
Nata dan Ibell sudah berada di kamar mereka, baru pulang dari rumah sakit beberapa menit yang lalu, Ibell duduk di ranjang dan Nata masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan kepalanya, Ibell sendiri sibuk dengan gawai nya.
Ceklek..
" Kamu nggak mandi, Bell. Mandi gih biar segar." Nata keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk doang, tetesan air kecil dari rambut basah nya masih terlihat.
Ibell mencuri pandang sekilas akan penampilan rupawan mendebarkan itu, keringat segede ketumbar keluar dari pori-pori dahi nya.
" Ini mau mandi." Jawab Ibell beranjak dari kasur. Kaki nya tiba tiba terkunci saat Nata dengan santai menjatuhkan handuk lilitan nya dan memakai sempa* berwarna abu abu tak tahu malu. Kaki dan otak nya tidak sinkron. Kaki nya terkunci berkata... udah, lihat dan nikmati aja. Tapi otak nya berkata untuk segera kabur. Namun kaki nya lah yang menang dan memindai pemandangan yang sempat membuat nya pingsan.
Aneh..Tadi besar gilaaa, sekarang kecil sangat, seperti hidung gurita di Spongebob Squarepants itu... Siapa nama nya ? Squidward, ya.. mirip, hidung nya mirip sama anu nya, Nata.
" Apa lihat lihat, Jangan berpikir untuk mencoba sekarang, pending dulu, takut takut kamu masuk rumah sakit lagi." Ledek Nata menyadari mata Ibell memperhatikan Beno nya.
" Cih, kagak doyan." Ibell masuk ke kamar mandi, ngeberit nunduk, Pintu kamar mandi yang masih tertutup ia tabrak dan menimbulkan aww di jidatnya.
Hahahaha " Huu...awas saja nanti akhirnya bucin sama Beno gue." Balas Nata sedikit berteriak agar Ibell mendengar nya. Baju santai sudah rapih membalut tubuhnya, naik ke ranjang..ia butuh istirahat di sore hari begini, Mana tahu nanti malam Beno dapat jatah sampai pagi. Rejeki kan kagak tahu, iya nggak Beno. Nata tersenyum geli terngiang-ngiang akan tubuh Ibell yang ujungnya pingsan. Astaga.Batinnya.
Dua puluh menit Ibell baru keluar dari kamar mandi, ia sudah rapih dengan baju nya sedari dalam. Mata nya terkunci di punggung Nata yang bernafas teratur.
Bagus deh sudah tidur. Batin nya lega. seenggaknya ia juga beristirahat tanpa di goda mesum oleh Nata, Namun baru ia ingin merebahkan tubuhnya di pinggir Nata, Gawai nya berdering mengganggu nya, Mama Mita ? Ibell langsung merespon nya. takut ganggu, Ibell berjalan ke luar mencari tempat nyaman agar tidak menggagu Nata yang beristirahat.
" Halo, assalamualaikum, Ma !"
"Waalaikum salam, ah.. pengantin baru sombong ya, tidak ada kabar sama sekali mentang-mentang Uda jadi mantu orang kaya."
"Bukan gitu ma, ini Ibell baru pulang dari rumah sakit, lagi tidak enak badan"
" Oh, Gitu ! Kirain lagi bulan madu, Bagaimana..uda dapat uang bulanan dari Nata, berapa ? banyak ya..Lima puluh juta pasti cuma sekedar dapur saja, pasti salon, Mall dan lain sebagainya beda lagi uang nya.. secara anak konglomerat yang kamu taklukan dengan wajah polos mu, Ingat Bell..Kamu besar hasil tangan Mama walau pun bukan mama orang tua kandung kamu, tapi tetap saja harus balas budi, Papa mu...Mama yang mengurus nya di sini, jadi kamu wajib memberi separuh uang belanjaan mu ke mama, hallo, dengar nggak Bell ?"
" Dengar." Singkat Ibell terdengar menahan sesak di dadanya.
"'Mama butuh uang untuk bayar cicilan rentenir, papa mu lagi tidak enak badan, kudu ke dokter, listrik belum bayar dan tagihan lain juga numpuk, gaji Dian sudah habis ini itu, Andra juga sekarang nganggur karena kamu tidak mau sama Alvin barang satu malam pun, jadi kamu harus menanggung beban kami. Dengar tidak ?"
__ADS_1
" De-dengar."
" Jangan dengar dengar saja, Ingat jangan sampai lupa, kalau bisa jangan di transfer, langsung ke rumah saja. Mama menunggu mu."
Tut.
