Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Bab 208


__ADS_3

Vay dan Petir tidak membuang-buang waktu, mengambil kesempatan cepat setelah melumpuhkan satu Om Onta yang sudah pingsan ulah Petir yang menyerang pakai tendangan di saraf tertentu itu.


"' Ayo Vay, Kita cari Pelangi."


Mereka membuka satu persatu kamar, belum ketemu. Kamar terakhir yang pintu nya berwarna putih kini menjadi sasaran nya.


Ceklek...


Pintu terbuka, Mata mereka langsung di suguhi kondisi Pelangi yang di ikat dan di sumpel mulut nya dan di biarkan tergolek di lantai begitu saja, Guntur pun sama persis. terlihat mereka belum sadar.


" Kak Pe...Bangun !" Vay melepaskan tali itu sedikit susah. Guntur pun kini di lepas kan oleh Petir.


" Hei, Bangun ! Buruan !" Petir was was, di dalam kamar mandi ada suara gemercik air. Si Om Onta yang pingsan di lift sudah sadar rupanya.


" Bagaimana ini kak ? Kak Pe dan kak Guntur belum sadar juga." Vay kepanikan. Sejurus melihat ada minyak angin di nakas.


" Pakai ini, ini kayak nya bisa."


Petir mengangguk, dengan tergesa gesa menuang minyak aromaterapi itu ke hidung Pe dan ke hidung Guntur yang komposisi penggunaan nya tidak sewajarnya. Kebanyakan ! Biar cepat sadar pikir nya, takut takut si Om Onta keluar kan bahaya.


" Enghh.." Pelangi melenguh, Guntur pun sama yang rasa rasanya sekarang lubang hidung mereka terasa panas menyengat.


" Kak Pe, Ayo bangun.!"


Ingin sekali Vay mencak mencak karena ke-dua orang ini masih saja terlihat linglung.


Ceklek...


" Stupid kids !"


Tuh kan, Si Om Onta sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang itu.


Pelangi dan Guntur akhirnya sadar sepenuhnya saat mendengar sentakan.


"Let's play, guys !"


Ke empat nya mengangguk akan seruan santai Petir.


" Neng Bule, siapkan tali." Petir mengelak dari tendangan ragu ragu si Om Onta, takut merosot handuk nya. Nanti burung nya kabur lagi.


" Kak Pe, kak Gun ! Tangkap." Vay mentitah, melempar ujung tali ke Pelangi dan Guntur yang tadinya membantu Petir, mengeroyok si Onta dengan kemampuan keterbatasan bela diri masing-masing.


" Tunggu dulu !" Om Onta mengangkat tangannya, kode ke arah tiga bocah yang tadinya mengkroyoknya untuk berhenti sejenak. Handuk nya mau merosot..coeg !


Tentu saja bocah bocah konyol ini tidak peduli, Kesempatan kok di anggurin. Pelangi dan Guntur berdiri di beda sisi dengan tali merentang. Saling berputar beda arah hingga tali tersebut melilit tubuh si Om Onta yang tadi nya lagi membenarkan lilitan handuk.


" Hei, Sialan !!!" Umpat nya seraya ingin memberontak tenaga, tapi kedua pangkal tangan nya susah bergerak yang menempel ke tubuh nya gara gara tali yang melilit nya.


" Tarik Pe !" Ujar Guntur.


Pe menarik kuat ujung tali nya, begitu pun Guntur agar semakin kuat terkunci si Om Onta ini.


Petir lagi mencari barang yang keras tumpul untuk di jadikan alat pemukul, tapi susah. Vay yang tadinya menonton seru aksi laga lagaan di hadapannya, jadi gemas sendiri melihat kelemotan Petir. Ia pan punya sapu tangan dan di mobil si Om Onta tadi ia menemukan botol obat bius.


Di tuang nya Obat itu ke sapu tangan tersayang nya yang pink pink lucu, tak apa berkorban barang kesayangan nya yang penting selamat.

