
Niat hati Nata ingin memblokir jalan Ibell, Namun Ter-urungkan, Alih alih memblokir malah mengikuti santai laju Ibell, Selain menghindari kemacetan jalan raya karena ulahnya nanti, Lebih baik ia terus mengikuti kemana tujuan istri nya itu ? di mana persembunyian Ibell yang apik tak terdeteksi oleh ante antenya selama ini. Ia penasaran. Dan cara ini lebih baik bukan ? Bertemu istri sekaligus melihat kehidupan istri nya selama tujuh tahun terakhir ini.
Astaga, Ibell mau kemana sih ?
Nata bermonolog sendiri, Hampir dua jam lebih kian berkendara namun tak urung sampai tujuan Ibell akan ke mana, ah..Tak sabar dirinya lagi menahan rindu yang menggebu-gebu, ia berniat untuk memblokir tapi se... Mobil Ibell tetiba berbelok masuk ke pelataran rumah sederhana, sangat sederhana di mata Nata.
Maaf kan aku, Ibell. Ini karena salah ku, kamu pasti merasakan kesusahan. Nata memegangi dadanya, ada rasa sedih yang merambat hati nya, selama tujuh tahun pasti istri nya merasakan kesusahan, ia yakin itu.
Assalamualaikum..
" Abah-Ambu."
Deg...
Vay anak ku ? Air mata Nata kini jatuh begitu saja melihat sosok mungil nan ceria bocah jelita yang kini telah di gendong oleh kakek tua dan di ciumi gemas oleh nenek berkerudung putih. Istrinya sendiri langsung masuk setelah mencium takzim ke dua sosok orang tua tersebut.
Kenapa baru hari ini ia menyandangi sekolahan Petir dan anak sepupu nya yang lain, Kenapa tidak dari jauh jauh hari. Astaga..tadi ia sudah mengelus sayang pipi anak nya, pantas saja ada rasa hangat yang di rasakan hati nya melihat sosok jelita itu, Ternyata darah dagingnya.
Tersadar dari hati berkecamuk nya, Nata turun dari mobil Biru yang di pinjam nya. Ia menghapus air mata nya sekejap dan melangkah ke teras rumah yang kini sudah sepi.
Tok tok tok
"Tunggu sekedap yaa..."
" Biar abah aja ya, Ambu. Ambu temani Neng Bule masuk kamar !"
Nata mendengar suara dua orang tua itu, berharap Ibell sendiri yang membuka pintu, Tapi tak apa lah...Toh hari ini ia akan pasti bertemu belahan jiwa nya. rindu nya yang setinggi gunung, seluas samudera nan sedalam lautan akan berjua kali ini.
Ceklek..
__ADS_1
" Siapa ya ?" Si Abah berpeci hitam ini menyerinyit menatap nya intens. " Cari siapa, Nak ?" Tanya si Abah. Nata tersenyum ramah, bagaimana pun ia harus menghormati bapak ini karena pasti sudah berjasa ke istri nya.
" Vay, Maksud saya, saya cari ibu nya Vay, sa-saya__"
" Guru nya Vay kah ?" Potong Abah menebak karena pria di hadapannya ini tergagap. Tidak mungkin orang berkarisma ini orang desa kan ? Lagian orang kampung tuh kalau memakai setelan jas seperti yang di gunakan orang tampan gagah ini, terlihat nya tuh terkesan aneh. Nilai si Abah.
Nata terdiam, tak apa di anggap guru kali ini. Yang penting ia di sambut baik terlebih dahulu.
" Maaf pak, silahkan masuk, ah...maaf nih, kursi seadanya doang."
Sejenak, Nata membuka sepatu nya, tak sopan masuk ke dalam memakai sepatu, masuk ke dalam ruang tamu yang sempit dengan dua kursi plastik dan satu meja kayu.
" Tak apa pak__"
" Abah ! Your call me, Abah. Your under__Under apa ya ?" Abah bertanya ke diri sendiri, ah...ia harus banyak belajar bahasa Inggris lagi dengan cucu nya-Vay, agar tidak lupa lagi, Mana tamu nya ini bule lagi. Untung tamu nya bisa BI dengan lancar.
" Understand, Your Understand !" Nata menjelaskan. Membuat Abah tercengir kuda seraya menggaruk tengkuknya.
"Ambuuuu, bikinin minum ya." Lanjut Teriak Abah.
Si Ambu yang di panggil keluar dari kamar. "Hust Abah, Si Neng Vay baru tidur kecapean."