Tatapan Ibell nanar menatap gawai nya yang mati tiba-tiba tanpa salam, Bahu nya melorot lemas, mendapat teror, mana ada ia uang sebanyak itu untuk menanggung beban keluarga nya yang melebihi kemampuannya, Ia tahu mama nya matre, tapi ia juga masih sayang kepada papa nya yang ujung ujungnya akan di maki oleh Mama tiri nya kalau kerja nya tidak becus. Ia resah, gelisah dan pening sendiri, tidak mungkin ia meminta uang begitu saja kepada suaminya yang sama sekali belum berhak... Belum berhak ? Ya..ia baru menjadi status istri saja, ia belum menjalankan ibadah nya seorang istri yang sempurna.
"Ehem...Kamu kenapa menangis ?"
Ibell segera tersenyum tipis seraya mengusap air matanya yang tak sadar menetes, Bang Nata dengar tidak ya ? Batin nya."Oh, ini cuma kelilipan, kok uda bangun ? Bukan nya tadi ti--"
"Aku lapar, jadi terganggu, Boleh minta di bikinin makanan ?"
"Tentu, Mau apa ?"
"Apa aja yang penting enak di makan, mungkin makan kamu pun enak." Nata menoel pipi Ibell yang habis menangis, ia tidak percaya kalau istri nya hanya kelilipan saja.
Kepergian Ibell, Nata mengotak atik gawai Istri nya, ia yakin pasti Ibell menangis karena sesuatu, bukan karena kelilipan alasan saja.
Di lihat nya pesan dan chat chat lainnya, tidak ada yang istimewa, Ia membuka panggilan terakhir, Tertulis nama Mama Mita di sana yang masih berlewat lima menit lalu.
Oh, mungkin dari mama nya, Tapi Ibell dapat omongan apa ya ? Nata segera menaruh gawai itu lagi di tempat nya semula, Masuk ke kamar kembali.
Ceklek..
" Bang, ini makanannya, mau di sini apa di meja makan ?" Ibell membawa spaghetti bolognese dan segelas air putih untuk Nata.
" Di sini saja." Sambut Nata penuh suka, wangi suas daging cincang dengan taburan bawang banyak membuat perut nya semakin krucuk krucuk. Di lahap nya makanan itu di hadapan Ibell yang sedari tadi menatap nya tak berkedip, dan sesekali tersenyum manis.
Bagus deh kalau suka. Batin Ibell yang belum tahu semua apa favorit makanan Nata.
" Ibell, tolong ambilkan dompet saya di dalam laci."
__ADS_1
Ibell menurut.
" Ini Bang !"
" Buka saja, Aku masih menikmati makanan buatan mu."
Ibell membuka nya, melihat kartu identitas dan kartu nama serta banyak kartu kredit beberapa warna. Ibell sampai speechless, Berapa banyak isi nya. Batin nya.
" Sudah Ibell buka, Terus ?"
" Ambil saja satu kartu kredit di sana, buat keperluan kamu sebagai istri ku, terserah buat apa."
" Tapi, Ibell__Belum berhak." Ibell ragu.
"'Saat kata sah sudah berkumandang di tarikan nafas sakral ku, Semua nya sudah berhak, milik ku adalah milik mu juga."
Melihat Ibell tidak bergeming, Nata menarik satu kartu ATM asal asalan dan menaruh nya di telapak tangan Ibell yang diam saja, bak patung.
" Ini buat kamu, entah isi nya berapa, cek sendiri saja ya." Ujar nya, sebagai suami, ia pengertian...Mana tahu istri nya butuh sesuatu.
" Tapi, apa boleh, Ibell membantu keluarga Ibell menggunakan ATM ini ?" Izin nya seraya meraih kartu itu di tengah tengah jari Nata, bagaimana pun, uang itu adalah milik suaminya, ia butuh ijin sebelum menggunakan nya.
"Eum, sangat boleh, terserah kamu saja, yang penting menurut kamu baik, maka lakukan." Nata memberikan bekas piring nya ke Ibell, meminta tolong untuk menaruh nya di dapur. " Makanan nya enak, Abang suka." Puji nya tulus.
Ibell tersenyum manis nan geli, Nata blepotan saos spaghetti di sudut bibir itu, di raih nya tissue di atas meja rias dan beranjak mengusap bibir suami nya.
"Harus pakai bibir." Nata mulai menggoda, jahil. menahan tangan Ibell yang menjulur ke bibir dengan sebuah tissue.
Seketika Ibell di buat gugup, apakah saat nya melihat Beno lagi ? Ah...ia jadi malu.
" Bang, awas...Nanti piring nya jatuh karena Ibell gemetaran." Jujur Ibell. Nata tersenyum tipis melihat tangan Ibell benar adanya gemetaran membiarkan Ibell beranjak ke dapur menaruh piring, ia akan menunggu kesediaan istri nya.
Sabar ya Beno, Bentar atau lambat, Eni akan kamu garap dengan suka rela sang Empu Eni.
__ADS_1