Bunga Liar & Cassanova Tobat?

Bunga Liar & Cassanova Tobat?
Part 194


__ADS_3

" Kamu bicara apa, eum ? Selama ini Abang memang jadi anak penurut Mama, tapi soal hati, Abang yang berhak untuk menentukan. sampai nafas Abang berhenti pun, ucapan terakhir Abang sebelum syahadat adalah nama kamu."


Nata mengecup selebar wajah Ibell yang sembab karena menagis, Hati nya terasa hangat karena pengakuan perasaan Ibell kepada nya masih cinta, Namun hati nya pun seketika berdesir sakit akan Ibell yang ingin mundur hanya karena kekurangan, Nata lahir batin tidak mempersalahkan itu.


Tanpa mereka sadari ada Yola dan Kemal yang melihat Nata membujuk Ibell, Yola sebenarnya ingin ke sana, tapi kata Suaminya, jangan ganggu dulu waktu Nata untuk menenangkan perasaan Ibell.


Hiks.. Ibell tak mampu berkata kata lagi, Perasaan nya campur aduk, dada nya sesak karena tercekat tangis, kepala itu mengangguk susah yang pipi nya masih di tangkup oleh Nata.


Entah, Arti anggukan itu apa, Nata kurang paham, tapi sejurus, Ibell memeluknya erat dengan masih terisak. Biarkan Ibell menangis kali ini, Tapi besok besok tidak ada lagi, ia hanya akan memberikan kebahagiaan untuk istri nya.


Sedikit kondusif, Yola dan Kemal beringsut kehadapan dua orang yang masih pelukan itu.


" Ibell !" Panggil lirih Yola, rasa tidak enak hati menerpa nya, Ia menyesal sudah menyinggung perasaan sensitif Ibell.


Ibell segera menghapus kasar air matanya, lepas dari pelukan Nata dan berbalik ke arah Yola dengan senyum paksa nya, ia ingin terlihat baik baik saja, tapi susah !


" Maaf kan Mama sayang, Mama tidak tahu__" Cukup Yola bersuara sampai di situ, ia tidak ingin salah bicara, sebagai tanda penyesalan nya. Yola memeluk Ibell, pertanda ia menerima segala kekurangan menantu nya, toh... Ibell sudah hebat bisa menghadirkan Vay di tengah tengah mereka yang di saat menantu nya susah tidak ada satu pun dari mereka yang ada di sisi Ibell.


" Kami tentu saja menerima kekurangan mu, apapun itu ! Perlu kamu ketahui, semua manusia tidak ada yang sempurna, sayang. Kita punya kekurangan masing masing. Jadi jangan berkecil hati, kami ada untuk mu selalu. Vay cukup bagi kami, terima kasih sudah menjaga cucu Mama hingga tumbuh kembang nya baik. Benar kata Vay....Kamu melampaui wonder woman, kamu wanita hebat, perjuangan mu belum tentu Mama setarakan, jika mama ada di posisi mu."


Yola berikut Kemal sudah tahu cerita lengkap dari Abah. mendengar cerita Abah tepat di kisah jatuh Ibell di tengah tengah derasnya hujan, melahirkan Vay prematur, pendarahan hebat, operasi histerektomi bahkan perjuangan Ibell lainnya yang menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari. Yola dan Kemal bahkan sesak sendiri mendengar semua kepiluan Ibell.


Ibell menangis lagi di pundak mertua nya, kali ini bukan tangis sedih, tapi tangis lega, Semua orang tersayang nya ternyata mau menerima kekurangan nya, Ibell bersyukur dalam hati. ia tidak mampu berkata satu kata pun, isaknya yang mati matian ia tahan malah semakin jadi jadi.


" Sudah, Jangan menangis lagi ya ! Mulai besok, sambut lah hari mu dengan hati ceria, Rumah ini sudah cukup jadi saksi mati nya akan nama kesedihan setelah kepergian mu dan Nata selama tujuh tahun."


Kepergian mu dan Nata ? Ungkapan Kemal membuat Ibell penasaran. memang nya Nata kemana saat diri nya pergi ? Tanya nya dalam hati.


" Nata, bawah Ibell istrihat !"


" Baik Pa !"


Ibell menurut, tangan nya yang di tuntun Nata di biarkan nya.


Sampai di dalam kamar, Ibell tak berhenti menatap Nata, selidik yang sibuk memakaikan selimut untuk nya.

__ADS_1


" Tujuh tahun ? Abang ada di mana ? Pernyataan Papa mengganjal hati ku ! Apa Abang__"


" Abang mengharamkan kaki ini menginjak rumah sebelum kamu balik juga. Abang sibuk mencari mu ! Dan maaf kan seribu maaf atas kebodohan ku." Ungkap Nata menatap mesra mata Ibell yang berbaring di ranjang, saat ini ia berjongkok di sisi kasur tepat dekat wajah Ibell.


Ibell tidak menjawab, melainkan mengelus rahang suami nya. di tangkap lembut oleh Nata dan di kecup nya sayang. Tujuh tahun berpisah, Tatapan mata Ibell yang penuh cinta, tersirat lagi. sejati Istri nya sudah kembali. Nata bernafas lega.


