Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 172


__ADS_3

" Sebelum menjawab pertanyaan ku, Lebih baik jangan di sini."


Nata mengikuti langkah Ibell untuk menjauh dari rumah yang sebenarnya sudah jauh dari rumah Abah. Ia di bawah ke arah perkebunan teh. Sebenarnya suasana hampir senja ini sangat romantis di nikmati bila mana hati dalam keadaan gembira, tapi melihat air muka Ibell yang astagfirullah dingin nan datar, Tidak mungkin bisa menikmati langit senja.


Ibell memutuskan untuk duduk di pondok kecil yang terbuat dari bambu tepat di tengah tengah perkebunan teh, Nata ikut duduk di sisi Ibell namun Istri nya seketika menjauh.


"Jelaskan lah apa yang kamu ingin jelas kan dan cepat pergi dari sini setelah nya."


Sabar Nata, Istri mu patut marah.


Setelah menarik nafas panjang, Nata pun menceritakan tentang hasil lab minipulasi Alvin sampai dari surat cerai yang berujung di robek doang bukan di setor ke pengadilan agama. Sesaat Nata berhenti dari ceritanya seraya membaca air muka Ibell, kini istri nya itu tersenyum kecut seraya menggeleng geleng beberapa kali dengan dada terkadang di tekan sendiri, air muka Ibell kini terlihat berubah ubah, kadang pucat dan kadang merah meradang di mata Nata.


" Kita hanya salah paham, Ibell. dan itu karena Alvin, Abang selama ini mencari mu, siang malam tiada hari tanpa memikirkan mu." Nata ingin mendekat, Namun Ibell masih menolak dengan kode tangannya.


" Bukan ? Kesalahan tidak sepenuhnya dari Alvin." Ibell siap menumpahkan segala kegundahan beban di dadanya yang sedari tadi sesak di tahan nya.


" Abang yang salah, Abang mau mau saja masuk ke permainan dia, Mana ? Mana ucapan Abang yang katanya kita harus saling komunikasi ?"


Nata menunduk malu, benar ! Ia sendiri pernah mengucap kan untuk saling terbuka, tapi ia hanya diam.


" Apa Abang pikir, Ibell akan tega meninggalkan suami Ibell sendiri hanya karena di vonis Mandul ? Ibell bukan lah penuntut kesempurnaan Bang, Ibell tidak sejahat itu untuk pergi di saat imam Ibell terpuruk, dan lihat hasilnya, lihat lah siapa korban dari kebungkaman Abang, Aku ! Aku yang paling tersiksa di sini, anak ku...dia juga korban dari kecerobohan Abang mengambil keputusan sepihak."


Tes, Air mata yang Ibell tahan kini tumpah jua, ia menangis tanpa isak dan itu rasanya sakit. secepat mungkin ia membuka kaca mata bulat culun nya, menghapus air mata nya dan membuka pula gigi tonggos palsu nya, ia ingin panjang lebar menceritakan semuanya untuk Nata dengar, biarkan suami atau mantan suami.. entah, mendengar penderitaannya selama ini.


" Maafkan Abang__"


" Simpan kata itu, Apa Abang tahu rasanya perasaan Ibell seperti apa ? Sakit ! Amat perih ! mengetahui wanita hamil muda berniat memberikan kabar bahagia ke suami nya yang tak pulang pulang lima hari lamanya dan berujung ternyata sudah membuat gugatan cerai sebagai hadiah untuk mata Ibell lihat. Itu sangat membuat ku terpukul." Suara Ibell tercekat cekat karena tangis yang sial nya tidak bisa di tahan.


Lagi, Ibell mengangkat tangannya untuk menolak kulit nya di sentuh oleh Nata.


" Abang mohon, Maaf kan Abang, Demi kita, demi Vay anak kita."


Vay ? Kenapa ia tahu juga nama anak nya.

__ADS_1


" Vay anak ku seorang ! Dan pergi lah."


" Vay anak ku juga Ibell, anak kita dan kamu tidak bisa mengelak nya."


Ibell tersenyum kecut, menghapus air matanya yang terus membancir saja.


