
Dokter menyarankan Yola untuk di rawat inap di rumah sakit, Ia diagnosa stress ringan namun bisa ngefek untuk pertumbuhan janinnya, Jadi bad rest beberapa hari mungkin bisa mengobati fisik dan psikis nya.
" Fi, Lo nggak kenapa kenapa kan ? Tadi bukan nya Lo pingsan, ini sudah segar bugar aja Lo, malah sekarang nyuapin gue bubur ?"
Walaupun malas makan, Yola tetap memaksakan dirinya untuk mangap saja yang sekarang ini memang di suapin oleh Fifi, Para suami mereka berada di kantor polisi saat ini untuk di mintai keterangan atas kasus Om Lexi.
" Gue kagak pingsan kok, cuma kedinginan doang dan terpejam lemas, di beri kehangatan satu ronde sama Abang Lo, Anget sudah." Satu suapan bubur masuk sendiri ke mulut nya, Menunggu Yola yang menghabiskan, pasti dua jam baru habis, dari pada keburu dingin, Fifi ngebantuin saja menghabiskan tuh bubur, Sayang kalau mubasir kan ?
Ck, Yola berdecak lidah.... Sahabat dan Abangnya tak kalah mesum nya, Setelah ketegangan, masih bisa bekerja ehem ehem. Enak sekali obat nya, sementara ia nya kudu tiduran di brankar dengan cairan infus masuk ke dalam tubuh.
"Yol, Gue kagak nyangka deh, Bokap Danver segitu jahatnya. Ngeri Gue___"
Fifi terdiam, saat menyadari ada Danver di ambang pintu yang mungkin mendengar perkataannya mengenai Papanya. Dan Yola yang juga baru menyadari ada teman-sahabat-sekaligus pelindung masa kecilnya tiba, segera duduk tegak di atas brankar.
" Maaf !" Hanya itu yang bisa Danver katakan saat ini ke Fifi apa lagi ke Yola, ia tidak sanggup menatap mata Yola yang mungkin saat ini marah kepadanya karena kesalahan papa nya yang tidak bisa di toleransi lagi.
" Hey jagoan, malaikat Abal abal gue...Sini." Yola tersenyum lembut, merentangkan kedua tangannya, kode Danver untuk mendekat memeluk nya. Namun Danver tak bergeming.
" Gue nggak pantas Yol, Maaf ! Hanya kata sederhana itu lah yang bisa saat ini gue katakan yang memang nggak pantas untuk di maafkan." Danver sungguh tak enak hati, sebenarnya sedari tadi ia berada di luar ruangan, Namun ia baru berani masuk, Biarkan Yola dan Eldath melampiaskan kesalahan Papa nya terhadap dirinya asalkan bisa membuat Eldath terutama Yola mau menerima diri nya seperti sedia kala nya sebagai sepupu walau pun tanpa darah.
" Sedetik setelah gue berucap kali ini.. Tapi kalau masih berdiri di situ, Gue nggak akan mau ngelihat wajah Lo...Jadi mendekat sekarang juga Ve." Ancam Yola. Fifi beranjak menggeser posisi nya memberi ruang untuk Danver yang seketika menurut karena ancaman Yola.
" Lihat gue Ve, Lo mah kalau dalam mood jelek begini seperti pemulung jelek yang mencari paku karatan di bawah sana." Canda Yola tersenyum jahil, masih dengan tangan ia rentangkan untuk Danver memeluknya.
" Yol, Maaf !" Dalam dekapan itu, Danver tersenyum teduh, Yola tidak marah kepadanya.
" Apa sih Ve, ini bukan idul Fitri yang terus berucap maaf, Memang nya salah Lo apa ke Gue, Papa Lo yang salah bukan Lo, Kita masih saudara kan ? Lo nggak marah ke kami kalau hukuman menanti Papa Lo kan, Ve ?"
