
Acara makan bersama di rumah Abah yang sederhana telah berlangsung, Ibell hanya tiga sendok makan segera menyudahi makan nya, Pernyataan Yola telah menguasai dirinya, Rumah ini akan segera di gusur ! Apa apaan itu.
Kepala orang tua menyadari sikap aneh Ibell. Sementara anak anak makan dengan sesekali bercanda membuat berisik di acara makan yang berjejer duduk di lantai saja karena memang nyata nya rumah ini tidak punya meja makan yang besar.
" Anak anak, setelah makan nya sudah selesai, cuci tangan dan bersiap siap untuk pulang, sopir sudah siap di depan." Titah Yola.
Yakh.. Kompak mereka mengeluh tanda belum puas berada di desa Vay.
" Oma, Ini kan belum sore, masih siang lho."
" No ! Menurut adalah janji kalian kepada Oma sebelum berangkat ke sini, Ingat 'kan janji kalian itu ?"
Petir yang protes, mengangguk di susul anggukan kompak dari bocah bocah lain nya.
" Nanti boleh kok hari libur kalian ke sini lagi." Ujar Vay tersenyum manis ke semua nya.
Satu persatu pun semua beranjak dari tempat, Ibell segera membereskan peralatan makan yang kotor dan Nata pun mengekori Ibell ke tempat pencucian piring.
" Ibell, Maaf kan Mama, Abang akan bicara kepada nya agar tidak memaksa mu untuk tinggal bersama di kota saat ini__"
" Aku akan ikut bersama kalian, puas !"
Tidak, karena Ibell tidak ikhlas, itulah yang di rasakan Nata.
" Asal jangan tekan Ambu Abah, mereka tidak bersalah, justru mereka adalah penolong ku, Tapi kenapa Mama dan Papa ingin menggusur rumah ini ? Kenapa ? Harus nya kalian berterima kasih kepada nya bukan balasannya seperti itu. Di rumah ini pasti banyak momentum mereka dan Mama Papa tidak berhak main gusur rumah orang."
Kemal dan Yola, setelah mengantar cucu cucu kerabatnya ke mobil jemputan, Mereka pun masuk ke rumah bersama Vay, Namun terhenti di ruang tengah mendengar suara Ibell yang terdengar beragumen dengan Nata dari dalam dapur, Kemal yang tidak ingin membuat Vay mendengar pertengkaran anak mantu nya, sengaja mengelak beralasan ingin keliling desa bersama Vay. Biarkan istrinya yang menyelesaikan nya.
" Issa dengar dulu, Nak !" Abah-Ambu segera menyela, Anak angkat mereka salah paham, tapi jujur juga sih.... walau pun dasar nya tanah nya mau di wakaf kan, tapi Abah-Ambu berat rasanya kalau rumah ini di gusur, bukan karena di sayang kan bangunan nya, melainkan momentum nya, benar kata Ibell, rumah ini begitu banyak kenangan mereka.
" Mama tidak menekan Abah-Ambu mu, Ibell." Sela Yola pun. Ibell dan Nata kompak menatap selidik Yola. " Tapi kami hanya mewujudkan impian mereka yang ingin mewakafkan tanah ini, Apa salah sayang ?"
Benarkah itu ?
" Abah, Ambu ?"
__ADS_1
" Iya Nak !' Jawab ke duanya kompak ke Ibell yang meminta pernyataan nya.
" Apa dengan cara menggusur rumah ini juga, Ma ?" Ibell masih tidak setuju.
" Tentu !" Kekeuh Yola, sebenarnya cuma ambigu sih, kan kalau tidak di gusur, Ibell tidak akan mau pulang ke rumah yang ada di kota.
Nata ingin sekali mencak mencak akan Mama nya yang batu ini, Ini sih tambah runyam, ah.. pusing. Meluluh kan hati istri nya aja belum kesampaian ini di tambah lagi. please Ma, jangan bertingkah konyol dengan memberatkan misi Nata.
" Apa kalian ikhlas ?" Lanjut Ibell bertanya ke Abah-Ambu. kalau mereka berkata iya, mau apalah diri ini, tidak akan menantang keinginan cita-cita mereka. tapi Cih, Mata ke-dua orang tua angkatnya nampak tidak setuju, tatapan mereka liar, bibir mereka tergagap ingin bersuara tapi penuh keraguan jadi tidak bisa berbicara yakin, really.. Ibell harus mempertahankan kenyamanan Abah-Ambu.
" Tanpa mengurangi hormat Ibell ke Mama dan tak ingin kurang ajar, Ibell meminta maaf, Tapi Ibell yakin, Mama itu berambigu...."
aih, tahu ding.... Mantu ku bisa mendengar kata batin kah ?