" Anak mu Bang ? Lihat tangan kasar ini," Dua telapak sedikit kotor Ibell di pamerkan ke Nata. " Tangan berdebu nan kasar ini lah yang membesarkan sendiri anak nya tanpa seorang bapak, Tangan yang tadinya selembut sutra menjadi kulit badak karena kecerobohan suaminya yang memaksakan seorang wanita bertahan dan bekerja melebihi kuli bangunan di tempat ini, Wanita lemah ini pun harus menjadi sok wonder woman demi anak nya, wanita ini juga yang merasa kan proses kehamilan yang rasanya seperti apa tanpa ada sosok suami di samping nya, Wanita yang hampir mati melahirkan anaknya tanpa ada sosok laki-laki di samping nya, Tapi sekarang lihatlah...Kamu dengan entengnya menga__"


Ibell menarik tangannya di kala Nata ingin menyentuh nya. Hatinya sangat kecewa, walaupun Alvin pemantik nya di masa lalu tapi Nata yang memupuk rasa kecewanya yang teramat dalam.


" Maaf Ibell." Nata ikut menangis tanpa isak, Dari tatapan Istri nya yang begitu tersirat teramat ada penderitaan berhasil membuat nya cengeng. ia sadar diri kalau kebodohannya lah yang menempatkan Ibell dalam kesusahan berjuang sendiri melahirkan dan membesarkan Vay.


" Bibir ini bisa saja memaafkan Bang, tapi di dalam sana, Berat. Walaupun demikian kita adalah semua korban monopoli Alvin, tapi kesalahan tetap ada di Abang. Pergi lah !"


Sebenarnya Ibell masih menahan diri untuk tidak memuntahkan segala uneg-unegnya yang masih menyimpan pilu selama tujuh tahun belakangan ini, biarkan ia telan sendiri kepahitan hidup nya tanpa Nata ketahui.


" Vay ada di sini, aku pun akan ada di sini." Kekueh Nata tak mau pergi, enak saja istri nya mau mengusirnya padahal selama ini ia begitu gila mencari keberadaan wanita tersayangnya.


" Bu__"


" Dia anak ku, Bang. Tolong jangan ambil sisa sisa hidup ku, Abang masih sempurna jadi pergilah, please biarkan aku dan Vay hidup tenang."


Istrinya serasa berambigu ! Nata mendadak curiga, Tadi begitu dingin suara dan tatapannya, tapi kini Ibell malah bersimpuh di hadapan nya tetiba dan meraung raung pecah pilu tangis itu.


" Ibell hay, Tenang lah ?" Nata mendekap tubuh Ibell yang tetiba sensitif ketakutan.


" Jangan ambil anak ku, jangan.. Jangan. hiks hiks, Jangan, Ku mohon jangan tuntut hak asuh nya." Ibell meracau parau dengan telinga ia tutup tanda tidak ingin mendengar Nata yang mungkin kekeuh Ingin meminta Vay.


" Ibell, Hey. Sayang ! Tenang ok !" Nata terpaksa mengguncang kedua pundak Ibell agar tersadar dari kehisterisan nya. Dan itu berhasil, Istri nya tersadar dan seketika menjauh dari dekapannya.


" Kalau dulu Abang di kabar kan mandul oleh dokter tapi ada bukti kebohongan nya, Yaitu Vay. Beda dengan Ibell Bang, Ibell lah sekarang yang tidak sempurna untuk Abang atau pun laki laki lain nya di luaran sana. Jadi ku mohon jangan usik hidup Ibell yang tertata penuh rencana sederhana Ibell sampai berpulang Kepada-Nya."


" Apa maksudmu Bell ?" Alis Nata bertaut bingung dengan ucapan ambigu Ibell.

__ADS_1


" Aku suami mu, dan kamu istri ku, kita masih terjalin Ibell."


Ibell menggeleng. " kita sudah berakhir Bang, Tepat Ibell melihat tanda tangan Bang Nata di waktu itu, rasa Ibell ke Abang membeku kecewa, pergi lah."


