
Nata menurunkan beban Vay dari gendongannya saat masuk ke rumah lewat pintu belakang, dan berjalan duluan di depan. Anak kecil itu pun spontan menggenggam tangan Ibell di belakang Ayahnya, meminta di tuntun ingin ikut melihat siapa tamu tersebut.
Namun, Ruang tamu sepi, Tidak ada orang satu pun, Akhirnya ke-tiga pasang kaki ini melangkah ke keluar teras, ada Abah Ambu yang sudah berdiri bingung di teras.
" Mobil siapa sih Neng Issa, di tunggu tunggu sang empunya nggak turun turun, apa ******* kah ? Abah mau ngambil celurit kalau begitu."
Hust.. Lerai Ambu ke suami nya, bicara selalu saja di buat enteng, tapi kali ini Abah bercandanya ngeri pakai nama *******.
Ibell hanya menggeleng tanda tidak mengenali mobil hitam berkilap keluaran baru menyilaukan mata itu.
Nata sebenar nya mengenali mobil itu dari plat nomor khusus Abraham, tentu saja orang tuanya, tapi ia hanya diam saja tak niat membuka kan, karena pasti dapat semprotan, Ia melupakan orang tuanya, tidak memberi kabar sedikit pun akan penemuan persembunyian Ibell. Pasti Mama Papa nya kesal kepada nya, sudah di tebak nya.
Di atas mobil, Yola yang melihat tampang anak nya tak ingin menjemput nya, berdecak kesal. Awas kamu anak gendeng, kalau bukan Mentari yang tidak bercerita, ia dan Kemal tidak tahu menahu Ibell dan cucu nya sudah di temukan.
" Wajah anak mu, Mas. Minta di tabok sumpah, giliran sudah menemukan pawang nya, mau senang sendiri tidak mau berbagi." Dengus Yola ke Kemal yang sama saja ingin menjewer telinga anak nya. mereka kan ingin temu kangen ke Ibell, paling istimewa ke cucu nya juga, yang kata Mentari, cucu mereka itu sangat cantik jelita.
" Jangan marah marah ya wild, kamu sudah tua, Nanti tensi darah mu naik lagi." Kemal meringis Seketika dapat cubitan keras Yola yang tidak terima di katain tua, Lah... masih anggun begini di bilang tua.
" Tua ? Lo aja, Gue nggak !"
Tidak ingat umur...
Kemal tersenyum senang, akhirnya ia mendengar lagi suara kesarkasan istirnya yang selama ini pun menerima dampak akan ke pergian Ibell yang membawa calon cucu mereka pergi, Selama tujuh tahun ini, Wild kesayangan nya itu terlihat murung dan tetiba menjadi pendiam, Bukan Yola si wild yang ia kenal. tapi lihat lah sekarang.. istrinya sangat berbinar.
Di mobil satunya, ada gerombolan delapan bocah-bocah yang memaksa ikut saat mengetahui Yola dan Kemal akan menemui Vay di desa, Mereka kan libur sekolah, butuh refreshing dong. Masa di rumah terus, kan mereka kompak sudah di hukum masing masing oleh orang tua.
" Kenapa nggak turun turun sih, Ama mau ke Vay, Lihat lah.. sekeliling rumah Vay, banyak tumbuhan, pasti sejuk deh." Ama tak sabaran. di tahan seketika tangan Angkasa.
" Diam lo, Ndut. Nanti Oma Yola marah, kan Oma berkata untuk selalu di belakang. Oma nggak turun ya kita pun harus__"
__ADS_1
" Eeeeh."
Petir mana peduli dengan larangan si five kembar, ia ingin menjahili Vay secepatnya, tiada hari tanpa menjahili Vay itu hampa.
Akhirnya mereka semua turun satu persatu dari mobil, Yola dan Kemal pun sama, meninggalkan masing masing sopir.
Mama, Papa. Ibell tertegun melihat Mertua nya yang berjalan menghampiri teras dengan tatapan Yola susah di tebak.
Pasti di marahin. Batin Ibell siap mau di apakan oleh Yola.
Delapan bocah-bocah ini tersenyum berjamaah ke arah Vay yang saat ini berdiri dan di genggam erat oleh Abah, si Abah tak sadar menggenggam erat tangan Vay, padahal anak Ibell ini ingin menghampiri teman teman nya yang berdiri di belakang dua orang tua yang penampilan nya sangat bagus di mata Vay. Seperti orang kaya. Tebak Vay yang belum tahu seperti apa latar belakang keluarga besar nya.
" Ibell, apa hanya mau tertegun saja ? Apa sudah melupakan Mama hah ?" Suara boleh saja keras ketus, Tapi lihat lah tangan Yola yang merentang berjalan ke arah Ibell seraya mata amber Yola sudah memanas, ingin menangis Karena rasa rindu untuk Ibell kini sudah terbendung, tapi malu ding, banyak bocah bocah yang memohon ikut kompak bersama nya.