Abah membekap mulutnya, reflek. dengan tersenyum dalam bekapan itu, Cucu nya sepulang dari kota memang jadwal tidur karena selain capek, si Vay pasti ngantuk berat, Bayangkan saja..Anak kecil di paksa bangun di jam 2 atau di jam 3 dini hari oleh Ibell untuk bekerja seraya menuju ke sekolah.
" Tidak usah repot-repot pak, Bu. Saya hanya butuh bertemu dengan Ibunda Vay, saya ada perlu."
Ambu pun berhenti, menatap Nata seperti Abah tadi saat pertama melihat pria indo ini.
" Neng Issa teh, Uda ke kebon lagi panen Timun buat ke kota nanti." Jelas si Ambu seraya menunjuk pintu belakang.
__ADS_1
Neng Issa ? Nama kamu itu sekarang Bell ? Apa tadi si ibu bilang ? Ke kebun panen Timun ? Astaga... Bahkan Ibell baru sampai beberapa menit tadi, Tapi dia langsung bekerja.
" Saya panggil aja ya, di tunggu." Timpal Abah, tak enak Membuat guru cucu nya menunggu yang kurang layak untuk orang gedongan.
Nata langsung berdiri dari duduknya. " Boleh saya sendiri yang ke sana, Seperti nya ngobrol seraya melihat lihat tumbuhan hijau menyegarkan mata." Ambigu Nata yang sebenarnya ia ingin bebas bertukar sapa ke Ibell yang pasti nanti berlangsung canggung.
" Ah, Silahkan pak guru, Bapak lewat pintu belakang saja, dari sini sampai sana milik sayuran Ibu nya Vay, Saya hanya membantu sekedap karena tubuh saya dan Ambu sudah renta."
Istri ku bertani hingga seluas lebih dari satu hektar, Aku minta maaf sayang.
Hati Nata perih seketika, Mana mungkin tangan sehalus milik istri nya bisa mengurus kebun sayur yang macam macam jenis ini. Derap langkah nya terus saja bergumam pilu dalam hati.
Lama berjalan dan berkeliling di bawah terik matahari sore sudah membuat nya berkeringat kegerahan, Bagaimana dengan Ibell selama ini bertahan hidup, Istri nya Kenapa Bodoh juga, Harus nya Ibell memakai kartu ATM yang selalu di transfer kan isi nya tiap bulan.
" Itu Ibell." Nata mendekat, dua langkah panjang di hadapannya ada Ibell culun yang asyik memetik Timun yang berjejer rapi bedengan nya. Sungguh luar biasa kerja keras Istri nya.
" Ibell !"
Ibell tertegun sesaat sebelum menoleh, Suara Bang Nata ? Gumam nya berbalik.
Deg..
Ibell terkejut dengan menjatuhkan keranjang yang berisi Timun. Kenapa mantan suaminya ada di hadapannya sekarang ? Dan kenapa Nata mengenali wajah culun nya.
" Anda siapa ? Apa Nyasar masuk ke kebun orang ?" Ibell terlihat santai berakting, suara nya sudah di samarkan sebeda mungkin dari suara asli nya.
" Jangan berakting Ibell. Abang tahu itu kamu, kaca mata, Gigi palsu serta penampilan hijab kamu tidak bisa menipuku."
Ibell mengangkat tangan nya, kode agar Nata jangan berani-berani menyentuh kulit nya barang sedikit pun apa lagi mau memeluk nya. Nata terpaku seketika di tempat melihat penolakan keras itu. Wajah Ibell sangat marah yang ia tangkap.
__ADS_1
Fine ! Ibell tidak akan berakting lagi, percuma juga mengelak, Nata sudah mengenali nya dan menemukan persembunyian nya, Mungkin ini saat nya untuk bertanya ke Nata... Apa salah Ibell hingga ia di ceraikan ? Itulah satu pertanyaan nya selama tujuh tahun ini yang sudah mendaging di tubuhnya saking penasarannya. Kalau ia mati di waktu berjuang melahirkan Vay di kala itu yang hampir mengambil nyawa nya, Maka sumpah demi Tuhan, Ia akan memohon ke Tuhan agar ia di boleh kan hidup sehari saja untuk menemui Nata dan menanyakan kesalahannya entah apa itu sampai suami yang teramat sangat ia cintai melebihi nyawa nya di waktu itu, rela mengambil surat cerai di saat ia dalam keadaan hamil muda.
Kenapa ?