Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 154


__ADS_3

Persentase persentase meeting room tentang Per Software-an dari empat perusahaan termasuk Nata dan Alvin telah usai memperlihatkan skill keunggulan sistem mereka ke Klien besar dari luar negeri yang mereka perebutkan.


Nata bernafas berat, kali ini sistem nya kalah dari Alvin. Klien di depannya ini sudah memutuskan Alvin lah finishing nya.


Oke...No problem, lapang dada, itulah yang ia pelajari belakangan ini saat bersama Ibell.


" Mungkin mulai saat ini kamu harus belajar kalah dari saya, Nata. ah... lupa, dari dulu kan memang seperti itu." Alvin berwajah angkuh nan puas.


Nata serasa ingin mencucuk hidung itu bila mana lupa diri yang akan nama baiknya di depan beberapa orang penting di hadapannya, biarkan Alvin selalu sombong.


"Oh ya, Istri cantik mu di mana ? Awas loh di gondol orang lagi seperti___" Alvin sengaja menjeda, ia tahu Nata pasti mengerti, Seringai ledek pun dari bibir Alvin begitu nampak terlihat.


" Jangan berada di atas angin, Alvin. Dan jangan berani beraninya sedikit pun berniat buruk tentang istri ku, karena Ibell tidak lah seperti Mutia yang murahan itu. ah... Kenapa saya baru engeh kalau orang rendahan pasti dapat nya rendahan pula." Nata tak kalah tajam nya menekan mental Alvin, Menepuk pundak Alvin dan berlalu setelah menebarkan senyum ledek nya ke Alvin.


Ok, Lihat lah boom waktu ku Nata, kamu akan meledak hancur.


Di sisi Ibell, pekerjaan yang di berikan oleh Nata sudah rampung tanpa kendala, Malam ini juga pun ia ingin balik lagi ke kota nya bersama sopir kantor yang saat ini mengemudi.


" Yakin ni Bu Ibell, kita menerobos hujan deras ?" Sang sopir sedikit ragu, jalanan licin karena hujan begitu deras.


" Pelan pelan saja pak dalam berkemudi."


" Baiklah."


Sang sopir pun mulai menginjak pedal gas nya dan berlaju dalam kecepatan rendah. Perjalanan mereka begitu sepi dari kendaraan lain karena mungkin menghindari hujan.


Beberapa jam perjalanan, Hujan mulai sedikit redah dan tergantikan gerimis saja, angin malam bercampur tempias hujan mengingat kan tubuh Nata yang penuh kehangatan. Dasar mesum umpat nya ke diri sendiri seraya menggeleng geleng kepala.


Ckiit...


Aww..


" Ada apa pak ? Kenapa berhenti mendadak__Astaga itu kak Andra."


Ibell turun dari mobil tak memperdulikan hujan saat melihat Andra-kaka tiri nya di hajar oleh dua orang preman bertubuh besar tak kenal ampun hingga wajah kakaknya itu nampak babak belur.

__ADS_1


" Berhenti atau saya akan telpon polisi." Ancam Ibell. Andra dan kedua orang bertubuh besar itu baru menyadari ada orang lain di antara mereka. sang sopir pun turun, berdiri di sisi Ibell sebagai tameng Ibell, ia takut Nata akan marah kepadanya kalau lalai menjaga Istri majikannya ini.


" Jangan ikut campur Nona, Dan telpon saja polisi agar orang yang kita hajar ini sekalian di tangkap karena lari dari hutang piutang." Seru satu dari mereka.


Ibell menatap kaka nya dengan nanar yang saat ini menunduk seraya memegangi wajahnya yang sedikit berdarah Pelipis itu, Kakaknya selalu saja penuh masalah.


" Berapa pak, saya akan membayar hutang kakak ku."


Nyesss... Ada rasa pedih, hangat dan macam rasa campur aduk yang di rasakan Andra di mana Ibell tanpa malu dan penuh lantang mengakuinya sebagai Kakak, padahal ia selalu dzolim ke Ibell sedari kecil, tapi adik tirinya itu masih mengakui nya dan mau menolong nya pun. Andra menunduk malu dan terngiang ke masa lalunya yang selalu membuat Ibell menangis dan merebut segala sesuatu punya Ibell.


Tring...


Notifikasi M-banking masuk memberi bukti ke dua preman dari layar Ibell sebesar lima belas juta. dan dua preman pun pergi begitu saja, tugasnya sudah selesai jadi apa lagi yang mau di ributkan.


" Mmm, Bell__"


" Masuk ke mobil kak, ini luka nya harus di obati." Ibell menarik cepat tangan Andra yang entah mau marah kepada nya atau mau berkata apa, Ia hanya niat menolong yang lalu biar lah berlalu. Begitulah sifat nya yang jauh dari kata dendam.


Di dalam mobil, Sudut hati Andra tersentil malu akan perlakuan baik Ibell yang saat ini mengobati lebam wajah nya.


