
" Ada apa kamu menyuruh ku ke sini, Dian ? Apa kamu sudah berhasil membuat Nata dan Ibell retak ?"
Dian menggeleng lemah, sebenarnya kepala nya masih sangat berat, tapi ia paksakan kabur dari rumah sakit untuk berkelit dari tekanan pertanyaan Mita dan Andra yang selalu mendesaknya untuk mengatakan siapa biologis dari anak di kandungan nya, dan di sini lah diri nya..Di apartemen milik Alvin yang di pinjamkan oleh laki laki di hadapannya yang menatap nya dengan dahi mengkerut.
" Terus, apa butuh sesuatu ?" Lanjut Alvin seraya menghempaskan pinggulnya ke sofa.
Dian pun ikut duduk di sisi Alvin, memberanikan dirinya untuk menarik tangan Alvin dan menaruh nya di perut rata nya. Ya..Nata dan Ibell tidak bisa di bohongin, Maka sasaran empuk nya sekarang Alvin, walau pun Dian yakini kalau di dalam perut nya bukan lah anak Alvin tapi tukang kurir sialan itu- laki laki yang satu satunya berhubungan intim dengan nya tanpa pakai pengaman karena obat perangsan* sudah menjalar ke tubuh nya yang sebenarnya umpan nya adalah Nata.
"Apa maksudnya ini ?" Alvin menarik tangannya dari perut Dian.
" Aku hamil, anak kamu Alvin !"
"No no no, Gila kamu hah ?" Wajah Alvin nampak terkejut dan tidak terima.
"Tapi kita perna melakukan nya, kamu lupa ? Justru berulang kali." Sebisa mungkin Dian terus mendesak Alvin agar mau bertanggung jawab, ia memang sengaja memilih laki laki di hadapannya yang saat ini menatap nya tajam karena Alvin lah seorang diri bujangan kaya raya dari laki laki yang pernah menjamah tubuh nya, tukang kurir itu...Ogah !
" Jangan pernah memperdayai ku karena kehamilan mu, Dian. Aku selalu memakai pengaman saat bermain, Aku tidak sudi punya keturunan dari modelan wanita murahan seperti mu, Keluar dari apartemen ku sekarang, kamu tidak berguna."
Alvin marah memuncak, Mau itu benih nya atau punya orang lain, Tetap ia tidak mau bertanggung jawab.
" Tapi Alvin__ Aww, Hiks hiks !"
Dian dapat kekerasan dari tangan lebar Alvin, Pipinya panas dapat tamparan.
" KELUAR SEKARANG JUGA, ATAU__"
"TIDAK TIDAK DAN TIDAK MAU."
Mereka saling mengeluarkan bentakan maksimal nya, Dian kekeuh ingin membuat Alvin bertanggung jawab.
" Baik, lihat apa yang bisa saya perbuat."
Tak merasa kasihan dan tak memandang Dian seorang wanita, Alvin berperilaku kasar. Menggeret wanita itu keluar. Tak perduli pun kini banyak pasang Mata melihat nya yang sekarang sudah sampai di pelataran apartemen, Alvin berniat membawa pergi Dian menggunakan mobil nya dengan rencana jahat sudah ada di benak nya.
__ADS_1
Aww..
Dian terus mengadu sakit, tidak ada satu pun orang yang mau ikut campur.
" Masuk ke mobil, cepat." Geram Alvin mendorong dorong bahu Dian dan hampir tersungkur bila mana tidak ada bantuan sigap yang menahan punggung Dian dari belakang. Ibell.
" Gila kamu, Alvin, dasar Banci !" Hardik Ibell geram, walau kakak tirinya jahat kepadanya tapi ia juga tidak tega melihat Dian di perlakukan kasar.
" Jangan ikut campur, Ibell. Atau kamu akan menyesal." Alvin masih ingin berusaha membawa Dian ke suatu tempat.
Plak. Tepis Ibell kuat ke tangan Alvin yang ingin meraih tangan Dian yang sekarang terlihat payah karena pusing menyerang nya, bahkan Ibell saat ini berdiri di hadapan Dian untuk menjadi tameng saudara tiri nya.
" Ibell." Alvin hendak menampar wanita sok hiro ini, Namun tiba tiba tangannya tertahan akan dua tangan pria langsung dari arah berbeda. Andra dan Nata. Andra menarik tangannya kembali melihat Nata sudah ada buat Ibell dan mendekap Dian yang sempoyongan mau pingsan. Segera saja Andra membawa adik nya untuk pergi.
Ya....Mereka memang ada di area apartemen Alvin karena sengaja mencari keberadaan Dian yang kabur. Nata sebenarnya malas berurusan lagi dengan Dian, tapi sebagai mantu yang baik, ia terpaksa menurut akan titah Pandji yang katanya khawatir dengan Dian.
" Berani kamu menyentuh istri ku dengan seujung kuku pun apalagi hendak memukul maka ini lah akibat nya...."
Kreeek..
Alvin tergeletak di bawah akan Nata yang kembali menendang tepat di lekukan belakang lutut nya.
" Nata sialan, Kamu akan menyesal sudah membuat ku terluka." Cicit Alvin
Mana peduli Nata dengan ancaman Alvin yang menggebu-gebu itu, Nata malah sengaja menendang kaki Alvin saat ingin menghampiri Ibell yang berdiri santai di dekat mobil.
" Ayo kita pergi, Beno sudah kangen Eni." Sikap mesum nya malah hadir di tengah-tengah ketegangan barusan.