Danver menggeleng di dekapan itu, menarik kepalanya yang di peluk erat oleh Yola. " Lakukan lah sesuai pasal nya." Ikhlas nya. " Fi, Gue juga minta maaf ke Lo atas kesalahan bokap gue."
__ADS_1
Fifi mengangguk dan tersenyum tipis. " Tapi peluk juga ya !" Pintanya, bersyarat. Danver menaikkan satu alisnya, Tante cantik ini masih saja ngebet padahal sudah bersuami, suaminya Eldath lagi yang terkenal kejam nya di antara mereka. Batinnya.
" Ehem, Ingat Fi..Lo udah jadi bini orang, Jangan mulai deh modus modusan nya, Di cambuk Bang El, Nyaho Lo !" Yola menakuti Fifi dengan pergerakan gorok kan lehernya.
" Elaah, adik ipar.. jangan ngadu lah, Lo aja sudah punya suami tapi masih saja pecinta Machones sejati, Gue pun sama lah.. ibarat kata ya... Satu di atas, satu di bawah..Satu di sini, satu di sana..."
Yola dan Danver tersenyum hibur melihat mimik Fifi saat berucap sini sana atas bawah.. gaya nya itu sengaja di buat buat lucu, Bukan nya lucu...eh Fifi nya menelan ludahnya, saat menunjuk kata sana... Ada Eldath yang sudah bersedekap dada menatap Fifi tanpa ekspresi, Datar tembok. Yola dan Danver semakin tersenyum geli melihat Fifi menatap nya seakan-akan bertanya.. Sejak kapan suami gue ada di belakang ? Namun keduanya hanya mengedipkan bahu. urus sendiri Madelfie ! Balas tatapan Yola.
" Eh Abang ganteng, Seperti malaikat pencabut nyawa aja, tanpa angin tanpa ujan, udah di mari aja, Mau ngopi Bang ? Kita ngopi yuk !" Rayu Fifi mesra, mengelus elus dada Eldath agar tidak marah dengan ucapan unfaedah nya tadi.
Eldath masih diam, Danver dan Yola pun sama.
" Kok diam bak patung Pancoran sih, Ngopi bang, Ngopi ! Nanti Fifi beliin rokoknya deh sebagai soulmate kopi nya." Rayu Fifi kembali, mengimingi Eldath seperti anak kecil. " Mau rokok apa Bang ? Dari harga tujuh ribu, sampai harga termahal...Fifi beliin deh."
Hahahaha... Yola tidak kuat menahan senyumnya melihat cara rayuan Fifi. "rokok tujuh ribuan Lo tawarin ke Bang El, Fi ? Astaga..yang lebih murah ada nggak ?"
" Ada mungkin ? biarin Yol... rokok nya di kasih nya yang murah agar batuk batuk... Terus kapok kagak ngerokok lagi deh..iya nggak bang ?" Etdaaaah, Gue salah ucap lagi... Lihatlah ekspresi Eldath semakin masam coeg.
" Ngirit Bang, biar semakin tajir." Fifi tercengir bodoh. dan Eldath tak menghiraukan nya lagi, Lebih memilih menatap Danver.
" Ve, Abang mau bicara, kita nyari tempat sepi saja."
Danver mengangguk dan mengekor Eldath yang ingin beranjak ke keluar.
" Bang El, Ve.. jangan berkelahi cuma memperebutkan Fifi ya Bang, Fifi setia kok ke Abang, benar deh..pakai suer !" Fifi salah paham, ia pikir Eldath marah dengan awal candaannya yang sana sini atas bawah.
" Abang bukan anak remaja memperebutkan wanita Dek, ini tentang Om Laxi." Jelas Eldath sebelum di telan pintu.
" Kirain !" Gumam Fifi legah.
__ADS_1
" Fi..Hahaha." Yola masih saja geli, menertawakan Fifi.
" Diam Lo adik ipar kumpret, udah ah..dari pada di ketawain, mending gue ke kantin rumah sakit saja, nyari makan..buburnya sudah dingin. Bye.."