Andra terdiam, sesekali meringis saat Ibell menekan pelan luka nya menggunakan alkohol pembersih luka di wajah nya.


" Kakak itu skill nya Ok di bidang otomotif, kenapa tidak bersungguh sungguh di skill kakak, Insyaallah bila mana berniat gigih maka perjuangan tidak mungkin menghianati hasil, kak." Ibell tau kakak nya ini dalam mode pengangguran akut setelah di pecat oleh Alvin.


" Kakak tidak punya modal, Bell." Andra menunduk malu. Ibell tersenyum tipis, ah..kakak nya diam pertanda lain, bukan karena marah dapat celoteh darinya.


" Bagaimana kalau kita kerja sama, Ibell minta ijin sama suami Ibell untuk berinvestasi memodali kakak, tapi kakak harus bersungguh-sungguh menjalankan nya,, setuju ?." Ibell antusias ingin merubah kakak tirinya, terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali bukan.


" Kamu percaya sama kakak, Bell ?" Andra sampai terharu mendapatkan dukungan Ibell yang saat ini orang orang memandang nya sebelah mata, bahkan Mama matrenya saja lagi mood perang karena sudah lama tidak memberikan uang ke Mama nya itu.


" Tentu, dan jangan kecewakan Ibell." Senyum Ibell terbit begitu tulus memancarkan Inner beauty nya sebagai wanita anggun.


Andra mengangguk canggung." Maaf untuk selama ini, kakak begitu bodoh memperlakukan mu sebagai orang asing di hidup kakak, tapi lihat lah..Kakak sampai malu sendiri." Andra bertulus ria kali ini ia benar-benar tersentuh hatinya.


Apakah kalian pernah merasakan sepi dalam keterpurukan dan Tetiba ada tangan yang menjulurkan bantuannya baik itu cuma untaian kata menenangkan satu patah pun ? Sabar atau semacamnya ? Itulah yang di rasakan oleh Andra saat ini, bantuan Ibell yang tulus membuat hati nya berpikir positif untuk berubah menjadi orang baik dan ingin berusaha keras dengan peluh keringat nya.

__ADS_1


" Ayo kita balik ke rumah, Pak Fandi... antar saya ke rumah orang tua saya dulu ya ?"


" Baik, Bu !"


Ibell hanya tersenyum menanggapi kata maaf Andra. ia sedikit legah bisa meyakinkan Andra untuk berusaha menjadi orang baik, entah kakak nya bersungguh sungguh atau berambigu, lihat saja finishing nya bagaimana. pasrah Ibell.


Sampai di rumah keluarga Ibell, Istri Nata itu pun turun mengekori langkah Andra, ini pertama kali ia mampir selama menikah dengan Nata, bukan nya sombong melupakan keluarga sendiri tapi ia hanya menghindari masalah yang pasti di buat buat oleh Mama tiri nya. Membayar hutang Papa nya ke rentenir pun hanya melalui orang kepercayaan Nata.


Hoek hoek hoek


Andra dan Ibell saling pandang sejenak medengar suara Dian munta munta di kamar mandi yang terbuka.


"Ho-ho-ho. siapa yang datang, dua anak yang lupa kulitnya, Paa... ! Anak mu yang kaya raya datang tuh." Mita menyindir dua anak nya sekaligus, Berteriak ke Pandji yang lagi tidak enak badan di kamar. Suasana rumah yang Ibell rasakan saat ini sangat lah dingin, tidak ada kedamaian barang sedikit pun.


" Dian kenapa, Ma ?" Ibell masih saja sopan, menyalami tangan Mita dengan rasa takzim, sementara Andra memilih masuk ke kamarnya dari pada dapat sindiran pedas dari mama nya yang hanya baik kalau ada uang nya saja.


" Jangan pedulikan Dian, noh...Urus Papa mu yang lagi demam dan batuk batuk." Seloroh Mita santai di sofa.


Ibell beranjak ke kamar orang tua nya, Hati nya miris mendapati tubuh Pandji yang sedikit kurus saat ini berbaring di kasur.


Uhuk uhuk uhuk..


" Pa, ini Ibell. Papa sakit...kita ke rumah sakit yuk !"


Pandji menoleh ke asal suara. Alhamdulillah anak kandung nya yang selama ini di rindukan nya datang juga menengok papa bodoh nya ini, ia rindu ke anak kandungnya yang selama ini mendengar kan Mita kalau Ibell itu anak Badung. dan dengan bodohnya ia percaya saja.


" Ibell..hiks hiks, sini sayang... papa merindukan mu."


Deg...


Inilah kata terindah yang Ibell ingin di dengar dari mulut papa nya yang terakhir mendengar nya di umur delapan tahun di kala Ibu kandung nya masih hidup.


" Ibell pun rindu papa, Hiks--"


Mereka berpelukan dengan air mata saling jatuh. Ibell merasakan tubuh Papa nya Sangat lah demam.

__ADS_1


__ADS_2