Ok ! Yola bukan lah pengecut, Ibell adalah mantu pintar, di bohongin dengan ucapan Ambigunya, Mantu nya ini tidak akan percaya. Maka ayo terang terangan saja.
" Benar tebakan kamu, Sayang." Yola menghempas pinggul nya di meja makan di dalam dapur ini, duduk santai dengan senyum santai nya.
" Tapi kenapa Ma ?"
" Ma, ayolah ! mama pulang lah bersama papa, Jangan memaksa, Dan jangan ganggu ketenangan Abah-Ambu."
Abah-Ambu nya tidak bisa menyela sama sekali di sini, giliran sudah mangap sedikit, eh mingkem lagi karena Nata kali ini menyela pembicaraan Mama nya dengan mengusir.
Anak durhaka, sudah di bantu malah mengusir.
" Mama tidak mau pulang, sebelum Ibell dan Vay ikut ke kota." Ujar Yola kalem.
" Mama, Ibell ada tanggung jawab di sini, Abah-Ambu tidak akan Ibell tinggal begitu saja."
Alih-alih serius akan uneg-uneg Ibell, Yola malah tersenyum santai.
" Mereka kan ikut kita sayang, Iya kan Abah-Ambu."
"Iya, Issa. Kami sudah membicarakan ini kepada mertua mu, Nak. Tidak ada lagi yang butuh di bicarakan, Kami juga kasihan kepada kamu, Nak. Cukup sudah kamu banting tulang hanya karena orang asing ini."
__ADS_1
Tes ! Orang asing, Kata itu mampu membuat hati Ibell tertohok dengan air bening lolos, Orang asing ? Bukan orang asing, tapi orang tua nya. Titik. Darah tidak lah berbicara di sini, Bila orang asing itu begitu tulus dengan kita, kenapa harus butuh darah daging baru saling mengakui ?
" Issa tidak suka mendengar kata asing Abah, Ambu." Ibell reflek beranjak memeluk tubuh Ambu nya. " Kalian adalah orang tua Issa juga."
" Terima kasih, Nak. Kamu memang anak kami. walau pun kamu bukan terlahir dari rahim Ambu, tapi pengorbanan mu untuk kami terlalu besar, Bukan hanya karena di nafkahi karena Abah sudah sakit sakitan, tapi karena kehadiran mu, hidup kami yang sepi bertahun tahun kini berwarna, apalagi kehadiran Vay, Benar kata Mertua mu, Nak. Kami ingin ikut dengan mu, Boleh kan kami merepotkan mu di sana ?"
Tentu boleh, bukan merepotkan, tapi Kesenangan bagi Ibell, legah sudah hati nya... Jujur, Ibell sudah mempunyai niatan untuk mengajak Abah Ambu nya agar ikut bersama bila mana kejadian ini terjadi, yakni di ajak ke kota oleh suaminya berikut Keluarga nya.
Lantas Ibell kembali menatap Yola yang air muka anggun itu masih sangat santai terlihat, Ibell jadi terpaku akan senyum tulus mertua nya.
" Mama memang hebat, tidak butuh di puji."
Sumpah ! Nata dan Ibell harus apa untuk membuang ke-narsis-an Yola. Siapa yang ingin memuji ? Belum saatnya, batin Nata karena ia belum seutuhnya menaklukan hati wanita nya.
" Mama kepedean amat." Cibir Ibell dengan nada lembut.
Anak mantu durhaka semua, untung sayang.
" Ibell hanya ingin minta satu hal sama Mama."
"Siap, katakan tuan putri !"
" Serius Ma !"
" Mama juga serius malah dua rius."
Untung mertua, kalau bukan, fix... Ibell ingin meruqiah mertua yang kelewat santai ini.
" Ibell bersedia ikut sama kalian ke kota, tapi syaratnya, Mama dan Papa tidak boleh menggusur rumah ini, tak apa nanti di sekelilingnya ada bangunan seperti cita cita Abah-Ambu, tapi please jangan di gusur, walau pun mereka tidak tinggal di sini nanti, tapi memories mereka banyak di sini, Ibell dan Vay pun sayang akan rumah ini, mengerti kan Ma maksud Ibell."
Abah-Ambu bersyukur dalam hati, Ibell paham sekali dengan keinginan mereka ini.
" Paham, tentu saja mama tidak tega menggurus rumah Abah-Ambu, kenangan itu harganya mahal, iya kan Ambu ?!" Lagi, Yola menyahut santai, tapi oh tapi....di dalam hatinya seperti ada warna kembang api yang indah berwarna warni di atas langit yang sudah terlepas.
Ambu mengangkat tangan nya, tanda iya setuju dengan Yola.
__ADS_1
Satu masalah beres.. Cek. Jumawa Yola