Ah... Tadi nya yang merengek itu si Pe seorang. Ok..cuma satu bocah ini..eh...tau taunya Tujuh bocah keluar dari persembunyiannya, Yola sempat kesal sebelum berangkat, tadi.
Tahan. Ibell tertahan lagi. Yola tetiba menurunkan tangannya, Ini bukan Istri anak nya yang cantik alami, tapi si buruk rupa, pintar juga mantu nya mengelabui seluruh ante antenya dengan wajah culun itu.
" Ma__"
" Apa ini ? ini juga apa ? Mata mama jadi sakit ah.. Lepas atau Mama akan pergi lagi." Ancam Yola bercanda, tapi sungguh... mata penikmat keindahan Yola tercemar akan ulah Ibell.
Ibell pun menurut melepaskan kacamata dan gigi tonggos nya membuat mulut delapan bocah-bocah itu terbuka, Lah... Wajah Bunda Vay ternyata cantik, Si Triplets dan Petir sebenarnya pernah melihat tapi masih samar karena mereka di waktu itu masih kicik.
" Ma, Maaf kan Ibell." Lirih Ibell yang saat ini sudah berpelukan haru ke mertua nya.
Yola tidak menjawab, bukan karena tidak mau memaafkan, toh... bukan salah menantu nya hingga pergi begitu lama, tapi salah anak nya, Cuma masalah nya, kalau ia bersuara maka air mata nya akan menetes seiring suara bergetar nya.
Hiks... Tuh kan, belum bersuara pun air mata Yola sudah tumpah haru, akhirnya sebentar lagi keluarga nya akan utuh.
__ADS_1
" Mama yang harus minta maaf, Ibell__"
" Sudah, Ma. Jangan di terus kan." Ibell tidak ingin mendengar suara sedih Yola, apalagi mertua nya harus meminta maaf kepadanya yang memang ke-dua Mertuanya tidak ada salahnya. Mereka pelukan tanpa suara lagi melepas kan rindu masing masing.
Saking hanyut nya melihat adegan haru Ibell dan Yola. Mereka pada tidak ada yang menyadari kalau Vay dan ke delapan bocah-bocah sudah tidak ada di tempat, Vay kan tidak kenal orang yang di peluk Bunda nya, jadi anak kecil tidak boleh kepo dong.. Mending ajak teman-teman nya berkeliling kampung nya yang asri nan damai sejuk. Kapan lagi kan bermain ramai ramai begini.
Lepas rindu ke Yola sudah, Kini Ibell menghampiri papa Mertua nya.
" Sudah, tidak ada adegan pelukan." Lerai Nata seketika saat Papa nya ingin peluk rindu ke Ibell.
" Kamu !" Yola menunjuk galak ke Nata, Dan Ibell serta Kemal tentu saja tidak memperdulikan Nata yang tidak setuju mereka berpeluk rindu, Kemal malah sengaja mengusap usap sayang Kepala mantun nya, menggoda Nata yang terlihat tidak terima. Masa papa sendiri di cemburuin, nih... rasakan ke sengajaan Papa. Kemal tersenyum mengejek ke Nata yang saat ini di semprot oleh Yola. Tapi seketika Yola terdiam, ia melupakan hal penting. Cucu ku mana ? Mana wajah cantik jelita itu ? Yola baru sadar.
" Ibell, cucu mama di mana ?"
" Itu__" Nata dan Ibell kompak menunjuk ke arah Abah. Lah...Mana si Anevay ?
" Masa cucu kami sudah tua__ Hmpppt !" Kemal segera membekap mulut Yola karena meledek orang tua yang sedari tadi tidak bersuara. " Heheheh, maaf, keceplosan." Cengir Yola tidak enak hati, tapi kedua orang tua ini malah ikut tertawa lucu.
" Tidak masalah ! Saya memang sudah tua." Santai Abah tersenyum ramah. di balas senyum manis Yola.
" Bah, Vay ke mana ?" Lagi, Ibell dan Nata kompak bertanya.
" Entah, padahal tadi Vay di genggam abah loh, tapi malah tangan Ambu yang Abah genggam sekarang." Abah spontan mengangkat tangan istri nya yang masih di pegang dengan saling lirik bingung. lah... bocah itu kapan pergi nya.
" Wah..Cucu cucu, Bang Chris, Bang Radja serta cucu cucu Titan meresahkan ya, tahu mau ngerecokin tidak Mama bawa ke mari."
Yola yang tersadar akan delapan bocah-bocah yang di bawah nya tidak ada di barisan belakang, sudah menebak kalau mereka membawa cucu nya untuk bermain.
" Paling Vay ngebawa teman teman nya ke kebun teh atau ke sekitarnya, Nanti juga balik, ah... lupa, Ayo masuk Pak, Ibu, silahkan." Ambu sampai lupa menyambut baik tamu nya karena memikirkan nasib nya nanti yang sebentar lagi ia dan Abah berpisah oleh Ibell dan Vay. Kesepian lagi.
__ADS_1