" Aku tidak akan pergi tanpa Vay dan ka__"


" Cukup ! Ku mohon jangan minta Vay, kasihanilah aku dan tolong mengerti." Ibell yang niat hati ingin pergi berbalik lagi dengan suara tegas memotong ucapan Nata, ia tidak sudi di pisahkan oleh anak satu satunya dan akan tetap satu satunya.


" Tapi Vay anak ku Ibell, aku pun berhak berada di si__"


Kali ini Ibell mengatupkan ke dua tangannya untuk memohon ke Nata. Nata tidak mengerti, apa sebenarnya yang di sembunyikan oleh Ibell dalam ucapan ambigu nya.


" Ku mohon Bang Nata, Pergi lah. Jangan usik Ibell lagi. Kamu masih bisa hidup bahagia dengan wanita lain, Nanti kamu pasti punya anak, tapi bukan Vay." Ibell melemah dengan suara memohon nya agar Nata mau mengalah kepada nya.


" Aku hanya menginginkan diri mu Ibell, tidak untuk wanita lain."


" Ibell tidak bisa !"


"Tapi kenapa ?"


"Karena Ibell lah yang sekarang tidak sempurna menjadi wanita, Ibell tidak mempunyai rahim lagi di saat bersamaan kelahiran Vay, di saat itu pula histerektomi tindakan dokter yang di ambil oleh keputusan Abah Ambu dengan sangat terpaksa demi membuat hidup ku bertahan, Puas kamu Bang dengar nya, Jadi ku mohon Bang Nata..Hanya Vay lah yang ku punya, hiks hiks, Jangan ambil Vay dari sisi Ibell, Nanti Ibell bisa gi-gi-gila karena tidak mempunyai misi hidup lagi."


Bukan hanya Ibell yang menagis pilu kali ini, Nata bahkan menangis tergugu dengan menciumi kepala Ibell yang terbungkus hijab seraya mendekap erat tubuh bergetar Ibell yang terduduk lemas di atas tanah.


Ibell sendiri tidak menyadari di dekap dan di ciumi kepala nya oleh Nata, Perasaan takut melanda nya, ia tidak mau Nata mengambil anak nya, ia takut di pisahkan dengan Vay, Istimewa suami nya datang dengan santai dan mengingat kan semua penderitaan nya selama di desa ini, Suaminya tidak pernah tahu apa yang di alami nya, Nyawa nya hampir mati karena jatuh di saat berkebun dengan kandungannya berumur delapan bulan dan berakhir anaknya prematur dan berakhir pula rahim nya di angkat karena pendarahan kian tak berhenti dan jalan satu-satunya agar ia bisa hidup dengan cara mengorbankan rahim nya. Ia tidak sempurna lagi bukan. Jadi bagaimana bisa Nata mau mengambil Vay begitu saja. padahal ia seorang lah yang berkorban banyak di sini.


" Dengar Ibell, Ibell ! Abang tidak akan mengambil Vay dari mu, Abang janji jadi ku mohon jangan histeris lagi, Abang minta maaf yang sudah menempatkan mu di posisi sulit ini."


Nata membujuk, biarkan istri nya tenang terlebih dahulu. Kali ini ia akan mengalah tapi tidak untuk menyerah mendapatkan hati anak dan istri nya yang utama. Shiiit...ia sangat tahu hati kecewa itu sangat sulit untuk di hangat kan lagi, tapi ia berjanji tidak akan menyerah begitu saja. Seribu kali Ibell menolak keberadaannya, maka sejuta cara halus ia akan terapkan untuk meluluh kan hati istri nya. Janji ! ia akan mendapat kan cinta nya kembali dengan caranya. walaupun Ibell sudah tidak sempurna lagi, tapi tidak masalah... Sudah ada Vay di antara mereka, anak satu juga sangat cukup untuk nya. ia akan menopang kesedihan Ibell mulai detik ini. Titik.


" Ibell, Bangun Ibell Ibell.. Sayang hey."


Nata tetiba panik, Ibell memang tidak histeris saat ini Tapi malah pingsan karena tertekan takut anaknya di bawah pergi.

__ADS_1


__ADS_2