__ADS_1


" Buruan Petir, Pukul tengkuk nya, Bego !" Pe gemas gemas jengkel. Si Petir tak kunjung menemukan barang apapun.


" Sabar !"


"'Pakai nakas aja." Suruh Guntur.


" Berat bego, Nanti mati gue jadi pembunuh." Tolak Petir.


" Gue yang tangguh jawab, dia atau kita yang mati ?" Tenaga Guntur dan Pe sedikit terkuras akan perlawanan si Onta yang mencoba melepaskan kuncian dari tali yang melilit nya. si Onta juga ngoceh ngoceh dengan bahasa pribumi nya sendiri. Pe dan Guntur saling mengkode. ujung tali semakin di tarik nya kuat.


" Stupid !"


" Om yang stupid, bodoh...bego, dungu apalagi ya...?"


Sekonyong-konyong nya, Vay sudah bergantungan di punggung si Om Onta, hasil bantuan loncatan dari kasur ke tubuh tinggi si Om. Tangan mungil itu berpegangan kuat di leher si Om dan ke-dua jenjang kaki nya mengunci kedepan perut si Om agar tidak jatuh pikir nya, Si Om sudah kepayahan tercekik. mau menepis bocah nakal ini tapi apalah daya... Tangan nya terkunci tali yang semakin kuat aja tarikan dari ke-dua ujung tali itu yang berselisihan.


" Vay, Mau apa ?" Petir terpekik cemas, Begitu pun Guntur dan Pelangi yang mendadak gagu cemas akan ulah Vay yang mereka tidak paham mau apa si Neng Bule itu.


" Mau nyium Om Stupid !" Kekeh Vay bercanda. sejurus satu tangan nya yang memegang sapu tangan pink pink lucu nya yang sudah di kasih obat bius, bertengger di hidung bangir si Om, membekap hidung itu kuat kuat.


" Hahahaha, Rasain !" Pekik senang Vay, sejurus ia mau jatuh karena tubuh yang di bius nya mau lunglai. Sekonyong-konyong nya ia berada di atas tubuh Petir, Niat hati ingin menyelamatkan Vay dari jatuh itu, eh... tidak kuat, akhirnya mereka jatuh bersama dengan Vay menindihi perut Petir.


"Aaww... Turun Vay."


Pelangi dan Guntur sigap menarik Vay agar menjauh dari tubuh Petir yang memang sakit.


" Huu, begitu saja kesakitan." Ledek Vay. Sejurus dapat toyoran gemas dari Pelangi dan Guntur secara bergantian.


" Dasar, Kenapa tadi berbuat nekat dengan bergelantungan kayak monyet seperti tadi." Pelangi mengoceh dengan wajah masih terlihat khawatir ke Vay.


" Ayo kita pergi dari sini sebelum om Stupid satu nya datang lagi." Seruan Guntur menyadarkan.


Mereka pun keluar dari kamar.


Kruyuk !


Perut Vay keroncongan, tentu ia lapar. sedari siang lari lari sampai larut malam begini belum ngisi tenaga pun.


Bukan nya ke arah pintu utama, Vay berbelok ke arah dapur, kulkas sasarannya.


" Vay, mau apa lagi ?" Petir dan Pelangi kompak menarik Vay.


" Neng Bule manusia lho, lapar !" Keluh nya cemberut.


Guntur yang berjalan di depan ikut berhenti.


" Kita beli di jalan aja ya adek manis, di sini bahaya...aku tidak mau melibatkan kalian lebih dalam dari masalah ku, kalian tidak tahu apa apa jadi ku mohon ayo cepat pergi dari sini, takut takut bala bantuan mereka datang, mereka aslinya sadis sadis." Guntur menjelaskan terburu buru dengan mata itu terus mengawasi pintu utama, ia tidak mau di bawah ke negeri asal Daddy nya. Bahaya untuk nya !


