribu !" Sang sopir ngikutin gaya Topan yang datar bak tembok, tapi susah juga kalau bukan perangai aslinya ya.


" Ok." Saku celana bahan di rogoh Topan seraya mata nya melihat degital argo yang memang jumlah nya demikian, Ada seratus ribu doang, Pindah ke saku celana bagian kanan, ada lima ribu rupiah. Lah kurang dua puluh ribu. Sementara rekan rekan nya pada tak sabaran.. Buruan Topan !


Awas aja kurang. Pak sopir sudah ancang-ancang menyemprot.


" Ini." Dari tadi Topan bersuara irit benar, satu per patah kata saja. Memberikan kartu kredit entah milik siapa yang di pegang.


aih ding, anak berduit, Mastercard punya ! Batin si akang sopir, tidak boleh pakai Blue bir* ah bayar nya, Nanti diskon banyak. Sang sopir menolak dengan alasan tidak bisa bayar pakai kartu, padahal bisa.


" Buruan Topan !" Petir bersuara di belakang sana, melihat Pe dan Vay juga Ama jadi kesihan. Kepanasan !


" Kurang." balas Topan satu kata lagi.


Mendengar itu, Petir maju. Mengobrak abrik tas nya. Eh...Ada dua puluh ribu doang, tahu mau main kabur kaburan minta uang banyak sama Papa nya.


" Gue kere, Pan ! Ada segini doang. Tapi Lautan ada Card Mama aku kok. " Pamer nya ke lembaran uang kertas berwarna kehijauan dan kepala nya menoleh kearah Lautan.


" Cukup !" Topan main sambar uang yang di tangan Petir, ia kan punya seratus lima ribu rupiah, jadi pas nggak pakai kembalian.


" Kembaliannya buat bonus bapak aja, Terima kasih ya." Petir bersuara seraya menunduk untuk melihat wajah si Bapak yang asam benar tuh wajah. Topan yang tahu ngepas uang nya main beranjak cepat.


" Dasar bocah nakal, ngepas woi."


" Oh !" Petir ngeberit kabur.

__ADS_1


Di dalam Mall, Mata Vay berbinar binar senang, ini kedua kalinya ia menginjak kan kakinya di Mall, tapi beda tempat. Kemarin kemarin Bunda nya tidak memperlihatkan wahana seru di dalam Mall, tapi teman teman nya ini sangat pintar memilih acara main kabur kaburan nya.


Mereka semua tidak ada saja yang tahu kalau sejak di pelataran Mall sudah ada pria remaja berseragam high school di lapisin jaket Levis blue yang memperhatikan mereka.


" Kak Utan, Vay mau naik itu !" Tunjuk Vay kegirangan ke arah bom bom car.


" Ayo !" Bukan Lautan yang menjawab, melainkan Petir yang menyambar ajakan Vay, padahal Lautan-adiknya sudah siap bersuara.


Mereka Kompak mau bermain bom bom car, Topan Sagara yang kunci ATM berjalan nya menuju loket untuk membayar biaya permainan. Tapi Ding, lagi lagi sial menghampiri, ia tidak tahu berapa pin Mastercard milik orang tuanya. Kemarin kan ia sekedar nemu di lantai yang belum sempat di kembalikan ke Bunda nya. Bagaimana ini ?


" Sudah kak ?" Bhumi siap melangkah masuk ke area permainan tapi di tahan oleh Topan. otomatis Topan di beri tatapan macam macam ekspresi dari saudara saudara nya di hadapannya.


" Ama mau coklat dulu !" Rengek Ama sedari tadi minta di traktir oleh siapapun.


" Pin nggak tahu." Topan memamerkan kartu ATM nya atas nama Mentari-Bundanya.


" Dasar Oon." Hardik Petir di balas tatapan horor oleh Topan.


" Lautan, kartu ATM Mama masih di tas kamu kan ?" Petir tak perduli dengan tatapan horor Topan.


" Masih, Tapi apa kak Petir tahu pin nya ?"


Petir menggeleng. Lautan pun membalas gelengan nya tanda sama saja tidak tahu.


" Yak.. kesini cuma cuci mata doang." Angkasa si Manja keturunan sisi sifat Biru-Ayahnya mendadak lesu.


" Nyebelin deh." Timpal Pelangi.