" Maafkan Ibell juga__"


Cup.


Nata mengecup bibir itu, singkat. Ibell tidak pantas mengucap maaf, ini salah nya.


" Lembaran baru ?"


Ibell mengangguk cepat, Setuju. Berdamai dengan masa lalu adalah pilihan nya.


" Lembaran baru ? Ibell mau !"


" Gitu dong, hati Abang kan persis Qolqolah Kubro, terpantul pantul merdu." Nata mencairkan suasana dengan gombalan nya. Sejurus mata mereka beradu mesra kembali.


" Eum ?"


" Masih ingat Beno, nggak ?"


hmm, Sepik sudah, Nata mulai melancarkan aksi, berbisik di telinga Ibell.


Tentu Ibell ingat siapa itu nama !


" Kata Beno, Boleh tidak ?"


Selebar wajah Ibell mendadak panas, ia memalingkan mata nya menatap langit langit.


" Eni pasti kangen juga deh." Rayu nya lagi. Beringsut tangan itu menangkap wajah Ibell. " So ?" Tanya meminta persetujuan. Kalau Ibell menolak, ia akan bersabar. Mengerti !


Ibell mengangguk, menahan wajah Nata yang ingin memangsa bibir nya. " Tunggu dulu ! Beno bersih dari__ Selama tujuh tahun ini, tidak itu kan ?" Ujar nya gagap tidak jelas. Tapi Nata tahu arah keraguan Ibell, Tentu saja ia tidak bermian gila saat Ibell pergi dari sisi nya. Ia memang gila di saat itu, lebih tepatnya gila mencari kesana kemari persembunyian Ibell.

__ADS_1


" Sterilisasi, Cek !" Nata tersenyum mesum. setelah berucap, wajah nya seketika tanpa jarak, mereka memejamkan mata satu sama lain menikmati sensasi indah nya bibir yang bertaut lembut penuh gelora memuncak.


Bukan hanya bibir yang bermain, Tangan Nata pun mengikuti jalur hasrat nya, meraba sasaran empuk nya tepat di balon ku ada dua.


Tangan Ibell sendiri tanpa sadar mengalung di leher suami nya. menikmati sentuhan lembut Nata, melenguh pelan di tautan bibir itu.


Hu, Semakin sesak, Beno minta lepas dari jeruji sangkar emas selama tujuh tahun Hiatus.


Malan ini keberuntungan mu, Beno. Batin nya. perlahan melepas pasmina polos putih Ibell.


" Pelan pelan ya, Bang !" Warning Ibell, kembali mengingat kekurangan nya, Pasti sakit karena bukan histerektomi saja yang di angkat, berikut sahabat nya pun.


" Tentu, Abang paham, cukup satu ronde !"


Ceklek..


Hais, Cepat cepat Nata menarik tangan nya dari kancing baju Ibell yang ingin di bukanya, Ibell pun tercekat nafas nya. ada Vay yang main menerobos masuk tanpa mengetuk pintu, untung Beno dan Eni berikut inti tubuh yang tak senonoh untuk di lihat mata polos Vay masih terbungkus apik.


Kamu Nak, Tidak tahu apa akan ada tawuran sengit antar pulau khas. Nasib mu Beno, masih harus berpuasa. Nata mengelus dada, sabar. Merutuki diri nya bodoh karena melupakan pintu yang lupa di kunci.


" Bunda, Ayah ! Vay mau tidur di sini boleh ya ? Kamar Vay begitu luas, masih takut tidur sendiri, enak tidur bersama, rame. Bisa peluk Ayah juga Bunda."


Vay sudah beringsut paksa di tengah tengah Nata dan Ibell. biasanya anak itu ingin tidur di pinggir, malam ini lain... Memilih tidur di posisi tengah.


Ibell menahan tawanya agar tidak pecah, Saat ini mimik Nata kecut sudah dengan wajah cemberut. Tapi saat Vay melirik Suaminya, cepat cepat Nata tersenyum manis, paksa.


" Boleh dong, sayang. Tapi Vay...Ini terkahir yang tidur bersama, Vay harus mandiri, Terus kalau mau masuk ke ruangan siapa pun, harus ketuk pintu ya sayang, setelah di persilahkan masuk, baru boleh. Paham Vay."


Kepala kecil itu mengangguk paham akan nasehat lembut Bunda nya.


" Ayah kenapa ? Sariawan kah ? kok diam saja ? peluk Vay dong."


" Eum, Ayah sariawan, lebih tepatnya lagi menahan pipi*, Ayah main sabun dulu eh.. pipi* dulu ya."


Ha-ha-ha, Ibell terkikik geli dalam hati melihat wajah Nata yang menahan hasrat, semakin terkikik saja melihat Nata benar benar ngebirit ke kamar mandi, ia tahu maksud main sabun itu.

__ADS_1


" Ayah Bandel sih di beri tahu Vay, tadi. kalau nahan pipi* itu tidak bagus." Vay mendumel sendiri.


__ADS_2