Vay pun mengerti, berjalan cepat ke arah pintu dengan berada di tengah tengah Pelangi dan Petir yang menggenggam tangan nya. Mereka mementingkan keselamatan nya. Pikir Vay seraya tersenyum menatap hangat tangan Pelangi dan Petir secara bergantian.


Bip...


Sial, Guntur memberi instruksi untuk bersembunyi, di luaran sana kode unit sedang di tekan oleh seseorang.


Vay dan Pelangi bersembunyi di balik sofa. Guntur di dekat pintu yang akan terbuka, berikut Petir pun bersisian dengan Guntur, berniat untuk menyerang orang itu secara Kompak bila orang nya sudah terlihat.

__ADS_1


Jantung mereka berdegup kencang, mudah mudahan kali ini pun mereka bisa melumpuhkan lawan nya seperti dua orang yang sudah terkepar pingsan.


" Kak." Bisik Vay ke Pelangi seraya menunjuk pisau yang di lihat nya.


" Good !" Pelangi mengambil pisau tersebut, mana tau bisa jadi senjata nantinya.


Bip bip..


Kembali terdengar, rupa rupa nya orang di luaran sana kesusahan memencet tombol, Lebih tepat nya di tolak terus.


Kembali, Vay berbuat seenak wudel...ia bangkit dari persembunyiannya, ia baru sadar kalau password unit sudah di ganti nya tadi sebelum ia dan Petir di serang oleh Om Onta yang sekarang terikat di pojok sana.


" Vay, sembunyi." Pelangi di buat Kesal.


" Gue gibeng lo, Vay." Gemas Petir pun dari suara kesal tertahan nya.


" Adek manis, Jangan main main !" Guntur pun di buat speechless.


" Apa sih, Om itu tidak akan bisa masuk, kan Vay sudah merubah password nya, aman lah sesaat." Vay berdecak pinggang seraya menjelaskan kan santai.


" Huu, Lo ya ! Kenapa baru bilang." Vay kembali di toyor oleh Pelangi membuat anak Nata itu cemberut kesal.


" Jadi bagaimana ?" Bingung Petir.


Semua nya mengedipkan bahu, Mau keluar ada orang jahat di luaran sana, di dalam sini.... takut juga, ada dua orang jahat walaupun sudah terikat, tapi kan bisa saja terlepas.


Ting dong.


Mereka kompak melirik pintu saat bell itu berbunyi minta di buka.


" Kita hadapi !" Ujar Petir, itulah jalan salah satunya agar bisa keluar dari ruangan terkurung ini.


" Pakai otak ya !" Imbuh Pelangi, Guntur tersenyum ke arah wajah Pelangi yang berantakan tapi terkesan cantik teduh... ternyata ke-tiga orang di hadapannya orang baik, kompak punya !


Petir pun membuat Plan... Membagi bagi tugas.


" Vay kok nggak dapat." Protes Vay, Petir curang, Batin nya... masa hanya di suruh sembunyi saja dari awal plan sampai akhir... Petir hanya menyuruh nya lari saja kalau ada kesempatan. kan nggak seru game nya. Sementara kak Pe dan kak Guntur nya dapat perang aktif.


" Kamu itu masih kecil, tenaga mu nggak ada, ayo coba bilang ke kak Pe, Pernah belajar bela diri nggak di desa ?"


Vay menggeleng geleng akan kesarkasan Pelangi.


" Itu tau !"


" Tapi Vay punya jurus termehek-mehek."


" Apa tuh__"


Ting dong... Ting dong.. !


Pertanyaan penasaran Petir akan kemampuan termehek-mehek Vay, terhenti...di luaran sana semakin menggebu-gebu memencet tombol bel.


Guntur dan Pelangi siap dari posisi masing-masing, Petir pun sama. kembali melototin Vay yang hanya berdiri santai tidak mau sembunyi.


" IYA IYA IYA, VAY SEMBUNYI NIH. TAPI TUNGGU DULU, VAY MAU NGAMBIL ROTI ITU, LAPAR !!!" Ketus Vay menyomot empat roti lalu bersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2