Hening, mereka pada kecewa, lesu tak bersemangat, mau ini itu tidak bisa ngapa-ngapain. Vay yang ingin merasakan wahana permainan ini itu hanya bisa menelan ludahnya. ia jadi ingat ke Bunda nya... apa kah mereka sudah mencari nya dengan rasa kekompakan ?


" Huawaaa, Jadi Ama nggak di traktir coklat nih ?" Ama duduk di lantai, anak manja gemoy lucu ini terisak akting demi coklat, coklat adalah vitamin nya.


" Jangan malu maluin deh, Ama ! Nanti orang orang pada pikir kita mukul kamu." Bhumi membujuk. dan Ama pun mengangguk mengerti. tahan aja deh tidak makan coklat.


Dan pemandangan menyedihkan mereka hanya berdiri di dekat permainan bom bom car seraya pada menelan hasrat untuk bermain ini itu. Punya Mastercard kagak berguna juga tanpa pin.


" Kasihan ! Mata doang yang kenyang, padahal bela belain bolos sekolah, Ck Ck Ck..."


Sembilan kepala kompak menoleh ke asal suara.

__ADS_1


" Kak Dibiiiii !" Riang Pelangi menyambut semberinga kehadiran anak Dirgan-Bintang yang bernama lengkap Galaksi Malik Al Miller. ah... penyelamat nya sudah ada di depan mata.


Dibi menatap wajah wajah nakal di hadapannya, Topan yang bagai kucing dan tikus sedari kecil bersama Dibi, membuang pandangannya ke sana kemari.


" Ayo loh, siap siap kena Omelan dari para orang tua kalian." Ancam Dibi bercanda


" Situ ? Kagak bolos apa ? Masa sekolah ngemall." Giliran berkata banyak, Topan berketus ria membeli ancaman Dibi.


Ck, bocah ini tak mau kalah...


" Ha-ha-ha, satu sama kak, kakak melaporkan kami, Maka Tante Bintang pun harus tahu kalau kakak bolos." Badai tertawa jumawa. Dibi tak bisa membelah diri lagi, benar adanya ia pun bolos.


Kini mata Dibi menatap Pelangi dengan senyum manis nya, Gadis kecil kesayangan nya sedari orok yang sudah di ajak main karena empati di waktu itu Bunda nya Triplets koma berlangsung lama.


"'Sini kamu ?"


Pelangi maju selangkah menurut manis. "Apa ?"


" Kakak traktir kalian, tapi kamu naik bom bom car nya sama kakak."


Horeee..


Tentu Pe mau, Kak Dibi nya benar benar the best lah, Penolong dari hasrat game ini itu yang tadinya jadi penonton doang.


Kini mereka menikmati permainan yang ada namun Dibi mengarahkan untuk yang aman saja bagi anak kecil seumuran bocah nakal nakal ini.


Hahahaha, tawa Vay pecah di atas car bom bila mana car nya bertabrakan dengan milik teman teman nya, ada Petir di samping nya yang mengajari nya mengemudikan bom car tersebut.


Di waktu yang sama di saat anak anak tidak ingat waktu, semua orang tua pada cemas di tempat berbeda.


Ibell dan Nata yang paling panik yang anak nya sudah tidak ada si sekolahan sedari tadi. Jum dan Gema sampai bertengkar di rumahnya karena Jum mempercayakan sopir untuk menjemput anak bungsunya, Bukan istri nya sendiri yang turun tangan.


Senja mengomeli sopir anak anak nya yang tidak bisa bekerja dengan baik, padahal sopir itu kan sedari tadi stay di sekolahan, kenapa tidak tahu bolos dan kabur ke mana ke dua putranya.


Sementara Mentari dan Biru sudah berkeliling di atas mobil untuk mencari kemana anak anak kembar nya berada.


Hiks hiks hiks.. Ibell yang takut kehilangan anak nya menangis tak karuan. Menyalahkan Nata yang merecoki waktunya di pasar jadi telat menjemput Vay. Begini lah jadi nya...anak nya entah ke mana.


" Kita akan menemukan nya, jangan menangis."

__ADS_1


" Ini semua salah Abang, harus nya tidak ikut ke pasar, harus nya kamu di apartemen aja atau nungguin Vay di sekolahnya."


Nata diam saja di salah kan. kalau membeli diri pun tidak ada gunanya, toh memang benar, ia tadi membuat lamban waktu Ibell yang tersusun apik.


__ADS_2