" Ayo." Sambut antusias Ibell.
Alvin mengumpat kasar dalam hati seraya menghardik dirinya payah yang tak berkutik baru dapat serangan kecil dari Nata.
...****...
__ADS_1
" Bang, Ibell ingin program hamil, kapan kapan kita ke dokter spesialis kandungan yuk, Konsul."
Pasangan suami istri ini habis tawuran Beno Eni, Tubuh polos mereka pun hanya menggunakan selimut satu bersama. Ibell tetiba mengingat keinginan Yola yang ngebet banget punya cucu. Sedikit iri dengan Dian yang begitu mudahnya di kasih kepercayaan Dari-Nya sementara dalam doa Ibell, Ia-lah yang selalu minta momongan.
Nata terkekeh lucu, baru niat saja ia sudah membayangkan bagaimana wajah wajah keturunan nya.
" Iih, kok tertawa sih ? Apa Ibell salah ?" Ibell menepis tangan nakal suami nya yang kembali bermain di boba dada nya. Namun Nata kembali lagi bermain di dada nya yang membuat Ibell tersetrum hasrat kembali.
" Apa sudah siap di repot kan oleh anak kecil sayang ?"
Ibell mengangguk antusias, wanita akan sempurna dengan kehadiran benih cinta di rahim nya, apalagi mengingat anak adalah kunci sesungguhnya kelengkapan dan kebahagiaan dalam suatu rumah tangga.
" Kalau begitu, ayo kita bikin anak sampai pagi."
Serangan kembali di lancarkan oleh kepiawaian Nata tentang ranjang , Istri nya mendamba anak bukan ? Ya.. caranya dengan jungkit jungkitan di kasur, berkeringat namun minta nambah lagi dan lagi, Beno selalu di cekit nikmat oleh Eni.
Erangan klimak* Nata yang menyebut nama Ibell menimbulkan rasa hangat berbunga-bunga di hati Ibell, Ia senang bisa memuaskan nafkah batin suaminya, Jangan sampai suaminya itu menyebut nama wanita lain saat bercinta begini, kebiri langsung hukuman nya.
" Puas belum ?" Ledek Ibell mendapati tubuh Nata terkulai lemas di samping nya yang sudah sampai berulang ulang kali.
" Capek juga ya garep sawah Eni. Giliran gih."
Aih Ding, Nambah lagi ? Batin Ibell, Namun pasrah dengan titah Nata dan kini ia lah yang mengendalikan kuda ku duduk di muka. Dapat pahala memuaskan suami dapat pula enak nya. Nikmat mana lagi yang kalian dusta kan wahai pasangan halal. Segera lah menikah bila kebelet, jauhi zina yang merugikan.
Di sisi Mita, Pandji yang masih memulihkan diri dari keracunan makanan, Kini terlihat berkumpul dengan Mita dan ke-dua anak tiri nya, di mana Dian masih di tekan oleh ke-tiga nya untuk buka suara.
" Dian sayang, Kamu tahu... Walaupun kamu cuma anak sambung Papa tapi sejatinya kamu sudah Papa anggap anak kandung sendiri, sama seperti Ibell, Justru malah kamu selalu menang dari Ibell akan materi dari papa. Jadi Papa mohon, beri tahu ke kami, Kemana kah papa harus bertamu untuk meminta baik baik pertanggung jawaban atas janin mu ?" Lembut Pandji, membujuk secara halus dari hati ke hati agar anak berkepala batu ini membuka suaranya.
Mita nampak menunduk menyesal, ia tidak pernah belajar dalam masa lalu nya sendiri yang hamil luar nikah karena ketamakan nya akan harta namun ujung ujungnya hidup nya masih saja melarat sampai saat ini. Harusnya ia membimbing anak nya ke jalan yang benar, Bukan malah mendorong anak wanitanya untuk mengikuti jejak nya, Namun Dian terlalu sial dari pada hidup masa lalu nya. Dulu....Nando becat itu sempat mengakui janin Andra sampai ke anak ke-dua nya-Dian walaupun di rebut oleh pelakor ujung ujungnya juga. Tapi anak nya ini.. Seperti nya kebingungan ke mana Dian harus minta pertangung jawaban. pikir tebak Mita.
" Ha-ha-ha, Dian hamil ? Hahahaha bapak nya orang kaya lho, Ma. Kak ! Pasti Ibell kalah dari Dian." Mata Dian nampak kosong, bagaikan orang gila yang tertawa kencang padahal tidak ada yang lucu, ke-tiga orang di hadapannya kini saling tatap dengan nalar.
Tidak...Dian ku tidak mungkin di kutuk menjadi orang gila. Hiks..Lirih Mita menangis perih di dalam hatinya.
__ADS_1
" Biarkan Dian istrihat, Ma, Pa. Kalian istrihat saja biar Andra yang menjaga nya di sini, kita tidak boleh menekan nya, takut mental nya semakin jatuh." Andra pun menangis dalam hatinya, ini kah balasan dari Tuhan akan perlakuan buruk mereka ke Ibell yang selalu lapang dada menerima segala kejahatan dari keluarga nya, Tuhan tidak pernah tidur... Walaupun Ibell tidak pernah balas dendam, Tapi Tuhan lah yang bertindak. Ya Tuhan...semoga kata Tobat itu tidak pernah ada kata telat untuknya dan kedua keluarganya yang dzolim ke anak piatu-Ibell.