" Yaak, Fi...Gue sendiri Ogeb, nanti gue di culik pria machones ogah bagi bagi sana sini atas bawah ke Lo." Ledek Yola.
" Ambil buat Lo semuanya, Abang Lo serem..kagak bisa di ajak bercanda, pantas saja urat kakunya semakin nonjol, kagak mau tersenyum sih." Fifi menjawab tanpa menoleh kebelakang.
Yola tersenyum sendiri. " Aslinya dia penyayang Fi, Lo nanti akan terbiasa, Saking penyayang nya... Semuanya pun dia akan berikan ke Lo." Yola bergumam sendiri dengan senyum manis nya mengingat perjuangan Eldath membesarkan nya sebagai kakak, ibu sekaligus Ayah untuk nya.
" Kenapa Istri wild Mas senyum senyum sendiri, Mikirin apa hayo ? "
Saking banyaknya mengenang jasa Eldath di hidup nya, Yola bahkan tidak tahu sudah ada mas Suami yang masuk ke ruangan dengan buah tangan penuh di tangan, menaruh di atas meja dan beranjak mencium dahinya.
Yola semakin tersenyum manis, tanggung jawab Eldath sekarang sudah pindah serah tangan ke Kemal, Semoga mas Suaminya sesabar dan sebaik Eldath mengurus segala tingkah somplak nya serta tingkah keras kepala nya. Dan Semoga, Hari ini dan seterusnya sampai maut, Cinta mas suami nya tidak akan lekang di makan waktu. Amin.
"Mikirin naik kuda ku duduk di muka ya sayang ?" Bisik Kemal mesum. Yola tertawa. Hati nya lagi senang saat ini, Sikap nyeleneh Suaminya dan sikapnya sebelas dua belas nya yang sama membuat nya berpikir. Kalau mereka mempunyai sifat mesum mendarah ? Apa kabar dengan calon anak nya nanti ? Semoga jadi ustadz aja deh.
" Siapa yang mikirin gituan, Mas ? Yola mah nggak, Justru Yola malah ingin praktekin, Gimana dong Mas." Goda Yola iseng.
" Duh, Mas kok ngerasa besok itu lama banget ya." Keluh Kemal berpura pura lesu. " Tapi di DP-in dulu bisa kok, Dek !"
Kemal memajukan wajahnya, meluma* bibir Yola ganas. Urat mesum nya ini memang pantang di senggol. Kalau sudah kena, bakalan susah untuk di jinakkin. ini Istri wild nya malah menyenggol mancing mancing lagi. Yaah.. langsung panas lah.
Dan mereka masih saja berpangutan mesra sampai suara ceklek pintu terbuka dan tertutup pun mereka tidak sadari kalau ada Eldath yang masuk.
" Bagaimana adek gue mau cepat sembuh ? kalau Kelakuan ****** Lo kagak tahu di tempat, di rumah sakit aja Lo nyerang adek Gue"
Yola dan Kemal buru buru melepaskan pangutan nya. Sial..ada Eldath. Umpat Kemal dalam hati.
__ADS_1
" Ah Lo bro, Lo nggak ngerasa hina diri sendiri bro ? Sesama ****** itu minimal saling menutupi bau lah, Buruk rupa malah cermin yang di belah. Bukannya cara Lo lebih ekstrim menyadarkan Fifi yang kedinginan ? Di atas mobil lagi !" Santai Kemal menyahut.
Yola yang rasa rasanya ada pantun pedas yang akan terus-menerus berbalas, hanya bernafas pasrah...Mas suami dan Abang nya ini baikan nya tidak permanen, Seperti bunglon saja berubah ubah... kadang akur... kadang cekcok seperti saat ini yang masih saja beragumen sindir sindiran. Nasib..Nasib ! Ah.. Bodoh lah, Yang penting masih kagak senggol bacok saja. Cuek nya berbaring dan menutup matanya, istrihat... biarkan pengantar tidur nya suara suara sindiran kedua pria tersayang nya.